“Vania tolong cuci piring ya!” teriak Sulis.
Vania yang baru saja sampai di dapur sambil membawa piring kotor langsung menghela napas mendengar teriakan yang berasal dari ruang makan terebut. Ia baru saja sehari beda di rumah orang tua Zafran. Namun, Sulis sudah membebankan pekerjaan rumah tangga padanya.
Inilah alasan mengapa Vania tak ingin tinggal di rumah mertuanya, ia tak mau jika dirinya akan menjadi pembantu di rumah mertuanya sendiri. Belum lagi dengan segala omelan yang diberikan oleh Sulis nantinya.
Vania mencoba untuk tersenyum, ia pun hanya bisa melakukan apa yang ditugaskan oleh ibu mertuanya. Sesampainya di dapur, Vania langsung saja melaksanakan perintah yang diberikan oleh Sulis.
Dengan mimik wajahnya yang cemberut, Vania pun mulai menyalakan keran dan membasahi sponge dengan sabun cair, lalu ia meremasnya hingga keluar busa putih. Masih dengan mimik wajahnya yang tak begitu bersahabat, Vania pun mulai melakukan kegiatan mencucinya. Entah mengapa, pekerjaan ringan seperti ini terasa berat jika dilakukan di rumah mertua.
Padahal, selama ini pun Vania selalu melaksanakan kegiatan mencuci piring di rumahnya. Hanya saja, ketika ia melakukan di rumahnya sendiri, Vania merasa melakukannya tanpa beban.
“Vania, nanti kalau Zafran dan ayahnya Zafran udah berangkat, kita pel lantai ya, kamu pel lantai di dalam, Bunda pel lantai di luar.”
Menyeruak suara Sulis yang membuat Vania langsung menolehkan kepalanya sejenak. Untuk menjaga kesopanannya sebagai seorang menantu, Vania pun menyunggingkan senyuman manisnya dan mengangguk, walau hatinya menggerutu, memprotes kalimat yang baru saja dilontarkan oleh ibu mertuanya.
Belum satu pekerjaan selesai, Vania suah dihadapkan dengan pekerjaan lainnya lagi, Vania sampai harus menarik napas sabar dibuatnya.
“Iya, Bunda, nanti kalau aku udah selesai aku langsung pel lantai.”
“Ya sudah, Bunda mau ke kamar dulu ya.” Sulis kembali meninggalkan dapur setelah ia mengutarakan kalimat pamit.
Vania menghela napas dan kembali melanjutkan kegiatan mencucinya, ia melakukannya dengan gerakan yang sangat malas dan sengaja membuat waktu lebih lama. Jujur saja, Vania sudah merasa tak betah saja. Namun, pulang ke rumahnya hari ini juga bukanlah sebuah ide yang bagus.
Mungkin Atina akan marah padanya, dan Atina tak akan segan untuk memisahkannya dengan Zafran. Vania tak sanggup hanya untuk memikirkan hal tersebut.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, tampaklah Zafran yang tersenyum melihat ke arahnya. Vania pun langsung menyunggingkan senyum pada suaminya itu, apalagi ketika Zafran sampai di hadapannya dan langsung mengecup kening Vania dengan penuh kasih sayang.
“Rajin banget istriku,” gumam Zafran, ia kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya dengan pelan. Lalu Zafran pun berdiri tegak di samping istrinya, tangannya secara otomatis membantu Vania untuk mencuci piring.
Mendapati sikap suaminya yang seperti itu, Vania mulai menyingkirkan perasaan kesal di hatinya. Ia sangat senang jika Zafran membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Vania langsung menoleh dan berjinjit, mendaratkan sebuah kecupan di pipi suaminya dengan tempo yang sangat singkat. “Suamiku juga rajin banget.”
Tawa ringan muncul di bibir Zafran, pria itu langsung membasuh piring yang telah dicuci oleh Vania dan menyimpannya di atas rak yang ada tak jauh dari sana. Zafran tahu jika istrinya itu merasa tak begitu nyaman di rumahnya. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk membuat Vania betah tinggal berada di sini
Besar harapan Zafran jika istrinya tak akan meminta untuk kembali ke rumah yang ditinggali oleh Vano. Maka dari itu, ia harus berusaha untuk membuat Vania benar-benar merasa nyaman untuk tinggal di rumah ini. Bahkan, Zafran baru saja memutuskan jika ia tak akan pergi menuju toko selama dua hari ke depan.
Hal itu dimaksudkan agar Zafran bisa menemani Vania di rumah ini, hari-hari pertama di rumah mertua tak akan mudah, maka dari itu Zafran akan membuat Vania menjajaninya dengan lebih mudah. Jika ia ada di rumah, maka Vania akan merasa jauh lebih nyaman.
“Aku bawa baju-baju aku ke rumah ibni kapan?” tanya Vania.
“Kita gak usah ambil hari ini, ya? Soalnya Nenek kamu pasti lagi marah sama kita, kita tunggu suasana mereda dulu. Nanti, aku beli baju buat kamu.” Zafran membalas, ia langsung mencuci tangannya karena semua piring dan gelas sudah selesai dibersihkan.
Begitu juga Vania, ia mencuci tangannya dan langsung mengelap tangan, Vania pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Zafran dan menyunggingkan senyumannya dengan manis. “Makasih ya, udah bantu aku.”
“Sama-sama, sekarang kamu istirahat dulu, ya,” ujar Zafran, tangannya bergerak untuk mengusap puncak kepala istrinya lembut. Zafran hampir saja menarik tangan istrinya untuk pergi, tetapi Vania langsung menarik tangannya sambil menggelengkan kepala.
“Aku udah dapat tugas lagi dari Bunda, dia suruh aku buat pel lantai. Jadi, aku mau langsung pel lantai sekarang, nanti kalau udah, aku ke kamar. Kamu mau berangkat sekarang?”
Kening Zafran mengerut mendengar kalimat yang dilontarkan oleh istrinya. Ia merasa tak tega jika harus melihat Vania yang mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga tanpa mengambil waktu untuk istirahat.
Zafran langsung membalas, “Enggak, hari ini dan besok aku gak akan pergi ke toko. Aku tahu kalau kamu perlu beradaptasi untuk tinggal di sini, maka dari itu aku akan menemani kamu.”
Sungguh, Zafran adalah suami yang sangat romantis jika terus menunjukkan sikap yang seperti ini. Vania sampai tersipu padahal Zafran tak mengutarakan kalimat puitis apa pun. Ia pun langsung menubruk tubuh suaminya dan memberikan sebuah pelukan yang sangat erat. Dalam hatinya, Vania tak henti mengucapkan syukur karena ia memiliki suami seperti Zafran.
Vania yakin, keputusannya untuk memperjuangkan keutuhan rumah tangganya bukanlah sebuah kesalahan. Zafran adalah takdir indah yang Tuhan berikan untuknya. Dan hanya Zafran, pria yang sangat tepat untuk menjadi pendamping Vania hingga akhir hayat.
“Kamu mau pel, ayo, aku bakal bantu buat pel lantai!” ajak Zafran, kini ia pergi menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur, sedangkan Vania langsung mengambul alat pel dan juga pewangi. Mengepel lantai bersama suaminya adalah kegiatan yang Vania yakini akan sangat menyenangkan.
“Kamu yakin mau bantu aku pel?” Vania masih saja mempertanyakan hal itu, padahal matanya sudah melihat sendiri bagaimana Zafran membawa seember air.
“Let’s go!” balas Zafran dengan senyum manis yang ia tunjukkan. Akhirnya, pasangan muda itu pun langsung melangkahkan kaki mereka keluar dari dapur, mereka akan memulai mengepel lantai di ruang utama.