Pertengkaran Hebat

1063 Words
Zafran langsung memegang pipinya yang baru saja mendapatkan tamparan yang sangat keras dari Atina. Kini, tatapan matanya langsung menajam dengan rahang yang mengeras. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat, ingin rasanya Zafran membalas perbuatan tersebut jika saja makhluk yang baru saja melakukan tindak kekerasan di hadapannya bukanlah wanita tua yang berstatus sebagai nenek dari istrinya. “Berani-beraninya kamu membentak saya!” geram Atina, salah satu jari telunjuknya menunjuk wajah Zafran dengan sangat lancang. Zafran tak habis pikir, setelah apa yang dikatakan oleh Atina tadi, wanita itu Masih bisa-bisanya marah karena Zafran yang berkata dengan nada tinggi. Bagaimana mungkin Zafran bisa berkata dengan santai kepada orang yang menyebut pernikahannya sebagai sebuah kesalahan? Tidak, menikahi Vania bukanlah sebuah kesalahan yang Zafran lakukan, menikah dengan Vania adalah takdir yang sangat indah yang ada dalam hidup Zafran, dan begitu juga dengan Vania. Mereka menikah atas dasar cinta, bukan karena terpaksa atau dituntut oleh sebuah keadaan yang membuat mereka tak bisa menolak. Zafran sendiri yang memilih Vania, dan begitu juga Vania yang memilih Zafran. “Nek, bagaimana mungkin aku bisa sabar menghadapi Nenek, kalau Nenek bilang jika menikahnya aku dan Vania adalah sebuah kesalahan? Apakah Nenek ingin mengingkari takdir yang telah digariskan oleh Allah?” pekik Zafran, napasnya memburu dan tak beraturan. Lalu Zafran mengusap wajahnya kasar dan mengalihkan pandangannya. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa memiliki nenek mertua yang seperti Atina. Apakah ini adalah ujian pernikahan yang dihadirkan oleh Tuhan untuknya? Atina pun sama demikian, mengalihkan pandangannya dengan napas yang memburu. Ia marah, sangat marah. Ingin rasanya ia kembali ke masa lalu, dan jika itu terjadi maka Atina akan menghalangi pernikahan yang dilangsungkan antara Vania dan juga Zafran. Sekarang Atina jadi menyesal, mengapa dulu ia tidak melibatkan dirinya dalam pernikahan yang akan digelar oleh cucunya. Jika dulu Atina mau melibatkan dirinya dan memaksakan dirinya untuk datang ke sini, mungkin ia akan tahu pria seperti apa yang akan menjadi suami dari cucu perempuannya. Namun kini, semuanya sudah terlambat. Pernikahan itu sudah terlaksana dan kini status mereka telah resmi menjadi suami dan istri. Tak banyak yang bisa Atina lakukan selain ... memisahkan mereka. “Nenek!” Pekik seseorang dari dalam rumah. Atina dan Zafran yang mendengar suara Vania pun langsung mengalihkan tatapan mereka pada sumber suara. Tampak Vania yang berada di samping Vano tengah memerhatikan mereka sebelum kemudian wanita itu melangkahkan kakinya dengan tergesa. Saat sampai di ambang pintu, Vania langsung menarik tangan Atina sehingga wanita tua itu terpaksa memundurkan tubuhnya satu langkah. Lalu Vania langsung berdiri di samping suaminya yang tampak langsung merangkul bahu Vania dengan lembut. “A—aku mohon kalian jangan berantem, kan aku udah bilang agar kalian bisa memperbaiki sikap kalian masing-masing!” Vania berteriak dengan nada yang terdengar frustrasi. Ia melihat ke arah suami dan juga neneknya secara bergantian. Napasnya sangat memburu, lalu Vania mengusap wajahnya dengan kasar, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh keduanya. “Bagaimana Nenek bisa mengubah sikap jika suami kamu itu gak sopan sama Nenek? Kamu tahu, tadi Zafran berani bentak-bentak Nenek!” “ITU KARENA NENEK YANG BILANG KALAU MENIKAHNYA AKU DAN VANIA ITU ADALAH SEBUAH KESALAHAN!” bentak Zafran yang gagal untuk mengontrol emosinya. Vania yang berada di sampingnya langsung menggunakan salah satu tangannya untuk mengusap lembut punggung suaminya itu, mencoba untuk meredakan emosi yang dirasa. “Nek, apa benar kalau Nenek bilang itu kesalahan?” Vania kini menatap ke arah Atina, meminta penjelasan dari apa yang telah dikatakan oleh Zafran tadi. Atina langsung menunjukkan mimik wajah kesal, wanita tua itu juga melipat tangannya di d**a. Vano yang berdiri di belakang Atina bingung harus berbuat apa, ia tak cukup berani untuk membela Zafran, juga tak mau membela Atina yang salah di matanya. Alhasil Vano hanya diam saja dan memperhatikan, berjaga-jaga jika akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lebih dari perkataan yang kasar dan tajam. Setelah sempat terdiam selama beberapa saat, Atina akhirnya berkata, “Bukankah apa yang Nenek bilang itu benar? Menikahnya kamu dengan Zafran adalah sebuah kesalahan. Lebih tepatnya, kamu salah memilih suami yang tepat untuk kamu, Vania!” “Nek—“ “Dengarkan dulu Nenek, Vania! Kamu seharusnya lebih pintar lagi mencari suami. Seharusnya, kamu memilih suami yang jauh lebih dewasa kamu, sudah mapan, dan juga pastinya memiliki sopan santun yang tinggi. Bukan bocah kayak Zafran yang tingkahnya masih kayak anak yang kurang didikan!” Zafran mengeram marah, ia mengepalkan tangannya. Namun, ia tak melakukan apa-apa karena ada Vania yang merangkul pinggangnya. Zafran hanya mampu membalas kalimat yang dilontarkan oleh wanita tua itu. “Nek, aku memang belum dewasa, tetapi aku juga bukan anak-anak seperti yang Nenek maksud. Mungkin aku juga belum mapan layaknya pengusaha yang udah bisa mendirikan restoran bintang lima, tapi aku juga udah bisa menafkahi Vania dengan baik! Dan yang paling penting yang harus Nenek ingat adalah, aku dan Vania suah menikah. Sekarang, aku adalah suaminya. Aku lebih berhak atas diri Vania daripada siapa pun!” “Saya bisa pisahkan kalian! Vania, ke sini kamu!” “Akh!” Vania meringis kencang kala tangannya ditarik dengan paksa oleh Atina. Hampir saja kepalanya terbentur pintu jika Zafran tidak manahan tubuhnya. “Tolong jangan perlakukan kasar istri saya!” bentak Zafran. Atina sama sekali tak peduli, ia menarik paksa Vania hingga cucunya itu kesakitan. Atina langsung menempatkan tubuh Vania di belakang tubuhnya dengan cara mendorongnya kuat. Untung saja Vano dengan sigap langsung menangkap tubuh adiknya itu sehingga Vania sama sekali tak terjatuh. “Vania itu cucu saya! Dia akan tinggal di sini, sedangkan kamu, silakan kamu pergi dari rumah ini.” Zafran diam, matanya menatap lurus ke arah Atina dengan tatapan yang saat akan emosi. Sedangkan Vania, ia langsung memberontak dalam pelukan kakaknya. “Nenek gak bisa gitu! Zafran itu suami aku! Bagaimana mungkin aku tinggal terpisah sama dia?” Teriakan nyaring yang dikeluarkan oleh Vania sama sekali tak berpengaruh. Bukannya meluluh, Atina justru langsung mendorong tubuh Zafran dengan kasar. Setelahnya , Atina langsung menutup pintu rumah dengan sanat kencang hingga menimbulkan suara yang sanat nyaring. BRAK! “Enggak, Nek! Aku gak mau kalau sampai aku dan Zafran tinggal terpisah! Aku gak mau. Zafran jangan pergi!!!” Vania berhasil keluar dari pelukan yang diberikan oleh Vania. Ia mencoba untuk membuka pintu, tetapi niatnya itu tak bisa dilakukan karena Atina yang menghalanginya. Vania terus berusaha dengan keras untuk bisa membuka pintu. Namun, tubuhnya meluruh dan menangis tersedu kala ia mendengar suara deru motor yang menjauhi pekarangan rumahnya. “ZAFRAN JANGAN PERGI!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD