Tuntutan Pisah

1006 Words
Atina dengan emosi yang masih menguasai jiwanya kini terdiam sembari menatap tajam ke arah Vania yang tak henti menangis. Wanita muda yang tak lain adalah cucunya tersebut menangis tersedu-sedu sejak tadi. Tentu saja Vania tengah menangisi suaminya yang telah pergi. Ada Vano yang berusaha untuk menenangkan adik semata wayangnya itu dengan cara mengusap bahunya dengan lembut. Namun, apa pun yang dilakukan oleh Vano sama sekali tak berpengaruh pada Vania. Wanita muda itu masih saja menangis dengan sangat kuat. Lama-lama, tangisan yang dikeluarkan oleh Vania membuat Atina pening, bahkan wanita tua itu sampai harus memijat keningnya pelan untuk menghilangkan rasa sakit yang mendera kepalanya. Napasnya terliat kembali memburu, kini Atina langsung menunjukkan mimik wajah yang sangat tajam ke arah Vania. “Kamu jangan nangis terus, Vania! Memangnya ada apa? Laki-laki seperti Zafran itu bukan yang terbaik buat kamu! Tolong jangan kamu buang air mata kamu yang berharga hanya untuk laki-laki kayak dia!” Kalimat yang dilontarkan oleh Atina membuat Vania langsung menggelengkan kepalanya. Wanita cantik itu mengeraskan rahangnya sembari menepis tangan Vano yang ada di sampingnya. “Tapi laki-laki yang Nenek maksud itu adalah suami aku! Selama ini aku dan Zafran selalu berusaha untuk menjaga rumah tangga kita berdua, tapi Nenek—“ “KAMU ANGGAP KALAU NENEK YANG UDAH HANCURKAN RUMAH TANGGA KAMU, GITU?!” “IYA! Memang Nenek yang udah hancurkan keluarga aku, bahan Nenek juga terus bilang untuk memisahkan aku dan Zafran! Aku gak mau, Nek! Aku gak mau pisah sama Zafran!” teriak Vania, ia menjambak rambutnya sendiri untuk menyalurkan emosi yang ada dalam jiwanya. Kemudian Vania kembali berteriak dengan sangat keras dan menangis sejadi-jadinya. Vano yang tak tega melihat keadaan adiknya pun langsung angkat bicara, ia melihat ke Atina dengan kening yang berkerut tak suka. “Nek, boleh aku bicara?” Atina tak menjawab, malah menunjukkan mimik wajah yang tak bersahabat. Vano pun kembali melanjutkan kalimatnya, “Menurut aku, apa yang udah Nenek lakukan itu gak bijak, Nek. Zafran dan Vania itu sudah menikah, mereka sah sebagai suami dan juga istri di mata hukum dan juga agama. Vano minta tolong sama Nenek, tolong jangan pisahkan Vania dan Zafran dengan paksa dengan cara yang seperti ini, itu gak akan berakhir dengan baik, nek!” Kepala Vania mengangguk dengan cepat, sebagai bentuk persetujuan yang ia berikan atas kalimat yang baru saja disampaikan oleh kakaknya. Namun, Atina sama sekali tak menunjukkan respons yang berarti. Wanita tua itu malah menyilang tangannya di d**a dengan kaki yang ia tumpangkan pada kakinya yang lain. Wajahnya terlihat sangat keras, menunjukkan jika ia adalah satu-satunya orang yang berhak untuk mengambil keputusan di sini. Atina pun menarik napas, dan menghembuskannya secara perlahan kemudian. “Kalian tahu apa? Kamu belum menikah, Vano, kamu gak akan tahu apa yang terbaik buat adik kamu. Dan Vania, jangan sampai kamu buta karena cinta yang kamu miliki! Zafran bukan lai-laki yang baik buat kamu, kamu harus pisah sama dia! Nenek sendiri yang akan mengurus perceraian di antara kalian!” Dengan segera Vania menggelengkan kepala. “Enggak! Aku gak mau pisah sama Zafran, apalagi tanpa masalah seperti ini! Apa yang buat aku harus pisah sama Zafran, Nek? Dia gak berselingkuh, dia juga menafkahi aku dengan baik, dia juga tidak melakukan kekerasan apa pun sama aku! Apa yang buat aku harus pisah apa dia?!” “Karena Nenek gak suka sama dia!” bentak Atina yang membuat suasana hening untuk sementara. Namun, tak lama kemudian Vano bangkit, ia berjalan menuju kursi yang diduduki oleh Atina dan memutuskan untuk duduk di samping wanita yang menjadi ibu dari ibunya itu. Vano akan mencoba untuk berbicara baik-baik dengan Atina dan membuat wanita itu luluh hingga akhirnya mengubah keputusannya yang ia ambil dalam keadaan marah. “Nek, memangnya apa yang membuat Nenek gak suka sama Zafran? Ada masalah apa antara Nenek dan Zafran? Sejauh ini, aku lihat Zafran laki-laki yang baik, dia sangat mencintai dan juga menyayangi Vania. Buat aku sebagai seorang Kakak, aku tenang melihat Vania punya suami seperti Zafran.” Dengusan kasar terdengar. Atina langsung mendelik ke arah Vano. “Kamu gak tahu kalau dia itu gak sopan, mungkin kamu menganggap hal itu biasa aja karena kalian usianya gak jauh beda. Tapi, Nenek ini udah tua, Nenek tahu mana yang sopan dan enggak!” “Tapi Zafran itu bersikap kayak gitu juga karena dia tersinggung sama Nenek!” bela Vania dengan suara yang sangat parau, kini tangisnya telah berhenti, tetapi ia masih tampak sangat sembab dengan hidung yang merah. “Belain aja terus, mentang-mentang dia suami kamu! Suatu saat nanti kamu akan berterima kasih sama Nenek karena berusaha buat pisahin kalian berdua! Sekarang lebih baik kamu masuk kamar dan jangan coba-coba buat hubungin dia, kalau perlu, Nenek sita ponsel kamu!” 0o0o0o0o0 Zafran sudah menceritakan apa yang terjadi di rumah istrinya pada kedua orang tuanya. Sebagai orang tua dari Zafran, tentu saja Sulis dan juga Herman langsung merasa marah. Mereka tak habis pikir dengan perlakukan yang didapat oleh anak sulung mereka di rumah istrinya. “Bunda gak habis pikir, bagaimana bisa Vania punya Nenek yang seperti itu? Dan neneknya juga sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman, dia harus bisa mengambil sikap yang baik dan bijak, bukan malah seperti ini! Apalagi sampai bilang kalau kamu adalah sebuah kesalahan!” Sulis menggelengkan kepalanya setelah ia menyelesaikan kalimat yang terlontar dari mulutnya. Herman yang ada di sampingnya pun langsung menimpali. “Memangnya kalian mengapa bisa terlibat dalam konflik seperti ini?” “Nenek sendiri yang selalu berusaha buat menjatuhkan aku dan menjauhkan aku dari Vania! Bahkan tadi Vania didorong paksa ke dalam rumah!” balas Zafran , belum reda kekesalan yang ia rasakan di rumah istrinya. Tidak menyangka jika Atina akan berbuat hingga sejauh ini. Padahal, Zafran merasa jika tak ada masalah yang benar-benar nyata di antara mereka. Hanya saja, Atina yang selalu saja menyulut api pertengkaran yang membuat mereka saling menyalahkan pada akhirnya. Tiba-tiba Sulis menepuk bahu Zafran dengan pelan. Wanita paruh baya itu berkata yang mana kalimatnya sangat di luar dugaan. “Sudahlah, sebaiknya kalian turuti saja permintaan nenek tua itu! Kalian pisah, itu gak akan buat kamu rugi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD