Mengingat Kejadian Masa Lalu

1085 Words
Flashback on.. "Shinta pasti senang dengan hadiah yang aku bawa. Gak sabar liat wajahnya yang menggemaskan itu," ucap Nino dengan penuh senyum sambil menyetir mobil menuju kosan Shinta. Hari ini adalah hari ulang tahun Shinta bertepatan dengan hari kelulusan mereka dari sekolah menengah atas. Nino sengaja datang ke kos Shinta untuk memberikan sebuah kejutan. Tepat pukul delapan malam Nino sampai di kosan Shinta. Nino turun dari mobil dengan membawa hadiah yang sudah disiapkan. Sebuah kalung liontin yang begitu indah yang ia pilih untuk dijadikan sebagai hadiah di hari ulang tahun Shinta. Nino berjalan menuju kamar kos yang ditempati Shinta. Namun, saat sampai di depan pintu kos, ia merasa sedikit curiga karena melihat ada sepasang sepatu milik seorang lelaki di depan pintu. "Sepatu siapa ini?" gumam Nino. Nino menatap sekitar kos tersebut, sepi tidak ada penghuni yang berada di luar. Mungkin karena mereka belum pulang kerja karena rata-rata yang menempati kos tersebut adalah buruh atau karyawan kantor. Hanya Shinta sendiri yang masih berstatus sebagai pelajar. Shinta memilih tinggal di kos karena ia bosan tinggal di rumahnya. Kosan tersebut terdiri dari tiga ruangan. Dimana ruang pertama dijadikan ruang tamu atau menonton tv. Ruang kedua dijadikan kamar dan ruang ketiga dijadikan dapur mini dan kamar mandi. Shinta tinggal di kosan bersama dengan dua sahabatnya. Rani dan Tiara. Tak mau membuat dirinya semakin penasaran, ia memberanikan diri untuk memaksa masuk dan membuka pintu secara perlahan. Beruntung, pintu dalam keadaan tidak terkunci. Ruangan dalam keadaan gelap. Hanya lampu dapur yang menyala. Nino menguatkan hatinya saat mendengar samar-samar suara. Perlahan Nino melangkahkan kakinya menuju kamar. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat kedua netranya menyaksikan kejadian yang sangat menjijikan. Shinta, kekasih yang amat sangat ia cintai tega mengkhianati dirinya dengan sahabatnya sendiri. Kedua sejoli yang sedang memadu kasih itu tak sadar jika perbuatan panas mereka disaksikan oleh Nino. Terdengar suara leguhan dan desahan kenikmatan dari dua insan yang sedang berbuat dosa itu. Hati Nino terasa sesak menyaksikan perbuatan b***t kedua orang yang paling ia sayangi. Hingga tak sengaja ia menjatuhkan hadiah yang ia pegang dan mengagetkan kedua insan yang sedang bergulat tersebut. "Hah… Nino?" ucap Shinta terperanjat saat melihat kehadiran Nino yang berdiri memakai menatapnya dan juga Jordy, sahabat Nino. "Nino…" seru Jordy tak kalah kaget dari Shinta. Shinta buru-buru menutup tubuhnya asal dengan selimut. Kemudian menghampiri Nino dengan raut wajah cemas. "Sayang, aku bisa jelasin!" ucap Shinta seraya memegang tangan Nino. "Gue bisa jelasin ke Lo bro," timpal Jordy. "Gak perlu ada yang kalian jelasin. Semua yang gue lihat sudah cukup menjelaskan. Maaf karena gue ganggu kegiatan kalian. Gue permisi!" ucap Nino tenang setelah itu ia berjalan keluar. Walaupun terlihat tenang, tapi sebenarnya ia benar-benar rapuh. Sebelum melangkah lebih jauh, Nino membalikkan tubuhnya menghadap Shinta. "Mulai hari ini, hubungan kita berakhir sampai disini. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu!" ucap Nino pada Shinta lalu meninggalkan Shinta dan juga Jordy. "Gimana ini?" tanya Shinta pada Jordy. Terlihat dari raut wajah Shinta yang begitu cemas. "Besok kita jelasin sama Nino ya," jawab Jordy. "Gue mau nyusul Nino, Jor." Shinta menaruh selimut yang ia gunakan lalu memakai pakaian yang teronggok di atas kasur. "Mau kemana Shin? Kita belum selesai?" ucap Jordy menahan tangan Shinta yang hendak memakai baju. "Gue harus nyusul Nino. Gue harus jelasin ke dia. Gue gak mau putus sama Nino, Jordy." Shinta melanjutkan kegiatannya. "Dengar gue!" Jordy memaksa Shinta untuk menatapnya. "Lo mau jelasin kayak gimana pun, Nino gak akan bisa terima. Dia udah liat semua yang kita lakukan. Percuma jadinya. Udah, gak usah Lo kejar dia. Biar besok gue yang ngomong ke dia. Oke!" Nino menangkup wajah Shinta. "Tapi gue gak mau putus sama Nino," Shinta mulai terisak. "Masih ada gue. Toh Nino juga gak bisa kasih apa yang Lo mau kan?" ucap Jordy sambil menatap kedua mata Shinta secara menuntut. Shinta terdiam. Jordy pun mengecup bibir Shinta, lalu melumatnya perlahan. Shinta pun tak melawan. Ia membalas ciuman Jordy. Permainan mereka yang sempat tertunda tadi pun akhirnya mereka lanjutkan, tanpa mempedulikan ada hati yang telah mereka sakiti. Sementara dengan Nino. Ia memilih meninggalkan kosan Shinta sejauh mungkin. Membelah jalanan ibukota Yogyakarta yang tidak terlalu ramai. Air mata yang ia tahan mati-matian, akhirnya meluncur deras. Ia tak habis pikir, tega-teganya Shinta dan Jordy berbuat sebejat itu dibelakangnya. Selama menjalani hubungan, Nino tidak pernah menyentuh Shinta terlalu jauh. Hanya sekedar bergandengan tangan dan menciumnya. Tidak lebih. Nino benar-benar sangat menjaga Shinta. Kerap kali Shinta meminta Nino untuk menyentuhnya lebih jauh, namun Nino selalu menolak. Ia akan menjaga Shinta sampai mereka benar-benar resmi menjadi suami istri nanti. Tak disangka. Wanita yang ia jaga, wanita yang begitu ia cintai, tega mengkhianati dirinya. Dan yang lebih parahnya, itu dilakukan dengan sahabatnya sendiri. Benar-benar keterlaluan. Nino menepikan mobilnya di sebuah taman yang tidak terlalu ramai. Ia berjalan lemas mencari bangku taman. Nino duduk termenung meratapi nasib yang menimpa dirinya. "Kenapa tega sekali kamu berbuat itu padaku? Kenapa kamu lakukan itu dengan sahabatku? Kenapaaaa?" Nino berteriak histeris kemudian menangis tersedu. Ia tak peduli jika ada beberapa pasang mata yang menatapnya aneh. Ia hanya ingin menghilangkan rasa sakit yang dirasakan, walaupun hanya sedikit. Rere yang kala itu sedang berjalan bersama kekasihnya tak sengaja melihat Nino yang sedang frustasi. Ia dan kekasihnya langsung menghampiri Nino. "Nino… Lo kenapa?" tanya Rere saat melihat mata Nino yang sudah bengkak akibat menangis. Tidak memperdulikan dengan siapa Rere datang, Nino langsung menghambur untuk memeluk tubuh Rere. Sampai akhirnya, suara deheman dari kekasih Rere menyadarkannya. Sontak, Nino melepas pelukannya terhadap Rere. "Maaf…" ucap Nino merasa bersalah. Rere adalah sahabatnya sejak kecil karena rumah mereka berdekatan. Meskipun umur mereka berbeda dua tahun, tapi Nino merasa nyaman jika bersama dengan Rere. Nino sudah menganggap Rere seperti adik kandungnya sendiri. "Lo kenapa?" tanya Rere. "Gue putus sama Shinta," ucap Nino. Rere dan kekasihnya saling menatap heran. Ya, jelas mereka heran. Karena Nino dan Shinta adalah sepasang kekasih yang selalu membuat iri. "Kok bisa? Bukannya selama ini kalian baik-baik saja?" tanya Rere. "Sudahlah gak perlu dibahas. Gue pulang dulu," jawab Nino seraya bangkit dari bangku taman. "Titip Rere ya bro. Tolong jangan sakiti dia," pesan Nino pada kekasih Rere. Nino kemudian berjalan kembali menuju mobilnya yang membuat tanda tanya di benak Rere. Flashback off.. "Nino…" panggil Dian lembut seraya menoleh kebelakang, tapi Nino tak menjawab. "Nino…" panggil Dian sedikit kencang dan membuat Nino tersentak. "E… i-iya mah. Sudah sampai?" tanya Nino terbata. "Belum, sedikit lagi. Tadi macet soalnya. Kamu kenapa? Dari tadi mamah perhatikan melamun terus." "Nino gak apa-apa mah. Hanya sedikit lelah." Dian tak bertanya lagi. Ia memilih membiarkan Nino. Sementara Hermawan, fokus mengendarai mobil tanpa mempedulikan Nino. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD