Jun tengah duduk di ruang tengah rumah LIli sementara Lili dan Kuki juga duduk bersama di lantai sambil sambil sibuk ngemil. Lili membeli banyak makanan untuk dinikmati bersama sepupunya. Cilung, bilung, papeda dan aneka jajan SD yang ia yakini kalau Kuki belum pernah menyantap semua makanan yang ia beli itu.
Jun memerhatikan interaksi di antara keduanya. Lili mengerjai Kuki dengan makann pedas dan ia malah tertawa terbahak-bahak karena adik sepupunya kepedasan hingga buat wajahnya merah.
"Pedes ya Mbak LIli!" kesal Kuki. Ia segera meneguk air dingin yang sengaja disediakan Lili untuk Kuki.
"Ya itu kenapa namanya pentol jontor." Lili kemudian menatap pada adik sepupunya itu. Memastikan apakah bibir Kuki menjadi Jontor karena makanan yang ia berikan.
Kuki menoleh kemudian ia memonyongkan bibir ke arah Lili dan tentu saja itu buat Lili tertawa terbahak-bahak akibat kelakuan Receh Kuki.
"Lemah. Gue sama Reya kalau beli level 5, ini mah cuma level 2 lho Kuki," ledek Lili.
"Ini level 2 aja kayak gini pedesnya. Perut kalian enggak kebakar apa makan kayak gitu?" tanya Kuki yang heran juga dengan kelakuan kedua sahabat itu.
Lili menggelengkan kepala. "Enggak sepedes itu kok."
Mendengar apa yang dikatakan LIli buat Jun sedikit kesal. Jun tau Reya punya pencernaan yang tak baik. Ia sudah memperingatkan gadisnya itu untuk tak makan-makanan pedas dan tetap saja Reya ngeyel. Makanan dan masakan pedas agaknya sudah jadi salah satu trend yang ada di lingkungan masyarakat. Hingga semua berlomba menciptakan makanan untuk dengan aneka macam tingkat keunikan dan kepedasan yang dimilki. Jun mengalihkan diri dengan membaca artikel bisnis. Ia akan menghubungi Reya nanti sedikit lebih malam saat Arka sudah kembali dari kampus.
"BTW tumben Reya enggak main?" tanya Kuki.
"Dia kerja sekarang."Lili menjawab.
Kuki mengunyah biskuit sambil anggukan kepala menanggapi jawaban yang diberikan oleh Lili. "Kerja di mana?"
"Ada toko roti baru di depan, dia kerja di sana. Kebetulan itu punya teman SMA kita dulu. Dan Reya emang enggak bisa kerja jauh," jelas Lili lagi.
"Kenapa enggak bisa kerja jauh?" Kuki bertanya, penasaran.
"Ibunya sakit, jadi dia emang rencana kalau jam makan siang pasti pulang buat nengok ibunya." Kemudian Lili menjelaskan pada sepupunya itu tentang yang terjadi pada ibu sahabatnya
Jun jelas mendengar itu. Pikirannya semakin tak karuan, gadisnya selalu saja cari gara-gara disaat sensitif seperti ini. Tipe anak kecil sekali, buat Jun kesal dengan hal yang Reya lakukan. Cari masalah, buat marah, melanggar perjanjian. Tujuan dirinya datang bukan ini. Bukan mendengar berita tentang kekasihnya yang memilih untuk bekerja di tempat lain.
Setelah ini mungkin akan ada penolakan yang dilakukan oleh Reya saat Jun mengajaknya bertemu. Reya agaknya memang harus dihukum atas apa yang ia lakukan. Jun katakan dalam hati bahwa ia akan membawa Reya malam ini. Dengan patuh atau dengan dipaksa. Jun tak mau tau.
Kesal sekali sampai ingin marah dan mencaci maki. Jun memilih untuk berjalan masuk ke dalam, menuju ruang makan di sana sang kaka tengah sibuk menjahit pakaian suaminya. Jun duduk di sana, menemani sekaligus hilangkan suntuk.
Lies melirik ke arah sang adik laki-lakinya. "Gimana kerjaan kamu di sana?"
"lancar semua Mbak. Ada trouble ya tipis-tipis. Semua bisa ke handle."
"Syukurlah kalau gitu. Terus gimana Indie, sibuk sekali dia?" tanya Lies lagi.
Jun sedikit menganggukan keopalanya. "Ikut kegiatan sosial. Ya, suka bikin kegiatan sosial sama buat yayasan gitu. Aku enggak terlalu paham dengan konsepnya. Cukup jadi donatur."
"Mbak enggak melarang istrimu itu untuk berkegiatan. Apalagi kegiatan sosial seperti itu memang bagus sekali. Ya tapi, tugas istri juga harus jaga suaminya. Memangnya dia enggak takut kamu digondol wanita lain?" tanya Lies pada sang adik.
Jun tersenyum kecut. Pasalnya bukan dia yang digondol, tapi kecantol sama ABG gemoy buat dia rasa puber kedua, berbunga-bunga, kesemsem. Kalau diibaratkan Jun kini merasa dua puluh tahun lebih muda. Merasakan romansa cinta yang mendebarkan penuh gairah, sampai lupa usia. Kata orang usia empat puluhan itu masih anget-angetnya kalau laki-laki. Dan agaknya itu memang benar.
"Enggak lah Mbak," elak Jun.
"Indie harus sering ngintil. Kalau mbak jadi dia, pasti udah ikut kalau kamu ajak kemana-mana."
"Hehehe, dia kan memang ada kesibukan lain Mbak." Jun menimpali. Justru bagus kalau Indi lebih memilih untuk sibuk dengan kegiatannya dibandingkan harus mengikuti kegiatannya.
Jun kemudian meminta ijin kepada sang kakak untuk merebahkan diri di kamar. Sedikit lelah rasanya hari ini, mungkin ini juga akibat dari tahan emosi dengar kelakuan Reya.
Pria itu lalu memejamkan mata, terlelap sesaat larut ke alam mimpi. Ia akan bangun sedikit sore nanti untuk mencari hotel. Lies tak heran, dari dulu Jun memang tak pernah menginap. selalu menyewa hotel dan meninggalkan anaknya di rumah.
Jun membuka matanya saat ia mendengar suara panggilan dari luar.
'Lili!'
Jelas ia mengenal sekali siapa pemilik suara itu. jun coba sadarkan dirinya. Ia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hampir dua jam ia terlelap. Jun membasuh wajahnya kemudian berjalan ke luar kamar.
ia bisa mendengar kalau Reya tengah mengobrol, bersenda gurau dengan Lili dan Kuki. Tawanya gemas sekali, lama tak Jun dapatkan itu membuatnya iri. Jun berdiri di sudut ruangan, Reya tak memerhatikan sibuk memotong kue bawaannya.
Melihat gadisnya itu membuat Jun ingin menariknya, kemudian membuat Reya dalam kendalinya. Sial! Reya mengenakan kemeja oversize, mengenakan celana jeans membiarkan rambut panjangnya tergerai yang hanya ia jepit dengan jepit berhias mutiara. Itu saja buat Jun bernafsu adalah membayangkan mereka berdua dan Reya hanya memakai kemeja oversize lalu berjalan ke arahnya dan mengecup bibirnya. Jun dalam hati meruntuki pikiran kotor yang datang disaat tak tepat.
"Eh ada Reya," sapa Jun.