"Setelah dari gua tersebut Wulan dan Eyang Manik pun gegas pergi dari gua tersebut. Saat mereka berdua keluar dari gua tersebut Wulan merasa aneh. Karena setelah keluar gua tersebut keadaaan sudah terang benderang.
Wulanpun segera membopong tubuh sang Eyang yang terlihat lemah tak berdaya. Wulan ingin segera sampai gubuk dan mengobati Eyangnya.
Wulan merasakan tubuhnya begitu enteng dan ringan. Saat menggendong sang Eyang pun Wulan tidak merasakan berat sama sekali.
Begitu tiba digubuk Wulan segera membaringkannya.Wulan ingin mengobati Eyangnya. Tapi Eyang Manik menolaknya.
Tidak cucuku, sudah saatnya Eyang pergi dari dunia ini. Dan sudah saatnya kamu pergi ketempat asalmu. Eyang sudah ingin beristirahat dengan tenang.
Bersukur Eyang bisa dipertemukan denganmu.
Permintaan terakhir Eyang tolong kuburkan Eyang di samping gubuk ini Nduk ucapnya lemah, suaranyapun mulai terdengar tidak jelas dan tersendat.
Wulan menangis dan memeluk sang Eyang, dirinya belum ingin berpisah dengan Eyangnya yang sudah menyelamatkan dan menolong juga mengajarinya ilmu kanuragan.
Kembalilah kegua itu dan ambillah sedikit emas untuk bekalmu dijalan Nduk ucap sang Eyang lagi.
Tolong jaga dan rahasiakan semua yang telah terjadi padamu ucapnya lagi setelahnya Eyang Manik menghembuskan nafas terakhirnya.
Wulan menangis sesenggukan dan memeluk Eyang Manik sedemikian rupa.
Setelah cukup tenang Wulanpun segera keluar gubuk dan menggali tanah disamping gubuk tersebut sesuai pesan terakhir Eyangnya.
Setelahnya Wulan memandikan jenasah Eyangnya dan dibungkus dengan kain seadanya.
Setelah dikuburkan Wulan pun menancapkan sebuah batu besar ukuran sedang.
Setelahnya Wulan duduk disamping pusara tersebut dan mengucapkan beribu terimakasih dan mendoakannya.
Setelah itu Wulan kembali masuk kedalam gubuk dan melihat isi didalamnya. Wulan gegas saja keluar lagi dari gubuk tersebut.
Setelah puas melihat isi didalamnya.
Wulanpun kembali mengedarkan pandangannya melihat sekeliling gubuk tersebut.
Ada rasa tidak tega bila dirinya harus meninggalkan tempat tersebut.
Tapi pesan Eyangnya dirinya harus kembali ketempat asalnya.
Setelah puas melihat sekeliling gubuk Wulan pun gegas meninggalkan gubuk tersebut setelah berpamitan diatas pusara Eyang Manik tersebut.
Karena waktu sepertinya sudah siang Wulanpun gegas meninggalkan gubuk sang Eyang. Wulan segera menuju gua yang semalam didatangi dirinya bersama sang Eyang.
Setelah sampai gua tersebut gegas saja Wulan melakukan apa yang Eyangnya lakukan. Tidak ada mantra khusus yang dibacanya. Karena menurut sang Eyang pintu gua itu akan langsung terbuka kalau dirinya menginjak tanah tiga kali didepan pintu gua tersebut.
TERBUKALAH. ...ucap Wulan. Dan ajaib pintu gua itu langsung terbuka dengan sendirinya.
Wulanpun langsung masuk kedalamnya.
Wulan mengambil beberapa bongkah emas ukuran kecil untuk bekalnya diperjalanan nanti.
Setelahnya Wulan segera keluar dari gua tersebut dan menutupnya kembali sama yang dilakukan saat dirinya masuk tadi.
TERTUTUPLAH..... Ucap Wulan lagi.
Setelah itu Wulan mengedarkan pandangannnya.
Wulan melihat sekeliling gua tersebut, Wulan akan mengingatnya.
Wulan menyusuri jalanan setapak yang mengarah pada sungai yang biasanya dirinya mencari ikan bersama sang Eyang.
Wulan menyusuri sungai tersebut untuk mencari sebuah perkampungan. Wulan yakin arah sungai ini pasti bisa membawanya menuju sebuah perkampungan sesuai amanat Eyangnya dulu.
Eyang Manik pernah mengatakan padanya disaat dirinya nanti kembali Wulan disuruh menyusuri sepanjang sungai tersebut.
Banyak batu yang licin dan tajam.
Aliran air sungai tersebut juga cukup deras dan curam.
Wulan berjalan dipinggirnya, dan sedikit masuk hutan kalau ada jalan yang susah untuk dirinya lalui.
Sebelum menjelang malam Wulan harus segera tiba diperkampungan warga.
Dan benar saja hampir menjelang magrib Wulan melihat ada sebuah perkampungan.
Hampir setengah hari Wulan berjalan dari gubuk sang Eyang dan sampai diperkampungan tersebut.
Gegas saja Wulan menuju perkampungan tersebut. Tidak ada orang yang berada diluar rumah tersebut, kampung tersebut tampak sepi, karena memang sudah menjelang magrib.
Wulan mencari barangkali ada mushola dikampung tersebut. Wulan ingin menumpang tidur barang semalam saja. Pandangannya mengedar tapi nihil Wulan tidak menemukan adanya mushola ataupun orang lewat.
Gegas Wulan menuju ketengah kampung tersebut.
Tampak sebuah rumah yang begitu besar dengan penerangan lampu yang terang. Sedangkan beberapa rumah warga yang lain hanya dengan penerangan seadanya. Bahkan ada yang masih menggunakan lampu minyak.
Wulan melihat ada seorang ibu yang keluar dari sebuah rumah kecil dengan tergesa -gesa. Karena penasaran Wulan pun gegas menghampirinya.
Permisi bu, ada apa, apa yang terjadi? ucap Wulan memandang kearah siibu tersebut yang tampak menangis sesenggukan.
Tolong..... tolong ibu neng,anak ibu kejang -kejang badannya juga panas. Ibu tidak tau lagi harus meminta tolong pada siapa lagi ucap siibu memelas.
Terus ibu mau kemana sore begini ucap Wulan lagi.
Ibu ingin meminta bantuan orang -orang Neng walaupun mustahil. Karena dari siangpun ibu sudah berkeliling tidak ada yang mau menolong ibu ucap si ibu lagi putus asa.
Apa saya boleh melihat anak ibu ucap Wulan bertanya pada siibu. Barangkali saya bisa mengobatinya kalau ibu percaya pada saya.
Silahkan Neng ucap siibu tidak menolak, karena tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong selain Wulan saat ini.
Wulanpun mengekor dibelakang siibu. Mereka berdua masuk kesebuah kamar yang terbuat dari bilik bambu tersebut.
Wulan melihat seorang anak kecil kira -Kira umur sepuluh tahun sedang kejang -kejang, badannya tampak mulai membiru.
Ibu saya boleh minta air putih untuk diminumkan pada anaknya ucap Wulan lagi. Siibu pun gegas saja mengambil air dan mengisinya pada sebuah cangkir kecil ,dan memberikannya pada Wulan.
Wulan pun segera melakukan apa yang diperintahkan Eyangnya dulu. Setelahnya Wulan segera meminumkannya pada sianak tersebut.
Ajaib beberapa saat kemudian anak tersebut berhenti kejang -kejang dan tubuhnya juga tidak membiru lagi. Biru yang ada ditubuhnya beangsur -angsur menghilang.
Sianak tersebut membuka matanya perlahan lalu melihat kearah ibunya yang sedang terisak.
Ibu..... apa yang terjadi? ucapnya serak .
ya Allah Nduk cah ayu ,kamu sudah sembuh ucap si Ibu yang kemudian langsung memeluk anak satu -satunya itu.
Memangnya Sari kenapa ibu? ucap sianak yang bernama Sari tersebut bingung.
Tidak apa -apa nduk, tadi km kejang -kejang tapi sekarang sudah sembuh berkat si Neng ini tunjuk siibu kearah Wulan.
Wulansari..... panggil saja Wulan ucap Wulan tersenyum pada keduanya.
Terimakasih Neng Wulan sudah membantu menyembuhkan anak ibu.
Dari siang Sari mengalami kejang seperti ini sampai tubuhnya membiru karena mungkin terlalu lama.
Dari tadi siang ibu sudah berkeliling kampung ini untuk meminta pinjaman uang, untuk membawa Sari berobat .Tapi tidak ada satupun yang mau menolong.
Begitupun dengan juragan Mardi yang rumahnya paling besar itu.
Tapi mereka tidak mau menolong ibu karena ibu orang miskin ,mungkin mereka semua takut ibu tidak sanggup untuk membayar hutangnya ucap siibu lagi.
Wulan begitu sedih dan prihatin mendengar cerita siibu tersebut. Semua orang begitu tega padanya karena miskin dan takut tidak sanggup membayar hutang yang dipinjam.
Eh tunggu Neng Wulan sepertinya bukan warga kampung sini ya. Ibu baru melihat Neng Wulan dikampung ini soalnya ucap siibu lagi.
Siibu yang bernama Siti tersebut menelisik penampilan Wulan dari bawah sampai atas.
Betul bu, saya kesasar dikampung ini. Saya juga tidak tau kenapa saya bisa sampai dikampung ini. Karena takut kemalaman dijalan sayapun terpaksa kekampung ini.
Saya selama ini tinggal dengan nenek saya dikampung sebelah. Setelah nenek saya meninggal saya berencana untuk kembali kekota ucap Wulan lagi.
Ibu Siti menganggukan kepala mengerti. Menginaplah disini Neng. Lagipula ibu juga tinggal berdua saja dengan Sari setelah suami ibu meninggal dua tahun yang lalu setelah lama sakit.
Tapi ya beginilah keadaan rumahnya ucap Bu Siti lagi.
Tidak apa -apa bu yang penting saya bisa tidur ucap Wulan lagi.
Bu Sitipun segera mengelar tikar lapuknya untuk Wulan tidur. Alas kakipun masih terbuat dari tanah. Tapi tidak masalah bagi Wulan, karena selama tinggal dengan Eyang Manikpun Wulan sudah biasa tidur seperti ini.
Karena waktu sudah menjelang malam merekapun tidur.
Keesokan harinya Wulan, bu Siti dan Sari sudah bangun.
Keadaan kampung Cisaat ini lumayan rame. Tapi kenapa kalo malam bahkan masih magribpun warganya sudah sepi.
Beginilah Neng, kalau keadaan di kampung Cisaat ini. Kalau pagi memang ramai tapi kalau malam ya sepi.
Karena sangat rawan apalagi malam hari, suka ada rampok atau maling.
Apa disini tidak ada pasar bu ucap Wulan lagi. Sepertinya dirumah ibu tidak ada makanan.
Kalau pasar tidak ada Neng, tapi kalau warung kecil ada diujung kampung ini ucap bu Siti. Ibu tidak ada makanan Neng, Kalau mau mkn ibu harus kerja dulu.