17

1112 Words
"Selamat datang di D-bakery. Silahkan dipilih kue dan rotinya bapak." Reya menyapa setiap tamu yang datang. Sebenarnya ia bekerja di bagian dapur untuk membantu membuat roti dan kue. Jabatan itu ia terima karena jam kerjanya yang singkat. Dengan begitu ia bisa kembali ke rumah lebih awal untuk menemani sang ibu. Sang pemilik toko yang juga adalah sahabatnya memang menyarankan Reya untuk memilih pekerjaan itu. Karena ia tahu bahwa Reya juga memiliki kewajiban untuk menjaga sang ibu yang sedang sakit. Tentu saja hal itu cukup mudah untuk Reya. Dirinya sudah cukup terlatih untuk bekerja di dapur. Memang sedikit berbeda dengan kegiatan dapurnya sehari-hari. Namun, ia merasa tak akan kesulitan dengan pekerjaan itu maka ia menerima tawaran dari Devi. Dan hari ini Reya belum bisa melaksanakan tugas utamanya karena semua roti dan kue masih dikirim dari cabang. Jadi gadis itu terpaksa untuk menjadi penjaga di toko membantu bagian packing kue. Reya mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik ia juga cekatan meski memiliki tubuh yang besar. Seperti perjanjian bahwa Reya akan pulang pukul empat sore. Tentu saja ia harus pulang lebih cepat karena khawatir dengan kondisi Ratna. Sekitar pukul empat lebih lima belas menit. Dia segera merapikan tasnya kemudian beranjak untuk pulang. Kebetulan juga toko sudah sepi. Gadis itu melangkahkan kakinya untuk menuju rumah Lili. Reya beruntuk membelikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih, karena Lili telah memberitahu tentang tawaran kerja di restoran milik teman lamanya. Dalam perjalanan ia membeli sebungkus gorengan dan juga jus mangga yang akan mereka nikmati berdua sebelum Reya kembali ke rumah. Dan yang terjadi setelah ia tiba di rumah Lily adalah sebuah kejutan besar saat melihat kekasihnya kini berada di sana. "Eh, ada Reya?" Suara itu jelas dikenal dengan sangat baik dalam otak Reya. Ia menoleh, sedikit menelan salivanya. Tatapannya membulat, lalu dengan segera ia coba menahan diri. Coba berdikap biasa saja. Sementara Jun sedikit mengangukkan kepalanya, menatap dengan tatapan yang Reya jelas mengerti, kalau Jun sudah tau sesuatu dan itu pasti pekerjaannya. Dengan canggung Reya segera berdiri, berjalan menghampiri dan mencium tangan Jun. Jun bisa mencium aroma Reya, seperti stimlus yang meraba dirinya. "Baru datang Om?" tanya Reya berusaha menenangkan dirinya. "Iya tadi Om baru datang." Jun menjawab saat gadis itu berjalan kembali duduk di antara Lili dan juga Kuki. Jun masih memperhatikan kekasihnya yang terlihat canggung dan gugup. Reya pasti tahu apa tujuan utama dirinya datang hari ini. Jun ingin membuat gadisnya itu kembali patuh. "Jadi gimana tadi kerjaannya?" tanya Lili pada sahabatnya itu. "Ya lumayan sih, harusnya tadi aku kerja di dapur. Tapi karena hari ini semua kue masih dikirim dari cabang utama, jadi hari ini bantuin untuk packing aja. Mungkin karena toko baru kali ya, jadi emang hari ini rame banget." Reya menjawab sambil menikmati gorengan yang tadi ia bawa. Sambil berusaha bersikap biasa saja. Sementara Jun tahan kekesalan dengar Reya bekerja sama sekali tak membuat ia senang. Jadi kesal karena tau jadwalnya akan berubah, jadi sulit bertemu. "Enggak masalah kan? Yang penting kerjaan Lo lancar?" Lily bertanya yang dijawab Reya dengan anggukan kepala. "Kuki mau di sini berapa lama?" tanya Reya. "Kayaknya sekitar satu bulan. Sebenarnya mau dua Minggu aja. Tapi kayaknya memang harus lebih lama, karena ada beberapa ajakan lain yang sayang banget untuk dilewatin," jawab Kuki. "Enak ya, kalau bisa main game online. Bisa punya temen dari berbagai kota tuh bisa kumpul kayak kamu sama temen-temen kamu," ujar Reya. Kuki tersenyum, mendengar apa yang dikatakan oleh Reya. "Kalau kamu mau aku bisa ajarin cara main game? Di sana banyak temen-temen juga loh. Ada juga beberapa yang cewek cuman emang banyakan yang laki-laki. Kalau kamu mau?" Lili tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang ditawarkan oleh sang sepupu. "Kamu nyuruh dia main game online? Dia tuh bisanya main adu kambing sama sudoku aja. Aku udah ajakin main FF atau ML. Dia itu cuman umurnya aja anak muda, tapi kelakuannya orang tua nggak bisa main game kayak gitu." Reya membecik, gadis itu kesal lalu menaikkan bibir bawahnya. Sebal sekali mendengar Lili meledeknya Di saat seperti ini. Tentu saja hal ini tak luput dari tatapan Jun. Si om merasa gemas sendiri dengan kelakuan Reya. Apalagi saat Gadis itu menaikkan bibir bawahnya lalu membuat pipinya nampak menggembung. Jun mencoba untuk menahan senyum. "Kalau memang kamu enggak bisa main gamenya. Kamu bisa ikut kumpul-kumpul sama teman aku. Siapa tahu di sana dapat jodoh nggak jomblo lagi?" tawar Kuki. Lili memukul bahu sepupunya kesal. "Kamu tuh ya, aku kemarin minta dikenalin sama temanmu nggak kamu ajak. Sekarang malah nawarin Reya," kesal Lili ia merasa kalau sepupunya itu pilih kasih. "Makasih deh Kuk, aku kayaknya nggak bisa juga Kalau ikut kumpul-kumpul kayak gitu. Bakal krik banget karena aku sama sekali buta tentang games kayak gitu." Reya menolak ajakan Kuki. Di samping itu ia juga ingin menjaga perasaan Jun. Reya sangat mengerti kalau kekasihnya itu memiliki temperamen yang cukup buruk. Jika ia menyetujui ajakan Kuki, hal itu pasti akan membuat Jun kesal dan marah. Reya melirik sekilas ia bisa melihat, Jun yang seolah membaca ponsel. Namun Reya mau dengan jelas bahwa keberadaannya di sana untuk mengawasi dirinya. "Kamu enggak harus mengerti game. Kita juga sering bahas masalah random. Aku bener-bener mau ngenalin kamu ke temen aku loh." Kuki coba mengajak Reya lagi. "Enggak deh, makasih ya Kuk," ucap Reya. "Okay kalau gitu." Kuki menyahut. Reya jelas merasa tak nyaman dengan kehadiran Juniar di antara mereka bertiga. Dirinya merasa diawasi, sehingga harus mengatakan sesuatu dengan benar dan menghindari pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia antusias ingin bertemu dengan orang lain. Reya lalu memutuskan untuk segera pulang. "Kalau gitu aku pulang dulu deh ya Li? Soalnya kasihan kalau Ibu nunggu lebih lama lagi di rumah." "Iya udah, ati-ati." Lili berpesan. Reya bangkit dari duduknya. Gadis itu lalu berjalan menghampiri Jun dan mencium tangan pria itu. Keduanya bertingkah layaknya orang asing. Seolah perkenalan mereka memang hanya sebatas itu saja. Mereka memainkan peran dengan begitu apik. "Om ijin pulang ya," ucap Reya. "Oke hati-hati." Jun menyahut. Ia menatap Reya, sampai akhirnya Sang kekasih gelap berlalu dari tatapan matanya. "Reya jomblo Li?" tanya Kuki saat Reya sudah beranjak pergi dari rumah Lili menganggukan kepalanya. "Emang kenapa lo tiba-tiba tanya?" "Gue punya temen namanya Cakra. Dia selama ini jomblo. Karena pingin punya pacar gemuk. Gue tahu sih perspektifnya dia agak aneh. Gue mau kenalin dia ke Reya. Soalnya Reya dilihat lumayan yang cantik." Kuki menjelaskan maksud dan tujuannya kepada sepupunya itu. "Nggak usah sok ngenalin temen kamu. Kalau ke depannya ada apa-apa malah nggak enak nanti." Jun memotong pembicaraan di antara kedua remaja tanggung itu. Sebenarnya itu bukan hanya sebuah larangan. Namun juga bentuk kekesalan akibat anak laki-lakinya yang tiba-tiba ingin menjodohkan Reya dengan temannya. Tentu saja Jun tak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia akan membiarkanmu gadisnya menjadi milik orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD