Menginap

1058 Words
Kamal berceloteh ria, balita berusia dua tahun yang belum lancar bicara itu tampak menggemaskan di atas pangkuan Vania yang menggendongnya. Vania sangat bersyukur kala Zafran dan Kamal datang menghampirinya tang tengah mengobrol bersama Yulis. Vania yakin jika dirinya berbincang lebih lama lagi bersama Sulis maka ibu mertuanya tersebut pasti akan menegurnya lebih banyak lagi. Dan Vania sangat tahu jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang menyenangkan. “Lucu ya kalau kita punya anak?” tutur Zafran sembari memainkan tangan adiknya. Vania yang semula menatap ke arah Kamal pun kini menolehkan kepalanya.  “kamu mau punya anak? Ita asih uda loh,” balas Vania singkat. “Kan udah nikah ini, pa salahnya?” Zafran membalas. Vania pun menganggukkan kepalanya. Mereka memang sudah sah menikah di mata hukum dan juga agama. Tidak ada yang salah jika Vania hamil. Hanya saja, Vania merasa jika mereka masih terlalu muda untuk menjadi orang tua. “Kamu kayak gak mau kita bahas anak?” tebak Zafran yang menyadari ada mimik wajah tak senang di mata istrinya. “Enggak, aku ngerasa belum waktunya aja buat kita punya akan,” balas Vania dengan cepat. Setelah itu, ia kembali memfokuskan matanya ke arah amal yang sangat menggemaskan. Saing menggemaskannya, Vania sampai mendaratkan kecupan berkali-kali di pipi gembul balita tersebut.  Zafran hanya diua saja, ia tersenyum melihat kedekatan yang terjalin antara istri dan juga adik kandungnya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan tangan yang melingkari tu8buh Vania hingga ia bisa memeluk dua tubuh manusia yang disayanginya. “Kita nginep ja gimana?” bisik Zafran. Sudah Vania tebak jika pada akhirnya Zafran akan meminta hal tersebut. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, Vania sama sekali tidak menaruh minat untuk menginap. Ia ingin pulang ke rumahnya, arena dengan begitu maka ia bisa lelap dengan perasaan tenang di hatinya. “Pulang aja, besok kan mau ada Nenek, aku harus masak pagi-pagi,” alibi Vania, padahal jelas bukan itu alasannya. Zafran berdecak, “Ck, kita kan bisa pulang pagi-pagi. Lagian naik motor, pasi cepet!” “Tetap aja, kalau Nenek aku datangnya pagi banget gimana? Masa kunjungan pertama Nenek ke rumah tapi kitanya gak ada? Kamu kan belum ketemu langsung sama nenek aku.” Vania mencoba untuk mencari peruntungan dengan cara membujuk suaminya tersebut. Sungguh, ia sama sekali tak mau menginap. “Bilang aja kalau kamu gak mau nginep di sini,” dengus Zafran yang sudah sangat tahu akan apa yang dipikirkan istrinya.  Setelah kalimat yang Zafran sampakan tersebut, keduanya sama-sama terdiam. Zafran tak berniat lagi mengaja istrinya itu bicara karena ia tahu jika Vania akan tetap ngotot untuk pulang. Pada akhirnya, mereka akan berdebat. “Ya udah kita nginep, tapi pagi-pagi kita pulang. Kalau bisa pas subuh kita pulang!”  Tanpa Zafran sangka, pada akhirnya Vania mau mengikuti permintaannya. Ia pun tersenyum dan langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi istrinya. “Gitu dong, kan jarang-jarang kita nginep di sini.” “Kita memang jarang, tapi kalau kamu kan sering,” sindir Vania dengan sengaja. Zafran hanya menanggapinya dengan tawa ringan. Lantas tangannya memeluk Vania dan kamal lebih erat lagi. Vania pun menyandarkan tubuhnya pada Zafran, bersama dengan Kamal; yang mulai lelap di dadanya. Vania menerawang akan apa yang tadi ia bicarakan bersama Sulis. Sepertinya mulai sekarang setiap kali Zafran datang ke sini, Vania harus mendandani suaminya tersebut dengan sebai mungkin agar Sulis tidak berpikir jika Vania tidak mengurus suaminya degan baik.  “Kamu nanti chat Kakak kamu dan bilang kalau kita mau nginep di sini!” ujar Zafran yang mengingat sosok kakak iparnya. Vania pun membalasnya dengan anggukan kepala. Iq tidak mau banyak berbicara karena takut akan kembali membangunkan Kamal yang sudah benar-benar lelap di dadanya. Vania kembali menerawang dalam pemikirannya, tetapi bukan sosok Sulis yang menjadi penyebabnya. Vania teringat akan sosok kedua orang tuanya. Ayahnya yang entah pergi ke mana, dan ibunya yang tidak memiliki hubungan yang baik dengannya. Sebelum bertemu dengan Zafran, Vania sangat bersedih akan kisah hidupnya yang terasa sangat menyedihkan. Untungnya, Zafran hadir dan membawa lembaran baru dalam kisahnya. Ia yang dulu sempat merasa terpuruk dan mengutuk hidupnya sendiri secara perlahan bangkit erat cinta dan perhatian tulus yang diberikan oleh Zafran. Sekarang, Vania sangat mensyukuri hidupnya. Ia bahagia dengan kisah hidupnya, tak ada penyesalan apa pun yang merongrong kebahagiaannya. Vania bersyukur karna Tuhan telah menghadirkan sosok Zafran dalam hidupnya. “Kamu lagi mikirin apa sih dari tadi aku manggil gak jawab?” Vania tersentak kala Zafran mencolek dagunya. Sepertinya ia terlalu ;larut dalam lamunannya sendiri hingga tidak menanggapi suainya dengan baik. “Apa?” tanya Vania. “Tadi aku manggil, tapi kamu gak nyaut-nyaut. Lagi mikirin apa, Sayang?” Vania tersenyum tipis, mengusap punggung Kamal dengan halus agar balita tersebut semakin lelap dalam tidurnya. Ia menghela napasnya dan berujar, “Aku tadi mikirin hidup aku yang dulu. Sebelum ketemu sama kamu, aku udah putus asa karena punya masalah sama ibu aku. Aku juga sedih karena keluarga hancur.” Zafran semakin memeluk tubuh istrinya, sangat mengerti akan bagaimana keadaan hati Vania sebagai seorang anak yang tersakati oleh orang tuanya. “Tapi setelah ada kamu, perlahan-lahan aku bangkit a bisa menjalani hidup aku dengan lebih baik. Dan sekarang kita berdua udah nikah. Aku merasa bersyukur banget karena bisa jadi istri kamu, sekarang aku bahagia karena hidup sama kamu. Makasih ya, Zafran,” lanjut Vania dengan senyum tulus yang mengembang di bibirnya. Zafran yang mendengar hal tersebut pun merasa terenyuh. Ia menarik napas bersamaan dengan bibirnya yang mendapatkan sebuah kecupan hanya di punca kepala istrinya. “Sama kayak kamu, aku juga bersyukur banget karena kamu jadi istri aku. Aku bahagia bis jadi suami kamu. Makasih, Vania,” balas Zafran tak kalah tulus. Keduanya tersenyum dalam balutan rasa bahagia yang sama-sama kentara. Mengucapkan kalimat tulus satu sama lain adalah hal yang sangat membahagiakan. Zafran kembali mendaratkan kecupan hangat di punca kepala istrinya, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali. “Kita sama-sama bersyukur akan pernikahan ini. Maka dari itu kita juga haus kerja sama untuk jaga hubungan kita supaya tetap baik0baik aja dan juga bertahan. Aku akan jadi suami yang baik buat kamu.” “Dan aku juga bakal jadi istri yang baik buat kamu,” timpal Vania dengan cepat. Keduanya terlarut dalam kebersamaan hingga mereka saling menatap tulus satu sama lain. Zafran kembali memeluk tubuh istrinya setelah sebelumnya terlepas. Ia membawa kepala Vania ke atas d**a bidangnya. “Kita tidur di sini aja ya bertiga sama Kamal.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD