Setelah kejadian kemarin, aku tidak berani melintas didepan kelas Andika, aku berusaha tidak berpapasan dengannya
Bukan berarti aku takut cuma tidak mau bertengkar saja dengan Andika malu dilihat mahasiswa yang lain, kayak tidak punya pekerjaan saja.
Kalau pas kosong jam aku pergi ke perpustakaan untuk menghemat biaya,
aku anak desa dan orangtuaku hanya berkemampuan cukup saja dalam hal materi
dalam hal fisik juga ngk menonjol alias biasa saja, karena beasiswa akhirnya aku bisa kuliah ditempat favorit.
Tujuan utamaku adalah bisa lulus dengan nilai bagus dan terus bisa bekerja dengan gaji yang memadai untuk mencukupi kebutuhanku dan keluargaku.
Aku pertama kali jatuh ketika ketemu dia pada waktu ospek, dia yang paling bersinar diantara 4 cowok lainnya, dia
sangat sama semua mahasiswi tapi sama aku pengecualian, ngk tahu kenapa dari awal pertemuan dia sudah ngk suka sama aku, pada hal aku ngk berusaha menarik perhatian dia seperti cewek-cewek yang lain, karena aku ngk punya modal untuk itu Dia selalu sinis dan bermuka datar kalau ketemu sama aku, selalu berkata jelek kepadaku, aku ngk tahu apa salahku padanya, apa karena aku tidak seperti cewek yang lain yang suka memuji dia.
Hei cewek kampungan bikin pandangan mataku tidak indah, katanya sinis kepadaku
Aku cuma menunduk tidak berani menatapnya dan tidak berani menjawabnya
Biarlah dia mau bilang apa juga ngk akan berpengaruh padaku.
Tapi sayangnya semua temannya juga membenciku dan sering membully aku, padahal aku ngk punya salah sama mereka.
Setiap ke kampus aku selalu mendapat perlakuan dan perkataan yang menyakitkan hati
Tapi apa daya aku hanya sendiri mereka banyak pasti aku ditempat yang kalah
Kalau aku menuruti hati ingin rasanya tidak masuk tapi itu akan membuat kuliahku tidak lancar. Ya dengan menebalkan telinga, membutakan mata, aku tetap masuk untuk memperlancar kuliahku.
Aku menuju kelasku melewati lapangan yang banyak orang yang lagi melihat pertandingan basket. Karena yang main basket adalah idola mereka yaitu Andika.
Tiba-tiba bola basket dengan cepat mengarah ke kepalaku, aku kaget tapi sigap ku tangkap bola itu dan mau ku lempar ke sembarang tempat.
Mendadak aku mendengar suara teriakan, gadis kampung lempar kesini bola, suara bariton itu menyuruhku.
Kalau mendengar suaranya sudah tahu kalau yang berteriak memerintah itu Andika
Aku diam saja malas rasanya melempar bola kearah lapangan
"Hei gadis kampung kamu ngk dengar ya", kata Revan
'Emg gue pikirin, aku cuek berlalu dari tempat itu dan membiarkan bola tergeletak ditempat ku berdiri tadi".
"Mereka berteriak memakiku, gila, gadis kampungan, jelek, sombong, culun", kata-kata itu aku dengar bersahutan
Tanpa mempedulikan kata-kata mereka aku terus berjalan meninggalkan tempat itu menuju ruang kelasku.
Setelah mengikuti kelas aku keluar menuju kantin, ketika akan melangkah meninggalkan pintu kelas, tiba-tiba aku dikejutkan suara bariton yang memanggilku gadis kampung
"Mampus dech aku", batinku.
Kenapa ngk dikelas aja biar ngk dapat masalah
Aku menghentikan langkahku sambil menghadap ke dia
Maaf ada apa ya, tanyaku dengan muka datar
"Ada apa katamu, apa kamu ngk punya hati", katanya tajam dan tatapannya mengerikan ke arahku
Aku mengambil nafas panjang
"Maaf kalau ada kesalahan yang tidak ku sengaja", kataku
"Semudah itu kamu mengucapkan", ucapnya dengan mata memerah tanda kemarahan dia memuncak
"Terus mau anda apa Tuan Andika", jawabku
"Kau gadis kampung apa tidak tahu apa kesalahan yang telah kamu lakukan", katanya lagi
"Ya aku merasa tidak berbuat salah kepada anda", tegas ku
"Apa", katanya sambil mengangkat tangan yang diarahkan padaku
Dengan cepat ku tutup wajahku dengan kedua tanganku untuk menghindari tamparannya
Tapi tangan itu hanya diangkat di udara saja, tanpa di tampar kan ke diri ku
"Mau nampar aku", tanyaku sambil menatapnya tajam
"Berani ya kamu sama aku", katanya tajam sambil menatap ke arah ku sangat mengerikan
"Aku tidak berani cuma melindungi diri saja", tegas ku
"Sudah kalau ngk ada apa-apa aku permisi mau ke kelas", kataku sambil membalikkan badan melangkah menjauhi Andika dan teman-temannya
Andika dan teman-temannya kaget dengan tingkahku mereka menatapku sambil mulutnya melonggo
"Lho", kata mereka serempak
Aku terus melangkah menjauhi mereka menuju kelas
Andika dan teman-temannya berlalu dari koridor kelas menuju ke kantin
Sampai ke kantin kami mencari tempat yang biasa ku gunakan duduk sama teman-teman, ternyata ada yang menduduki kursi kami, lalu mereka beranjak dari kursi itu lalu pindah ketempat lain, mang Diman penjual di kantin membersihkan tempat itu, lalu kami duduk
Rasanya masih dongkol hati akan tingkah semaunya cewek kampung tadi, sungguh ingin rasanya ku pukul-pukul dirinya jadi rempeyek.
"Andika", panggil Revan
"Ya ada apa", tanyaku
"Kenapa masih kesal sama gadis kampung tadi", tanyanya lagi
"Tentu saja siapa yang ngk marah melihat tingkah sombongnya itu", kata Andika
"Ngak usah dipikir gadis seperti itu ngk ada pengaruhnya sama dirimu dan juga bukan level kamu kan", tegas Pras
"Bukan seperti itu, aku merasa kalah atas sikap gadis kampung, semua cewek akan bertekuk lutut terhadapku tapi dia ngak sedikitpun untuk memujaku", kata Andika sambil memejamkan matanya
"Apa kadar ketampanan ku mulai berkurang", gumamnya
"Kamu bicara apa sich Andika, cewek kampung itu yang punya kelainan, mungkin dia suka sesama jenis, kata Rangga
"Masak iya Ngga", tanya Revan menatap Rangga ngk percaya
"Lha terus sama si ganteng aja ngk tertarik intinya dia punya kelainan", kata Rangga lagi
"Emang kamu punya bukti Ngga kalau dia suka sama cewek", tanya Revan
"Ya aku cuma nebak aja Van", kok kamu penasaran gitu
"Akan ku buat gadis kampung itu bertekuk lutut dihadapanku dan menunjukkan ketertarikannya kepadaku", geram Andika sambil mengepalkan kedua tangannya
"Jangan gitu Andika, nanti kamu jatuh cinta lho sama dia", tandas Rangga
"Dia bukan tipeku dan tidak ada kriteria sedikitpun untuk membuatku jatuh cinta sama dia", tegas Andika
"Ya aku cuma mengingatkan saja, rasa penasaran bisa berubah jadi rasa cinta lho Andika", kata Revan
"Itu kalau kamu Van, kalau aku ngk mungkin ngk ada bagian dalam tubuh gadis kampung itu yang bisa membuatku jatuh cinta", tegas Andika lagi
"Ya terserah kamu aja, terus cara kamu apa untuk membuat gadis kampung bertekuk lutut kepadamu", tanya Rangga
"Makanya bantu aku mikir, jangan makan doang aja", kata Andika sambil menggerutu
"Iya iya kita bantuin pikir nich", .kata Revan dan Rangga berbarengan
"Hmmm apa ya yang bisa membuat dia bertekuk lutut di hadapan Andika", batin Revan
Mendadak Prasetyo membisikkan sesuatu ke telinga Andika, tiba-tiba mata Andika berbinar dan senyum mengembang di bibirnya, sungguh pemandangan yang langka melihat Andika tersenyum manis banget bikin jantung berdetak lebih cepat
Suasana hati Andika begitu gembira sehingga dalam perjalanan senyum terus terbit dari bibirnya. Kesempatan ini digunakan semua mahasiswi kampus yang berpapasan dengan Andika mengabadikan dengan memotretnya.
Ala Mak manisnya senyummu Andika bikin hati meleleh.