Berusaha

1458 Words
"Om, tante saya pamit dulu ya. Mau ke kantor, karena ada kerjaan yang harus saya selesaikan sebelum ke Jakarta," ucap Nino saat sudah berada di ruang tamu dan bertemu dengan Darma serta Eva. "Iya nak. Kamu hati-hati di jalan ya?" pesan Eva. "Suci tidur?" tanya Darma. "Iya om. Saya menyuruhnya untuk istirahat." "Nak Nino, kira-kira kapan kamu akan bawa Suci ke Jakarta?" tanya Darma. "Secepatnya om. Saya selesaikan tugas saya di kantor dulu ya om, tante." "Iya… kabarin saja ya jika sudah waktunya." "Pasti om. Ya sudah, kalau begitu saya pamit om, tante." Nino meraih tangan Darma dan Eva bergantian lalu menciumnya. "Assalamu'alaikum," pamit Nino. "Waalaikumsalam," jawab Darma dan Eva bersamaan. Nino pun pergi menuju kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia tinggal pergi ke Jakarta dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Saat Darma dan Eva hendak ke kamar mereka, tiba-tiba saja terdengar benda jatuh yang cukup keras dari kamar Suci. "Suci pah." Eva tersentak. Eva dan Darma langsung lari menuju kamar Suci. Sesampainya di kamar Suci, Eva langsung menghampiri Suci yang terduduk di lantai sambil menangis. Lantai kamar Suci berceceran pecahan guci, beruntung tidak sampai mengenai Suci. "Kamu kenapa sayang? Ada apa? Kenapa berantakan begini?" tanya Eva yang merasa khawatir. "Mah…" Suci terisak sambil memeluk tubuh sang ibu. "Ada apa sayang?" Eva mengusap punggung sang anak. "Ajak naik ke atas ranjang dulu mah," ujar Darma. "Ayo sayang kita ke atas ranjang ya. Awas hati-hati kakinya nanti menginjak pecahan guci." Eva menuntun Suci menuju ranjang. "Kamu kenapa sayang? Kenapa gucinya bisa pecah?" tanya Eva yang masih memeluk tubuh Suci. "Maaf mah, aku tidak sengaja menyenggolnya saat aku hendak ke kamar mandi." "Ya Allah. Mamah kira ada apa. Tapi kamu gak apa-apa kan?" Suci menggeleng. "Aku gak apa-apa mah." "Syukurlah kalau kamu gak apa-apa. Lain kali kalau butuh apa-apa kamu panggil mamah atau papah ya," ucap Darma seraya mengusap kepala sang anak. "Hidupku gak berguna mah, pah. Mau ke kamar mandi saja aku harus merepotkan orang lain. Sampai kapan aku harus begini?" Suci menangis dalam pelukan Eva. "Sssttt… jangan bicara seperti itu. Kamu gak pernah merepotkan kami. Kamu anak kami, kebanggaan kami." Eva mencoba menenangkan. "Kebanggaan apanya mah? Aku udah gak bisa apa-apa lagi sekarang. Aku udah gak berguna," Suci melepas pelukan sang ibu dan terus menangis dengan memeluk kedua lututnya. "Kamu mau ke kamar mandi? Ayo, biar mamah yang antar ya," ajak Eva. Suci hanya menggeleng. "Biar mamah tidur denganmu ya sayang. Jadi, kalau kamu perlu apa-apa kamu bisa minta tolong sama mamah." Darma memberikan usul. "Papah benar sayang. Nanti malam, mamah tidur disini ya nemenin kamu." "Gak usah mah, pah. Aku bisa tidur sendiri kok," tolak Suci. "Pokoknya nanti malam mamah tidur disini temenin kamu, ya." Eva memaksa dan Suci hanya terdiam. "Papah ke bawah dulu ya mah panggil bibi buat bersihin pecahan guci supaya gak melukai kaki Suci." "Iya pah." *** "Pah… kayaknya kita harus lebih ekstra jagain Suci. Kejadian tadi siang cukup jadi pelajaran buat kita," ucap Eva. Saat ini Eva dan juga Darma sedang berbincang sambil minum teh di ruang keluarga sementara Suci memilih untuk kembali ke kamar diantar Eva setelah makan malam. "Mamah benar. Apa, kita sewa orang untuk membantu Suci? Gak mungkin kan mamah selalu ada di samping Suci dua puluh empat jam," usul Darma. "Papah benar. Kita juga bisa membawanya ke Jakarta nanti untuk bantu-bantu mamah disana." "Nanti papah akan coba bicarakan dengan Nino ya mah." "Iya pah." Eva menyesap teh miliknya hingga tersisa sedikit. "Pah, mamah ke kamar Suci dulu ya. Kasihan dia sendirian." Eva bangkit dan hendak menuju kamar Suci. "Iya mah. Langsung ajak Suci istirahat ya," pesan Darma. Eva pun berjalan menuju ke kamar Suci. Sampai di depan kamar, dibukanya pintu perlahan. Dapat ia tangkap sosok yang begitu ia cintai sedang berusaha berjalan dengan meraba-raba sekelilingnya. Tak terasa, butiran bening melesat begitu saja di pipi Eva. Ia terharu dan juga tak tega dengan apa yang dilakukan oleh Suci. Sebegitu tidak ingin merepotkan orang lain hingga diam-diam Suci terus berusaha menghapal di setiap sudut ruangan di kamarnya padahal hari sudah malam dan sudah waktunya Suci untuk beristirahat. Eva mengusap air matanya kemudian masuk ke dalam kamar. "Sayang…" Suci tersentak. "Mamah…" "Maaf ya, mamah ngagetin kamu ya?" Eva menghampiri Suci yang berada hampir ke dekat balkon kamarnya. "Iya mah." Suci mengulas senyum. "Kamu sedang apa disini? Sudah malam loh." "Aku lagi belajar menghapal setiap sudut kamar aku mah, biar gak merepotkan siapapun nantinya." Suci mengulas senyum. "Tapi ini sudah malam sayang." "Gak apa-apa mah. Namanya belajar, kapan aja kan. Oh ya, aku berhasil kan? Sekarang pasti aku sedang berada di dekat pintu menuju balkon kamar. Benar kan mah?" tanya Suci sambil tersenyum penuh harap. "Iya sayang." Eva meneteskan air mata. "Sekarang aku sudah hapal dengan kamarku. Besok aku akan menghapal ruangan di bawah dan lainnya," ucap Suci girang. "Iya… sekarang kita istirahat ya, sudah malam," ajak Eva. "Iya mah. Aku juga sudah lelah. Aku ke kamar mandi dulu ya mah." "Sini, biar mamah bantu." Eva meraih tangan Suci untuk menuntunnya. "Gak usah mah, aku bisa sendiri," tolak Suci halus. Suci berjalan perlahan menggunakan tongkat miliknya menuju kamar mandi. Ia menggunakan insting dan tongkatnya untuk menyentuh setiap benda atau dinding yang ia lewati. Jalannya sangat pelan dan hati-hati. "Aku berhasil kan mah. Aku pasti sudah berada di depan kamar mandi sekarang," ucap Suci girang saat dirinya berhasil sampai di depan pintu kamar mandi tanpa bantuan dari siapapun. "Iya nak. Kamu berhasil." Eva menahan tangis agar Suci tidak mengetahuinya. "Aku ke dalam dulu ya mah," Suci pun masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Eva yang terdiam. Eva pun menangis saat didengarnya keran air yang mengalir dari dalam kamar mandi. Ia sungguh tidak bisa lagi menahan tangis kesedihannya melihat keadaan sang anak. Sakit rasanya hati Eva melihat perjuangan sang anak agar tidak merepotkan orang lain. Hati ibu mana yang tidak terluka melihat anak yang disayanginya mendapat cobaan yang begitu berat dari yang maha kuasa. Tapi, Eva mencoba kuat dan tegar bila bersama dengan Suci agar Suci pun bisa menjalani hidupnya dengan kuat, walaupun sebenarnya, hati dan perasaan Eva rapuh melihat sang anak. Eva hanya bisa berdoa, semoga Allah bisa cepat-cepat mengakhiri ujian yang dijalani oleh Suci dan kembali menjemput kebahagiaan yang sempat tertunda. Buru-buru Eva menyeka air matanya dan menetralkan suaranya yang sedikit serak ketika melihat Suci sudah keluar dari kamar mandi. Eva lalu menghampiri Suci dan ingin membantunya. "Gak usah mah, aku bisa sendiri." Suci menolak saat Eva ingin membantunya. "Gak apa-apa nak, biar mamah bantu ya," paksa Eva yang sudah memegang tangan Suci. "Mah… biarkan Suci jalan sendiri menuju ranjang Suci ya," ucap Suci lembut. "Tapi sayang," "Aku bisa mah." Suci berjalan perlahan menuju ranjang tidurnya. "Aduh…" Suci tersandung karpet yang ada di dekat ranjang tidur hingga terjatuh. "Tuh kan, mamah bilang apa. Biar mamah bantu!" Eva membantu Suci untuk berdiri kembali. "Gak apa-apa mah, Suci bisa." Suci tetap menolak bantuan sang ibu dan akhirnya ia berhasil menuju ranjangnya. Suci menaruh tongkat di dekat ranjang di sela-sela meja lampu yang ada di dekatnya agar ia mudah untuk menggapainya. "Sudah malam, kamu istirahat ya." Eva menyelimuti Suci dan mengecup keningnya. "Iya mah. Oh ya, mamah tidur sama papah aja ya, aku gak apa-apa kok tidur sendiri," pinta Suci. "Gak sayang. Mamah temani kamu malam ini." "Gak usah mah. Aku gak apa-apa sendirian. Bener deh!" Suci memaksa. "Tapi, kalau nanti kamu butuh apa-apa bagaimana nak?" "Aku bisa mah. Aku hanya minta tolong taruh botol plastik di atas meja, buat jaga-jaga nanti malam jika aku terbangun dan haus," pinta Suci sambil tersenyum. "Sebentar ya, mamah ambilkan dulu di dapur." Eva beranjak menuju dapur untuk mengambilkan permintaan Suci. Tak lama, Eva kembali dengan membawa botol air lumayan besar yang sudah terisi dengan air mineral. "Mamah taruh disini ya." Eva menuntun tangan Suci untuk menyentuh botol air mineral pada tempatnya agar nanti Suci tidak susah untuk mencarinya. "Iya mah. Terimakasih banyak ya mah." "Kamu benar gak apa-apa mamah tinggal sendiri?" tanya Eva lagi karena masih khawatir. "Iya mah, gak apa-apa. Mamah istirahat aja ya, aku juga mau istirahat. Udah ngantuk." Suci tersenyum. "Ya sudah kalau begitu, mamah tinggal ya. Kalau butuh apa-apa kamu teriak aja ya, atau telpon pakai telpon kamar," pesan Eva. "Iya mah," jawab Suci. Eva pun pergi meninggalkan Suci dengan mengecup kening Suci terlebih dahulu. Pintu kamar terbuka dan tertutup kembali, menandakan jika Eva sudah meninggalkan kamar Suci. Suci membaringkan tubuhnya lalu kemudian ia mengeluarkan air mata yang mati-matian ia tahan agar tak membuat Eva bersedih. "Ya Allah, harus sampai kapan aku berada di dalam kegelapan seperti ini?" Suci bergumam sambil terus terisak. Ia meratapi nasib yang menimpa dirinya. "Aku gak mau menyusahkan orang lain, apa lagi orang-orang yang aku sayang. Semoga ujianMu ini cepat berakhir." Suci terus bergumam dalam tangis hingga ia pun merasa lelah dan akhirnya terlelap di dalam mimpi. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD