Kabur 2

2080 Words
Kaget, adalah perasaan yang pertama kali menyambangi hati Sulis dan juga Herman kala mereka melihat kedatangan Zafran yang membawa Vania. Tubuh keduanya tampak basah, hujan memang baru saja turun sekitar tujuh menit yang lalu, dan bisa dipastikan jika keduanya menerobos tirai hujan agar bisa sampai ke rumah lebih cepat. Sulis langsung membuka pintu lebar-lebar, lantas ia berlari ke kamar untuk mengambil handuk yang tak terpakai. Langsung Sulis kembali dan memasangkan handuk itu di tubuh Zafran dan juga istrinya. “Kalian kok hujan-hujanan? Kalau hujan berteduh aja dulu padahal, biar gak basah kuyup kayak sekarang!” tegur Sulis, ia mengelap lantai basah yang dilewati oleh Vania dan Zafran. Herman yang melihat kedatangan anak dan juga menantunya tetap duduk diam di ruang tamu. Namun, ia memerhatikan pergerakan keduanya. Tampak Vania yang pucat dan juga bergetar, sepertinya gadis itu sangat kedinginan. Herman pun langsung memerintahkan istrinya agar segera membuatkan minuman hangat untuk dua orang muda yang kini sampai di hadapannya. “Bunda, buatkan teh manis hangat untuk mereka. Dan kalian, sebaiknya kalian ganti pakaian sekarang!” Herman memberi perintah. Semua orang yang mendapatkan perintah darinya pun langsung menurut. Zafran dan Vania berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan menuju kamar Zafran yang ada di rumah ini. Sesampainya di kamar, Zafran langsung menutup pintu dan menguncinya. Tubuh kekarnya bergerak dengan cepat menuju lemari, ia memilih pakaian untuknya juga pakaian yang sekiranya cocok untuk dipakai oleh sang istri. Tak ada pakaian Vania di sini, maka dai itu Zafran harus memilihkan baju miliknya. “A—aku dingin banget, mau mandi air hangat,” gumam Vania, wajahnya benar-benar sangat pucat dengan tubuh yang terus saja bergetar.  Zafran yang melihat pemandangan itu langsung merasa khawatir, dengan cepat ia menghampiri Vania dan menangkup pipi istrinya itu dengan penuh perasaan sayang. Zafran memicingkan matanya ketika sadar berapa pucatnya wajah Vania. “Kamu pucat banget, kamu kedinginan kayaknya, aku minta maaf karena udah buat kamu kedinginan.” Tangan Zafran mengeratkan handuk yang ada di bahu Vania agar memberikan kehangatan pada tubuh istrinya.  “Aku siapkan air hangat dulu buat kamu!” ujar Zafran, ia langsung meninggalkan Vania dan menuju kamar mandi. Seperti yang tadi diucapkannya, Zafran akan menyiapkan air hangat untuk Vania. Ia tak tega melihat wajah pucat wanita itu. Singkat cerita, kini Vania telah selesai mandi, begitu juga Zafran. Bahkan, keduanya telah selesai berpakaian. Vania tampak sangat menggemaskan berada dalam balutan jaket milik Zafran. Zafran memang sengaja memerintahkan Vania untuk memakai jaketnya, ia tahu jika istrinya itu kedinginan. Vania pun sama sekali tak menolak, ia justru bergelung nyaman dalam balutan jaket yang ia kenakan. “Kita turun ke bawah, ya? Bunda sama Ayah pasti mau ngobrol sama kita.” Ajakan yang diajukan oleh Zafran sama sekali tak mendapatkan penolakan apa pun dari Vania. Wanita muda itu langsung menganggukkan kepalnya untuk menyetujui. Pun keduanya langsung berjalan bergandengan tangan seperti tadi, berjalan gontai menuju ruang utama di mana orang tua berada. Sulis dan Herman memang sudah menunggu kedatangan keduanya. Zafran melihat ada dua cangkir teh manis yang masih mengepulkan asap di atas meja, ia sangat yakin jika itu adalah teh yang dibuat untuknya dan juga Vania. Tahu jika istrinya canggung, Zafran langsung saja menarik tangan Vania agar duduk di sampingnya. Keduanya duduk sangat rapat hingga tak ada jarak di antara mereka barang satu senti pun. Tak hanya sampai di situ, Zafran pun mengambil satu cangkir dan langsung memberikannya ada Vania. Dan semua yang dilakukan oleh Zafran tak luput dari perhatian Sulis ataupun Herman. Keduanya sama-sama memperhatikan tingkah putra sulung mereka yang begitu menyayangi istrinya. Sulis menarik napas, mencoba untuk mengabaikan perilaku yang ditunjukkan oleh putranya itu. Ia berkata, “Sekarang Bunda mau tanya, bagaimana bisa kalian berdua ke sini? Kalian udah sepakat buat tinggal di sini atau hanya menginap di sini?” Tentu saja Vania tak langsung menjawab, ia menoleh ke arah Zafran dan menunjukkan kode melalui tatapannya agar pria itu saja yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sulis. Mengerti dengan apa yang dimaksud oleh istrinya, Zafran langsung merangkul pinggang Vania dan menatap ke arah ibunya. “Tadi aku bawa Vania kabur dari rumah, aku bawa Vania dari jendela kamar,” balas Zafran jujur. Kejujurannya membuat Sulis dan Herman langsung melotot kaget. Lantas keduanya sama-sama menggelengkan kepala. “Jadi kamu bukan datang ke rumah Vania secara baik-baik dan berbicara dengan neneknya? Kamu malah datang lewat jendela dan kemudian kalian kabur bersama?” pekik Herman. Dan ketika ia mendapatkan sebuah anggukkan kepala dari putra dan juga menantunya, tangannya secara otomatis langsung mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya Zafran dan Vania melakukan tindakan yang sangat kekanak-kanakan. Di sampingnya, Sulis menunjukkan reaksi yang sama. Ia bahkan langsung menghela napas. “Kalian itu bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah! Seharusnya sebelum berbuat, kalian itu memikirkan akibatnya. Kalau begini, nenek kamu akan menganggap jika Zafran tidak memiliki niat yang baik! Kabur itu bukan suatu tindakan yang dewasa, Zafran, Vania, harusnya kalian mengerti akan hal itu.” “Ayah yakin kalau sekarang nenek kamu pasti bertambah gak suka pada Zafran,” timpal Herman. Baik Zafran ataupun Vania sama sekali tak memikirkan hal itu. Keduanya saling pandangan dengan mimik wajah yang suit diartikan. Yang ada dalam pikiran Zafran hanyalah bagaimana cara untuk membawa Vania ke rumahnya, membebaskan istrinya dari belenggu yang diciptakan oleh Atina. Dan yang ada dalam pikiran Vania hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa bersama Zafran. Vania tak mau jika Atina benar-benar memisahkannya dengan Zafran, ia tak mau jika pernikahan yang baru saja dijalaninya akan kandas karena ulah neneknya sendiri. “Zafran gak peduli apakah ini tindakan yang dewasa atau sebaiknya, yang pasti Zafran cuman mau Vania ada di sini, sama aku!” tegas Zafran, bahkan ia merangkul pinggang Vania lebih erat dari sebelumnya. Sedangkan Vania menunduk, ia menyimpan cangkir yang tadi dipegangnya dan memilih untuk diam. “Kalau kalian mencari cara keluar dengan cara yang seperti ini, bisa-bisa kalian malah terjebak dalam suasana yang semakin keruh. Kamu gak izin bawa Vania? Nanti nenek dan kakaknya Vania bakal bingung cari Vania!” “Kak Vano tahu kok kalau aku pergi ke sini sama Zafran,” sela Vania, kini ia berani untuk mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Sulis dan Herman secara bergantian. “Dan kakak kamu kasih izin?” tanya Sulis. Zafran dan Vania kompak menganggukkan kepalanya. Setidaknya, hal itu bisa membuat Sulis dan Herman merasa jauh lebih lega dari sebelumnya. Namun, tetap saja tindakan yang dilakukan oleh Zafran dan Vania tidak bisa dibenarkan. Ternyata, keduanya memang belum bisa dikatakan dewasa walau keduanya telah menikah. “Jadi kalian mau tinggal di sini?” tanya Sulis lagi. Zafran langsung menganggukkan kepalnya dengan cepat dan yakin, sangat berbeda dengan Vania yang hanya diam. Jika ditanya apakah ia ingin tinggal di sini, maka jawabannya adalah tidak. Walau ia tengah berkonflik dengan Atina, Vania tetap tak mau tinggal di rumah mertuanya. Namun, Vania akan mencoba untuk bertahan di rumah ini selama beberapa waktu ke depan, selama hubungannya dan Atina belum membaik. Ketika nanti Atina sudah luluh, maka Vania akan kembali mengajak Zafran untuk tinggal di rumahnya bersama Vano. “Vania, kamu mau kalau tinggal di sini?” Herman yang menyadari ada keraguan di mata menantunya pun langsung bertanya. Kalimat yang dilontarkan olehnya membuat semua orang yang ada di sana langsung melihatnya ke arahnya. Tak mau menimbulkan perdebatan, Vania pun menganggukkan kepalanya penuh keraguan, ia pun menambahkan senyum tipis. “Kalau begitu, sekarang kalian istirahat, dan mulai besok kamu bawa barang-barang kamu ke sini ya, Vania,” tutur Sulis. Yang Vania lakukan hanya mengangguk singkat. Setelahnya, Zafran langsung mengajaknya untuk kembali ke kamar, Vania langsung saja menyetujui hal itu. Keduanya berjalan dengan tempo yang sedikit cepat dari sebelumnya. Sesampainya di kamar, Vania langsung berlari ke arah kasur karena rasa dingin yang tak kuat ia tahan. Untuk menghilangkan rasa dingin itu, Vania sampai mengubur seluruh tubuhnya di dalam selimut, ia menggigil yang membuat Zafran langsung khawatir. Dalam keadaan yang sedikit panik, Zafran menghampiri istrinya dan bergabung ke dalam selimut, tetapi ia tak membaringkan tubuh. “Vania, kamu sakit ya? Pasti gara-gara kehujanan,” gumam Zafran, mengangkat tubuh istrinya yang langsung ia peluk dengan sangat erat. Zafran mencoba untuk menyalurkan rasa hangat dari tubuhnya ke tubuh Vania. “Dingin banget,” lirih Vania, tubuhnya yang menggigil mulai terasa panas, ia terserang demam. Sebenarnya, gejalanya sudah Vania rasakan sejak ia masih berhadapan dengan mertuanya. Namun, karena merasa segan, akhirnya Vania menahannya dan hanya diam saja. Kini, ia menggigil dengan begitu kuat yang membuat Zafran sangat panik. “Kita ke rumah sakit ya?” Vania menggeleng, lalu menjawab, “Aku Cuma mau tidur aja. Kamu temenin aku ya.” Tanpa harus diminta pun Zafran akan menemani istrinya. Kini ia menggunakan kedua tangannya untuk memeluk dan juga mengelus punggung istrinya dengan pelan. Terbuai, Vania pun mulai memejamkan matanya hingga ia hampir saja terlelap. Namun, sebelum itu benar-benar terjadi, Vania berucap, “A—ku gak mau tinggal di sini selamanya, nanti kita pindah lagi ya ke rumah aku.” “Kenapa? Kamu gak mau tinggal di rumah aku karena apa? Kemarin aja aku mau tinggal di rumah kamu.” “Aku gak betah, nanti kalau udah baik-baik aja, kita tinggal di rumah aku lagi aja.” Zafran menghela napas, tak menjawab kalimat yang dilontarkan oleh istrinya. Setelah sikap yang ditunjukkan oleh Atina, Vania masih saja berharap jika mereka akan kembali tinggal di rumah itu. Mungkin Zafran akan mau kembali, tetapi hanya jika Atina tidak lagi berada di sana. 0o0o0o0o0 “Adik kamu itu memang harus diberi pelajaran, supaya dia gak kecanduan sama suaminya sendiri,” ujar Atina, mulutnya komat-kamit ketika tangannya disibukkan untuk mengalas nasi.  Vano yang mendengar lontaran kalimat neneknya itu masih mencoba untuk fokus pada kegiatan makannya. Ia menunduk dan mencoba untuk tak membalas kalimat Atina. Namun, Atina terus saja mengungkakan banyak kalimat yang membuat Vano akhirnya mendongak. “Kamu kasih tahu sama Vania, yang mananya suami itu bisa jadi mantan, tapi kalau keluarga gak ada yang namanya mantan. Vania harus pintar-pintar dalam mengambil sikap. Dia harus tahu mana yang berpotensi untuk meninggalkannya dan mana orang yang tidak berpotensi untuk itu.” Vano mengangguk singkat, tak mau banyak bertukar kalimat dengan wanita tua yang kini tengah menambahkan lauk pauk di atas piring. Toh, kini Vania sudah tidak ada di kamarnya. Adik kesayangannya itu sudah berada di rumah suaminya. “Ya sudah, kamu lanjutkan makannya, Nenek mau antarkan makan ke kamar Vania dulu.” Lagi, hanya sebuah anggukkan kepala yang Vano berikan. Atina pun akhirnya melangkahkan kakinya dengan gontai, tangannya dengan sangat hati-hati memegangi piring yang ia bawa. Hingga ketika sampai di kamar cucunya, Atina langsung saja membuka pintu itu dengan lancar, tanpa ada hambatan apa pun. Namun, pemandangan asing membuatnya langsung mengernyit. Tak ada Vania di dalamnya, pintu kamar mandi pun terbuka dan tak memperlihatkan keberadaan Vania di sana. Belum ada kepanikan dalam diri Atina, dengan perasaannya yang masih tenang, Atina pun masuk ke dalam kamar. Ia menyimpan piring di atas nakas, lantas Atina langsung melihat ke arah jendela yang terbuka. “Vania!” panggilnya, mencoba untuk memberitahukan keberadaannya pada sang cucu. Namun, tak ada sahutan sama sekali. Lalu Atina keluar dari kamar itu, mungkin saja Vania sedang pergi ke ruangan lain yang ada di rumah ini. Banyak sudut yang Atina datangi. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Vania. Merasa putus asa dengan pencariannya, Atina pun langsung melangkahkan kakinya cepat kembali ke ruang makan, menghampiri Vano yang masih saja menikmati makanannya dengan santai. “Vano, di mana adik kamu?” tanya Atina langsung sesampainya ia di ruang makan. Vano yang tahu jika adiknya tidak ada pun langsung mendongak, menelan makanannya dengan paksa. Ia berpura-pura untuk menunjukkan mimik wajah bingung. “Vania? Ya ada di kamarnya, Nek,” balas Vano, berusaha terlihat natural agar neneknya tak menaruh kecurigaan sama sekali. Kepala Atina langsung menggeleng dengan cepat. “Gak ada! Coba kamu cari di mana adik kamu, Vania sama sekali gak ada di kamarnya dan nenek udah cari dia ke beberapa tempat!” Vano langsung bangkit, sengaja menunjukkan mimik wajah kaget yang dibuat-buat. “Vania gak ada? Biar aku cari dia!” Tubuh Vano bangkit, dengan gesit ia berjalan ke sana-sini untuk mencari keberadaan adiknya yang mana ia sudah tahu tak ada di rumah. Bagai orang bodoh memang, tetapi Vano harus bersikap seolah ia tak tahu apa-apa demi untuk melindungi dirinya dari amukan Atina yang bisa menggelegar kapan saja. Atina yang panik pun langsung mengikuti langkah kaki Vano dengan cepat. Ia bergumam, “Kalau sampai Vania gak ada, pasti Zafran yang berulah!” “Nek, Vania gak ada. Apa mungkin Vania kabur?” Vano berhenti melangkah, ia membalikkan tubuh dan melihat ke arah Atina dengan mimik wajah yang sangat panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD