“Aku kesel sama Nenek kamu!” keluh Zafran saat ia dan istrinya sampai di kamar. Vania segera menutup pintu dan tertawa ringan menanggapi kalimat yang baru saja dilontarkan oleh sang suami.
Vania pun berjalan mendekati Zafran yang kini duduk di bibir ranjang, lantas ia pun duduk di samping suainya tersebut. “Namanya juga orang tua, Nenek pasti mau yang terbaik buat aku. Kamu jangan ambil hati ya? Kan kamu udah ambil hati aku!”
Gombalan receh yang dilontarkan oleh Vania nyatanya mampu membuat Zafran tersenyum. Tangannya langsung bergerak untuk memeluk tubuh kecil Vania. Ada rasa hangat yang menjalar di hati dan juga tubuhnya, terlebih jendela kamar yang terbuka lebar dan membuat cahaya matahari pagi bisa masuk dengan bebas.
Tak ada yang mereka katakan selama beberapa saat, keduanya larut dalam pelukan masing-masing dan menikmati kebersamaan mereka. Vania yang memang selalu merasa nyaman dan juga aman dalam pelukan Zafran pun mempererat lilitan tangannya pada tubuh sang suami.
“Kamu mau berangkat ke toko gak hari ini?” tanya Vania, mendongak untuk dapat melihat wajah suaminya yang selalu saja tampan di matanya. Bahkan Vania harus mengedipkan matanya beberapa kali agar ia tidak larut dalam pesona yang ditunjukkan oleh pria yang kini berada dalam pelukannya sekaligus tengah memeluknya.
“Enggak, Arbani udah buka sendiri kok,” balas Zafran. Ia melepaskan pelukan di antara mereka dan berjalan menuju ke arah jendela, menikmati suasana pagi yang masih kental terasa.
Menurutnya, pagi yang ia jalani kini adalah pagi yang menyebalkan arena ia harus berhadapan dengan Atina. Bukan perkara wanita tua itu yang bertemu dengannya, bukan juga perihal Atina yang kan tinggal untuk sementara waktu di rumah istrinya, melainkan soal wawancara yang dibalut dalam suasana yang tidak mengenakkan arena pertanyaan yang dilontarkan cukup tak sopan dan terlalu frontal.
Zafran mengerti jika Atina menginginkan yang terbaik untuk cucunya, hanya saja Zafran juga merasa jika tidak seharusnya Atina menunjukkan sikap yang seperti itu. Sekarang, Zafran hanya berharap agar ke depannya Atina tidak lagi menunjukkan sikap yang seperti itu selama wanita tua itu tinggal di sini.
Tiba-tiba saja Zafran tersentak kala ada sepasang angan yang melilit pinggangnya. Tanpa harus menolehkan kepalanya, Zafran tahu jika seseorang yang tengah memeluknya kini adalah Vania. Ia pun sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut. Sebaliknya, Zafran justru kini bergerak untuk berbalik dan membuat mereka kembali berbagi pelukan.
Vania menenggelamkan hanya di d**a bidang suamnya dengan nyaman. Tak ada tempat yang lebih nyaman selain pelukan hangat suaminya. Vania melepaskannya dan beralih berdiri tepat di hadapan jendela.
Tidak berhenti sampai di sana, Vania lantas menarik tangan Zafran agar memeluknya dari belakang. Ia ingin melakukan sesuatu yang romantis dengan suaminya. Zafran pun sama sekali tak menunjukkan penolakan. Ia dengan senang hati memeluk istrinya tersebut dari belakang, posisinya kini membuat Zafran dengan mudah menumpukkan dagunya di puncak kepala istrinya.
“Kamu tumben mau diaja mesra-mesraan?” tanya Vania, sedikit terkikik geli karena Zafran yang sama sekali tak menolak perlakukannya. Padahal, selama ini Zafran bukanlah tipikal pria yang senang melakuan hal-hal romantis. Dan baru kali ini Zafran tak menunjukkan kalimat protes apa pun.
“daripada aku mesra sama cewek lain ‘kan?” balas Zafran.
Jawaban yang Vania dengar tersebut membuat Vania dengan segera melepaskan pelukan suaminya. Ia pun memutar tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Zafran dengan tatapan mata yang tajam. “Apa kamu bilang?”
Zafran menyunggingkan senyum tipis. “Aku bilang, daripada aku mesra sama cewek lain lebih baik aku mesra sama kamu ‘kan?”
Sebuah pukulan langsung mendarat di d**a bidang Zafran, Vania yang melakukannya karena kesal dengan jawaban yang terlontar. “Awas aja kalau kamu berani!” tutur Vania degan mimik wajah yang mengeras.
Zafran tertawa, tentu saja ia tak akan melakukan hal tersebut, karena jelas jika statusnya kini adalah sebagai suami dari wanita yang sangat dicintainya sejak masa sekolah. Zafran tak akan sanggup untuk menyakiti wanitanya tersebut. “Kan aku bilang lebih baik sama kamu! Lagian mana mungkin coba aku mesra sama cewek lain sedangkan di rumah aku udah punya yang secantik kamu?”
Dongkol tetapi pipinya merona, itulah yang terjadi pada diri Vania sekarang. Bibirnya tak bisa menahan senyuman manis yang tiba-tiba saja tak bisa ditolak. Vania kembali membalikkan tubuhnya, kali ini Zafran memilih untuk berdiri di samping istrinya.,
“Aku seneng deh nikah sama kamu, “ seru Vania seraya memandang ke arah luar. Zafran pun melakukan hal yang sama.
“Aku juga,” balas Zafran singkat.
Keduanya lantas larut dalam keheningan dengan pemikiran masing-masing. Ada satu hal yang sama-sama mereka syukuri, yaitu mereka yang akhirnya berjodoh dan bisa menikah. Vania sangat bahagia, begitu pula Zafran. Mereka saling mencintai satu sama lain dan tak akan mau dipisahkan.
Zafran menoleh, menatap wajah istrinya yang tampak sangat cantik apalagi ketika ada cahaya mentari pagi yang mengganggu. Namun, justru cahaya itu yang membuat wajah Vania memancarkan aura yang sangat kentara hingga Zafran merasa sayang untuk mengalihkan tatapannya walau hanya sejenak. Ia pun mengusap sebelah pipi Vania dengan cara yang sangat halus.
Apa yang dilakukannya membuat Vania menoleh, wanita muda itu menyunggingkan senyuman tulus yang sangat kentara. “Kenapa?”
“Kamu cantik banget,” bisik Zafran, bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat disukai oleh Vania. Bahkan, wanita itu menolak untuk mengedipkan matanya karena taut akan kehilangan momen.
“Baru sadar aku cantik? Kemarin-kemarin ke mana aja?” canda Vania seraya mengedipkan matanya.
“Dari kemarin juga sadar kok, makanya kita bisa pacaran samai akhirnya nikah,” balas Zafran dengan cepat.
Jawaban tersebut membuat Vania tersenyum dan mengibaskan rambutnya dengan pelan. Ia sangat percaya diri sekarang. “Ya, aku emang cantik, makanya kamu bisa klepek-klepek! Kamu juga ganteng, makanya aku suka! Ha ha ha!”
Zafran ikut tertawa dibuatnya, ia mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh perasaan sayang. “Tapi, aku baal ketemu banyak cewek yang lebih cantik dari kamu. Dan kamu juga akal ketemu sama bayak cowok yang lebih ganteng dari aku. Tugas kita berdua adalah, kita harus jaga hubungan kita dan juga jaga perasaan kita masing-masing. Jangan sampai adanya orang baru, hubungan kita jadi gak harmonis lagi.”
Sebuah anggukan kepala yang terlihat sangat tegas Vania berikan. “Pasti, aku akan jaga perasaan aku supaya hanya buat kamu aja!”
“Aku juga bakal jaga perasaan aku buat kamu!”