"Keesokan harinya Eyang Manik mulai melatih Wulan dengan berbagai jurus. Jurus dasar untuk tahap awal mempelajari ilmu kanuragan.
Wulan bertekad dirinya harus semangat dan bisa secepatnya belajar ilmu kanuragan. Benar kata Eyang Manik dirinya harus bisa menjaga diri nantinya, agar bisa melawan orang yang berniat jahat padanya. Seminggu dua minggu Wulan masih belum terbiasa.
Tapi Wulan terus berusaha meyakinkan dirinya agar mampu dan bisa melawan orang yang punya niat jahat padanya.
Sebulan dua bulan Akhirnya Wulan bisa sedikit menguasai beberapa jurus ajaran Eyang Manik.
Eyang Manik cukup bangga dengan hasil pencapaian yang Wulan lakukan.
Bagus Wulan, Eyang perhatikan kamu sudah ada kemajuan, Eyang bangga padamu. Teruslah berlatih untuk menyempurnakan beberapa jurus yang Eyang ajarkan ucap Eyang Manik lagi.
Baik Eyang, semua perintah Eyang akan Wulan laksanakan ucapnya patuh.
He.... He.... He.....
Eyang bangga padamu cah ayu, kamu memang pantas mendapatkannya.
Eyang akan terus mengawasimu, kalau kamu lalai Eyang akan menghukummu ucap Eyang Manik lagi.
Wulan mulai lagi latihan disetiap waktu senggangnya. Sedang apa ataupun melakukan apapun pasti Wulan dengan semangat 45 nya terus berlatih.
Jika ada kesalahanpun Eyang Manik pasti akan menegurnya dan membenarkanya.
Tidak terasa hampir satu tahun lamanya Wulan telah berlatih ilmu kanuragan dan tinggal bersama Eyang Manik dihutan lebat tersebut.
Kemampuan ilmu kanuragannya pun sudah hampir mengimbangi Eyang Manik. Karena memang Wulan juga anak yang cerdas dan cepat tanggap.
Badannya yang tinggi seperti model dan dengan body bak gitar spanyol itu kini tampak berisi,kuat dan sedikit berotot.
Eyang Manik begitu bangga dengan tampilan Wulan sekarang. Wajahnya cantik putih bersih tanpa luka sedikitpun. Eyang Manik berhasil menyembuhkan semua luka disekujur tubuh Wulan.
Wulan cucuku, kemarilah cah ayu.
Eyang akan memberikan sedikit kenang -kenangan untukmu ucapnya pada Wulan.
Wulan pun gegas menghampiri sang Eyang tersebut.
Duduklah Nduk ucapnya lagi menepuk balai bambu disebelahnya.
Wulanpun menurut saja dan duduk disamping sang Eyang.
Begini Wulan, sepertinya usia Eyang tidak lama lagi ucap Eyang Manik menjeda ucapannya........
Eyang ingin setelah ini kamu jadi anak yang baik dan menolong orang -orang yang membutuhkan bantuanmu .Sudah saatnya kamu kembali Nduk. Beberapa hari lagi tinggal disini Eyang akan memberikan ajian untukmu untuk menyempurnakan ilmu tenaga dalammu jadi bersiaplah ucap Eyang Manik lagi.
Wulan menganggukan kepala patuh.
Terimalah ini untuk mu berjaga dari gangguan yang tidak sanggup kau lawan. Eyang Manik memberikan sebuah cincin bermata biru.
Jika suatu saat kau tidak sanggup melawannya kau bisa menggunakan cincin ini untuk menolongmu. Usaplah tiga kali dan tujukan pada lawanmu, maka lawanmu akan langsung tumbang.
Tapi kau juga tidak boleh sombong, Karena diatas langit masih ada langit, pergunakan semua ilmu dan pemberian Eyang ini untuk membela kebenaran.
Cincin ini juga bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Putarkan tujuh kali putaran didalam air yang akan diminumkan pada orang yang sakit insyaallah mulailah dengan bismilah dan doa allah pasti mengabulkan niat baikmu ucap Eyang Manik panjang lebar.
Tapi kenapa Eyang memberikannya padaku Eyang, bukankah Eyang lebih membutuhkannya? ucap Wulan lagi.
Tidak Wulan ini semua untukmu dan ini sudah jadi takdirmu dan jodohmu makanya kita dipertemukan disini.
Eyang sudah tua, sudah tidak membutuhkannya lagi.
Apakah Eyang akan kembali kedesa dulu dimana Eyang tinggal?
Wulan ingin Eyang ada yang menjaga dan menemani.
Apa nama Desa Eyang dulu tinggal dan dimana tempatnya berada? ucap Wulan lagi.
Desa Galuh babakan dulu Eyang tinggal. Eyang sudah tidak ingin kesana lagi. Eyang akan tinggal disini sampai ajal menjelang ucap Eyang Manik lagi.
Baiklah jika itu keputusan Eyang ucap Wulan lagi tidak berani melarang ataupun memaksa.
Eyang Manik menganggukan kepala dan tersenyum.
Persiapkan dirimu nanti malam, Eyang akan menurunkan ajian padamu ucapnya lagi.
Baik Eyang. Dan Wulan pun kembali ketempatnya untuk memasak.
Tengah malam menjelang tepat Jam dua belas malam Eyang Manik memanggil Wulan. Merekapun pergi kesuatu tempat yang Wulan sendiripun tidak tau mereka akan pergi kemana. Dengan penerangan obor yang dibawa masing -masing mereka menembus malam yang gelap dan hutan yang lebat.
Banyak suara -suara hewan malam dan lain sebagainya.
Apakah kamu takut Wulan ucap Eyang Manik lagi.
Kalau kamu takut kita bisa kembali ketempat kita sebelumnya ucap Eyang Manik lagi.
Tidak Eyang Wulan tidak takut sama sekali apapun yang akan Eyang ajarkan Wulan siap menerima dan menghadapinya ucap Wulan tegas dan mantap.
Bagus Wulan, Eyang suka dengan keberanian dan mentalmu harus kuat. Jangan lemah jika tidak ingin ditindas ucap Eyang Manik lagi.
Merekapun kembali melanjutkan perjalanan kembali. Eyang Manik menyibak semak belukar yang menghalangi jalannya.
Anehnya tidak ada binatang buas atau sekedar ular yang ada disekitaran mereka. Semua hewan itu seperti takut memunculkan diri dengan kehadiran Eyang Manik ditempat tersebut.
Tibalah mereka disebuah gua yang tertutup dengan batu ukuran besar.
Eyang Manik memejamkan matanya dan sepertinya merapal sebuah mantra yang entah apa Wulan sendiripun tidak tau dan hanya Eyang Manik yang tau.
Setelahnya Eyang Manik menginjak tanah tiga kali dan menghentakkannya.
Begitu selesai menghentakkan kakinya, tiba -tiba saja, batu besar yang menutup gua tersebut bergerak dan bergeser sedikit demi sedikit dan terbuka dengan sendirinya.
Masuklah Wulan ucapnya. Wulanpun masuk disusul Eyang Manik dibelakangnya.
Wulan begitu takjub saat melihat isi gua didalamnya. Gua tersebut tidak gelap seperti saat Wulan berada diluar gua yang gelap gulita. Aneh itulah yang Wulan rasakan. Tapi Wulan tidak bertanya terlalu jauh walaupun dirinya penasaran.
Mereka berduapun masuk, dan pintu batu besar itu tertutup kembali dengan sendirinya.
Jangan kaget Wulan. Eyang sudah membuka penutupnya dan kapanpun kau mau datang ketempat ini kau bisa datang kapan saja.
Lakukan seperti yang Eyang lakukan tadi. Tidak ada orang yang bisa masuk kedalam gua ini selain Eyang dan dirimu.
Selama ini Eyang juga selalu bertapa di gua ini.
Kenapa Eyang tidak tinggal digua ini supaya lebih aman. Itu Karena Eyang tidak ingin ada seorang pun tau tempat ini dan merusak dan mengambil isi didalamnya.
Lihatlah sekelilingmu dengan teliti ucap Eyang Manik lagi.
Wulanpun segera mengedarkan pandangannya.
Ajaib matanya begitu silau dengan banyaknya kilauan emas didalamnya. Pantas saja Eyang Manik menjaga gua ini dengan sedemikian rupanya.
Kenapa Eyang menunjukannya padaku ucap Wulan lagi.
Tidak takutkah Eyang kalau Wulan akan datang kembali ketempat ini dan mengambil semuanya ucap Wulan lagi.
Tidak cah ayu, Eyang percaya padamu, kau anak yang baik dan kaupun pasti akan menjaganya. Kau boleh mengambilnya sesuka hatimu kalau kau sanggup membawanya.
Tapi Eyang amanatkan padamu jagalah dan rahasiakan tempat ini dari orang -orang yang serakah.
Wulan terharu Eyang Manik percaya padanya. Apapun nasihat dari Eyangnya semua akan Wulan patuhi dan laksanakan.
Berendamlah diair itu Nduk ucap Eyang Manik lagi menunjuk sebuah kolam air yang tampak berasap dan mengeluarkan aroma bau wangi tersebut.
Wulan pun segera saja menuju kolam tersebut. Wulan tidak merasa ragu ataupun takut, ia percaya pada Eyangnya.
Kedalaman kolam tersebut hanya sebatas d**a. Wulanpun merendamkan dirinya dalam kolam tersebut. Seluruh tubuhnya dan kepalanya ikut terendam.
Setelahnya Wulan keluar dari kolam tersebut setelah Eyang Manik menyuruhnya keluar.
Saat Wulan keluar dari dalam kolam tersebut Wulan begitu takjub.
Bau badan yang selama ini dialaminya hilang sirna dan kini berganti dengan bau wangi yang harum.
Wajahnya juga tampak bercahaya dan kencang.
Wulan segera menghampiri Eyangnya dan berdiri dihadapannya.
Eyang..... ini semua nyata. Bau badanku hilang ucap Wulan berjingkrak senang.
He..... He.... He.....
Sukurlah Nduk, semua ilmu hitam yang menempel pada tubuhmu telah sirna. Orang yang memberikan kiriman penyakit itu padamu akan kembali terkena penyakit tersebut.
Duduklah keatas batu itu ucap Eyang Manik lagi. Wulanpun menurut dan duduk dibatu tersebut dengan bersila membelakangi Eyang Manik.
Eyang Manikpun ikut duduk bersila dan menurunkan ajiannya kepada Wulan.
Bersiaplah Cah ayu ucapnya merapal mantra dan menyalurkan ilmunya pada Wulan.
Wulanpun berkonsentrasi dan memusatkan pikirannya. Wulan merasakan ada aliran yang begitu besar masuk kedalam tubuhnya. Sebuah energi yang begitu besar dan membuat badannya enteng dan ringan.
Setelah selesai mereka berduapun turun.
Wulan melihat perubahan para sang Eyang yang begitu pucat pada wajahnya. Wulan begitu khawatir. Tapi sang Eyang mengatakan pada dirinya kalau Eyang Manik baik -baik saja.
Setelah itu mereka berduapun segera keluar dari gua tersebut.
Begitu keluar diluar gua sudah terang benderang.