3). Terlalu Baik

1270 Words
*** "Ya udah kalau gitu aku matiin teleponnya ya. Aku masih harus cek kerjaan dan mungkin baru selesai jam setengah sepuluh jadi aku kayanya sampai di rumah jam sepuluh. Kamu enggak usah tungguin aku karena nanti kamu ngantuk. Tidur aja biar kita ketemu lagi besok." Setelah mengobrol selama beberapa menit bersama Indira yang dia hubungi lebih dulu, ucapan tersebut lantas dilontarkan Marvin pada sang istri. Tak berbincang banyak, obrolan diantara keduanya beberapa waktu lalu berfokus pada seorang perempuan yang katanya ditolong Indira dari penjahat, dan setelah sempat kaget bahkan tak setuju pada keputusan sang istri, pada akhirnya Marvin mengalah dengan membiarkan Indira meminta perempuan yang ditolongnya itu menjadi ibu pengganti untuk calon anak mereka nanti. Merasa ada yang mengganjal hati setelah mendengar nama perempuan yang ditolong Indira, Marvin berusaha untuk mengenyahkan pikiran negatif di kepalanya sehingga tanpa bertanya lebih dalam tentang nama, dia dan sang istri langsung berpindah pembahasan. "Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan ya nanti pas pulang," kata Indira. "Pagi besok kita bicarain semuanya lebih dalam karena selain cara kerja Mbak Tiffany nanti, aku belum jelasin apa pun lagi." "Iya," kata Marvin. "Aku lanjutin kerja dulu ya. Kamu selamat tidur dan semoga mimpi indah." "Oke, Mas." "I love you." "I love you too." Tersenyum, selanjutnya Marvin meminta izin untuk mengakhiri panggilan dan begitu telepon terputus, yang dia lakukan adalah; menghela napas sebelum kemudian berkata, "Nama Tiffany Jelita itu banyak di Jakarta. Jadi enggak mungkin dia. Lagian, dia pasti udah bahagia sama kehidupannya sekarang." "Ah, Marvin. Ayo fokus." Tak mau konsentrasinya terpecah belah, setelah itu yang dilakukan Marvin adalah; fokus kembali pada dokumen yang sejak tadi dia baca hingga ditengah pekerjaannya, sang atasan yang semula berpamitan untuk mengurus sesuatu, kembali. Tak sendiri, Marvin akhirnya mendapat bantuan sehingga sekitar pukul setengah sepuluh kurang beberapa menit, pekerjaannya selesai dan tanpa banyak menunda, dia berpamitan pulang pada sang atasan yang baiknya mengantar sampai ke mobil. "Jangan lupa besok jam sembilan pagi," ucap Kenan sang atasan, persis ketika Marvin tiba di samping mobil. "Kalau klien nanya, bilang aja aku ada urusan urgent yang enggak bisa ditinggal." Bukan orang asing, Kenan memang sangat dekat dengan Marvin bahkan Indira dan bukan tanpa alasan, kedekatan tersebut terjadi karena Indira yang memang sahabat Kenan sejak kecil sehingga pada Marvin, Kenan selalu bersikap seperti pada saudara ipar. "Oke, aman," kata Marvin. "Meeting selesai, aku langsung kabarin kamu progresnya dan buat Andante, semoga demamnya segera reda." "Aamiin," kata Kenan. Diam selama beberapa detik, setelahnya dia kembali buka suara. "Oh ya, kamu sama Indira baik-baik aja, kan? Pas ngerjain dokumen, aku beberapa kali lihat kamu kaya mikirin sesuatu. Aku khawatir Indira marah karena tadi acaranya aku ganggu." "Aku sama Indira baik," kata Marvin. "Lagian tadi makan malamnya kebetulan udah selesai dan kita tinggal pulang aja. Jadi aman." "Apa ada masalah lain?" tanya Kenan. "Kalau iya ada, kamu bisa cerita." Tak memberikan jawaban, yang dilakukan Marvin setelahnya adalah; memandang Kenan untuk beberapa saat hingga tak berselang lama dia buka suara. "Indira ngerengek lagi soal anak dan kali ini dia pengen pake ibu pengganti buat ngandung anak aku sama dia," ungkap Marvin dengan raut wajah serius. "Tadi aku sempat nolak karena beberapa hal cuman Indira ngotot dan belum selesai obrolan, aku harus ke sini. Aku pikir Indira bakalan sambung obrolan terus nunggu keputusan aku sebelum melangkah lebih jauh, tapi ternyata salah karena tadi dia bilang kalau dia udah nemuin perempuan yang mau jadi ibu pengganti untuk anak kita." "Hah? Siapa?" tanya Kenan dengan raut wajah kaget. "Udah dipersiapin sebelum bilang sama kamu apa gimana? Kok cepat banget dapatnya?" "Orang asing," kata Marvin yang kembali membuat Kenan kaget. "Tadi di perjalanan pulang, Indira nolongin perempuan yang katanya dikejar penjahat terus habis itu si perempuan cerita banyak dan Indira kasihan. Karena kebetulan Indira lagi butuh perempuan yang mau mengandung anaknya, Indira nawarin dia buat jadi ibu pengganti dan perempuan itu mau." "What? Segampang itu?" "Kelemahan Indira emang ada di sifatnya yang terlalu baik," kata Marvin. "Aku udah kasih dia warning tentang perempuan asing itu yang mungkin bukan orang baik, tapi Indira bilang kalau dia yakin perempuan itu baik dan kalau udah gitu, aku enggak bisa bantah karena Indira pasti sedih. Aku tadi iyain aja apa maunya dia dan besok pagi kita bakalan ngobrol lebih dalam sama perempuan yang Indira tolong. Doain aja semoga perempuan itu beneran baik." "Indira Tritania," desah Kenan tak habis pikir. "Aku pikir gaul sama Agnes bisa bikin dia sedikit lebih tegas dan enggak gampang kasihan sama orang, tapi ternyata enggak. Dia tetap terlalu lembut dan hal itu bikin aku enggak suka karena orang enggak bertanggungjawab bisa manfaatin sikapnya." "Ya begitulah sahabat kamu," kata Marvin. "Dia terlalu lembut dan baik sampai-sampai semua orang baik di mata dia, tapi kamu enggak usah terlalu khawatir juga soal ini karena sebelum keputusan final, aku bakalan cari tahu soal perempuan itu." "Harus," kata Kenan tanpa basa-basi. "Kalau pun keputusan Indira buat sewa ibu pengganti yang mau mengandung anak kalian tetap bulat, kamu harus pastiin dulu perempuannya baik supaya nanti soal ibu pengganti ini enggak jadi boomerang buat kalian, karena aku enggak mau rumah tangga kalian berantakan cuman karena orang asing." "Pasti," kata Marvin. "Aku bakalan seselektif mungkin. Jadi kamu enggak usah khawatir." "Oke," kata Kenan. "Kabarin aja kalau ada apa-apa." "Iya," kata Marvin. "Sekarang karena udah malam, aku pamit." "Hati-hati di jalan dan titip maaf sama Indira karena udah ganggu acaranya." "Nanti aku sampaikan." Tak banyak menunda, setelahnya yang dilakukan Marvin adalah; masuk ke dalam mobil kemudian membawa kendaraannya itu pergi meninggalkan rumah sang atasan. Tak berkendara dengan kecepatan tinggi, Marvin mengemudikan mobilnya secara biasa tanpa tahu jika di rumah, Indira menunggunya. Sempat tertidur setengah jam lalu setelah menghubungi Marvin, Indira memang terbangun beberapa menit lalu dan tak diam, yang dilakukannya setelah mengumpulkan nyawa adalah; keluar dari kamar dengan tujuan; pergi ke dapur untuk mengambil minum. Berjalan di tengah ruangan lantai atas yang lampunya temaram, Indira menyipitkan mata ketika di lantai bawah—persis di dekat tangga, dia mendapati Tiffany tengah mengedarkan pandangan sehingga tanpa banyak menunda, dia buka suara. "Mbak Fany lagi apa?" "Eh, Mbak Indira," sapa Tiffany yang spontan menoleh dengan raut wajah kaget. "Anu, Mbak, itu saya lagi nyari pintu buat ke dapur. Saya barusan mau coba tidur, tapi haus dan rasanya enggak enak kalau saya bangunin Mbak. Jadi rencananya saya mau ke dapur gitu buat ambil minum." "Oh," kata Indira. "Tunggu kalau gitu karena saya juga mau ke dapur. Haus." "Iya, Mbak." Tak banyak menunda, setelahnya Indira turun kemudian bersama Tiffany, dia bergegas menuju dapur untuk mengambil air putih. Tak hening, keduanya mengobrol—bertanya tentang alasan masing-masing yang belum terlelap. "Capeknya masih kerasa sampai sekarang pasti ya?" tanya Indira setelah Tiffany berkata jika alasannya belum terlelap adalah; rasa takut dan lelah karena kejadian dikejar preman beberapa waktu lalu. "Saya juga pasti bakalan kaya Mbak atau lebih parah kalau ngalamin hal itu." "Iya, Mbak," kata Tiffany. "Mbak sendiri kenapa belum tidur?" "Oh, saya sebenarnya udah tidur cuman barusan tiba-tiba kebangun dan karena suami saya belum pulang, saya rencananya mau nungguin dia di ruang tengah." "Hm, gitu ya." "Iya," kata Indira. "Mas Marvin tadi bilangnya enggak usah nungguin sih cuman karena tanggung, saya tungguin aja." "Mas Marvin?" tanya Tiffany spontan. "Iya," kata Indira. "Tadi saya belum sempat sebut nama suami saya ya sama Mbak?" "Belum." "Suami saya namanya Marvin, Mbak," kata Indira sambil tersenyum. "Marvin Prayoga dan usianya sama kaya, Mbak. Tiga puluh tiga tahun." Tak menimpali, respon Tiffany untuk ucapan Indira adalah diam dengan pegangan tangan pada gelas yang sedikit mengerat dan hal tersebut tentunya membuat Indira buka suara. "Mbak." "Eh iya, Mbak?" "Mbak baik-baik aja, kan?" tanya Indira. "Kok tiba-tiba diam? Enggak ada yang dirasa, kan? Sakit atau apa gitu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD