5). Hubungan Marvin dan Tiffany

1072 Words
*** "Oh, jadi dulu kalian teman satu fakultas?" Duduk di depan meja bersama Marvin juga Tiffany, pertanyaan tersebut lantas Indira lontarkan setelah beberapa waktu lalu dia melihat suami juga perempuan yang baru dikenalnya semalam, saling memanggil nama. Tak ada sangkaan negatif, selanjutnya yang Indira lakukan adalah; bertanya tentang hubungan keduanya dan tak nyaman jika mengobrol sambil berdiri, Indira meminta Marvin mau pun Tiffany untuk duduk sebelum memberikan jawaban. Bukan dari Tiffany, selanjutnya penjelasan tentang hubungan Marvin juga Tiffany, Indira dapat dari sang suami dan katanya bukan hubungan spesial, Marvin juga Tiffany sebatas teman satu kampus ketika berkuliah dulu. Indira percaya? Iya, tentu saja. Tak ada gerak-gerik mencurigakan dari sang suami, dia percaya tanpa terkecuali pada jawaban yang dilontarkan Marvin sehingga bertanya lebih dalam pun dilakukannya. "Iya," kata Marvin. "Enggak terlalu dekat, cuman sekadar kenal aja karena sering masuk di kelas yang sama dan ya ... muka Tiffany enggak asing. Jadi aku langsung kenal pas lihat karena muka dia juga enggak banyak berubah. Aku harap kamu enggak salah paham." "Kenapa harus salah paham, Mas?" tanya Indira dengan senyuman yang tak luntur dari bibir. "Kamu sama Mbak Tiffany tadi saling sapa biasa dan sekarang penjelasannya juga masuk akal. Apa yang bikin aku salah paham?" "Ya kali aja kamu nyangka enggak-enggak," kata Marvin. "Aku khawatir." "Enggaklah," kata Indira sambil mengusap pelan bahu suaminya yang pagi ini terbalut kaos. "Pernikahan kita tuh bukan sebulan dua bulan, jadi mana mungkin aku salah paham karena masalah sepele. Tentang kamu yang semalam ngomong enggak tahu sama nama yang aku sebut, itu mungkin karena kamu pikir Mbak Tiffany yang aku maksud itu orang lain, jadi kamu bilang enggak kenal." Tersenyum, itulah yang dilakukan Marvin untuk merespon ucapan Indira hingga tak berselang lama, sang istri kembali buka suara. "Oh ya, mumpung kita kumpul di meja makan, gimana kalau kita bahas semuanya sekarang aja?" tanya Indira. "Setelah bahas, kamu bisa mandi, sarapan terus berangkat deh ke kantor. Setuju?" "Apa enggak nanti aja?" tanya Marvin yang kemudian menoleh ke arah jam dinding di ruang makan, sebelum beralih lagi pada Indira. "Aku ada meeting pagi ini dan takutnya telat." "Tapi, kan, kamu udah janji buat bahas semuanya pagi ini, Mas," kata Indira. "Enggak akan lama kok, cuman bahas soal fee buat Mbak Fany untuk apa yang akan dia lakuin terus mungkin soal prosesnya nanti gimana. Itu doang. Ah, terus mungkin satu lagi soal di mana kita bakalan lakuin semuanya karena kan di sini enggak boleh. Jadi mungkin kita harus keluar negeri." Memandang Indira dengan perasaan yang berat, itulah Marvin selanjutnya sebelum kemudian menghela napas. Tak bisa menolak, lagi-lagi Marvin harus mengalah karena jika sudah memohon seperti ini, dia jelas tak tega. "Ya udah ayo kita bahas," kata Marvin. "Tapi sebelum itu, aku mau tanya dulu sama kamu. Mantap apa enggak sama keputusan yang kamu ambil karena ini bukan hal sepele." Dengan raut wajah polosnya, Indira mengangguk. "Mantap, Mas," ucapnya. "Kalau kamu berpikiran ini tuh keputusan dadakan, maka aku jawab enggak karena dari jauh-jauh hari aku udah mikirin semuanya cuman emang baru semalam aku mantapin diri buat bilang sama kamu, dan aku harap kamu setuju karena aku yakin kamu juga pengen punya anak seperti yang aku pengenin." "Sebenarnya childfree pun aku enggak masalah asalkan sama kamu." "Mas." Indira mendesah. "Enggak ya, aku enggak setuju. Aku enggak mau childfree karena aku pengen punya anak yang bisa aku jadiin teman dan semacamnya. Kamu jangan ke mana-mana deh. Aku enggak suka." "Oke, aku minta maaf," kata Marvin. "Aku ngomong gitu cuman pengen negasin aja kalau anak bukan yang utama di pernikahan kita karena dengan kamu selalu ada di samping aku aja, aku bahagia. Gitu maksudnya." Fokus memandang Indira, Marvin sedikit melirik Tiffany menggunakan ekor matanya dan tak ada respon aneh, perempuan itu hanya memperhatikan dengan kedua tangan bertaut. "Kamu tuh," ucap Indira. "Intinya ya keputusan aku buat pakai ibu pengganti itu udah bulat dan ibu pengganti yang mau aku pinjam rahimnya itu Mbak Tiffany. Titik." "Enggak mau perempuan lain?" "Marvin." Setelah sejak tadi diam, Tiffany akhirnya buka suara dan hal tersebut tentunya membuat atensi Marvin mau pun Indira beralih padanya. "Eh, maaf kalau saya lancang. Saya cuman enggak mau aja Marvin cari perempuan lain karena saya sangat butuh uangnya. Satu atau bahkan dua kali, saya siap dititipin anak kalian dan apa pun persyaratannya saya siap." Memandang Tiffany sambil menaikkan sebelah alis, selanjutnya Marvin berkata, "Berapa emangnya bayaran yang kamu mau?" "Bayaran?" Tiffany balik bertanya. "Sebenarnya aku enggak bisa mematok harga karena sebelummya aku belum pernah lakuin ini, cuman uang yang aku butuhin sekarang banyaknya tiga ratus juta dan kalau bisa, uang itu dibayar sebelum aku lakuin semuanya biar kalau nanti semua proses dilakuin di luar negeri, aku bisa ninggalin Mama dengan aman tanpa ancaman preman. Keluarga aku terlilit hutang setelah bangkrut, Marvin, makanya pas semalam ketemu Mbak Indira dan dapat tawaran itu, aku langsung mau karena kalau pun kerja, aku enggak bakalan dapat uang itu dalam waktu dekat sementara bunganya terus bertambah." "Enggak cuman pake tabungan kamu, kita bisa pake semua tabungan aku, Mas," ucap Indira. "Aku punya enam ratus juta hasil dari ngumpulin uang selama tiga tahun ini dan kita bisa pake semuanya." Tak menjawab ucapan Indira, selanjutnya yang dilakukan Marvin adalah; beralih pada Tiffany untuk kemudian bertanya lagi. "Kalau saya bayar kamu lima ratus juta mau enggak?" tanya Marvin. "Tiga ratus di awal, seratus ketika kamu positif hamil dan seratusnya lagi setelah anak saya sama Indira lahir. Mau?" "Mau!" ujar Tiffany. "Aku mau dibayar segitu dan aku janji bakalan lakuin yang terbaik." Terus mengobrol lebih dalam, pada akhirnya kesepakatan diambil. Namun, tak bisa langsung memberikan uang, Marvin berniat untuk membuat dulu kontrak untuknya dan Tiffany sehingga setelah mengobrol, Tiffany pun berpamitan pulang tanpa menerima tawaran Indira untuk menghabiskan sarapan. Dibekali uang seratus ribu oleh Indira, Tiffany pulang menggunakan ojeg online setelah sebelumnya memberi alamat rumahnya pada Indira dan tak ada yang terjadi, sesampainya di rumah, yang dia lakukan adalah; menceritakan semuanya pada sang mama. Sempat ditentang, Tiffany berhasil meyakinkan sang mama untuk setuju pada apa yang dia putuskan sehingga pada akhirnya izin pun didapatkan. Pagi berlalu, siang pun datang dan tak ada kegiatan berarti, Tiffany hanya menghabiskan waktunya di rumah hingga ketika dirinya hendak pergi ke dapur, sebuah panggilan dari nomor asing masuk ke ponselnya—membuat dia dengan segera menjawab. "Halo." "Tiffany, ini aku Marvin," ucap sang penelepon tanpa basa-basi. "Jam dua belas siang ini apa bisa kita ketemu? Ada yang mau aku bicarain sama kamu." "Ketemu?" tanya Tiffany bingung. "Iya," kata Marvin. "Bisa, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD