112. Bukan Kecelakaan

1107 Words

"Sayang, kita balik ke kamar, yuk! Kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat buat ke sana," ajak Wina sambil merangkul bahu anaknya. Dania menurut. Dengan perasaan sedih ia meninggalkan mantan ibu mertua yang kini sedang menangis dalam pelukan suaminya. Fani sedang marasa takut. Damar adalah satu-satunya kenangan yang ditinggalkan oleh, Dita—kakaknya yang sudah tiada. Sejak kecil Damar selalu ia jaga dan ia besarkan seperti anak sendiri. Di samping karena Damar adalah keponakan, sekaligus juga anak dari suaminya. "Daripada kamu nangis terus, lebih baik kamu berdoa. Aku yakin Damar akan baik-baik aja. Dia anak yang kuat. Nanti pasti bangun. Dia cuma pengen istirahat lebih lama aja dari omelan kamu," ujar Darwin sembari mengusap punggung isinya. Sengaja melempar candaan untuk menghibur.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD