***
"Sekali lagi maaf ya, aku lupa kasih tahu kamu tadi pagi. Jadi gini deh, makanan yang kamu masak enggak bisa aku makan."
Bersandar pada kursi kerja yang sejak tadi dia tempati, ucapan tersebut lantas dilontarkan Marvin pada Indira yang dia hubungi beberapa menit lalu.
Bukan tanpa tujuan, alasan Marvin menelepon sang istri adalah; untuk memberitahu Indira agar tak ke kantornya seperti biasa karena tak akan menetap, jam istirahat nanti dia akan pergi ke suatu tempat untuk menemui Tiffany.
Ya, Tiffany.
Merasa harus membahas sesuatu dengan perempuan itu, beberapa waktu ke belakang Marvin memang mengajak Tiffany bertemu setelah pagi tadi tanpa izin, dia mengambil gadis yang tak asing untuknya itu di ponsel Indira.
Berbohong pada sang istri dengan berkata tentang sebuah urusan yang harus diselesaikan di jam istirahat, Marvin memang sengaja menyembunyikan masalahnya dengan Tiffany di masa lalu karena selain semua yang sudah berakhir lama, Marvin pikir tak baik rasanya jika sang istri tahu sehingga mengatasi semua sendiri pun diputuskannya.
"Iya enggak apa-apa, Mas, cuman kamu harus sambil makan juga ya," kata Indira. "Aku enggak mau kamu telat makan karena kerjaan kamu tuh berat."
"Siap," kata Marvin. "Kamu juga jangan telat makan. Ajak Bi Ijah sama Pak Komar buat makan sama-sama biar enggak kesepian."
"Iya, Mas."
"Sip."
Tak banyak mengobrol, setelahnya Marvin meminta izin untuk memutuskan sambungan telepon dan begitu panggilan terputus, yang dia lakukan adalah; menghela napas kasar.
"Maaf karena bohongin kamu, Indira," ucap Marvin. "Aku enggak mau kamu tahu masa lalu aku karena mungkin kamu bakalan enggak nyaman nantinya."
Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan, selanjutnya Marvin kembali fokus dengan berkas di meja hingga ketika waktu istirahat kantor tiba, dia bergegas untuk menemui Tiffany di sebuah taman yang sudah dijanjikannya beberapa waktu lalu.
Pergi meninggalkan kantor sekitar pukul dua belas siang lebih beberapa menit, Marvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga setelah dua puluh menit di jalan, dia tiba di taman dan di sebuah bangku yang posisinya sedikit tersembunyi di jalan, Tiffany duduk.
"Maaf aku telat," kata Marvin sesampainya di depan Tiffany dan apa yang dia katakan tentu saja membuat perempuan itu yang semula menunduk, seketika mengangkat pandangan.
"Marvin."
"Udah nunggu lama?" tanya Marvin dengan raut wajah dingin yang begitu kentara.
Tak melulu berdiri, selanjutnya dia duduk di samping Tiffany dengan jarak yang hampir semeter karena memang jika seandainya ada yang melihat, dia tak mau mencipta kesalahpahaman.
"Belum," ucap Tiffany. "Baru lima belas menit kayanya."
"Oh oke."
"Ada apa kamu ajak aku ketemu?" tanya Indira dengan raut wajah yang terlihat takut, karena tentunya di masa lalu, dia memiliki kesalahan bahkan dosa yang mungkin tak termaafkan pada pria di sampingnya itu.
Tiffany mantan kekasih Marvin?
No, bukan.
Tiffany bukan mantan kekasih Marvin melainkan mantan sahabat pria itu semasa kuliah, dan persahabatan mereka bisa dibilang dekat sampai akhirnya perbuatan Tiffany membuat semuanya berantakan.
Tak hanya ditinggal Marvin, Tiffany juga dibenci oleh pria itu bahkan ketika memarahinya untuk apa yang dulu dia lakukan, Marvin berkata jika sampai kapan pun dirinya tak akan melupakan kesalahan Tiffany sehingga ketika bertemu dengan perempuan itu tadi, jujur saja dia emosi.
Apa kesalahan Tiffany?
Jawabannya adalah membuat kekasih hati Marvin semasa kuliah, meninggal dunia. Merasa cemburu dengan kedekatan Marvin dengan sang kekasih, dulu ketika suami Indira tersebut tengah berada di rumahnya, Tiffany mensabotase ponsel Marvin dan tanpa meminta izin, dia menghapus begitu saja pesan dari Sabrina—kekasih Marvin yang malam ini meminta tolong.
Ya, meminta tolong.
Tak menyangka jika pesan tersebut serius, Tiffany menghapus permintaan tolong Sabrina dari kolom pesan Marvin sehingga malam itu sang sahabat terus menetap di rumahnya hingga sekitar pukul sebelas malam, kabar mengejutkan datang.
Dikejar preman di sebuah jalanan sepi, Sabrina berlari di jalanan hingga tertabrak sebuah mobil dan meninggal di tempat. Terpukul, Marvin awalnya tak menyalahkan siapa-siapa hingga chat di ponsel Sabrina membuatnya melayangkan tuduhan pada Tiffany dan yaps! Tak ada sanggahan, Tiffany mengaku sehingga amarah Marvin pun meledak.
Tak ada toleransi, setelahnya Marvin menjauhi Tiffany bahkan semua akses komunikasi diblok sampai akhirnya setelah sebelas tahun berlalu, mereka dipertemukan lagi pagi tadi.
"Menurut kamu?" tanya Marvin. "Jelas buat minta kamu jauh-jauh dari Indira karena saya enggak mau dia memiliki nasib yang sama dengan Sabrina. Saya mencintai Indira dan saya enggak mau dia kenapa-kenapa kalau bergaul sama kamu karena kamu itu bahaya."
"Vin." Tiffany mendesah. "Kejadian itu udah berlalu belasan tahun lho, dan Sabrina pun pasti udah tenang di dunianya sekarang. Apa perlu kamu bahas lagi?"
"Jelas sangat perlu karena seperti ucapan aku sebelas tahun lalu, kejadian Sabrina enggak pernah aku lupain sampai kapan pun dan kamu akan tetap aku salahkan karena faktanya emang gitu."
"Aku minta maaf, Marvin. Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan minta aku buat batalin kerjasama aku sama Indira karena aku sangat butuh uang itu," kata Tiffany dengan kedua mata berkaca-kaca, karena tak bohong, ucapannya tersebut benar. Tiffany sangat membutuhkan uang untuk melunasi semua hutang dan jika tak dari Indira, darimana lagi dia akan mendapatkan uang?
"Aku enggak peduli, karena yang aku peduliin cuman Indira," kata Marvin. "Jadi hari ini juga kamu telepon dia dan bilang kalau kamu berubah pikiran."
"Marvin."
"Jauh-jauh dari hidup aku, Tiffany, karena aku enggak mau kamu korbanin lagi orang yang aku sayang."
"Kalau kamu kaya gini, kamu berarti masih sayang sama Sabrina, Marvin, dan menurut kamu apa kata Indira kalau tahu kamu lakuin ini demi Sabrina, hm?" tanya Tiffany—berusaha untuk melakukan perlawanan. "Dia pasti sakit hati."
"Jangan pernah kamu coba kasih tahu ini ke Indira, Tiffany, karena kamu akan menyesal," ancam Marvin. "Lagian aku lakuin ini buat lindungi Indira. Harusnya kamu paham itu. Sekarang mana sini hp kamu biar aku blokir nomor Indira dari hp kamu."
"Enggak," tolak Tiffany. "Aku enggak akan kasihin hp aku ke kam-"
"Tiffany!"
"Enggak mau, Marvin!"
Merasa Tiffany tak bisa diajak bicara baik-baik, selanjutnya yang Marvin lakukan adalah; beranjak kemudian tanpa ragu merampas tas yang dibawa mantan sahabatnya itu.
"Marvin!"
"Apa kodenya?"
"Aku enggak akan kasih tah-"
"Kodenya mana atau hp ini aku lempar?"
"Enggak mau!"
Tak menyerah, Marvin terus berusaha menekan angka random hingga sebuah rangakaian angka melintas—membuat dia tersenyum sebelum kemudian menekan dan voila! Ponsel Tiffany terbuka sehingga dalam waktu cepat, dia berhasil memblokir bahkan menghapus kontak Indira.
Merasa misinya berhasil, setelahnya Marvin menyimpan begitu saja ponsel Tiffany di atas bangku kemudian dengan senyuman miring, dia pergi meninggalkan Tiffany dengan perasaan frustasi.
"Marvin kenapa sih?!" seru Tiffany sambil menatap kepergian Marvin yang kini berlalu begitu saja menggunakan mobil. "Dia pikir aku sama kaya sebelas tahun lalu apa? Dan dia pikir setelah kejadian Sabrina, aku enggak trauma bahkan merasa bersalah gitu?"
"Aku terpuruk, Marvin! Harusnya kamu tahu itu."
Puas mengomel, setelahnya Tiffany duduk kemudian mengecek ponselnya dan lagi-lagi dia frustasi setelah nomor Indira tak ditemukan.
"Ck, Gimana aku bisa hubungi Indira coba kalau gini caranya?" tanya Tiffany setengah mendesah. "Mana aku butuh banget uangnya lagi."
"Ah, Ya Tuhan! Aku harus gimana?"