Vania cemberut saat tangannya sibuk mencuci piring. Mungkin ii adalah hal yang sudah sangat sering dilakukannya. Namun, perasaan yang berbeda hadir kala ia mencuci piring di rumah mertuanya. Entah mengapa Vania merasa tak suka untuk melakukannya. Apalagi jumlah piring kotor yang dicucinya sangat banyak.
Vania jadi curiga jika Sulis sudah tidak mencuci piring beberapa hari belakangan ini. Niatnya, Vania dan Zafran akan pulang saat mereka bangun tidur. Namun, hal tersebut tak dapat dilakukan karena Sulis memaksa mereka untuk sarapan bersama.
Sekarang Vania jadi merasa bahwasanya Sulis sengaja memintanya untuk sarapan di sana agar wanita berumur itu bisa memerintahkannya untuk mencuci piring.
“Vania, udah belum?” Zafran menyeruak dari belakang tubuh Vania. Ia tersenyum melihat istrinya yang tengah melakukan pekerjaan rumah tangga. Bukannya ada niat untuk membantu, Zafran malah bergerak memeluk tubuh istrinya.
Hal tersebut membuat Vania merona biasanya, tetapi tidak kali ini. Wajah Vania terlihat sangat masam dan tak mau menanggapi suaminya. Vania tetap fokus pada apa yang dia lakukan dengan tak ikhlas, ingin rasanya Vania melempar setiap piring atau gelas yang sudah ia basuh dengan busa. Tetapi sayangnya hal tersebut tak bisa ia lakukan.
“Kok diem aja?” Zafran kembali mengeluarkan suaranya. Kali ini ia melepaskan tangannya yang semula melingkar di perut rata sang stri. Untuk menatap wajah istrinya tersebut, Zafran pun memiringkan kepalanya.
Seketika itu pula senyuman yang ditunjukkannya semakin cerah kala melihat wajah cemberut Vania yang membuatnya merasa gemas. Dengan senyum yang lebar, Zafran mencubit pipi wanita tersebut dengan perasaan gemas.
“Cuci piring kok cemberut gini sih?” gumam Zafran, tertawa ringan ke arah Vania yang semakin cemberut. Vania langsung mendengus dan sebisa mungkin tak menatap suaminya yang tersenyum dan tengah berusaha untuk menggodanya.
“Aku bantuin mau?” Zafran dengan sendirinya membantu Vania untuk membersihkan piring dan gelas yang sudah berlumuran busa berwarna putih. Sapai Zafran melakukan hal seperti itu pun Vania masih sja engga untuk menatapnya.
Hal tersebut membuat Zafran menghela napas panjang, ia mempercepat pekerjaannya. Hingga bermenit-menit kemudian akhirnya ia berhasil untuk menyelesaikan pekerjaannya, bersamaan dengan Vania yang juga sudah mencuci tangan dan mengelapnya.
Tanpa banyak berkata, Vania melangkahkan kakinya pergi dari dapur. Zafran yang melihat hal tersebut pun langsung mengikuti langkah kaki istrinya karena ia tak mau jika istrinya cemberut seperti itu. Zafran berpikir keras akan kesalahannya yang membuat Vania bersikap seperti itu.
“Van, kamu kenapa kok kaya marah gitu?” Zafran menarik tangan Vania saat mereka akan melewati ruang tamu. Ia bahkan menarik Vania agar duduk di salah satu sofa bersamanya. Zafran menarik apas dalam seraya menangkup pipi istrinya dengan pelan.
Kedua telapak tangan Zafran bergerak untuk menciptakan pola abstrak di wajah Vania. “Aku ada salah sama kamu?”
Vani tahu tidak seharusnya ia memperlakukan suainya dengan cuek. Zafran sama sekali tidak bersalah. Vania hanya sedang kesal pada Sulis yang tak lain adalah ibu mertuanya yang telah menyuruhnya untuk mencuci piring dalam jumlah yang banyak.
“kamu capek ya pagi-pagi cuci piring banyak?” tebak Zafran, seolah tahu tanpa haus Vania menjawabnya.
Bukan hanya melontarkan pertanyaan, Zafran juga mengangkat tangan Vania dan mengecupnya secara bergantian, mengantarkan rasa sayangnya melalui kecupan-kecupan yang diberikan.
Vania merona, menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang tubuh. Wajahnya kini kembali tersenyum dan menunjukkan rona bahagia. “Apa sih?”
Zafran tertawa ringan, menarik tubuh Vania ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan sangat erat. :‘Kamu capek ‘kan? Aku tahu ok! Kita pulang sekarang ya, kan Nenek kamu mau datang.”
Seolah baru teringat akan kedatangan neneknya, Vania langsung bangkit dan menarik angan Zafran. “Ayok! Kita harus pulang sekarang!”
0o0o0o0o
Vania buru-buru masuk ke dalam rumahnya saat Zafran tengah memarkirkan motornya. Mereka sampai lebih cepat di rumah karena Zafran yang membawa motor dengan kecepatan yang lebih cepat dari biasanya. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, pasalnya Vano menghubungi Vania dan mengabarkan jika nenek Vania sudah sampai di rumah.
Pun benar apa yang dilihat Vania kini, Atina—neneknya telah duduk manis di ruang utama bersama seorang pria yang bernama Raman yang mana pria tersebut tak lain dan tak bukan adalah paman Vania. Melihat dua orang yang sangat dirindukannya, Vania pun segera berlari dan berlutut di bawah kaki Atina dengan senyuman yang mengembang dengan tulus.
“Nek, aku kangen banget sama Nenek!” Vania berujar seraya mencium tangan Atina. Dan apa yang dilakukannya pun mendapatkan balasan dari Atina yang langsung memeluk tubuhnya. Sepertinya nenek yang masih terlihat bugar di usianya yang tak lagi muda itu juga sangat merindukan cucunya.
“Nenek juga kangen banget sama kamu! Mana suami kamu?” tanya Atina seraya melepas pelukannya. Ia datang ke rumah ini tentu saja dengan tujuan utama untuk menemui cucu menantunya. Sayang sekali sat Vania melakukan pernikahan ia tengah sakit dan tak bisa datang.
“Ada, lagi parkir motor dulu.”
Selama ini, Atina hanya tahu jika pria yang menjadi suami dari cucunya adalah pria yang telah menjalin kasih bersama Vania saat masa sekolah. Jujur saja Atina ingin tahu bagaimana rupa dari sosok tersebut, yang paling penting adalah Atina ingin tahu bagaimana wataknya. Ia tidak mau jika saja cucunya menikah dengan pria yang memiliki watak yang kurang baik.
“Paman gak mau dipeluk, gitu?” Raman menyeruak dengan senyum kesal yang tercetak di bibirnya.
Seolah baru menyadari kehadiran pamannya, Vania pun langsung beranjak mendekati sang paman dan juga menyalami tangan pria tersebut. Tak lupa Vania juga memberikan sebuah pelukan hangat yang langsung disambut baik oleh pria yang sudah Vania anggap seperti ayahnya tersebut.
Raman menepuk-nepuk punggung Vania dan menuntun keponakannya tersebut untuk duudk di sampingnya. “Apa kabar?”
“Vania baik, Paman gimana?” balas Vania, walau sebenarnya dengan melihat keberadaan Raman di sini Vania sudah bisa memastikannya sendiri bahwa Raman baik-baik saja.
Raman pun tersenyum dan mengaguk. “Seperti yang kamu lihat.”
“Selamat pagi.”
Semua mata teralihkan pada sosok anak muda yang baru saja masuk ke ruangan. Vania langsung menyambut kedatangan suaminya dengan senyum bahagia, begitu juga dengan Raman yang memang sudah mengenal sosok Zafran. Namun, pemandangan berbeda justru ditunjukkan oleh Atina yang kini memicingkan matanya.
“Nek, ini Zafran, suami aku,” ujar Vania seraya berdiri. Zafran pun langsung menyalami tangan Atina dengan sopan, setelah itu barulah ia beralih pada sosok Raman.
“Suami kamu?” pekik Atina, tidak bisa menahan nada suaranya sendiri. Ia tahu jika pria yang menikah dengan cucunya adalah pria muda yang masih sejawat dengan Vania. Hanya saja, melihat penampakannya secara langsung membuat Atina merasa kaget.
Ternyata Vania dan suaminya benar-benar menikah muda!
Atina menatap intens ke arah Zafran dan mencoba untuk menilai penampilan dari pria tersebut. Sangat khas seperti remaja pada umumnya, wajahnya pun terlihat masih sangat belia. Atina yakin jika Zafran qkan dengan mudah mengakui jika dirinya masih lajang dan belum menikah.
Penampilan Zafran pun tidak begitu rapi, benar-benar seperti seorang remaja yang memang biasa tampil utarakan. Pemandangan tersebut membuatnya berdecak tak suka. Atina menghela napas anjang seraya mengangkat tatapannya pada Vania.
“Seharusnya kalian pacaran aja dulu, jangan dulu nikah. Kalian itu masih muda banget! Mungkin banyak perempuan yang menikah muda, tapi biasanya suaminya udah cukup umur. Sedangkan suami kamu?”
Senyuman yang sejak tadi menghiasi wajah Vania akhirnya luntur juga. Ia sama sekali tidak menyangka dengan respons yang diberikan oleh neneknya tersebut. Vania mengira jika Atina akan menyambut kedatangan Zafran dengan baik dan hangat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Vania menelan ludahnya dengan kasar seraya menoleh ke arah Zafran yang tapak asa. Asti suaminya tersebut merasa tersinggung dengan apa yang baru saja disuarakan oleh neneknya.
Untuk meredam kecanggungan yang tiba-tiba saja tercipta, Vania pun menarik tangan Zafran agar berdiri di sampingnya. Vania mencoba untuk tersenyum ke arah Atina dan berkata, ‘Kita memang masih uda, Nek, tapi aku sama Zafran udah bisa membina rumah tangga dengan baik kok. Lagi pula usia kita gak di bawah umur. Zafran udah mau masuk 20 tahun, dan aku juga udah 19 tahun.”
Atina mengusap wajahnya dengan kasar lalu menepuk-nepuk keningnya beberapa kali. “Seharusnya kamu cari suami yang udah mapan, bukan anak yang masih labil kaya kamu sendiri! Lau ada masalah, Nenek yakin kalian pasti ribut parah.”
“Saya udah bisa menafkahi Vania kok, Nek—walaupun gak besar. Saya buka usaha sendiri, toko sembako dan saya yakin jika itu bisa mencukupi kebutuhan Vania,” ujar Zafran yang geram dengan apa yabg baru saja dilontarkan oleh wanita tua tersebut. Tangannya dengan spontan menarik Vania dan merangkulnya hingga tubuh mereka merapat.
Raman yang merasa jika suasana yang tercipta mulai tak baik pun mulai menunjukkan reaksinya. “Nek, sebaiknya kita ngobrol santai gimana? Biar Nenek juga bisa lebih kenal sama Zafran dan tahu gimana sikapnya. Dia baik kok, Raman yakin kalau Zafran adalah suami yang baik buat Vania.”
“Yang terbaik, Zafran adalah suami terbaik di dunia dan untungnya Vania yang punya,” ralat Vania yang tersenyum melihat ke arah pamannya, mencoba untuk menyampaikan terima kasih pda Raman yag telah membela Zafran melalui tatapannya.
Atina menghela napas asar. “Ya udah, toh mau bagaimanapun juga kalian sudah menikah. Sekarang, yang perlu kalian ingat adalah kalian harus bertanggung jawab sama pernikahan kalian. Pikiran kalian pun harus lebih dewasa karena sekarang kalian udah bukan remaja lajang lagi!”
Vania dan Zafran kompak menganggukkan kepala. Lantas keduanya pun duduk di salah satu sofa yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang, tetapi Vania memaksa agar dirinya bisa duudk bersama Zafran. Ia merasa tak mau jauh dari suaminya tersebut, apalagi jika berhadapan dengan neneknya yang baru saja menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Zafran.
“Coba sekarang jelaskan gimana diri kamu sendiri!” titah Atina, menatap ke arah Zafran seolah seorang pengusaha yang tengah mewawancarai calon karyawannya. Apa yang diperintahkannya membuat Raman menghela napas, ia merasa jika sikap yang ditunjukkan oleh Atina terlalu berlebih.
Tidak bisakah Atina menunjukkan sikap hangat yang wajar pada Zafran? Raman khawatir jika suai dari keponakannya tersebut akan merasa tak nyaman.
Zafran yang bingung pun langsung menunjuk dadanya sendiri dengan slah satu telunjuk.
“Oya, kamu! Siapa lagi memangnya?” Atina berseru kala tahu apa maksud dari apa yang dilakukan oleh Zafran.
Vania pun tak tinggal diam, ia menyikut lengan suaminya agar pria itu segera menjawab saja apa yang diperintahkan oleh neneknya. Vania khawatir jika Atina tak akan menyukai Zafran, dan itu akan sangat berdampak buruk nantinya.
“Naa saya Zafran, saya temannya Vania waktu sekolah dulu.” Zafran bingung harus mengatakan apa lagi, ia tidak tahu penjelasan mengenai dirinya yang seperti apa yang diharapkan oleh wanita tua itu. Ia pun merasa tak nyaman, ingin rasanya Zafran pergi dari ruangan ini sekarang juga.
Namun, tentu saja hal tersebut tak bisa ia lakukan.
“Kamu bilang tadi kamu buat toko sembako? Dari mana kamu dapat uangnya? Dan sekarang berapa penghasilan kamu perbulannya! Saya perlu tahu gimana penghasilan kamu supaya saya bisa menilai apakah kamu bis menafkahi cucu saya atau tidak!”
Ketegasan yang dipancarkan oleh sosok Atina sama sekali tak membuat nyali Zafran menciut, hanya saja pria itu merasa muak. Mengapa ia merasa jika Atina tidak menyukainya?
Padahal, Atina baru kali ini bertemu dengannya. Zafran yakin jika sejak tadi ia tidak melakukan kesalahan yang membuatnya pantas untuk tidak disukai oleh Atina.
Bagaimanapun perasaannya, Zafran harus tetap menjawab. “Saya buka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayah saya. Sekarang, dalam sebulan saya memunyai penghasilan sekitar dua puluh juta, bersih.”
Nominal yang cukup besar, Atina kini merasa tenang soal finansial cucunya. Namun, ia tetap menatap serius k arah Zafran dan memikirkan pertanyaan selanjutnya yang harus ia ajukan pada Zafran.
“Kamu masih muda, apa kamu masih suka liat-liat wanita lain? Atau kalau kamu main media sosial, kamu berteman sama perempuan-perempuan cantik?”
Pertanyaan yang sangat membuat Zafran ingin menyumpal mulut nenek tua tersebut. Ia berusaha sabar dengan menarik napasnya dalam-dalam. “Kalau lihat perempuan cantik ya pasti, baymanya juga makhluk sosial yang pergi ke mana-mana, pasti ada aja ketemu perempuan. Api, saya sama sekali gak tertarik. Soal sosial media, saya gak terlalu aktif an semua sosial media saya juga dipegang sama Vania.”
Vania langsung menganggukkan kepalanya untuk menyetujui apa yang baru saja dilontarkan oleh suaminya. “Iya, semua akun Zafran aku pegang juga kok, Nek!”
“bagus kalau gitu, jangan sampai kamu sakiti cucuk Nenek! Satu lagi, Zafran, Nenek tahu kamu masih uda tapi kamu harus bisa mengurangi ego jiwa muda kamu!”
Zafran menganggukkan kepalanya dengan mantap, ia ingin segera mengakhiri perbincangan bersama Atina yang sama sejali tak menyenangkan baginya. Raman yang sedari tadi hanya menyimak pun dia saja dan tertawa dalam hati melihat situs yang ada, ternyata wanita tua memang sering kali menyebalkan.
“Okay, bagus kalau gitu. Nenek seneng kalau kalian bisa hidup rukun selama menjadi suami istri. Tapi, selama Nenek tinggal di sini maka Nenek akan awasi kalian!”