Mama Mertua

1019 Words
Zafran dan Vania berjongkok di depan toko ikan yang tutup. Karena tak ada lagi kursi yang kosong, mereka memilih untuk makan bakso di depan toko yang tutup. Kebetulan banyak orang yang melakukan hal yang sama seperti mereka. Vania terlihat antusias walau mereka hanya memakan makanan sederhana di tempat yang juga sangat sederhana. Emperan toko bersama banyak orang asing di kanan dan kiri mereka. Zafran bahagia merasakan suasana malam ini. Ia melihat Vania yang semangat memakan bakso miliknya dan sesekali mencoba bakso milik Zafran. Dalam suasana yang sangat sederhana, Zafran merasakan bahagia yang sangat luar biasa. Ia tidak menyangka jika makan bakso di depan toko seperti ini terasa sangat menyenangkan jika dilalui bersama seseorang yang sangat dicintai. Apalagi seseorang yang dicintai itu telah resmi mengikat hubungan suci bersamanya. Zafran benar-benar merasa bersyukur atas apa yang terjadi ini. Tidak pernah sedikit pun timbul penyesalan menikah di usia muda. “Makan dong, kok bengong?” Zafran tersentak kala Vania menegurnya. Oa pun tersenyum dan mulai memakan kembali bakso miliknya yang hanya tinggal setengah karena Vania yang mencobanya. Bakso isi buah naga, cukup asing di lidah tetapi tidak begitu aneh rasanya. Mungkin karena daging buah naga yang cenderung hambar membuatnya cocok untuk disatukan dengan rasa bakso. Apalagi Vania juga menambahkan satu sedok sambil yang membuat rasanya menjadi lebih berwarna. “kamu gak mau cobain punya aku? Enak loh, kejunya lumer pas basnya dibelah,” ujar Vania seraya menyodorkan mangkuknya ke hadapan Zafran. Namun, suaminya tersebut menggelengkan kepalanya. ‘Gak usah, sama ja.” “Jelas beda dong, Zafran! Punya kamu isinya buah naga, punya aku isinya keju. Enak loh, mau coba gak sebelum aku abis ih!” Lagi, Zafran menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak begitu tertarik untuk mencoba. Mereka sama-sama memakan bakso, hanya saja dengan isian yang berbeda. Lagi pula, Zafran tidak begitu menyukai keju yang sering kali terasa asing bagi lidahnya yang sangat menyukai masakan berempah. “ya udah, aku abisin yah?” tanya Vania untuk memastikan.  Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Zafran, barulah Vania kembali lahap menghabiskan makanannya. Hingga tak sampai dua menit kemudian bakso miliknya telah habis. Vania meneguk minuman yang ia beli, lantas matanya melirik ke arah mangkuk Zafran yang masih tersedia seengah porsi. Seakan mengerti dengan apa yang dinginkan oleh istrinya, Zafran pun dengan segera menyuapi Vania bakso yang sudah ia potong kecil. Dengan senang hati Vania pun melahapnya. “Kamu kayaknya mala ii lebih lahap daripada biasanya ya/” seru Zafran dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Vania sendiri tak tahu mengapa, sepertinya karena ia bertemu dengan bakso yang rasanya enak. Bukan rahasia lagi jika hampir semua kalangan menyukai bakso. Dan bakso adalah makanan yang cocok untuk dikonsumsi ketika cuaca apa pun. “Aku rasa bersyukur banget malam ini, aku seneng ita udah nikah, aku seneng liat kamu lahap,” gumam Zafran yang mana kalimatnya membuat Vania tersipu. Sama seperti Zafran, Vania pun merasa sangat bahagia. Ternyata tidak perlu maka di tempat yang mewah dengan harga makanan yang bisa menyaingi harga motor, makanan di pusat kuliner seperti ini pun sudah bisa membuat bahagia dan juga bersyukur. “Aku juga bersyukur banget, aku seneng jadi istri kamu.” 0o0o0o0o0o0 Vania duduk dengan canggung kala ibu mertuanya terus saja mengajaknya mengobrol. Hatinya mengumpati Zafran yang pergi entah ke ruangan yang mana dan hanya meninggalkannya berdua bersama dengan Sulis. “Mama perhatiin Zafran kayanya bajunya kusut, kamu gak setrika ya?” Sulis berujar dengan mimik wajah yang terkesan biasa. Namun, dengan mimik wajah yang seperti itu pun Vania sudah merasa tegang. Apalagi memang ia tidak suka menyetrika pakaian. Salah satu hal yang paling malas untuk dilakukan bagi Vania adalah menyetrika. Selama menikah dengan Zafran, tak sekalipun Vania pernah menyetrika pakaian pria tersebut. “Iya, Ma. Biasanya aku cuman lipat aja bajunya terus elus-elus pakai tangan,” balas Vania mencoba untuk bersikap biasa, sangat berbanding terbalik dengan jantungnya yang bertalu-talu. “Padahal dulu Zafran itu gak mau pakai baju kalau gak disetrika loh. Lain kali kamu setrika aja baju-bajunya, kan kalau suami rapi istri juga yang senang liatnya. Terus kalau orang liat Zafran rapi, pasti kamu juga yang dipuji sebagai istri yang baik.” Entah menyindir atau bagaimana, tetapi yang pasti Vania tida senang dengan pembicaraan yang tengah berlangsung. Ia menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang sangat kaku karena tak tahu harus berkata apa lagi. Padahal menurutnya pakaian yang digunakan oleh Zafran tidak begitu kusut, masih wajar untuk dikenakan. Mungkin beda lagi jika penglihatan mertua, menantu selalu saja ada kekurangannya. Vania akan mencoba untuk sabar, ia pun tersenyum ke arah Sulis yang masih saja menapnya dengan intens. Sebelum pernikahan, Zafran sempat beberapa kali mengajak Vania ke rumahnya dan memperkenalkan Vania kepada Sulis dan juga Herman. Namun, Vania tidak pernah terlibat dalam obrolan yang panjang sebelumnya. Mereka hanya akan saling bertegur sapa dan kemudian Vania akan kembali bersama dengan Zafran. Dan kini, ia harus terlibat percakapan dengan topik yang sama sekali tidak menyenangkan. Teguran yang diberikan oleh Sulis dengan cara yang halus tersebut membuat Vania merasa jika dirinya tak mampu mengurus penampilan Zafran dengan baik. Padahal dalam pandangan Vania, Zafran terlihat sangat keren. “Kamu nyuci baju berapa hari sekali?” Sulis kembali melemparkan pertanyaan. Apa yang ditanyakannya membuat Vania menghela napas sabar, menurutnya, apa yang ditanyakan oleh Sulis sama sekali tak perlu ditanya. Namun, demi kesopanan yang tak mungkin diabaikan, Vani pun akhirnya menjawab, “Biasanya tiga hari sekali, kadang seminggu sekali.” “Seminggu sekali? Ya ampun, Vania! Itu kelamaan! Gimana alau nanti bajunya berjamur? Mulai besok kamu cuci baju setiap hari, biar kamunya juga gak capek kalau nyuci bajunya dicicil!” Vania menghela napas panjang dan menganggukkan kepaynya dengan lesu. Jadwal mencuci saja sampai harus diatur oleh mertua, Vania merasa bersyukur setelah menikah ia dan Zafran tinggal di rumahnya. Jika tidak, maka ia yakin jika telinganya akan terus dijejali kalimat-kalimat komentar dari Sulis akan segala tidak-tanduknya. “Kamu juga kalau cuci baju itu pakai pewangi biar wangi, tadi Maa cium baju Zafran baunya biasa aja,” titah Sulis lagi. Vania benar-benar merasa sangat kesal, ia hanya menganggukkan kepalanya sembari memasang senyum palsu. Dalam hati ia tak henti berdoa agar Zafran segera datang dan Vania ingin segera pulang ke rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD