Melakukan Pemeriksaan

1472 Words
Nino yang benar-benar terpukul akan keadaan Suci tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Andaikan posisi Suci bisa digantikan. Mungkin ia lebih memilih dirinya lah yang buta daripada ia harus melihat orang yang dicintainya menderita. Nino yang sedang melamun disadarkan dengan gerakan tangan Suci yang ada digenggamannya. "Sayang, kamu sudah sadar?" ucap Nino sambil mengusap halus pucuk kepala Suci. "Nino?" panggil Suci. "Iya sayang, aku disini, aku gak kemana-mana!" jawab Nino sambil menggenggam erat tangan Suci dan mengusap pucuk kepala Suci. Suci menangis kembali setelah ia tersadar. Rasanya sangat sakit mengetahui kenyataan yang betul-betul menyiksa batinnya. Ia tidak tahu apakah ia bisa menjalani hari-harinya seperti biasanya. Ataukah ia harus mengakhiri hidupnya? Pertanyaan demi pertanyaan selalu muncul di kepalanya. Kini, ia benar-benar sangat lemah dan terpuruk. Ia sudah tidak tahu lagi alasan apa yang bisa membuatnya kuat dalam menjalani pahitnya kehidupan. "Sayang, cup cup cup, jangan nangis lagi ya. Kamu gak usah sedih, ada aku disini. Aku janji gak akan pernah ninggalin kamu sampai kapanpun!" ucap Nino menenangkan Suci. "Tapi aku merasa udah gak berguna lagi, aku ini buta Nino!" jawab Suci sambil menangis. "Hei hei, tenang sayang. Dokter bilang kamu masih bisa sembuh dengan operasi donor mata, aku akan cari rumah sakit yang paling bagus dan aku akan usahakan untuk menemukan pendonor mata untukmu, jadi kamu gak usah takut ya, kamu pasti bisa lihat kembali," ucap Nino. "Mustahil Nino, kamu pikir aku bodoh. Cari donor mata tuh gak mudah," ucap Suci yang benar-benar sudah sangat putus asa. "Kamu jangan ngomong begitu, kamu harus yakin oke, kita banyak berdoa mohon pertolongan kepada yang kuasa, insya Allah pasti akan selalu ada jalan terbaik, percaya deh!" ucap Nino. Suci pun hanya terdiam di dalam tangis. Memikirkan bagaimana nasib dirinya nanti. "Sekarang kamu makan dulu ya, aku suapin." Nino mengambil semangkok bubur yang ada di atas nakas. "Aku gak mau makan!" Tolak Suci. "Kamu harus makan sayang, biar cepat sembuh." "Percuma Nino! Toh, kalau aku makan juga gak akan bisa buat mataku kembali melihat," ucap suci dengan nada suara yang terdengar lirih. "Kamu belum makan dari kemarin. Makan ya, sedikit aja!" Nino terus membujuk Suci. "Gak mau!" Nino menarik napasnya dengan lemas, lalu menaruh kembali mangkok berisi bubur tersebut di atas nakas. Tangannya meraih tangan Suci dan menggenggamnya erat. "Dengarkan aku baik-baik ya! Ini semua ujian dari Allah untuk kita. Aku tau memang pahit, tapi kalau kita lalui semua dengan ikhlas, insha Allah semua akan mudah dilewati. Aku janji sama kamu, aku akan cari dokter yang terbaik untuk mengobati kedua mata kamu. Dan aku janji gak akan pernah ninggalin kamu sampai kapan pun, bagaimana pun keadaan kamu. Kamu pasti sembuh sayang. Jangan kamu tambah menyiksa diri dengan kamu gak mau makan seperti ini. Sekarang makan ya, aku suapin." "Tapi, Nino. Semuanya percuma. Mustahil." Suci kembali menangis. "Gak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Memang akan sulit, tapi aku yakin kamu pasti bisa melihat kembali. Sekarang makan ya, nanti kamu lemas kalau gak makan." Suci akhirnya menurut. Nino pun mulai menyuapi Suci perlahan hingga makanan tersebut habis. *** Setelah Suci selesai makan, dokter dan seorang perawat masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Suci. "Bagaimana kabarnya mbak Suci?" Tanya dokter dengan ramah. "Seperti yang dokter lihat. Mata saya masih belum bisa melihat." Dokter dan Nino pun saling pandang. "Saya periksa dulu ya sebentar." Dokter mulai memeriksa bagian mata milik Suci. "Bagaimana dok?" Nino bertanya setelah dokter memeriksa Suci. "Saya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi untuk mengetahui seberapa parah cedera pada mata mbak Suci. Baru setelah itu saya bisa menyimpulkan bagaimana keadaan mata mbak Suci." "Apa saya bisa melihat kembali dok?" Suci menyela. "Kita lihat nanti setelah dilakukan pemeriksaan ya mbak. Semoga cedera yang mengenai saraf mata mbak Suci tidak parah jadi bisa dilakukan donor mata. Kalau begitu siap-siap ya, nanti biar ditemani suster ke ruang pemeriksaan," ucap dokter lalu meninggalkan kamar menuju ruang pemeriksaan. "Mari mbak, biar saya bantu turun dari tempat tidur," ucap suster seraya membantu Suci turun dari tempat tidur. "Pelan-pelan sayang." Nino memegang tangan Suci dan membawanya duduk di kursi roda yang sudah disiapkan. "Biar saya aja sus yang dorong," ucap Nino. "Baik pak," jawab suster. Nino pun mendorong kursi tersebut menuju ruang pemeriksaan ditemani suster yang berada di belakangnya. Setelah sampai di depan pintu, Suci menghentikan langkah Nino. "Kenapa sayang?" Tanya Nino penasaran dengan membungkukkan tubuhnya. "Aku takut!" "Takut kenapa? Ini hanya pemeriksaan kecil dan gak akan sakit. Percaya sama aku ya." Nino menguatkan. "Bukan itu yang aku takutkan." "Lalu apa?" "Aku takut dengan hasilnya nanti. Bagaimana jika hasilnya menyatakan selamanya aku tidak akan bisa melihat kembali?" Nino berjalan kedepan dan berjongkok di hadapan Suci yang terduduk di kursi roda. "Dengarkan aku ya sayang. Jangan berpikir yang nggak-nggak dulu. Untuk hasilnya gimana, kita serahkan semua sama Allah. Kita berdoa semoga hasilnya nanti baik. Aku yakin kok kalau kamu bisa melihat kembali. Jadi, jangan takut ya!" Nino berucap seraya menggenggam tangan Suci. "Tapi, jika aku memang tidak akan pernah bisa melihat kembali, bagaimana Nino?" "Aku akan tetap menikahimu, merawatmu, menjagamu dengan penuh kasih sayang sampai maut yang akan memisahkan kita. Aku janji!" Nino terus menguatkan Suci walaupun sebenarnya dirinya sangat sakit melihat keputus asaan Suci. "Mari mbak kita masuk ke dalam, dokter sudah menunggu." Suster menyela obrolan antar Suci dan juga Nino. Nino pun kembali mendorong kursi roda masuk ke dalam ruang pemeriksaan tersebut setelah suster membantu membukakan pintu. "Maaf pak Nino, silahkan tunggu diluar sebentar ya," titah dokter. "Berapa lama dok?" "Kurang lebihnya satu jam." "Aku tinggal dulu ya sebentar, aku tunggu di luar," pamit Nino kepada Suci dan hanya dibalas anggukan oleh Suci. Nino pun berjalan keluar ruangan dan pemeriksaan pun mulai dilakukan. *** Satu jam sudah berlalu, Suci kembali diantar menuju kamarnya dengan diantar oleh Nino. Saat sampai di kamar, sudah ada orang tua Suci dan juga Dian, ibu Nino yang sedang sedikit berbincang. "Mama, om, Tante," sapa Nino saat masuk ke dalam kamar. "Sayang, dari mana?" Dian menghampiri putranya. "Habis nemenin Suci periksa mah. Tadi disuruh sama dokter." "Suci, apa kabar sayang?" tanya Dian seraya mengusap pucuk kepala Suci. "Seperti yang Tante lihat sekarang. Aku masih tidak bisa melihat." Suci tersenyum getir. Dian yang merasa bersalah hanya terus mengusap pucuk kepala calon menantunya tersebut. "Suci…" Eva memanggil. "Mamah…" lirih Suci. Eva pun menghampiri Suci dan memeluknya. Air mata Suci pun menetes membasahi kedua pipinya. "Jangan nangis nak." Eva mengusap air mata Suci. "Kamu sehat kan sayang?" "Seperti yang mamah lihat. Aku sehat, tapi–" "Sudah, jangan diteruskan. Ayo mamah bantu untuk ke tempat tidur. Kamu harus banyak istirahat." Eva membantu Suci berdiri dari kursi roda dan menuntunnya ke atas tempat tidur. "Apa kata dokter Nino?" Darma, ayah Suci bertanya pada Nino. "Belum tau pah. Mungkin nanti dokter akan memberitahunya. Kita berdoa saja, semoga cederanya gak terlalu parah jadi masih ada kemungkinan untuk Suci bisa melihat kembali." Nino memandang Suci dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. "Ya, semoga saja." "Permisi, pak Nino bisa ke ruangan dokter sebentar?" Suster masuk ke dalam kamar dan memberitahu Nino. "Iya sus," jawab Nino. Suster pun pergi. "Om, aku ke ruang dokter sebentar ya," ucap Nino pada Darma. "Iya," jawab Darma. Nino pun berjalan menuju ruangan dokter dengan hati yang berdebar. Ia terus berdoa semoga hasil dari pemeriksaan Suci menunjukkan hasil yang baik. "Permisi dok," Nino menyembulkan kepalanya dari balik pintu sebelumnya ia sudah mengetuk pintu ruangan tersebut terlebih dahulu. "Silahkan masuk pak Nino. Silahkan duduk," tidak sang dokter. "Terimakasih dok. Jadi, bagaimana hasilnya dok?" Tanya Nino tanpa banyak basa-basi. "Sejauh ini, Alhamdulillah hasilnya baik. Cidera yang dialami mbak Suci untungnya tidak terlalu parah jadi, ada kemungkinan untuk mbak Suci bisa melihat kembali dengan melakukan operasi donor mata. Tapi–" dokter menjeda kalimatnya. "Tapi apa dok?" "Donor mata dilakukan jika pendonor sudah meninggal dunia dan dilakukan selambatnya 12 jam setelah pendonor meninggal dunia." Dokter menjelaskan. "Apa sulit dok mencari donor mata?" "Cukup sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat memang sangat jarang sekali orang yang mau mendonorkan matanya, karena harus persetujuan dari ahli waris keluarga si pendonor." Nino terdiam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Bagaimana dengan tingkat keberhasilannya dok?" Nino kembali bertanya. "Sejauh yang saya tau, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 90 persen." "Berarti memang ada kemungkinan Suci bisa melihat kembali dok?" "Ya, sangat ada. Hanya saja, mencari pendonor matanya yang sedikit sulit. Tapi kami akan tetap membantu sebisa kami." "Saya akan membawa Suci ke Jakarta. Siapa tau bank mata di Jakarta, ada pendonor mata yang cocok dengan mata Suci," ujar Nino. "Silahkan. Disini kami juga akan mencari info mengenai pendonor mata, jika ada kami akan segera mengabari keluarga pak Nino ataupun mbak Suci." "Baik dok, kalau begitu terimakasih banyak ya dok." Nino menjabat tangan dokter. "Sama-sama pak. Terus dampingi mbak Suci karena pasti dia sangat terpukul dengan kenyataan pahit yang menimpa dirinya," pesan dokter. "Baik dok. Saya permisi." Nino pun keluar dan kembali menuju ke kamar Suci dengan pikiran yang benar-benar kalut. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD