Rencana ke Jakarta

1266 Words
"Bagaimana Nino? Apa kata dokter?" Dian bertanya saat melihat Nino sudah kembali. "Iya nak, apa kata dokter?" Eva ikut bertanya dengan raut wajah yang cemas, sementara Suci hanya terdiam menunggu jawaban dari Nino. "Ada berita baik dan berita buruk," ucap Nino. "Apa itu nak?" tanya Dian. "Berita baiknya, mata Suci masih bisa disembuhkan karena cedera yang dialaminya tidak begitu parah. Dengan kata lain, Suci masih bisa untuk melihat kembali dengan melakukan operasi donor mata." Nino menjelaskan. "Alhamdulillah," seru Dian dan Eva hampir bersamaan. "Lalu, berita buruknya apa nak?" Lanjut Eva. "Berita buruknya–" Nino menjeda ucapannya lalu mengambil napas sejenak dan membuangnya perlahan. "Apa nak?" Dian bertanya seraya menyentuh bahu sang anak. "Untuk mencari pendonor mata sangat sulit dan membutuhkan waktu cukup lama karena donor mata dilakukan jika pendonor sudah meninggal dunia dan dilakukan selambatnya 12 jam setelah si pendonor meninggal dunia. Saat ini bank mata sedang tidak ada data pendonor mata, tapi dokter bilang pihak rumah sakit akan terus membantu sampai mereka menemukan pendonor mata untuk Suci." "Ya Allah, siapa yang mau mendonorkan matanya untuk Suci jika syaratnya begitu berat," ucap Eva lirih seraya menahan tangis. "Sabar ya jeng, pasti ada jalan." Dian menguatkan. "Aku akan membawa Suci ke rumah sakit di Jakarta. Semoga saja bank mata di Jakarta memiliki data pendonor mata yang cocok untuk Suci," ucap Nino. "Jakarta? Kamu yakin nak?" Dian mengerutkan dahinya tak percaya dengan keputusan Nino. "Yakin mah. Lagipula kita kan punya apartemen di sana, jadi Suci bisa menempatinya selama kita tinggal di Jakarta. Aku akan mencarikan asisten rumah tangga untuk membantu Suci," ucap Nino. "Lalu kamu tinggal dimana?" Lanjut Dian. "Aku akan tinggal bersama temanku mah. Aku juga akan meminta bantuannya. Aku baru ingat kalau dia salah satu dokter spesialis mata di Jakarta." "Siapa? Apa mamah mengenalnya?" "Dava mah. Mamah ingat?" "Dava," Dian mengingat-ingat. "Oh iya Dava anaknya almarhum pak Wirya dan bu Ratih. Dia seorang dokter?" tanya Dian tak percaya. "Iya mah. Semoga saja dia bisa membantu pengobatan Suci hingga Suci bisa melihat kembali." "Nak, apa tante boleh ikut kalian ke Jakarta? Tante gak tenang jika harus jauh dari Suci dengan keadaannya yang seperti ini," pinta Eva.. "Tante mau ikut?" "Iya." Eva mengangguk. "Itu pun kalau kamu mengijinkan." "Boleh tante, boleh banget. Aku malah senang karena seenggaknya Suci ada yang menemani." "Gak usah!" Suci menolak. "Apa maksud kamu sayang?" tanya Eva pada sang anak. "Gak usah bawa aku ke Jakarta mah. Aku disini saja. Kalau memang aku ditakdirkan untuk tidak bisa melihat kembali, aku akan terima. Aku tidak mau merepotkan kalian," tolak Suci. "Kamu bicara apa sayang? Kami sama sekali gak merasa direpotkan." Eva mengusap kepala Suci. "Aku tetap gak mau mah!" Nino pun menghampiri Suci dan mencoba untuk membujuknya. "Sayang, kita ke Jakarta ya. Kita berobat di sana." Nino mengusap lembut kepala Suci. "Gak mau!" "Kenapa?" "Percuma Nino, percuma! Siapa yang mau mendonorkan matanya jika harus meninggal dulu. Pasti gak akan ada yang mau." Suci terisak. "Pasti ada sayang, pasti. Kita hanya perlu bersabar sampai waktu itu datang. Mau kan kamu bersabar dulu? Kamu masih ingat kan dengan impian kita? Menikah dan membangun rumah tangga kita bersama dengan anak-anak kita nanti. Kamu masih ingat kan? Jadi, aku mohon sama kamu, kamu harus semangat ya. Semangat untuk sembuh. Aku yakin kamu pasti bisa melihat kembali." Nino terus menguatkan Suci, walaupun sebenarnya ia sendiri dalam keadaan rapuh. "Baiklah, aku akan ikut denganmu ke Jakarta. Semoga saja apa yang kamu katakan benar-benar akan terwujud," ucap Suci akhirnya. "Pasti..pasti sayang. Aku yakin kamu bisa melihat kembali. Semua hanya masalah waktu." Nino mengecup punggung tangan Suci lalu beralih ke keningnya. *** Sebelum berangkat ke Jakarta, Nino meminta izin dulu kepada sang ayah. Mengingat dirinya pergi bukan satu atau dua hari tapi cukup lama hingga Suci bisa mendapatkan donor mata yang cocok untuknya. "Pah, aku titip perusahaan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan," ucap Nino saat mereka sedang sarapan bersama. "Mau kemana kamu memangnya?" Hermawan berucap. "Aku mau bawa Suci ke Jakarta pah. Disini ketersediaan pendonor mata sedang tidak ada, aku mau usaha mencarinya ke Jakarta." "Jakarta? Gila kamu! Buat apa sampai jauh-jauh ke Jakarta. Papah gak setuju!" Hermawan menolak keras permintaan sang anak. "Karena aku yakin di Jakarta pasti ada yang akan mendonorkan matanya untuk Suci. Disana aku punya teman yang kebetulan bekerja sebagai dokter spesialis mata. Aku juga akan meminta bantuannya nanti." "Sudahlah nak, gak usah kamu repot-repot memikirkan Suci yang sudah dipastikan tidak akan bisa melihat lagi. Lebih baik kamu pikirkan dirimu dan masa depanmu. Putuskan saja hubungan kamu dengan Suci, batalkan rencana kalian yang akan menikah, ayah tidak sudi memiliki menantu yang cacat," ucap Hermawan santai sambil mengunyah makanannya. "Pah…" Dian menatap suaminya. "Sudahlah mah. Mamah juga, masih saja mengurus mereka. Memang mamah mau punya menantu yang cacat dan gak bisa ngapa-ngapain? Mamah yang capek nantinya. Lagian juga malu mah, apa kata rekan bisnis papah nantinya. Seorang Hermawan punya menantu yang cacat. Membayangkannya saja papah gak sudi apalagi sampai benar-benar terjadi di kehidupan papah. Nino itu anak kita satu-satunya jadi kita harus mencari pasangan hidupnya yang terbaik." "Nino gak akan meninggalkan Suci pah bagaimana pun keadaannya. Nino mencintai dia." "Halah, cinta…cinta… Nanti kamu akan papah kenalkan dengan anak salah satu rekan bisnis papah. Biar kamu bisa melupakan Suci." "Nino gak mau pah. Nino akan tetap bersama Suci." "Kamu belum mengenalnya. Kalau kamu sudah mengenalnya dan sering bertemu, papah yakin lama-lama kamu akan cinta padanya. Kamu harus mencobanya." Hermawan terus memaksa Nino. "Pah, aku bilang gak mau ya gak mau!" sentak Nino seraya membanting sendok dan garpu di atas piring. "Kamu mau melawan papah demi gadis buta itu?" Hermawan tak mau kalah. "Suci seperti itu karena Nino pah. Karena Nino!" Nino mulai kesal. "Jangan merasa bersalah atas apa yang tidak kamu lakukan. Semua itu takdir. Kamu mengerti!" "Nino akan tetap berada bersama Suci sampai kapan pun." "Coba saja, jangan salahkan papah kalau semua aset kamu papah pindahkan menjadi atas nama Tomi, sepupu kamu. Jadi, kamu tidak akan mendapatkan warisan apa pun dari papah." "Silahkan pah. Nino gak peduli." "Demi gadis buta itu kamu berani melawan papah?" "Maaf pah, aku bukan melawan. Tapi, aku hanya ingin bersama dengan wanita yang aku cintai. Dan aku yakin, Suci pasti bisa melihat kembali. Jadi, tolong jangan paksa aku untuk menjauhi Suci dengan menjodohkan aku dengan wanita lain pilihan papah." Tak mau meneruskan perdebatan, Nino akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan ruang makan yang terasa sangat panas. "Dasar anak durhaka kamu ya!" Hermawan berteriak saat Nino pergi menjauh. "Pah, sudah. Nino sudah besar, biarkan dia memilih sesuai hatinya. Jangan pernah memaksa hati seseorang untuk mencintai orang yang tidak dicintai. Kita sebagai orang tua harusnya mensupportnya pah." Dian mencoba menasehati Hermawan. "Mamah ini, terlalu membela dan manjain Nino, jadinya begitu tuh, melawan kalau orang tua bicara. Pokoknya, papah tetap gak setuju jika Nino tetap menikahi Suci. Papah gak mau punya menantu cacat dan gak berguna sama sekali." Hermawan berjalan meninggalkan istrinya yang terdiam. Dian bingung mana yang mau ia bela. Yang satu suaminya dan yang satu adalah anak semata wayangnya. Sesampainya di kamar, Nino memilih untuk duduk di tepi ranjang seraya memegangi sebelah dadanya. Dadanya terasa sangat sakit akibat perdebatan yang terjadi antara dirinya dengan sang ayah. Ia bingung harus memilih siapa. Disatu sisi, Hermawan adalah orang tuanya dan ia tidak mungkin menentangnya dan menjadi anak durhaka. Tapi, disisi lain ia sangat mencintai Suci dan tidak akan pernah meninggalkan Suci apapun keadaannya. Terlebih, suci buta karena kecelakaan yang dialaminya saat hendak bertemu dengan Nino. Nino mengambil obat penghilang rasa nyeri yang ada di dalam laci. Ia meminumnya setelah itu ia beristirahat. Berharap saat ia bangun nanti, ayahnya bisa melupakan niatnya untuk menjauhkan dirinya dengan Suci. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD