4). Nama yang Tak Asing

1096 Words
*** "Marvin Prayoga ... enggak! Enggak mungkin dia karena nama Marvin Prayoga di muka bumi ini banyak dan aku yakin bukan dia. Dari sekian banyak nama Marvin Prayoga, aku yakin suaminya Mbak Indira bukan orang yang aku kenal dan aku enggak boleh berpikiran macam-macam karena Marvinnya Mbak Indira pasti orang asing buat aku." "Ayo, Tiffany. Jangan mikir macam-macam." Duduk di pinggir kasur kamar tamu yang dia tempati, sejak beberapa menit lalu Tiffany sibuk mensugesti dirinya untuk tak berpikiran ke mana-mana. Bukan tanpa alasan, hal tersebut dia lakukan setelah beberapa waktu lalu—di dapur, Indira menyebut nama pria yang tiga tahun menjadi suaminya dan karena nama pria yang disebut Indira cukup familiar di telinganya, Tiffany dilanda rasa kaget. Namun, karena tak mau membuat Indira penasaran, sebisa mungkin Tiffany bersikap biasa sebelum kemudian berpamitan pada sang empu rumah dengan alasan; ingin beristirahat. "Mbak Indira sekarang udah nungguin suaminya apa belum ya?" tanya Tiffany setelah diam selama beberapa detik. "Apa aku harus ngintip biar enggak penasaran? Ah, kayanya itu berlebihan deh. Lagian, suaminya Mbak Indira pasti bukan orang yang aku kenal. Jadi harusnya aku enggak usah kepo. Ketahuan ngintip kan nanti disangkanya macam-macam." Sibuk dengan pikirannya sendiri, itulah Tiffany selama beberapa waktu terakhir dan hal tersebut tentunya berbeda dengan Indira yang justru tenang menunggu kepulangan sang suami. Tak di ruang tengah seperti rencana awal, Indira memutuskan untuk menunggu di ruang tamu dan setelah lima belas menit menempati sofa, suara pintu dibuka dari luar, terdengar—membuatnya dengan segera beranjak dan selang beberapa detik, Marvin muncul dengan raut wajah yang terlihat kaget. "Lho, kamu ngapain di sini?" "Halo, Mas," kata Indira dengan senyumam manis seperti biasa. "Aku nungguin kamu dong. Apalagi emangnya?" "Kan aku udah minta kamu tidur, In," kata Marvin sambil mendekat. "Kok enggak tidur?" "Udah, Mas, cuman tadi tuh aku mendadak haus jadi bangun," kata Indira. "Turun ke bawah buat ambil minum, aku keinget kamu. Jadi nungguin deh aku di sini." "Manis banget." "Iya dong," kata Indira. "Oh ya kerjaan kamu gimana? Selesai problemnya?" "Selesai," kata Marvin. "Besok aku gantiin Kenan meeting karena si sulung sakit dan Agnes repot sama si bungsu. Jadi urusan kantor semuanya aku yang handle." "Oh oke." "Enggak apa-apa, kan?" "Ya enggak apa-apa," ucap Indira. "Mumpung kamu bisa karena mungkin next time kamu juga enggak akan seluang sekarang." "Kenapa?" "Ya karena kalau kita punya anak, kita juga bakalan sedikit repot kan, Mas?" tanya Indira. "Kalau aku punya anak, rencananya aku pengen rawat dia sendiri tanpa bantuan babysitter, karena aku pengen menikmati setiap momennya dan mungkin aku bakalan sedikit ngerepotin kamu untuk beberapa hal. Beli s**u sama pampers misalnya." Tak langsung menimpali ucapan Indira, yang dilakukan Marvin selanjutnya justru memandang sang istri dengan perasaan terenyuh sebelum kemudian buka suara. "Pengen banget ya?" "Anak?" tanya Indira. "Iya, Mas, pengen banget. Lihat Mbak Agnes yang selalu sibuk sama dua anaknya kadang aku iri. Aku pengen kaya dia, karena meskipun kelihatannya repot, rasanya bahagia aja punya anak sendiri. Ngerti, kan?" "Iya ngerti." "Aku udah berusaha sabar seperti yang kamu saranin, tapi nyatanya aku enggak bisa sesabar itu karena tiga tahun menikah tanpa hadirnya anak, aku kesepian." Tak tahu harus menjawab apa, pada akhirnya yang Marvin lakukan hanyalah mengusap pucuk kepala Indira dengan lembut sebelum kemudian mengajak sang istri beristirahat. Berjalan sambil berpegangan tangan, pasangan suami istri itu bergegas menuju tangga kemudian naik ke lantai atas dan sesampainya di tempat tujuan, Indira juga Marvin melanjutkan langkah menuju kamar tanpa tahu jika persis saat keduanya tiba di lantai dua, Tiffany membuka pintu kamar tamu bahkan sempat memperhatikan dua insan tersebut dari celah pintu yang tak terbuka penuh. Melihat Indira juga Marvin dari belakang, perasaan lega seketika menghampiri Tiffany sehingga setelah beberapa detik diam, dia akhirnya buka suara. "Kan, dia orang lain," ucap Tiffany pada dirinya sendiri. "Lagian nama Marvin Prayoga pasti enggak satu di Jakarta. Jadi harusnya aku enggak berpikiran macam-macam." Rasa penasaran bahkan khawatirnya terjawab, setelah itu yang Tiffany lakukan adalah; kembali masuk ke dalam kamar untuk kemudian merebahkan tubuh dan beristirahat. Tak ada gangguan, tidurnya berlangsung tenang hingga setelah beberapa jam berlalu, pagi pun datang dan tepat pukul lima pagi, Tiffany bangun. Tak tahu harus melakukan apa setelah mencuci muka, selanjutnya kegiatan Tiffany adalah; berdiam diri dengan perasaan bingung. "Mbak Indira udah pada bangun belum ya?" tanya Tiffany. "Tadi aku dengar ada suara, tapi takutnya itu bukan suara Mbak Indira." Diam lagi sambil berpikir, pada akhirnya Tiffany memutuskan untuk tetap berdiam diri tanpa tahu jika sang empu rumah pagi ini sudah sibuk dengan kegiatannya bersih-bersih. Memiliki hunian tiga lantai termasuk garasi dan gudang di lantai satu, Indira yang hanya memiliki satu asisten rumah tangga memang tak melimpahkan semua pekerjaan pada sang art sehingga setiap pagi, pekerjaannya adalah; menyapu juga mengepel lantai atas. Bangun pukul setengah lima pagi, Indira selalu menyelesaikan tugasnya sekitar pukul setengah enam dan ketika semua tugas selesai, yang dia lakukan adalah; membangunkan Marvin. "Mas, bangun," panggil Indira sambil menepuk bahu sang suami pelan. "Kamu kan ada meeting hari ini. Jadi ayo bangun pagi." "Hm." "Mas." Tak terlalu sulit, setelahnya Marvin membuka mata dan untuk beberapa saat yang dilakukannya adalah; memandang Indira yang sudah rapi dengan penampilannya. "Kamu udah mandi?" "Menurut kamu?" tanya Indira. "Udah dong. Kapan emangnya aku belum mandi jam segini?" Tersenyum, itulah yang selanjutnya Marvin lakukan sebelum kemudian buka suara. "I love you." "Kamu tuh ya," ucap Indira sambil tersenyum. "I love you too." Tak menimpali lagi ucapan Indira, selanjutnya Marvin diam hingga setelah nyawa terkumpul, dia beringsut. Pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, Marvin berpamitan turun ke lantai bawah guna memanaskan mobil yang akan dia pakai ke kantor pagi ini. "Aku siapin baju kamu ya," ucap Indira ketika Marvin sampai di ambang pintu. "Sip," kata Marvin. "Bajunya seperti biasa sesuai selera kamu." "Oke." Tersenyum, selanjutnya Marvin pergi meninggalkan kamar kemudian setibanya di tangga, dia turun. Bergegas menuju garasi di lantai paling bawah, Marvin mengeluarkan mobil kemudian memanaskan mesin dari kendaraannya itu selama beberapa saat. Merasa cukup, selanjutnya Marvin kembali masuk dan karena rasa haus melanda, yang dia lakukan selanjutnya adalah; bergegas menuju dapur hingga setibanya di sana, dia berhenti setelah mendapati seorang perempuan di depan dispenser. Tengah menuang air, itulah kegiatan perempuaan tersebut yang diperhatikan oleh Marvin hingga ketika perempuan itu berbalik, kedua matanya spontan membulat karena bukan orang asing. Namun, bukan pula sang art, perempuan tersebut adalah orang yang Marvin kenal. "Tiffany?" tanya Marvin yang disambut pula raut wajah kaget dari perempuan di depannya. "Marvin?" Tak ada yang buka suara, untuk beberapa saat yang dilakukan kedua insan tersebut adalah; diam dengan atensi yang saling beradu hingga pertanyaan dari Indira di ambang pintu membuat keduanya kompak menoleh. "Kalian saling kenal?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD