7). Tiffany Mengadu

1165 Words
*** "Eh, Ibu kebetulan turun." Barusaja sampai di tengah-tengah tangga, Indira yang semula berjalan pelan spontan menoleh setelah ucapan tersebut didengarnya dan yang dia dapati tak jauh dari tangga adalah Bi Ijah sehingga tanpa banyak basa-basi dia bertanya. "Ada apa, Bi?" "Ada tamu, Bu, di depan. Katanya mau ketemu Bu Indira," kata Bi Ijah yang membuat Indira mengerutkan kening, karena memang sebagai kaum introvert yang jarang sekali bergaul dengan orang-orang luar, kedatangan tamu bisa dibilang sesuatu yang langka untuk istri Marvin tersebut. "Tamu?" tanya Indira memastikan. "Siapa, Bi?" "Yang semalam nginep di rumah ini, Bu. Mbak Tiffany kalau enggak salah namanya dan sekarang beliau nunggu di depan, karena pas Bibi suruh masuk, Mbaknya nolak dan milih nunggu di luar, cuman katanya beliau ada keperluan sama Ibu." "Oh, oke deh biar saya samperin," ucap Indira. "Makasih ya, Bi. Bibi bisa ke belakang sekarang." "Baik, Bu." Tersenyum, selanjutnya Indira melanjutkan langkah yang sempat tertunda hingga setibanya di lantai bawah, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke arah jam dinding yang kini ada di angka setengah tiga sore. Kembali berjalan, Indira bergegas menuju ruang tamu untuk kemudian membuka pintu utama dan begitu kepalanya menyembul, sosom Tiffany berada di teras—menunggunya dengan posisi berdiri. "Mbak Indira," panggil Tiffany. "Mbak Fany," panggil Indira. Berjalan mendekati Tiffany, setelahnya dia buka suara. "Bibi bilang Mbak mau ketemu sama saya. Ada apa?" "Hm, anu itu saya mau mastiin sesuatu sama Mbak Indira tentang kerjasama yang mau kita jalanin, Mbak," ucap Tiffany dengan raut wajah yang terlihat tegang. "Apa benar mau dibatalin?" "Batal?" tanya Indira dengan kedua mata yang hampir menyipit. "Kata siapa, Mbak? Enggak ah, saya enggak mau batalin. Saya kan tadi bilang udah mantap buat pake jasanya Mbak Fany. Jadi mana mungkin batal orang saya pengen segera punya anak. Mbak kata siapa emang kerjasamanya batal?" "Saya juga enggak tahu siapa yang bilang, Mbak, tapi yang jelas tadi ada yang chat saya dan dia bilang kalau dia chat buat ngasih tahu kalau kerjasama sama Mbak Indira batal. Makanya saya langsung ke sini buat pastiin karena jujur saya kaget," ucap Tiffany. "Saya butuh banget uangnya dan kalau boleh minta, saya enggak pengen kerjasama ini dibatalin, Mbak. Jad-" "Saya enggak merasa batalin kerjasamanya, Mbak Fany," ucap Indira. "Saya pengen punya anak. Jadi mana mungkin batalin semuanya." "Terus tadi siapa ya yang chat saya, Mbak?" "Coba lihat nomornya." "Sebentar." Mengeluarkan ponsel dari saku celana, selanjutnya Tiffany menunjukan kolom chat berisi sebuah percakapan perihal pembatalan kerjasama dengan Indira dan bukan dari nomor bernama, chat pembatalan berisi dari nomor asing yang sama sekali tak Indira kenal. "Ini nomor siapa ya?" tanya Indira. "Saya enggak kenal." "Apa bukan nomornya Marvin?" tanya Tiffany. "Tadi pagi yang saya lihat, Marvin kaya enggak setuju sama rencana Mbak Indira buat pake jasa ibu pengganti dan-" "Kayanya bukan, Mbak," kata Indira. "Mas Marvin kalau ada yang enggak suka atau apa pun itu selalu bilang sama saya, enggak diam-diam gini." "Terus siapa ya, Mbak?" "Enggak tahu juga, siapa ya?" Tak ada jawaban, untuk beberapa saat Tiffany mau pun Indira diam sampai akhirnya Indira buka suara lebih dulu dan ucapan yang dia lontarkan adalah; permintaan untuk tenang pada Tiffany karena kerjasam diantara mereka tak akan batal apa pun alasannya dan hal tersebut tentu saja membuat Tiffany lega. Mengobrol selama beberapa menit lalu menyempatkan diri untuk meminta nomor Indira, setelahnya Tiffany berpamitan usai Indira kembali meyakinkannya dan yaps! Tak banyak menunda, Tiffany pulang menggunakan ojeg online yang dia pesan. Tersenyum samar, itulah yang Tiffany lakukan karena antara merasa lega juga merasa bersalah, dia bingung dengan perasaannya sendiri. Bukan tanpa alasan, dua perasaan tersebut muncul karena memang faktanya apa yang dia lakukan pada Indira hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tak benar-benar dihubungi nomor asing yang memintanya membatalkan kerjasama, nyatanya Tiffany mengunakan nomor sang Mama untuk membuat chat palsu dan bukan tanpa tujuan, hal tersebut dia lakukan agar Indira semakin mantap menjadikannya ibu pengganti untuk anak dari perempuan itu dan Marvin. Tiffany jahat? Untuk chat palsu yang dia lakukan, jawabannya mungkin iya. Namun, sungguh hanya itu karena sedikit pun dia tak punya niat jelek pada Indira seperti yang dituduhkan Marvin siang tadi. Tiffany memang pernah berbuat jahat pada Sabrina di masa lalu, tapi itu bukan berarti dia akan melakukan hal sama pada Indira karena demi apa pun, dia hanya membutuhkan uang untuk membayar hutang dan tentunya Tiffany tak bisa membiarkan Marvin menggagalkan pekerjaannya begitu saja. Tiga ratus juta dalam waktu yang cepat, Tiffany tak akan menemukan uang sebanyak itu di pekerjaan lain sehingga bagaimanapun caranya dia harus membuat Indira memakai jasanya agar semua hutang sang papa lunas tanpa sisa dan dia juga sang mama bisa hidup tenang setelahnya. Ya, Demi Tuhan hanya itu alasan di balik semua perbuatannya siang ini. "Maafin aku, Indira." Sampai di rumah setelah setengah jam di jalan, Tiffany kembali mencari ponsel sang mama untuk dia pakai mengirim chat palsu dan tanpa sepengetahuan sang mama, dia melakukannya secara diam-diam sebelum kemudian menelepon nomor Indira yang kembali dia minta ketika berkunjung beberapa waktu lalu. "Halo, Mbak Indira," sapa Tiffany setelah sambungan telepon terhubung. "Halo, Mbak Fany. Kenapa?" "Anu, Mbak, barusan saya dapat chat lagi dari nomor asing tadi terus saya paksa dia buat sebutin identitas cuman dia enggak mau kasih tahu dan ya ... orang itu cuman bilang kalau katanya dia disuruh Marvin," ungkap Tiffany—melanjutkan lagi rencananya mengamankan posisi. "Pas aku tanya alasannya apa, dia malah blokir nomor aku dan aku enggak bisa hubungi lagi." "Mbak serius?" "Serius, Mbak, apa perlu saya kirim buktinya?" tanya Tiffany. "Enggak usah, saya percaya sama kamu, tapi kalau kamu pengen saya lebih percaya, kirim aja buktinya." "Oke, Mbak, saya akan kirim, tapi boleh enggak saya minta ke Mbak buat enggak ngomong ke Marvin soal ini?" tanya Tiffany. "Saya enggak tahu apa alasan Marvin lakuin ini, tapi jujur saya takut dia marah kalau Mbak bilang soal ini, Mbak. Jadi jangan bilang ya dan cukup kita berdua aja yang tahu." "Enggak bisa, Mbak, saya harus tegur Mas Marvin karena apa yang dia lakuin enggak bisa dibenarkan." "Mbak." "Saya enggak akan bawa Mbak Tiffany kok tenang aja dan saya juga tegur Mas Marvinnya baik-baik. Jadi Mbak enggak usah khawatir," kata Indira. "Ya udah kalau gitu makasih banyak ya, Mbak, dan maaf kalau saya bikin Mbak enggak enak," kata Tiffany. "Saya lakuin ini bukan karena punya niat jelek, tapi karena saya benar-benar butuh uangnya." "Iya, Mbak. Saya paham kok," kata Indira. "Kalau gitu saya matiin ya, Mbak bisa kirim bukti chatnya ke saya." "Siap, Mbak. Sekali lagi maaf ya," kata Tiffany. "Oh ya, satu lagi kalau Mbak curiga sesuatu, hubungan saya dan Marvin baik kok cuman emang dari dulu enggak terlalu dekat. Saya takut Mbak mikir macam-macam." "Aman, Mbak. Saya percaya kok sama Mbak Tiffany." "Makasih banyak, Mbak." "Sama-sama." Hubungan telepon terputus, selanjutnya yang Tiffany lakukan adalah mengirim bukti chat pada Indira dan tak perlu waktu lama, pesan yang dia kirim, sampai dalam waktu singkat dan tentunya dengan segera Indira membuka pesan tersebut. "Mas Marvin," gumam Indira sambil memandang foto yang Tiffany kirim. "Dia kenapa harus sampai segininya sih? Aku kan pengen punya anak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD