KAMPUNG CISAAT

1300 Words
" Wulan begitu prihatin dengan kehidupan ibu Siti dan anaknya Sari. Wulan pun mengajak mereka berdua untuk berbelanja di toko sembako kecil yang ada dikampung Cisaat tersebut. Sari begitu bahagia saat dirinya akan pergi belanja untuk kebutuhannya. Sesampainya dikios tersebut Wulan langsung saja bertanya pada pemilik kios tersebut. Permisi bu, saya mau belanja, tapi saya tidak punya uang tunai. Tapi bisakah saya menggunakan emas ini untuk berbelanja ucap Wulan mengeluarkan emas dari saku bajunya sebesar ibu jari jempol orang dewasa. Si pemilik Warung sembako begitu kaget melihatnya. Karena seumur hidupnya baru kali ini dirinya melihat emas secara langsung ukuran yang lumayan besar. Bisa aja Neng, tapi Ibu tidak sanggup untuk membayarnya. Kalau Neng mau Neng bisa menjualnya dulu pada juragan Mardi tuh yang rumahnya paling besar dan bagus tunjuk siibu pada sebuah rumah yang tampak mewah dan bagus. Biasanya juragan Mardi suka ke kota besar, mungkin saja beliau mau membelinya ucap siibu lagi. Bagaimana bu? Apa ibu mau mengantar saya dulu atau ibu mau tunggu disini ucap Wulan melirik pada bu Siti. Bu Sitipun yang masih tampak bengong hanya menganggukan kepala saja. Akhirnya mereka bertigapun menuju rumah juragan Mardi. Begitu sampai dirumah tersebut, Wulan segera saja mengedarkan pandangannya ia begitu takjub melihat rumah tersebut dari dekat sangat luas dan besar. Beberapa penjaga tampak berjaga di beberapa sudut titik rumahnya. Seorang penjaga segera menghampirinya. Hay Siti untuk apa lagi kau datang kemari hah? Juragan tidak mau meminjamkan uangnya padamu yang miskin itu. Darimana nanti kau sanggup untuk membayarnya nanti ucap sipenjaga judes. PERGI kau dari sini usirnya pada Bu Siti. Pandangannya segera beralih pada Wulan. Oh apakah kau ingin menjual gadis ini pada juragan tunjuknya pada Wulan. Bu.... Bukan saya ingin bertemu dengan juragan Mardi saya ada perlu, bukan untuk meminjam uang ucap bu Siti gemetar. Alah jangan bohong kamu cepat pergi dari sini ucap sipenjaga mencoba mendorong tubuh Bu Siti. Plak.... Wulan segera menepisnya, kalau tidak bisa jatuh tersungkur bu Siti. Hay siapa kau berani padaku ucapnya nyalang menatap Wulan tajam. Kami datang kesini baik -baik dan ingin bertemu dengan juraganmu itu, cepat panggil dia ucap Wulan sedikit berteriak. KURANG AJAR kau berani membentakku ucapnya lagi. Sipenjaga tersebut ingin menampar Wulan. Tapi dengan mudah Wulan langsung menangkap tangannya dan memelintirnya kebelakang. Cepat panggil juraganmu sebelum tanganmu ini kupatahkan sentak Wulan lalu mendorong tubuh sipenjaga tersebut. Sipenjagapun langsung berlari kedalam rumah majikannya dan segera melapor. Beberapa saat kemudian muncullah seseorang dengan wajah sangarnya muncul dihadapan Wulan. Ada apa kau datang menemuiku hah. Aku tidak meminjamkan uang untuk orang miskin seperti kalian ucapnya sinis. Tenang saja juragan, kami datang kesini karena ada perlu denganmu. Aku ingin menjual emas ini kalau kau berminat. Bukankah kau suka pergi kekota besar .Kau bisa menjualnya disana dengan harga mahal ucap Wulan mengeluarkan emasnya. Mardi pun sampai terkesima melihatnya. MASUKLAH. ...ucapnya kita bicara didalam. Aku ingin melihat dulu bagaimana keaslian emas itu. Baiklah ucap Wulan dan mengekor dibelakangnya. Mardipun segera mengeluarkan alat untuk mengetes keahlian emas tersebut. Ternyata memang benar -benar asli. Bagaimana apa kau mau membelinya? kalau tidak aku akan menjualnya pada orang lain. Ha..... Ha..... Ha.... siapa yang sanggup untuk membayar emasmu itu bocah. Akulah yang sanggup dan paling kaya raya dikampung ini ucapnya sombong. Baguslah jadi berapa kau sanggup membelinya ucap Wulan lagi. Aku akan membelinya 30juta, terserah kau mau memberikannya atau tidak. karena dari sini kekota besar itu jaraknya jauh dan aku butuh modal untuk sampai disana bagaimana? Bu Siti sampai bengong mendengar nya 30 juta dijual disini, bagaimana kalau dijual dikota pikirnya, pasti akan berkali lipat. Apalagi juragan Mardi orang yang licik. Baiklah silahkan diambil dan aku ingin uang kes ucap Wulan lagi. Ha.... Ha.... Ha..... baiklah kau tenang saja. Juragan Mardipun masuk kedalam kamarnya dan memberikan uang tersebut pada Wulan. Silahkan kau hitung kembali ucapnya Tidak usah aku percaya padamu ucap Wulan yakin. Wulan hanya meneliti uang itu palsu atau tidak, tapi memang semuanya asli. Setelah itu Wulan, Bu Siti dan Sari segera menuju kewarung sembako tadi. Ka Wulan uangnya banyak banget ucap Sari. Iya dan ini semua untukmu dan ibumu Sari. Berbelanjalah sepuas kalian ucap Wulan tersenyum pada keduanya. Sungguh Neng semua untuk ibu ucap bu Siti tak percaya uang sebanyak itu diberikan untuknya semua. Iya uang ini untuk kebutuhan ibu, pergunakanlah sebaik mungkin. Sudah ayo kita belanja. Hore..... Hore..... Ka Wulan apa Sari boleh memilih semua jajanan yang Sari mau ucap Sari malu -malu. Tentu saja sayang pilihlah semuanya, kalau perlu kita borong yang banyak. Wulan pun membeli sekarung beras, minyak, telor, gula, sabun pokonya semua kebutuhan dirumah. Dan Wulan juga memborong hampir semua jajanan sembako tersebut. Si pemilik sembako sampai tidak percaya, semua warungnya hampir setengah kosong. Berapa semuanya bu Ucap Wulan lagi. Semuanya 2500 Neng ucap siibu lagi. Baiklah ini uangnya dan sisanya untuk ibu nanti kalau ibu Siti belanja lagi ucap Wulan mengeluarkan uang 4 juta tersebut. Dan ini untuk ibu, Wulan mengeluarkan 200 ribu lagi dan memberikannya pada sipemilik warung. Aduh terimakasih Neng ucap siibu lagi. Wulanpun pamit setelahnya, karena sipemilik warung sembako tersebut bersedia mengantarkannya. Sari begitu senang melihat semua bawaan yang ditentengnya, dua plastik besar belum lagi yang masih belum dibawa semua. Sepanjang jalan mulutnya tidak berhenti mengoceh. Saat akan melewati rumahnya seseorang berteriak memanggil namanya. Sari.. ....kamu sudah sembuh ucap seorang anak kecil mungkin seumurannya. Sudah, aku kan tidak sakit ucap Sari. Loh Siti dari mana kamu ucap ibu sianak. Dari warung sembako Mir, kebetulan keponakan saya dari kota datang . Loh memang kamu punya ponakan dari kota Siti. ucapnya tak percaya. iya Mir kemarin baru datang. Saripun membagi beberapa makanan untuk temannya tersebut itu. Maaf Siti, kemarin aku tidak bisa membantumu, kau tau sendiri akupun sama susah sepertimu ucap siibu yang bernama Mirah itu tidak enak pada Siti. Tidak apa -apa Mirah, lagi pula anakku juga sudah sembuh. Oh bagus lah Siti, aku senang mendengarnya. Kamu tidak mampir dulu. Tidak Mirah lain Kali saja, kami belum masak soalnya. Ini untukmu beli beras ucap Siti mengeluarkan uang 200 ribu pada Mirah. Apa kau yakin memberikannya padaku Siti. Kamu sendiripun sedang kesusahankan ucapnya. Bu Siti melirik kearah Wulan. Wulanpun menganggukan kepala setuju. Setelahnya merekapun pulang. Beberapa saat kemudian barang yang ditunggu tiba. Banyak para tetangga yang penasaran dan mencoba untuk melihatnya. Wah Siti banyak banget belanjaanmu. Bukankah kemarin kau tidak punya uang? Darimana kau bisa mendapatkan uang dalam waktu cepat dan bisa berbelanja sebanyak ini ucap tetangga yang lain. Oh ini ponakanku dari kota datang, dan dia yang membelikan semua belanjaan ini untukku tunjuk Bu Siti pada Wulan. Banyak orang yang iri pada Siti, Banyak juga yang kasak kusuk membicarakannya. Tiba -tiba munculah seorang wanita bertubuh tambun dan langsung menghampiri Siti. Wah banyak uang rupanya kau Siti sekarang ucapnya judes, kalau begitu cepat bayar hutangmu yang 200 ribu itu padaku sekarang juga berikut bunganya. Kau sudah lama meminjam uang padaku. Cepat bayar, semuanya jadi 400 ribu ucapnya. Karena tidak mau berdebat, Akhirnya Bu Sitipun segera menyerahkan uang tersebut pada orang tersebut. Setelah menerima uang orang tersebut langsung pergi tanpa pamit. Apa ada lagi yang pernah ibu hutangi ucap Wulan lagi. Ada Neng Mang Sapri Tapi rumahnya ujung kampung ini. Dia orangnya baik dan suka menolong ibu ucap Bu Siti lagi. Selain itu apa adalagi ucap Wulan lagi. Tidak ada Neng hanya itu. Baiklah nanti kita kerumahnya saja untuk membayar hutangnya. Berapa yang ibu pinjam ucap Wulan. Mungkin lima ratus ribu Neng kalau semua utuh, ibu lupa soalnya sudah lama sekali. Wulan mengerti dan ia meminta untuk dilebihkan. Mereka pun memasukan semua barang kedalam rumah dibantu beberapa warga. Dan sebagai imbalan Wulan memberinya uang 100 ribu perorang. Totalnya ada lima ibu -ibu.Mereka semua begitu senang mendapat bayaran yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Bu Siti segera memasak. Ada nasi putih, telor balado dan sayur sop. Seumur hidup ini bu Siti baru bisa masak lauk sendiri dengan porsi banyak dan berapa macam. Ada sambelnya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD