Pulang

1089 Words
"Sayang." Nino hendak menyentuh Suci tapi langsung ditepis oleh Suci. "Jangan sentuh aku!" Suci memberi isyarat agar Nino tidak menyentuhnya. "Kamu mau apa lagi kesini, Nino?" ucap Suci lirih. "Aku mau jelasin semua sama kamu sayang." "Gak ada yang perlu dijelasin lagi. Apa yang papah kamu bilang, itu semua benar Nino. Aku gak pantas jadi pendamping hidup kamu. Aku hanya bisa menyusahkan kamu nantinya." "Enggak sayang, enggak. Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu gak usah dengar apa kata papah aku ya. Aku gak peduli mau kamu bisa atau tidak bisa melihat, aku tetap mencintai kamu. Aku sayang sama kamu." "Kamu masih bisa cari wanita lain selain aku. Wanita yang sempurna, tidak cacat seperti aku!" Suci menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. "Tapi aku maunya kamu!" "Tapi papah kamu enggak. Dia mau punya menantu yang sempurna, bukan seperti aku!" "Suci dengarkan aku." Nino menangkup wajah Suci. "Aku gak peduli apa kata papah, buat aku kamu wanita yang paling sempurna. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Aku hanya mau kamu, bukan yang lainnya." "Tapi papah kamu," air mata Suci mulai menetes membasahi kedua pipinya. "Sudah ya, sudah aku bilang. Ucapan papah gak usah kamu dengar." Nino mengusap air mata Suci yang turun secara bebas. "Aku gak pantas buat kamu Nino. Aku gak pantas!" Suci terisak. "Sudah ya, maafin semua ucapan papah aku." Nino memeluk dan mengecup pucuk kepala Suci untuk memberikan ketenangan. Suci menggeleng. "Nggak Nino, papah kamu benar. Aku memang gak pantas untuk kamu," ucap Suci di dalam tangisnya. "Sudah ya sayang, jangan dibahas lagi." Nino memeluk Suci lebih erat namun tetap lembut agar Suci merasa nyaman. Nino berangsur melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi kekasihnya yang basah. "Sudah ya jangan nangis lagi," ucap Nino dan Suci hanya mengangguk. "Kamu sudah makan?" tanya Nino. "Sudah, tadi pas papah kamu datang, aku sedang sarapan," jelas Suci. "Maaf ya." "Kamu gak kerja?" "Nanti, habis dari sini aku langsung ke kantor." Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok dokter dan seorang perawat yang akan memeriksa kesehatan Suci. "Maaf mengganggu. Saya mau periksa keadaan mbak Suci dulu ya," ucap dokter tersebut. "Iya dok." Nino berpindah tempat dan memberi jalan agar dokter bisa leluasa memeriksa Suci. "Bagaimana dok?" tanya Nino ketika dokter sudah selesai memeriksa Suci. "Alhamdulillah kondisi mbak Suci sudah lebih baik dari hari sebelumnya. Hari ini, mbak Suci boleh pulang." Dokter tersebut menjelaskan. "Alhamdulillah," ucap Nino penuh rasa syukur. "Sayang, kamu sudah boleh pulang." Nino mengusap kepala Suci. "Iya, Alhamdulillah." Suci mengulas senyum. "Tetap ikhtiar ya mencari pendonor mata untuk mbak Suci, sementara kami pihak rumah sakit pun akan berusaha sebisa kami untuk mencari orang yang bersedia mendonorkan matanya untuk mbak Suci." "Baik dok. Tolong kabarin saya atau keluarga Suci jika ada pendonor mata yang bersedia mendonorkan matanya untuk Suci. Berapa pun yang mereka minta, saya akan memberinya, yang penting Suci bisa cepat melihat kembali," ucap Nino antusias. "Baik pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter dan perawat pun pergi dari kamar tersebut. "Sekarang kita pulang ya. Aku bereskan baju-baju kamu dulu." "Dokter bilang apa nak?" Tanya Darma yang baru saja masuk ke dalam kamar. "Suci sudah boleh pulang om hari ini." "Alhamdulillah," seru mereka bersama. "Biar mamah bantu untuk mengganti baju ya sayang," ucap Eva kepada sang anak. Suci hanya mengangguk dan mengikuti arahan sang ibu menuju ke kamar mandi untuk berganti baju. *** Sekitar pukul sebelas siang, Suci telah sampai di rumahnya. Begitu sampai di rumah, Suci langsung menuju ke kamar untuk beristirahat dengan dibantu oleh Nino yang menuntunnya. "Sekarang kamu istirahat ya," ucap Nino setelah Suci membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Aku gak ngantuk Nino." "Tapi kamu harus banyak istirahat." "Aku bosan tidur terus." Suci berangsur duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Biar aku temani ya." "Kamu kan harus ke kantor." "Gak apa-apa agak telat, kerjaan juga lagi gak terlalu banyak." Nino melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. "Nino…" "Ya…" "Sampai kapan ya aku harus berada di dalam kegelapan seperti ini?" ucap Suci lesu. "Sabar ya. Banyak berdoa aja ya semoga cepat ada pendonor mata untuk kamu." "Tapi kapan?" "Secepatnya. Kita serahkan semua sama Allah ya, percayakan semua padaNya." Nino mengusap kepala Suci. Tiba-tiba Nino merasakan nyeri yang amat sangat di dadanya. Tangannya yang memegang tangan Suci beralih memegangi sebelah dadanya. Nino meringis kesakitan. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Suci saat Nino menarik tangannya secara tiba-tiba. "Gak apa-apa sayang. Aku gak apa-apa. Cuma sedikit pusing saja, mungkin karena kurang tidur," bohong Nino. "Minum obat ya. Aku ada obat pusing di laci." "Gak usah sayang. Nanti juga sembuh kok. Gak usah dipikirin ya. Oh ya, kita jadi ya ke Jakarta. Aku sudah hubungi temanku yang ada disana." Nino mengalihkan pembicaraan dengan masih menahan rasa sakit di dadanya. "Kamu yakin sayang?" "Yakin." "Tapi aku kok gak yakin ya? Aku rasa, niat kita ke Jakarta itu akan sia-sia." Suci berkata seperti orang yang putus asa dan tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan kehidupan. "Gak ada yang sia-sia kalau kita mau berusaha. Allah maha melihat, maha mengetahui dan maha segalanya. Allah pasti tau apa yang kita lakukan nanti. Usaha yang kita lakukan, jadi aku yakin Allah pasti akan memberikan jalan terbaik untuk kita, terutama untuk kamu." Nino mencubit gemas pipi Suci. "Kamu benar sayang. Makasih ya karena masih ada disamping aku hingga saat ini." "Sampai kapan pun, aku akan terus berada disamping kamu. Meskipun ragaku gak ada di dekatmu, tapi kamu harus tau bahwa hati dan jiwaku selalu ada bersamamu, sampai kapan pun." Nino mengecup tangan milik Suci lalu beralih ke keningnya. "Makasih ya, makasih karena masih mau menerima aku apa adanya." Suci mulai terisak. Nino yang melihat Suci menangis, ia segera memeluknya untuk memberikan ketenangan. Entah mengapa setiap pelukan Nino memang mampu membuat hati dan perasaan Suci yang gundah gulana menjadi lebih tenang. "Aku ke kantor dulu ya mau ngecek kerjaan. Setelah itu, aku mau langsung pulang karena mau nyiapin barang yang akan dibawa ke Jakarta nanti." "Iya. Hati-hati ya sayang." "Kalau butuh apa-apa, kamu panggil orang untuk minta bantuan ya." "Sepertinya aku harus belajar untuk menghapal letak di tiap sisi rumah supaya tidak merepotkan orang," ucap Suci sambil mengulas senyum. "Jangan dulu. Kondisi kamu belum stabil. Nanti biar aku yang bantu kamu ya." Suci hanya mengangguk. "Iya bawel…" "Ya udah, aku jalan ya. Assalamualaikum…" "Waalaikumsalam, kabarin aku ya kalau kamu sudah sampai kantor." "Iya. Kamu istirahat ya. Jangan kemana-mana dulu, panggil orang kalau butuh apa-apa," pesan Nino untuk yang kesekian kalinya. Suci menurut lalu ia berbaring, kemudian memejamkan kedua matanya. Setelah itu, Nino pun keluar kamar Suci dan membiarkan Suci untuk beristirahat. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD