Hamil?

2098 Words
Tawa ringan muncul dari bibir Vania kala Zafran terjatuh, tak sengaja terpeleset. Padahal, Zafran sendiri yang telah mengepel lantai, tetapi bisa-bisanya ia tidak berhati-hati dalam mengambil langkah. Zafran yang masih terduduk di lantai langsung menunjukkan mimik wajah sebal pada istrinya yang memilih untuk menertawakannya, bukan membantunya. “Kamu bukannya bantu aku, malah ketawa!” Zafran mendengus, tetapi ia bangkit kemudian sambil menepuk bagian belakang tubuhnya pelan. Kalimat dan mimik wajah yang ditunjukkan oleh Zafran membuat Vania langsung menghentikan tawa dan juga mengubah mimik wajahnya. Wanita muda itu secara perlahan melangkahkan kakinya untuk mendekati Zafran, tetapi karena tidak berhati-hati akhirnya ia jatuh, seperti suaminya. [DUK!] “Aduh!!!” pekik Vania, ia langsung memegangi pinggangnya yang terasa sangat sakit. Matanya langsung berkaca-kaca melihat ke arah Zafran. Berbeda dengan reaksi yang tadi ditunjukkan oleh Vania saat Zafran terjatuh, Zafran langsung berlari dalam keadaan panik untuk membatu istrinya itu bangkit. Zafran berujar dalam panik, “Kamu gak apa-apa?” Vania tak langsung menjawab, ia merasakan nyeri yang ada di area perutnya,. Tangannya pun secara otomatis langsung memegangi perutnya. “Pe—perut aku kok keram ya?” “Hah?” Seakan orang yang tak bisa mengerti kalimat yang dilontarkan oleh istrinya, Zafran malah bengong. Vania yang kesal dengan mimik wajah yang ditunjukkan oleh suaminya pun langsung menarik tangan Zafran dan mendekatkannya pada perut. “Perut aku sakit,” lanjut Vania dengan mimik wajah yang tampak seperti orang yang benar-benar mengalami kesakitan. Sadar akan situasi, Zafran pun dengan segera mengangkat tubuh istrinya itu ala pengantin baru. Ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati, tak mau jika mereka sampai terjatuh lagi. Zafran pun membawa istrinya ke ruang utama dan mendudukkan Vania di atas sofa secara perlahan. Vania yang memang masih merasa kesakitan tetap menangis. “Sakit banget perut kamu?” tanya Zafran, keningnya berkerut yang membuat dua ujung alisnya bersatu. Vania tak menjawab lengan kalimat, wanita cantik itu hanya menangis dan menganggukkan kepalanya. Zafran jadi merasa bingung, apakah efek dari terjatuh bisa separah itu? Padahal tadi Zafran pun terjatuh, tetapi ia baik-baik saja selain merasa sakit di bagian belakang tubuhnya, itu pun tak terasa parah. “Kamu kenapa, Vania?” Tiba-tiba suara Sulis menyeruak, wanita paruh baya yang membawa alat pel di tangannya itu pun langsung melihat ke arah Vania yang menangis di atas sofa dengan Zafran yang berdiri di hadapannya. Sulis baru saja selesai mengepel teras bagian depan rumah, sesuai dengan pembagian tugas yang tadi ia berikan. Bertepatan dengan selesainya tugas yang ia lakukan, Sulis mendengar suara Vania dan Zafran yang tampaknya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dan ternyata benar, ia melihat Vania yang menangis di sofa, bahkan kegiatan mereka mengepel lantai saja belum selesai. Lantainya masih sangat basah yang membuat Sulis harus berhati-hati saat melangkahkan kakinya. “Perut Vania sakit, Bun, tadi dia gak sengaja jatuh, kepeleset lantainya masih basah, jadi licin,” balas Zafran, mewakili istrinya yang masih saja mengerang kesakitan dan tak mengatakan apa pun. Sulis pun langsung melempar alat pel yang tadi dibawanya ke atas lantai, ia lantas mendudukkan tubuhnya di samping Vania dan menarik tangan Vania yang tengah digunakan untuk menutup perutnya sendiri. Dengan insting seorang ibu, Sulis langsung mengelus perut menantunya itu secara perlahan. “Kamu lagi hamil gak?” tanya Sulis langsung. Pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya membuat Zafran langsung menegang, dengan segera ia berjongkok di bawah kaki Vania dan memerhatikan istrinya itu dengan saksama. Vania pun kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sulis, kontan saja ia langsung menggelengkan kepalanya dan menjawab, “E—enggak, aku gak lagi hamil, Bun.” Seakan tak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Vania, Sulis kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya. “Kamu yakin kalau kamu gak lagi ngandung? Kok perut kamu dipegangnya kerasa beda, lebih baik kita cek ke rumah sakit aja.” “Iya-iya, kita ke rumah sakit aja.” Zafran langsung menyetujui usul yang diungkapkan oleh ibunya. Ia sangat khawatir melihat keadaan Vania yang terus saja merintih kesakitan seperti saat ini. Ia tak mau jika sampai terjadi sesuatu yang membahayakan pada Vania, istri yang sangat ia cintai. Namun, Vania yang mana tengah menjadi objek perhatian dengan tegas menggelengkan kepalnya. “Gak perlu, Bunda, ak—aku cuman gak sengaja jatuh aja, mungkin ini efek rasa sakitnya.” “Harus ke rumah sakit, masa jatuh sampai keram perut kayak gini? Apa pun itu, kita harus cek dulu!” tegas Sulis, ia langsung bangkit berdiri. “Bunda mau sia-sap dulu!” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sulis langsung pergi meninggalkan ruang utama, Zafran pun langsung duduk di samping Vania menggantikan posisi ibunya, tangannya secara otomatis langsung bergerak untuk mengelap keringat yang ada di pelipis sang istri. “Salut banget, ya?” tanya Zafran lagi. Vania menganggukkan kepalanya lemah, tangannya sejak tadi tak henti meremas perutnya sendiri yang terasa sangat sakit. Sebelah tangan Vania ini meraih lengan Zafran, ia meremas lengan suaminya itu untuk menyalurkan rasa sakit yang ia terima. Zafran sama sekali tak keberatan, ia membiarkan Vania untuk terus menyakiti lengannya. Tak lama kemudian Sulis datang, dengan pakaian yang telah berganti dan sebuah tas yang menggantung di lengannya. Zafran yang melihat kedatangan ibunya pun dengan segera langsung mengangkat tubuh istrinya. “Ayo!” ajak Sulis dengan cepat, Zafran pun langsung berjalan sembari membawa Vania dalam gendongannya. Tak ada lagi penolakan yang diberikan oleh Vania. Wanita muda itu hanya merintih kesakitan sembari berpegangan pada leher Zafran untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Dengan baik hatinya, Sulis berlari ke pinggir jalan raya untuk menyetop sebuah taksi. Beruntung, hanya selang satu menit kemudian, ada sebuah taksi yang berhenti. Sulis, Zafran dan Vania pun langsung masuk ke dalamnya dengan cepat. Sesampainya di dalam, Vania masih saja merintih kesakitan, dan hal itu kontan saja membuat Zafran dan Sulis semakin merasa khawatir sekaligus panik. Apalagi Zafran yang tak mau melepaskan tubuh istrinya walau satu detik saja. “Kamu yakin kamu lagi gak hamil?” Sulis kembali bertanya, tangannya pun kembali bergerak untuk menguap permukaan perut menantunya. Ada yang berbeda, yang tangan Sulis rasakan adalah permukaan perut wanita hamil pada umumnya, sedikit mengeras. Namun, Vania menganggukkan kepalnya. “Aku ya—yakin kalau a—ku gak hamil, Bunda.” “Kapan kamu terakhir datang bulan?” selidik Sulis lagi, ia masih yakin jika istri dari anaknya itu kini tengah mengandung. “Bul—an lalu,” balas Vania dengan nada yang lebih menyerupai sebuah rintihan. Zafran hanya diam, ia tak tahu mana yang benar. Apakah kecurigaan Sulis, atau justru keyakinan istrinya. Yang pasti, semua spekulasi akan terbukti nantinya ketika di rumah sakit. Dan Zafran sangat tidak sabar untuk sampai ke rumah sakit sekarang juga. 0o0o0o0o0 “Udah Bunda bilang ‘kan, Vania itu lai hamil! Bunda udah pengalaman, udah tahu mana perut orang hamil dan enggak!” Sulis memekik sembari memukul bahu pelan putranya elan. Ia baru saja mendengar penjelasan dokter yang memeriksa Vania. Kini, dokter itu sudah pergi dari hadapan mereka. Zafran yang mendengar jika istrinya dinyatakan hamil dengan usia kandungan dua bulan pun langsung menganggukkan kepalanya. Hatinya sangat senang karena ia akan menjadi seorang ayah. Namun, ia pun tak dapat memungkiri rasa khawatir karena kejadian yang tadi Vania alami. Untung saja istrinya yang hampir mengalami keguguran berhasil diselamatkan, begitu juga dengan janin yang ada dalam kandungannya. Zafran merasakan ada air mata di sudut matanya, ia pun langsung mengusapnya dan menatap ke arah Sulis dengan senyum manis yang mengembang. Zafran gak sangka, sekarang udah mau jadi ayah.” Kontan saja Sulis pun langsung membalas senyum yang diberikan oleh putranya. Jika putra sulungnya akan menjadi seorang ayah, maka itu artinya Sulis akan menjadi seorang nenek. “Sekarang kita masuk ke dalam, lihat Vania, kasihan dia.” Keduanya pun langsung masuk ke dalam ruang rawat yang ditempati oleh Vania. Zafran langsung menyunggingkan senyum ketika ia masuk dan melihat Vania yang berbaring sambil terus mengusap perutnya. Langkah kakinya bertambah cepat kala ia tak sabar untuk segera mendekap tubuh istrinya dalam balutan rasa yang bahagia. Langsung saja, Zafran tak mau menunggu lama untuk memeluk tubuh istrinya. Ia mendekap penuh rasa hangat Vania yang langsung membalasnya. Sulis yang terharu dengan pemandangan itu pun langsung mengabadikan momen di mana Zafran memeluk istrinya dengan begitu erat. Tak lupa, ia mengirimkan foto tersebut dan mengabarkan kehamilan Vania pada suaminya. Herman harus tahu jika ia akan menjadi seorang kakek, tadi pun Sulis sempat memberikan kabar mengenai Vania kepada suaminya yang membuat Herman langsung merasa khawatir. Kabar baik ini harus segera disampaikan agar Herman dapat bekerja dengan tenang. Pelukan yang tercipta di antara Zafran dan Vania pun terlepas, mereka sama-sama menyunggingkan senyuman yang sangat manis dan menyiratkan kebahagiaan di masing-masing mata keduanya. “Aku senang aku hamil,” gumam Vania, kembali mengelus perutnya dengan sangat embut. Zafran langsung mengangguki kalimat yang dilontarkan oleh istrinya. Zafran membalas, “Aku pun bahagia banget, karena jarang kita bakal jadi orang tua.” “Sudah Bunda bilang ‘kan, kamu itu lagi mengandung, Vania. Soalnya Bunda rasain perbedaan pas Bunda pegang perut kamu,” ujar Sulis, ia sudah berdiri di samping Zafran dan menatap Vania dalam balita yang sama bahagianya. “Vana gak sangka aja, Bun. Soalnya awal bulan kemarin Vania masih menstruasi, tapi sekarang dinyatakan hamil dua bulan.” “Itu kan awal bulan alu, dan sekarang udah akhir bulan sekarang, awal bulan ini kamu belum mendapat tamu bulanan ‘kan?” Kepala Vania menggeleng untuk memberikan jawaban atas apa yang ditanyakan oleh ibu merunya. “Sekarang, kamu harus lebih berhati-hati kalau bertingkah, ada anak kalian berdua yang tumbuh dan berkembang di alam sini,” tutur Sulis, tangannya kembali bergerak untuk mengelus permukaan perut menantunya. Vania dan Zafran kompak mengangguk di waktu yang bersamaan. Mereka sama-sama menyunggingkan senyum yang membuat mereka tampak seperti dua orang yang tengah dikaruniai sesuatu yang sangat besar. Sulis mengangguk, ia mendudukkan tubuhnya di samping ranjang yang ditempati oleh Vania. Kini pikirannya mengarah pada keluarga Vania. Tentu saja mereka berhak tahu atas berita besar yang ada, walau kini hubungan mereka bersama Zafran dan Vania sedang tidak baik-baik saja. Ia pun berujar, “Kalian harus kasih tahu berita ini ke Vano dan juga Nenek kamu, Vania. Mereka berhak tahu kondisi kamu sekarang, semoga aja, dengan berita kehamilan kamu saat ini, mereka akan bisa menjalin hubungan yang baik lagi dengan kalian. Nenek kamu berambisi untuk memisahkan kamu dengan Zafran bukan?” Vania menganggukkan kepalanya lemah, mengingat neneknya. “Siapa tahu, setelah tahu kehamilan kamu, Nenek kamu berubah pikiran. Karena, gak mungkin juga kalu dia paksa kamu buat bercerai sedangkan kamu sedang mengandung anak dari Zafran. Mungkin janin yang ada dalam kandungan kamu sekarang adalah anugerah yang Allah berikan pada kalian untuk mempererat hubungan yang ada di antara kalian berdua.” “Semoga aja, aku berharap banget kalau Nenek gak akan lagi mencoba untuk memisahkan aku dan Zafran,” gumam Vania. 0o0o0o0o0 Setelah mengantarkan Sulis dan Vania pulang, Zafran langsung pergi menuju ke rumah yang ditempati oleh Vano dan Atina. Kebetulan hari sudah beranjak soe, Zafran yakin jika kakak iparnya itu sudah pulang bekerja. Perkiraannya tak salah kala ia melihat motor Vano yang terparkir rapi di luar, ia pun merasa lega jika Vano berada di rumah. Setidaknya, Zafran tak akan menghadapi Atina sendirian. Kini, ia pun langsung melangkahkan kakinya ke dalam, tanpa mengetuk pintu karena Zafran merasa sudah tak canggung lagi untuk masuk ke rumah ini. “Assalamu’alaikum,” salam Zafran, ia sampai di ruang utama yang mana ditempati oleh Vano dan juga Atina. Vano langsung terlihat antusias untuk menyambut kedatangannya, sangat berbeda dengan sosok Atina yang langsung menunjukkan mimik wajah yang sanat ketus. “Mau apa kamu datang ke sini? Sudah puas karena berhasil bawa cucu saya untuk kabur?” Sambutan bernada ketus Zafran dapatkan. Namun, itu sama sekali tak membuatnya kehilangan niat untuk melangkah dan mendudukkan tubuhnya di samping Vano tanpa menunggu dipersilahkan oleh siapa pun. “A-ku mau minta maaf, tapi perlu aku tegaskan bahwa perginya aku dan Vania itu atas keputusan bersama, Vania juga mau pergi dari sini.” Zafran mengutarakan kalimatnya sambil menatap ke arah Atina. Walau pandangannya sama sekali tak berbalas, Zafran sama sekali tak peduli. Lalu ia menoleh ke arah Vano sejenak. “Kedatangan Zafran ke sini ada maksud untuk menyampaikan sesuatu. Tadi pagi, Vania dilarikan ke rumah sakit.” Berhasil, kalimat yang baru saja dilontarkan olehnya langsung membuat Atina menoleh dengan mimik wajah yang menyiratkan rasa penasaran dan juga khawatir. Begitu pun dengan Vano yang langsung mengerutkan keningnya. “Vania kenapa?” tanya Vano, dengan napas yang terdengar memburu. Zafran menarik napas, ia menyunggingkan senyum terbaiknya. “Awalnya Vania jatuh di lantai, lalu dia keram perut gitu. Dan setelah dibawa ke rumah sakit, Vania dinyatakan hamil, dan sekarang keadaannya baik-baik aja.” Vano langsung tersenyum senang mendengar berita yang disampaikan oleh adik iparnya. Berbeda dengan Atina yang langsung memekik, “APA?! VANIA HAMIL?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD