"Mas Hermawan mbak Dian? Apa kabar?" Darma berucap setelah Hermawan dan Dian masuk ke dalam kamar.
"Baik," jawab Hermawan angkuh.
"Om, apa kabar?" Suci bertanya dengan senyum yang terluas dibibirnya.
"Saya baik. Gimana kabarmu?"
"Alhamdulillah om saya baik. Nino mana om?"
"Ada di rumah."
"Duduk dulu mas," titah Damar sopan.
"Gak perlu. Saya kesini cuma mau bilang kalau saya akan membatalkan acara lamaran Nino dengan Suci."
"Loh? Ada apa mas? Apa ada masalah?" Eva terlonjak kaget dan menaruh makanan yang ia pegang di atas nakas lalu menghampiri suaminya yang berada di dekat Hermawan.
"Kamu masih bertanya ada apa? Kondisi Suci sekarang buta, tidak bisa melihat. Dan kita pun gak ada yang tau kapan Suci bisa melihat kembali. Saya gak mau anak saya satu-satunya menikah dengan perempuan cacat seperti Suci."
"Pah…" Dian bersuara mencegah suaminya untuk bicara yang lebih menyakitkan lagi.
"Diam mah. Biar mereka semua sadar diri."
"Maaf mas, lebih baik kita bicarakan ini di luar saja ya," ajak Darma karena melihat perubahan raut wajah sang anak.
"Tidak usah, tidak perlu. Saya juga gak akan lama disini," tolak Hermawan.
"Suci, saya minta tolong sama kamu ya. Tolong jauhi Nino, anak saya. Karena dia akan saya jodohkan dengan gadis pilihan saya, dan itu bukan kamu."
"Papah…, jangan bicara seperti itu pada Suci," ucap Dian setengah berbisik.
"Diam mah," hentak Hermawan.
"Saya gak mau anak saya satu-satunya memiliki istri yang cacat seperti kamu. Apa kata rekan kerja saya nantinya jika saya punya menantu yang cacat. Memalukan!" hardik Hermawan.
"Cukup mas! Jika memang mas ingin membatalkan lamaran Suci dengan Nino silahkan, tapi jangan sekali-kali menghina anak saya," ucap Darma tegas.
"Kenapa memangnya? Toh kenyataannya memang begitu kan? Anak kamu gak bisa melihat, alias CACAT!" jawab Hermawan angkuh.
"Lebih baik mas pergi sebelum kesabaranku habis!" usir Darma dengan menahan amarah.
"Tanpa kamu suruh pun, aku akan pergi." Hermawan kembali menatap Suci. "Kamu ingat ya, jauhi anak saya. Kamu gak pantas menjadi pendamping Nino!"
"Pergi mas!" Darma mulai geram, terlihat diantara kedua tangannya yang sudah mengepal kuat.
Hermawan pun pergi diikuti Dian yang merasa tak enak hati dengan keluarga Suci. Ia berniat akan kembali lagi ke rumah sakit nanti.
"Sayang, sudah ya jangan diambil hati apa kata papahnya Nino." Eva mencoba menenangkan Suci yang terlihat murung, bahkan butiran bening telah menetes dari kedua matanya.
"Apa begitu hinanya seseorang yang buta mah? Apa orang yang buta tidak pantas untuk mendapatkan pendamping hidup? Sebegitu bencinya om Hermawan padaku, sampai-sampai mau membatalkan rencana lamaran yang sudah diatur jauh-jauh hari," ucap Suci lirih.
"Sayang, gak usah dengerin apa kata om Hermawan. Kamu berhak bahagia kok. Sekarang lebih baik kamu fokus dengan kesembuhan mata kamu, mama yakin kamu pasti akan bisa melihat kembali. Kamu harus sabar ya," ucap Eva.
"Lalu, bagaimana jika aku tidak pernah lagi bisa melihat mah? Apa masih ada pria yang mau menikahi gadis cacat sepertiku?" Suci mulai putus asa.
"Mama dan papah akan selalu ada disamping kamu nak. Kami akan selalu menjaga kamu sampai kapanpun. Percayalah."
"Apa aku harus meninggalkan Nino mah? Apa aku harus menjauhi pria yang aku sayang?"
"Sudah ya nak, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu habiskan makanan kamu setelah itu minum obat dan istirahat."
Suci hanya terdiam dan menurut apa kata sang ibu.
***
"Papah gak seharusnya bicara seperti itu pada keluarga Suci. Mamah jadi gak enak pah," ucap Dian di dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka.
"Biarkan saja mah. Biar mereka sadar dan tahu diri kalau anak mereka tuh gak pantas untuk Nino," jawab Hermawan sambil menyetir mobil.
"Pah, dengan papah bicara seperti tadi, itu bisa membuat mental Suci down. Suci sudah terpukul atas apa yang menimpa dirinya, kita sebagai orang yang dekat dengannya seharusnya mendukung dia agar tidak putus asa, bukan malah terus memojokkan dia pah," bela Dian.
"Mamah ini kenapa sih? Belain aja Suci terus."
"Jelas pah, Suci itu calon menantu mamah. Dia wanita yang dicintai Nino. Karena dia Nino selalu bahagia pah. Suci juga anak yang baik, gak seperti mantan-mantan Nino sebelumnya."
"Masih banyak gadis baik selain Suci mah. Dan yang pasti, mereka tidak cacat!" Hermawan menepikan mobil yang ia kendarai saat sampai di rumah mereka.
Hermawan kemudian turun dan meninggalkan Dian, namun Dian mengejarnya.
"Pah… tunggu pah! Papah jangan bicara seperti itu harusnya," protes Dian.
"Mah, sudah ya. Papah malas berdebat soal Suci."
"Ada apa ini?" Nino berucap membuat Hermawan dan juga Dian menatap dirinya.
"Nino…," seru Dian.
"Kalian berdua dari mana?" tanya Nino.
"Papah sama mamah habis dari rumah sakit," jelas Hermawan.
"Rumah sakit?"
"Ya… papah habis bertemu Suci dan juga keluarganya."
"Papah jengukin Suci?"
"Bukan, papah hanya menyuruh Suci untuk menjauhi kamu karena dia gak pantas untukmu!"
"Papah bicara seperti itu pada om Darma dan juga tante Eva?" ucap Nino tak percaya.
"Ya, kenapa memangnya?" jawab Hermawan.
"Maksud papah apa?" Nino memicingkan matanya. "Maksud papah apa bicara seperti itu pada Suci dan keluarganya?" bentak Nino.
"Kamu berani bentak papah demi membela mereka?"
"KARENA PAPAH KETERLALUAN! Gak seharusnya papah bicara seperti itu pada mereka!" Nino berteriak penuh dengan amarah kepada sang ayah. Nino akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan Hermawan dan juga Dian untuk mengunjungi Suci dan menjelaskan semuanya pada Suci dan juga keluarganya.
"Sayang, kamu mau kemana nak?" ucap Dian seraya mengejar Nino dan menarik pergelangan tangannya.
"Aku mau ke rumah sakit mah. Suci pasti terpukul atas ucapan yang menyakitkan dari papah," jawab Nino sambil menatap sang ayah penuh dengan amarah.
"Kamu hati-hati ya nak. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya ya. Mamah titip salam untuk mereka ya, mamah minta maaf atas sikap papah tadi sewaktu di rumah sakit," pesan Dian.
"Iya mah, nanti aku sampaikan. Aku jalan dulu ya," Nino mengecup kening Dian dan mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum mah." Nino berjalan melangkah menuju mobilnya.
"Waalaikumsalam, hati-hati nak." Dian melambaikan tangannya kepada Nino.
Nino mengendarai mobilnya sedikit kencang menuju rumah sakit.
***
Setelah sampai di rumah sakit, Nino langsung memarkirkan mobilnya. Ia bergegas menuju kamar Suci. Sampai di depan kamar, Nino terlebih dulu mengetuk pintu kamar, barulah ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat ada Darma dan juga Eva, serta Rere, sahabat Suci yang datang untuk menjenguk.
"Assalamualaikum, om, tante, Rere," sapa Nino saat ia sudah berada di dalam kamar Suci.
"Waalaikumsalam. Kamu ngapain kesini nak Nino? Nanti ayah kamu marah," ucap Eva lembut.
"Lebih baik kamu pergi sekarang. Kami gak mau ayah kamu lebih menghina Suci lebih parah lagi. Kata-katanya tadi sungguh sangat menyakitkan, jangan sampai ada kata-kata lain yang menusuk hati dan perasaan kami," ucap Darma tegas.
"Om, atas nama papah saya minta maaf. Saya gak tau kalau papah kesini akan bicara seperti yang om bilang. Saya minta maaf om," ucap Nino merasa bersalah atas ucapan sang ayah.
"Kamu gak salah nak. Kami yang salah karena membiarkan kamu terus memiliki hubungan dengan Suci. Nak, lebih baik tinggalkan Suci, carilah wanita lain yang lebih baik dari Suci. Suci gak pantas untuk kamu. Biar Suci om dan tante yang akan merawatnya sampai dia sembuh," ucap Darma.
Nino menggeleng. "Saya gak mau om. Apapun yang terjadi, saya gak akan meninggalkan Suci. Saya mencintai Suci bagaimana pun keadaannya. Suci begini karena saya, jadi saya juga yang harus bertanggung jawab atas kesembuhan dirinya."
"Tapi, ayah kamu gimana nak?" tanya Eva khawatir.
"Urusan ayah, biar menjadi urusan saya tante." Nino mengulas senyum.
"Om, tante. Saya mohon, biarkan saya untuk tetap menjaga Suci. Jangan pernah halangi saya untuk bertemu dengan Suci. Saya mencintai Suci." Nino menatap Darma dan Eva bergantian.
Darma dan Eva pun saling tatap. Dapat mereka lihat ketulusan cinta yang diberikan Nino kepada Suci yang membuat mereka akhirnya mengalah untuk tetap membiarkan Nino bertemu dengan Suci.
Nino menghampiri Suci yang duduk terdiam sambil memakan buah yang diberikan oleh Rere, sahabatnya.
"Suci, ada Nino. Aku permisi dulu ya," ucap Rere.
"Jangan pergi re…" cegah Suci.
"Sebentar aja ci, Nino sepertinya mau bicara denganmu berdua. Nanti aku kembali lagi ya," ucap Rere lembut lalu meninggalkan Suci dan juga Nino berdua. Begitu pun dengan orang tua Suci yang sudah keluar kamar terlebih dahulu.
Bersambung…