Cantika gadis yang pintar cantik tubuh tinggi semampai, kulit putih, rambut lurus hitam panjang, pokoknya idaman setiap laki-laki. Dia gadis pertama yang bisa begitu dekat dengan Andika, kalau dilihat mereka pasangan yang sangat serasi.
Dari segi fisik sampai materi mereka sangat serasi, Andika putra pengusaha properti no 1 di Indonesia, dia juga CEO sebuah perusahaan terkenal juga, Cantika juga anak pengusaha terkenal no 2 se-Indonesia, kalau dengan diriku tidak ada seujung kuku dari segi fisik maupun materi
Dimana ada Andika disitu pasti ada Cantika, aku merasa iri sama Cantika yang selalu bisa dekat dengan Andika.
Pada waktu aku lewat depan kelasnya mereka berdua sedang ngobrol dengan mesranya.
Aku pura-pura tidak melihat padahal aku cemburu melihat kedekatan mereka, aku terus berjalan melewati mereka menuju ke kantin tapi mendadak ada yang mendorong aku sehingga aku terjatuh didepan pasangan mesra itu, malu banget aku
Andika berdiri sambil berkacak pinggang dengan tatapan dingin dia melihatku, mulutnya tertutup rapat, rahang mengeras tanda dia marah besar, aku menunduk takut melihat tatapannya. "Dengan lirih aku bilang maaf", ucapku pelan
Tapi dia mendengus kesal.
"Jangan menggodaku dengan caramu yang kuno itu, ngk akan mempan terhadapku", kata Andika dengan dingin dan tajam
Betapa malunya diriku padahal tak ada sedikitpun niat untuk menggoda, aku hanya ingin lewat menuju kantin saja
Seketika aku bangun, aku tidak ingin terus-terusan dibully, aku harus berani melawan.
Sambil berdiri aku tatap Andika dengan tatapan dingin muka datar.
"Aku bilang tak ada sedikitpun niat aku untuk menggodamu, aku hanya didorong dan jatuh apakah karena jatuh di depanmu kau katakan aku mengodamu",, kataku tajam tanpa senyum
Dia amat kaget atas keberanian yang ku tunjukkan, dia tidak menyangka kalau aku akan berani bicara lantang kepadanya
"Oooo jadi sudah punya keberanian ya untuk menantang ku", kata Andika dengan senyum mengejek.
Karena seringnya dihina Andika maka membuat dadaku bergemuruh ingin melawan Andika.
Dengan tatapan sinis aku berkata,"kenapa aku tidak boleh melawan, semut pun kalau diinjak akan melawan dengan cara menggigit orang menginjaknya, apalagi aku manusia yang punya perasaan.Dan satu lagi Tuan Andika yang terhormat tak ada sedikitpun niat untuk menggoda Anda tuan karena saya sadar diri, siapa diri saya yang ngk sebanding dengan tuan Andika yang terhormat", kataku sambil berlalu dari hadapannya. Sungguh lega hati ini setelah mengatakan semua itu Kalau dia mau marah, marah aja emang aku pikirin
Sambil berlalu aku menoleh kearahnya, dia sangat marah dengan kata-kata saya
"Hei gadis kampung jangan sombong kamu, sok suci, munafik", kata dia marah
Aku terus saja berlalu tanpa mengindahkan perkataannya
"Wah dia cari mati telah berani mengusik Andika", bisik-bisik mereka
"Ya betul, dia belum tahu siapa Andika dan gengnya", kata yang lain
"Sok cantik itu cewek, padahal cewek culun", kata yang lain
"Ngk ada seujung kuku sama Cantika, bagai langit dan bumi", kata mereka lagi
Rasanya telinga panas mendengar perkataan mereka yang menghinaku tapi aku cuekin aja, peduli amat, batinku
Tiba-tiba seseorang mendorongku dari depan sehingga aku terjatuh kebelakang, sakit bokongku rasanya, Lalu aku angkat wajahku untuk melihat siapa yang berani mendorongku, rupanya temannya Cantika yang bernama Tania, gadis judes yang sangat menakutkan
"Kenapa lihat-lihat ngk terima kamu", kata Tania geram
"Aku diam saja ngk menjawab perkataan mereka. Lebih baik mengalah dari pada melawan", batinku
"Kenapa kamu diam takut sama kita", kata Tania sambil menunjuk mukaku
Aku masih diam tidak meladeni perkataannya
"Hahaha jangan jangan gadis kampung ini kencing di celana dalamnya", kata teman Cantika yang satunya bernama Clara
"Aku rasa begitu", kata teman Cantika bernama Bella
"Ayo kita lihat celana dalamnya basah atau tidak", kata teman Cantika yang bernama Soraya sambil ketawa
"Jangan bau", kata Cantika sambil ketawa ngakak. Semua yang ada disitu ketawa ngakak, kecuali Andika yang masang muka datar dan menatapku tajam
Mungkin tiap hari dia pakai Pampers, biar celana dalamnya ngk basah, celetuk seseorang
Suara Riuh Rendah karena tertawa mereka membuat telinga ku merah
Aku berdiri dari lantai tempat aku jatuh dan membersihkan celanaku dari kotoran waktu aku duduk. Aku berniat pergi dari kerumunan mereka tapi ada yang mencekal.
Dia berkata,"kita belum selesai, mau kemana kamu", hardiknya yang ternyata suara Tania
Aku diam tidak membalas perkataan mereka
" Hei budeg bentak Tania", karena melihatku tak merespon perkataanya
sambil mencekal tanganku dengan begitu kuat
Terasa sakit tanganku tapi aku ngk bisa berbuat apa-apa
"Kenapa sakit ya, kalau sakit lawan dong jangan diam aja, tadi berani melawan Andika", kata Tania dengan sinis
Akhirnya kesabaran ku habis dengan cepat ku pelintir balik Tania.
"Tania memekik kesakitan, aduh sakit, gila kamu gadis kampung", katanya marah
Tapi pelintiran ku tidak ku lepas sama sekali malah semakin keras
"Aduh sakit, tolong dong Cantika, please sakit nich", pinta Tania
Cantika mendekati aku.Dia berkata dengan lemah lembut dan senyum selalu menghiasi bibirnya yang merah
"Fika tolong lepaskan Tania, dia kesakitan, kamu ngk mau kan dilaporkan ke polisi kalau terjadi apa-apa", kata Cantika dengan lembut
"Kamu kan masih pingin kuliah kan, jangan sampai putus ditengah jalan, kasihan orang tua kamu", lanjut Cantika lagi
"Ya betul Fika", teriak mereka
"Jangan sampai kamu dilaporkan polisi", teriak mereka lagi
Akhirnya ku lepaskan Tania bukan karena takut karena aku malas harus bermasalah dengan mereka, pinginnya aku tenang sampai lulus dan tidak ada masalah
"Wah kamu hebat Cantika, sudah cantik, pintar dan hebat pula", teriak mereka bersahutan.
Cantika menebar senyum ke arah mereka
"Cantika emg cantik", teriak mereka lagi
Emg ku akui kalau Cantika, pintar, baik, pantas kalau disandingkan dengan Andika. Meraka pasangan yang sangat serasi.
Semoga mereka bisa sampai menikah dan pernikahannya langgeng, doaku dalam hati sambil berlalu dari mereka. Andika menatapku terus tapi aku cuek aja tidak merespon Ya itu lebih baik dari pada kedepannya menyakitkan bagi diriku. Aku harus membuat benteng supaya tidak mengalami rasa sakit itu
Aku harus bertahan sampai lulus karena ini keinginanku bisa lulus dan mendapatkan pekerjaan bagus dan bisa meningkatkan perekonomian keluargaku.
Aku ingin menjadi orang sukses yang bisa membahagiakan orang tuaku dan mengangkat derajat orang tuaku, biar orangtua ku dihormati sama tetangga ngk kayak sekarang sering dihina dan dibully sama tetangga karena kami keluarga miskin.
Saya harus bisa apapun rintangannya cita-citaku harus terwujud.
Aku juga tidak lupa berikhtiar dan berdoa agar cita-citaku tercapai tidak lupa dukungan dari orang terdekatku dan keluargaku
Begitu juga Lala dan Agus selalu mendukungku agar aku tidak mudah menyerah.