Hari yang dinanti Hermawan pun tiba. Malam dimana ia akan menemui rekan bisnisnya dan mengenalkan wanita yang akan dijodohkan oleh Nino. Hermawan tidak peduli Nino bersedia menerima perjodohan itu atau tidak. Yang pasti, Nino tidak boleh membantah apa yang dikatakan olehnya.
"Mamah sudah siap?" tanya Hermawan kepada Dian.
"Sudah pah," jawab Dian lembut.
Hermawan dan Dian berjalan keluar dan menuju kamar Nino yang sejak tadi pagi tertutup rapat.
"Nino… Nino…" Hermawan memanggil seraya mengetuk pintu berulang kali, namun tak ada jawaban.
"Kemana ini anak," ucap Hermawan kesal dan mengambil handphone di saku celana lalu mencoba menghubungi Nino.
"Mungkin Nino sedang tidur pah. Biarkan saja," ucap Dian.
"Handphonenya ada di kamar. Nino… Nino…" Hermawan mengetuk lagi pintu kamar tersebut berulang kali.
"Pah… sudahlah. Lebih baik kita batalkan saja acaranya ya. Mungkin Nino memang tidak mau menghadiri acara tersebut," bujuk Dian.
"Mamah ini. Udah mamah diam saja, ini biar jadi urusan papah. Nino… Nino…!"
Karena kesal, Hermawan mencari kunci serep kamar Nino di laci meja yang berada di dekat kamar Nino. Setelah menemukan kunci tersebut, Hermawan langsung membuka pintu kamar Nino. Didapati Nino tengah asyik bermain game di laptopnya dengan mengenakan alat penutup di telinganya.
Dengan kasar, Hermawan langsung menarik penutup telinga tersebut dan melemparnya asal.
"Pantas saja dipanggil gak nyautin, rupanya telinga kamu disumpal benda gak jelas!" ucap Hermawan kesal.
"Papah nih apa-apaan sih? Masuk kamar orang gak ada sopan-sopannya!" sahut Nino dengan kesal.
"Mandi kamu cepat!"
"Mau kemana memangnya?" tanya Nino malas.
"Mandi cepat. Kita akan makan malam bersama rekan kerja papah. JANGAN MEMBANTAH!"
"Aku gak mau! Ngantuk, mau tidur!" jawab Nino sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
Melihat perilaku sang anak, sontak Hermawan langsung menariknya secara kasar.
"Papah nih apa-apaan sih? Gak usah kasar gitu, emang gak bisa?" ucap Nino kesal karena merasa diperlakukan dengan tidak baik oleh ayahnya sendiri.
"Kamu yang buat papah marah. Cepat mandi!" bentak Hermawan seperti sedang memarahi Nino saat kecil dulu jika Nino membuat salah.
"Papah… jangan kasar gitu dong sama Nino," ucap Dian kesal.
"Gak usah belain dia terus mah. Anak itu sudah kelewatan melawan papah karena gadis buta itu. Papah harus memberinya pelajaran agar dia mengerti caranya hormat pada orang tua!" ucap Hermawan seraya menatap Nino.
"Sayang… sudah ya nak. Mamah gak mau ada ribut-ribut diantara kalian. Turuti saja apa kata papah kamu ya nak. Mamah mohon," mohon Dian kepada Nino.
Melihat ibunya memohon seperti itu membuat Nino tidak tega dan akhirnya Nino mengikuti apa kemauan sang ayah. Tanpa banyak bicara, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Sementara Hermawan dan juga Dian memilih keluar dari kamar Nino dan menunggunya di ruang tamu.
Tak membutuhkan waktu lama, Nino akhirnya keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju. Rasa malas menyelimuti seluruh tubuhnya. Ingin rasanya ia memaki dan menghajar pria yang dipanggilnya dengan sebutan ayah tersebut. Namun, semua itu tidak dapat ia lakukan karena ia masih menghormati kedua orang tuanya.
Setelah dirasa cukup rapi dengan pakaian yang ia gunakan, Nino kemudian turun ke bawah untuk menemui kedua orang tuanya.
"Sudah siap kamu?" tanya Hermawan ketika melihat Nino sudah berada tak jauh dari hadapannya.
Nino tak menjawab, ia langsung melangkah menuju mobil yang akan mereka gunakan. Hermawan tak ambil pusing atas sikap Nino kepadanya. Ia dan Dian pun menyusul Nino.
"Bersikaplah dengan baik saat bertemu dengan rekan papah nanti. Jangan membuat malu papah!" pesan Hermawan saat mereka tengah berada di perjalanan menuju salah satu restoran mewah yang berada di kota Yogyakarta.
Nino tak menggubris. Ia asyik menikmati pemandangan jalan yang hanya dilalui kendaraan berlalu lalang.
"Kamu dengar papah gak?" kesal Hermawan.
"Hemm…" Nino hanya bergumam.
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Perjalanan menuju restoran pun terasa cukup sunyi.
"Maafkan aku sayang. Aku janji tidak akan mengkhianati kamu. Ini hanya sekedar makan malam. Secepatnya aku akan bawa kamu ke Jakarta agar kamu cepat bisa melihat kembali," batin Nino berucap seraya menatap wajah cantik nan ayu yang ia jadikan wallpaper di handphonenya.
***
"Selamat malam pak Hermawan," sapa seorang lelaki paruh baya saat melihat kedatangan keluarga Hermawan.
"Terimakasih pak. Maaf kami terlambat," ucap Hermawan.
"Oh… enggak kok pak santai saja. Kami juga baru saja sampai. Ini, Nino anak bapak yang bapak ceritakan tempo lalu?" ucap lelaki tersebut yang dikenal bernama pak Handoko saat melihat Nino.
"Benar pak." Hermawan tersenyum bangga. "Dia manager sekaligus CEO di perusahaan kami," lanjut Hermawan.
"Wah... tampan dan sukses. Benar-benar calon menantu idaman," ucap Handoko kagum.
"Jelas… lihat dulu siapa ayahnya," Hermawan tertawa.
"Iya… iya… pak Hermawan benar. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Oh ya, kenalkan ini istri saya, Ratih." Handoko memperkenalkan istrinya.
"Ini istri saya, Dian." Hermawan mengenalkan istrinya. "Oh ya, mana anak gadismu yang mau dikenalkan pada kami?" tanya Hermawan.
"Dia lagi ke toilet sebentar."
Tak lama muncullah sosok gadis dengan postur tubuh tinggi semampai menghampiri meja tersebut.
"Nah… itu dia anak saya," ucap Handoko sambil tersenyum seraya menatap sang anak.
"Wah… wah… wah… ternyata lebih cantik dari di foto. Cantik sekali," puji Hermawan dengan senyum sumringah.
"Terimakasih om atas pujiannya," jawab gadis yang dikenal dengan nama Shinta.
"Siapa namanya?" tanya Hermawan.
"Shinta om," jawab Shinta memperkenalkan dirinya pada Hermawan dan berlanjut pada Dian.
Nino yang tengah terduduk sambil memainkan gawai yang ada di tangannya tiba-tiba merasa terusik dengan sesi perkenalan antara gadis tersebut dengan kedua orang tuanya. Ia menoleh ke wanita yang tadi dipuji-puji oleh sang ayah. Namun, betapa terkejutnya ia saat netranya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
"Loh, Nino?" ujar Shinta sedikit terkejut ketika melihat Nino.
"Shin… Shinta?" Nino terbata.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Handoko.
"Iya pah. Kami sudah saling kenal sejak SMP." Shinta tersenyum senang. Senang karena bisa melihat kembali pria yang pernah singgah di hatinya cukup lama.
"Wah… bagus kalau begitu. Akan lebih mudah perjodohan ini jika kalian sudah kenal lama," ucap Hermawan.
Mereka pun makan malam bersama dengan penuh canda tawa. Namun, berbeda dengan Nino. Ia lebih banyak melamun setelah bertemu kembali dengan Shinta. Teringat kejadian beberapa waktu silam yang masih sangat membekas di hatinya.
***
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Hermawan memaksa Nino untuk sekedar berbincang bersama dengan Shinta. Awalnya Nino menolak, namun karena tak mau berdebat dengan sang ayah, akhirnya ia memilih untuk menuruti apa yang dikatakan Hermawan.
Nino dan Shinta berjalan bersisian menuju taman yang masih ada di sekitar restoran tersebut. Dan duduk di bangku panjang yang tersedia.
"Kamu apa kabar no?" tanya Shinta.
"Baik," jawab Nino singkat dengan pandangan mata lurus ke depan.
Hening seketika. Canggung, itulah yang dirasa oleh Nino dan Shinta karena sudah lama tidak berjumpa.
"Kamu…" ucap Nino dan Shinta bersamaan.
Shinta tertawa kecil. "Kamu duluan no."
"Nggak, kamu saja dulu!" ucap Nino datar.
"Emm… oke baiklah!" Shinta terdiam sejenak. "Emm, no…"
"Ya,"
"Kamu, masih marah sama aku?" tanya Shinta ragu.
"Marah soal apa?"
"Soal, dulu…"
Nino membuang napas kasar. "Yang lalu, biarlah berlalu. Jangan pernah diingat kembali," ucap Nino.
"Iya kamu benar. Lagi pula, dulu kita hanya cinta monyet kan?" Shinta sedikit tertawa kecil.
"Ya, cinta monyet anak remaja. Tapi, cukup membuat luka yang begitu dalam." Nino menatap Shinta sekilas.
"Maaf ya… tapi no, jujur sejak kejadian itu aku merasa bersalah sekali padamu. Aku menyesal. Dan aku baru sadar kalau sampai detik ini aku masih sayang sama kamu. Namamu masih melekat di hatiku."
Nino bangkit dari duduknya. Berjalan perlahan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Gak usah minta maaf terus. Itu sudah masa lalu. Cukup dijadikan pelajaran buat kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama kedepannya. Hilangkan saja rasa sayang itu karena sekarang aku sudah cukup bahagia bersama dengan wanita yang aku cintai," jawab Nino.
"Kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Shinta yang sudah menghampiri Nino.
"Iya. Namanya Suci. Umurnya tiga tahun lebih muda dariku." Nino tersenyum sambil menatap Shinta.
"Kamu sudah tidak mencintaiku no?"
"Dulu aku memang mencintai kamu. Bahkan sangat mencintai kamu. Aku bahkan mencoba untuk melupakanmu setelah kejadian itu. Tapi, hasilnya aku selalu gagal. Namun, sejak kehadiran Suci, perlahan rasa cinta itu mulai pudar. Rasa sakit yang aku rasakan dulu juga perlahan menghilang. Aku menemukan dunia baru saat mengenal Suci pertama kalinya. Dia mampu merubah rasa sakit, menjadi rasa bahagia. Mampu membuatku berpaling untuk melupakan masa lalu yang begitu amat menyakitkan," ucap Nino santai.
"Tapi kenapa kamu mau menerima perjodohan orang tua kita?" tanya Shinta.
"Siapa bilang aku menerimanya? Aku gak bilang seperti itu. Aku hanya menuruti ayahku untuk makan malam, bertemu dengan rekan bisnisnya dan putri dari rekan bisnis ayah. Hanya sekedar makan malam," ingat Nino.
"Tapi, makan malam ini bertujuan untuk menjodohkan kita berdua Nino."
"Itu menurutmu. Tapi tidak denganku!" ucap Nino sarkas. "Aku rasa sudah malam dan aku harus segera pulang," lanjut Nino setelah melihat jam di tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam.
Nino pun berjalan meninggalkan Shinta yang termenung sendiri, mengingat akan kesalahannya dulu kepada Nino.
"Nino…" panggil Shinta kemudian, namun Nino tidak menggubrisnya.
"Loh, Nino. Kamu kok sendiri? Mana Shinta?" tanya Hermawan yang tidak menemukan keberadaan Shinta disamping Nino.
"Mau ke kamar mandi dulu katanya. Aku duluan ke mobil ya pah, mah. Om, tante," ucap Nino setelah menyalami Handoko dan juga istrinya.
Nino pun berjalan menuju mobil dengan langkah gontai. Sesampainya di mobil, ia pun termenung mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang begitu sangat menjijikan. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Nino melupakan semua itu. Sampai ia bertemu dengan Suci dan kembali menemukan sebuah cinta. Namun, malam ini ia harus mengingatnya kembali karena bertemu dengan Shinta, wanita yang telah mematahkan dan menghancurkan segalanya.
Bersambung…