Curhat

1202 Words
"Bagaimana Nino menurut kamu sayanh?" tanya Handoko setelah mereka tiba di rumah dan beristirahat sejenak di ruang tamu. "Maksud ayah?" ucap Shinta. "Iya, menurutmu bagaimana orangnya?" "Oh… baik yah, ganteng juga." Shinta tersenyum malu. "Ayah gak nyangka, ternyata kalian sudah saling mengenal sejak lama," ucap Handoko. "Iya yah. Aku juga gak nyangka bisa ketemu lagi sama dia setelah beberapa tahun lamanya." "Ternyata Nino teman SMP kamu." "Iya yah. Emm… sebenarnya bukan hanya teman yah, tapi–" "Tapi apa?" "Kami... pernah memiliki hubungan dekat yah." Shinta tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Oh ya?" Handoko terkejut seraya tersenyum. Shinta mengangguk. "Jadi, Nino dulu pernah menyatakan cintanya padaku saat kami belum lama masuk SMP. Aku lihat dia orangnya sangat baik, jadi saat itu aku menerimanya. Hanya cinta monyet. Tapi ternyata, hubungan kami berlangsung hingga kami lulus SMA." Shinta menjelaskan. "Lama juga ternyata ya nak. Kenapa kamu gak pernah kasih tau ayah?" "Hemm, waktu itu belum sempat yah." "Terus, kenapa kok kalian putus? Ada masalah apa? Atau, ada orang ketiga?" tebak Handoko. Shinta pun menggeleng cepat. "Bukan yah… bukan… Nino itu pria yang sangat baik. Sangatttt baik. Dia gak pernah selingkuh yah. Dia sangat menjaga Shinta saat kami menjalin hubungan." "Lantas, kenapa kalian berpisah?" tanya Handoko penasaran. "Ada sebab lain yang gak bisa aku ceritakan yah. Maaf…" "Oke, ayah menghargainya jika kamu tidak mau bercerita. Lalu, kamu setuju?" "Setuju tentang apa yah?" tanya Shinta bingung. "Perjodohan kalian lah, apalagi. Ayah dan papahnya Nino mengadakan makan malam dan mempertemukan kalian untuk menjodohkan kalian berdua. Dan tak disangka, kalian sudah saling mengenal lama. Jadi, sepertinya tidak terlalu sulit untuk kalian menjalani pendekatan. Ditambah lagi dulu kalian pernah saling memiliki perasaan. Sangat mudah. Dan kamu tau apa nak? Nino itu calon pewaris satu-satunya di keluarga Hermawan. Jadi, kamu sudah tau kan berapa banyak harta yang dimilikinya." Handoko tersenyum licik. "Pasti sangat banyak ya yah?" Shinta tersenyum-senyum. "Sangat. Jika kamu menikah dengan Nino, akan dipastikan kamu tidak akan kekurangan apapun. Kamu akan hidup bergelimang harta dan menjadi satu-satunya istri dari pewaris kekayaan milik Hermawan," ucap Handoko. "Iya, ayah benar." "Jadi, bagaimana? Mau atau tidak dijodohkan dengan Nino?" Handoko meledek Shinta dengan menaik turunkan kedua alisnya. "Ya mau lah yah. Aku juga sebenarnya masih cinta sama Nino," ucap Shinta tersipu malu. "Bagus kalau begitu. Tapi, ada kendala yang akan kamu hadapi," ucap Handoko dengan wajah cemas. "Apa itu yah?" "Kata om Hermawan, Nino memiliki kekasih, namanya Suci. Dia sangat mencintainya. Agak susah sepertinya membuat Nino berpaling dari perempuan itu. Apa kamu bisa membuat Nino berpaling padamu lagi?" tanya Handoko memajukan tubuhnya hampir mendekati Shinta. Shinta sejenak berpikir. "Ayah tenang saja. Serahin semuanya sama aku. Itu bukan masalah besar," ucap Shinta enteng. "Ayah gak yakin. Karena, Nino berani melawan Hermawan demi membela gadis itu padahal gadis itu buta. Aneh memang." Handoko menggelengkan kepalanya. "Apa yah? Buta?" tanya Shinta heran. "Iya, buta. Suci buta karena sebuah kecelakaan yang dialaminya. Dia bisa sembuh jika ada yang mendonorkan mata untuknya. Bisa ayah lihat, bahwa Nino memang tipe pria yang cukup setia. Buktinya, kekasihnya buta saja dia masih setia mendampinginya. Berat sepertinya tugas kamu nak." "Ayah tenang aja. Aku akan kembali menaklukkan Nino." "Baiklah. Ayah tunggu. Ayah ke kamar dulu ya," ucap Handoko lalu melangkah menuju kamarnya. "Suci… nama yang bagus tapi tak sebagus nasibnya. Aku jadi gak sabar mau ketemu dengannya. Nino sayang, aku akan membuat kamu kembali jatuh di dalam pelukanku. Apapun itu caranya akan aku lakukan," gumam Shinta seraya menampilkan senyuman yang menyeringai. *** Esok harinya, Nino mengajak Rere untuk mengunjungi rumah Suci. Mengingat hari ini adalah hari Minggu. Sudah biasa Nino dan Rere main ke tempat Suci. "No…" ucap Rere saat mereka berada di dalam perjalanan menuju rumah Suci. "Hemm…" "Semalam Lo kemana?" Rere menoleh ke arah Nino. Refleks Nino menoleh ke arah Rere lalu kembali menatap ke arah depan. "Kenapa memangnya?" tanya Nino. "Jawab dulu. Lo kemana semalam?" "Gue pergi sama bokap nyokap gue makan malam di restoran. Kenapa memangnya?" tanya Nino lagi. "Benar berarti yang gue lihat semalam." "Emang Lo lihat apa?" tanya Nino yang masih fokus menatap ke depan. "Lihat Lo sama Shinta lagi ngobrol berduaan." Ucapan Rere membuat Nino tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak. Untungnya saat mengerem, lampu lalu lintas sedang berwarna merah, kalau tidak sudah dipastikan akan terjadi tabrakan beruntun. "Gila Lo ya! Mau bikin gue celaka? Pelan-pelan lah kalau ngerem, kalau yang belakang nabrak kita gimana?" "Maaf… maaf… gue kaget tadi dengar Lo ngomong." "Kaget sih kaget, tapi gak usah nyari penyakit juga," omel Rere. "Lo lihat gue?" tanya Nino. "Iya. Lo lagi ngobrol kan berdua di bangku panjang yang ada di restoran tempat Lo makan sama keluarga Lo?" Nino mengangguk. "Lo lagi ngapain di restoran itu juga?" tanya Nino yang sudah kembali menjalankan mobilnya. "Ckckck… Lo lupa atau pura-pura lupa. Restoran tempat Lo makan semalam kan bisnis keluarga gue, no. Wajar lah kalau gue ada disana." "Ya Allah. Iya gue lupa re." "Gak penting. Yang penting, ngapain Lo ngobrol berdua sama Shinta? Bukannya dulu kata Lo dia udah nyakitin Lo? Apa jangan-jangan, Lo mau balikan lagi sama dia?" ucap Rere kesal karena mengingat curhatan Nino dulu tentang alasan dirinya putus dengan Shinta. "Ngomong apa sih Lo re… re…" "Terus ngapain dong? Bertahun-tahun gak ketemu, terus tiba-tiba ngobrol bareng. Apa gak bikin gue curiga." Tak mau membuat sahabatnya menuduh terus menerus, Nino sejenak menepikan mobilnya di tepi jalan dekat taman. Ia kemudian mematikan mesin mobil dan membuka kaca jendela mobilnya. Nino menarik napasnya dan membuangnya perlahan. "Jadi gini re–" "Apa?" "Lo tau kan bokap gue membatalkan pertunangan gue dengan Suci dan berencana menjodohkan gue dengan wanita lain?" "Iya, tau." "Semalam gue dan keluarga gue makan malam bersama rekan bisnis bokap gue. Makan malam itu bertujuan untuk memperkenalkan gue dengan anak dari rekan bisnis bokap gue." "Tunggu… jangan bilang?" Rere memotong ucapan Nino. "Ya… Shinta anak dari rekan bisnis bokap gue yang akan dijodohin sama gue," ucap Nino lesu. "Gila… gila… gila emang sih. Kok bisa sih kebetulan begitu?" Rere terkejut, benar-benar terkejut. "Gue juga gak nyangka re. Gue udah coba nolak ajakan bokap gue, tapi dia maksa. Dan nyokap gue mohon-mohon supaya gue nurutin apa mau bokap gue. Kenapa disaat gue udah benar-benar ngelupain dan dia sudah benar-benar gak ada lagi di pikiran gue, sekarang malah datang lagi di kehidupan gue." "Terus Lo mau gitu dijodohin sama bokap Lo?" Rere menatap Nino dengan sinis. "Gak mau lah re. Gue kan punya Suci. Gue sayang banget sama dia." "Ohh… kirain. Bagus deh kalau Lo punya pikiran begitu. Awas aja Lo ya, kalau sampe berani nyakitin Suci demi balik lagi sama cewek murahan kayak Shinta," ancam Rere. "Gak bakal lah re. Lo tenang aja." "Terus, kenapa muka Lo kusut begitu? Ragu sama keputusan Lo buat bertahan sama Suci?" cecar Rere. "Bukan re. Gue–" "Kenapa?" "Gue hanya ingat kejadian masa lalu itu re. Bayangannya masih sangat jelas. Bertahun-tahun gue lupain kejadian itu, dan disaat gue udah mampu lupain semuanya, dia kembali datang untuk mengingatkan luka lama yang dia buat." Nino tertunduk lesu. "Ya Allah no… Lo yang sabar ya. Makanya Lo harus perjuangin Suci gimana pun caranya. Lo gak boleh ngelepas Suci demi balik lagi sama Shinta." "Iya…" ucap Nino kemudian menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Suci. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD