Sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Vania kemarin malam, hari ini ia dan suaminya pergi ke rumah orang tua Zafran. Keduanya sengaja berangkat jam setengah tujuh malam, tepat setelah mereka selesai makan.
Vania tidak mau berangkat terlalu larut alam karena ia taut jika kedua mertuanya kan memintanya untuk menginap. Dan semoga saja orang tua Zafran sama sekali tidak mengusulkan hal tersebut. Entah mengapa, menginap di ruah mertua bukanlah ide yang bagus bagi Vania. Jujur saja ia selalu merasa canggung setiap kali berkunjung ke rumah mertuanya, dan yang dirasakannya kerap kali membuatnya tak betah jika berada di sana.
Sebelum benar-benar menuju ke rumah orang tua Zafran, keduanya mampir di pusat kuliner malam untuk membeli martabak. Mereka tak mungkin datang ke rumah Herman dengan tangan kosong. Vania tak mau dinilai sebagai menantu yang pelit oleh mertuanya sendiri.
“Mau martabak aja?” tanya Vania setelah ia turun ari motor suamnya yang terparkir di tempat khusus parkir.
“Kita lihat-lihat aja dulu,” balas Zafran yang langsung menggandeng tangan istrinya dan membawa wanita muda itu untuk melangkah bersamanya.
Banyak penjual makanan membuat Vania terasa bingung harus membeli apa. Seketika itu pula lidahnya ingin merasakan semua makanan yang dijual di sana. Aa berbagai macam jajanan kaki lima yang sangat menggiurkan.
“Kalau kita beli bakso dulu gimana? Makan di tempat tapi?” Vania menunjuk salah seorang pedagang bakso yang ramai dikunjungi. Bukan tanpa alasan Vania memilih pedagang tersebut. Ada tulisan yang menarik perhatiannya.
Di spanduk yang terpasang di atas gerobak, Vania melihat tulisan jika bakso yang dijual di sana ada yang berisi buah naga dan juga keju. Seumur hidupnya, Vania tidak pernah merasakan bakso dengan isian lain selain daging.
Maka dari itu, Vania ingin mencobanya sekarang.
Zafran pun dengan segera mengikuti arah tunjuk istrinya. Ia mengangguk menyetujui saran yang disampaikan oleh Vania walau sebenarnya ia tidak merasa lapar. Jelas saja tidak lapar, sebelum berangkat mereka telah makan.
Namun, demi menyenangkan hati istrinya maka Zafran pun akhirnya mau menuruti keinginan Vania. “Ya udah, kita makan dulu bakso baru nanti beli martabak buat dibawa.”
Persetujuan yang disampaikan oleh Zafran jelas saja membuat Vania merasa sangat senang. Keduanya berjalan dengan cepat karena tak mau jika mereka tak kebagian tempat duudk. Beruntung mereka bergerak dengan cepat, karena dengan begitu mereka bisa mengisi dua kursi terakhir yang kosong.
Vania yakin, terlambat satu detik saja maka kursi tersebut akan terisi oleh orang lain.
“Kamu mau pesen bakso apa?” tanya Vania kepada Zafran.
Sebelum menjawab, Zafran melihat terlebih dahulu spanduk yang terpasang di atas gerobak.
“Aku mau bakso isi buah naga aja,” balas Zafran memutuskan.
“Kalau gitu aku mau pesan bakso isi keju, tapi nanti aku cobain punya kamu ya?” pinta Vania dengan wajah memohon. Zafran tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sepertinya Vania sedang berselera untuk makan bakso malam ini. Dan hal tersebut membuat Zafran merasa senang dengan aura posistif yang dikeluarkan oleh istrinya.
Vania pergi meninggalkan Zafra untuk memesan bakso, dan Zafran hanya melihat istrinya yang tapaknya memilih untuk berdiri di dekat gerobak penjual untuk menunggu pesanannya siap dihidangkan.
Zafran sendiri hanya berdiam diri saja memandangi. Bukan tanpa alasan, jika ia pergi meninggalkan kursi yang tengah didudukinya maka bukan hal mustahil jika kursi itu kemudian akan ditempati oleh orang lain.
“Permisi, saya boleh duduk di sini gak?”
Tiba-toba seorang wanita cantik yang sudah memegang semangkuk bakso berbicara pada Zafran, belum sepat Zafran menjawab, wanita itu sudah lebih dulu mendudukkan dirinya di samping Zafran.
Pemandangan tersebut membuat Vania yang berdiri di dekat penjual bakso menggerutu. Bukan karena tempat duduknya telah diisi, Vania kesal karena wanita itu duduk di dekat Zafran. Parahnya lagi, Zafran hanya diam saja dan tak mencoba untuk mempermasalahkan hal tersebut sama sekali.
Karena merasa dongkol, akhirnya Vania mendatangi suaminya tersebut yang duduk diam di tempat seperti sebelumnya. Saat sampai di hadapan suaminya, Vania tanpa pikir panjang langsung menarik tangan suaminya tersebut agar bangkit. Tak peduli dengan tatapan kaget yang diberikan oleh wanita di samping Zafran tadi.
‘‘Hey, hey! Kenapa?” Zafran bertanya dengan wajah polosnya, ia mengikuti langkah aki Vania yang tergesa-gesa.
Vania menghempaskan tangan Zafran setelah mereka sampai di samping pedagang bakso. Vania langsung menyilang tangannya di d**a dan mendelik sebal. ‘Kenapa kamu bilang? Enak ya kamu duduk sebelahan sama cewek cantik?”
Kalimat yang diungkapkan oleh Vania membuat Zafran mengerti akan situasi yang kini terjadi. Ternyata, istrinya tersebut sedang merasa cemburu pada wanita yang tadi duduk di sampingnya. Zafran pun menolehkan kepalanya untuk melihat wanita tadi da untuk memastikan apakah benar wanita yang duduk di sampingnya tadicantik atau tidak, Zafran belum sempat memerhatikannya tadi.
Apa yang dilakukan oleh Zafran membuat Vania melotot, dengan kasar ia menjambak rambut Zafran agar pria muda itu kembali menatapnya. Vania tidak rela jika Zafran menggunakan kedua matanya untuk melihat wanita lain.
“Berani ya kamu lirik-lirik cewek lain di depan aku?!” pekik Vania, sama sekali tak mau memberi ampunan pada suaminya yang kini tertawa ringan.
‘Aku Cuma mau tahu, kamu bilang dia cantik. Ya ia sih di cantik, tapi kalau bagi aku cantikkan kamu kok!” puji Zafran setelah berhasil melepaskan rambutnya dari cekalan angan Vania.
Apa yang diucapkan oleh Zafran sama sekali tidak memberikan efek apa pun terhadap Vania. Wanita muda itu masih saja terlihat sangat kesal. Zafran pun berinisiatif untuk merangkul bahu istrinya tersebut dan merapatkan tubuh mereka.
‘Jangan marah dong, kan aku Cuma duduk aja, terus ia juga cuman tumpang makan bakso, buka modus atau semacamnya,” jelas Zafran seraya mengelus puncak kepala wanita yang sangat dicintainya tersebut.
“Tetep aja aku gak suka liatnya!” ketus Vania.
“Tapi kan sekarang aku udah gak duduk sama dia.”
“Ya itu karena aku yang tarik kamu! Coba aja kalau tadi aku gak tarik kamu, aku jamin kalau amu bakal betah duduk di sana!”
“Ya iya juga sih.”
“APA KAMU BILANG?” seru Vania, menatap tajam ke arah suaminya tersebut yang hanya tertawa ringan karena berhasil mengerjai istrinya yang ternyata juga seorang pencemburu.
“Bercanda aku!”
Vania mendelik. “Awas aja kalau berani selingkuh, aku juga bakal selingkuh sama Arbani!”
Kedua tangan Vania kini menyilang di d**a, wanita itu mengalihkan pandangannya pada pesanan mereka yang tampaknya akan sap kurang dari satu menit ke depan.
“Awas aja kalau kamu berani selingkuh sama Arbani!”