JURAGAN MARDI

1221 Words
"Setelah Wulan menjual emasnya, Mardi berniat untuk mengambil uangnya kembali dan menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencurinya lagi. Siapa gadis yang bersama Si Siti itu. Aku baru melihatnya ada di Kampung Cisaat ini. Darimana gadis itu mempunyai emas asli seperti ini ucap Mardi menilik keaslian emas tersebut dengan mata tajamnya. Nanti ia akan menjualnya ke kota besar dan pastinya dia akan untung besar. Selidiki gadis yang bersama Siti tadi, dan rampok emas serta uangnya nanti malam. Aku ingin uangku kembali dengan utuh ucap Mardi yakin. Keserakahan mulai muncul lagi setelah beberapa waktu lalu merampas harta para warga Kampung dengan cara merampoknya dan menyuruh anak buahnya yang melakukannya. Baik juragan ucap satu anak buah kepercayaannya. Tengah malam Mardi mulai mengumpulkan beberapa anak buahnya. Mardi ingin mereka kembali mengambil uangnya yang sudah diserahkan kepada Wulan dengan penjualan emas nya. Curi semua yang ada dirumah Siti dan bawa kemari, aku ingin uang dan emas itu menjadi milikku. Aku yakin gadis itu pasti masih menyimpan emasnya. Kelima anak buah Mardipun gegas saja pergi dari rumah Mardi. Mereka menuju rumah Siti untuk menjalankan perintah juragannya itu. Mereka berlimapun segera saja menerobos gelapnya malam dengan memakai penutup muka. Kalau malam memang keadaan kampung Cisaat ini sangat sepi. Menjelang hari mulai gelappun semua warganya sudah masuk kedalam rumah. Apalagi tengah malam begini yang rawan dengan perampok dan maling yang menyatroni para rumah warga. Apa lagi yang telah panen, hasil panen mereka pasti akan menjadi incarannya. Para Warga tidak ada yang tau kalau sebenarnya yang sudah melakukan tindakan tersebut dan meresahkan para warga tersebut adalah Juragan Mardi kepala kampungnya sendiri dengan menyuruh para anak buahnya. Kelima anak buah Mardi itu mulai mengendap kerumah Siti. Ada yang lewat pintu belakang, ada yang lewat pintu depan bahkan jendela kamar yang ditempati Siti dan Sari anaknya. Mereka yang ada didalam rumahpun sudah tertidur, kecuali Wulan yang memang sudah mendengar langkah kaki beberapa orang yang memasuki rumah Siti. Wulan pura -pura memejamkan matanya dan ingin melihat apa yang dilakukan para pencuri itu didalam rumah tersebut. Kelima anak buah Mardi tentu saja dapat mudah masuk kedalam rumah Bu Siti. Karena memang keadaan rumahnya pun sudah rapuh dan keropos. Cepat cari uang dan emas itu sampai dapat, geledah semua isi rumah ini, samar suara seorang lelaki bicara. Dan ambil semua barang yang berharga dirumah ini. Sepertinya Si Siti sudah membelanjakan separoh uangnya ucap lelaki itu lagi memerintah. Sepertinya dia ketuanya. Yang lain pun gegas melakukan tugasnya masing -masing. Dua orang mengendap menuju kamar Siti. Dan dua orang laginya mengumpulkan beberapa barang yang tadi siang Wulan dan Siti belanjakan. Sedangkan orang satunya berdiri didepan rumah Bu Siti. Sepertinya orang tersebut bertugas mengawasi jikalau ada orang lewat. Uang dan emasnya tidak ada bisik suara seseorang keluar dari kamar Bu Siti. Kita berdua sudah menggeledah seluruh isi kamarnya tetap saja uang dan emas itu tidak ditemukan. Tidak mungkin tidak ada, cepat cari lagi yang lebih teliti ucap ketuanya lagi. Jangan sampai kita gagal dan juragan marah besar pada kita bisiknya lagi. Dahi Wulan mengernyit begitu mendengar nama juragan, Siapa lagi dikampung Cisaat ini yang biasa dipanggil juragan kalau bukan Mardi kepala kampung disini. Kau cepat bawa semua barang ini pergi tunjuknya pada sekarung beras dan beberapa makanan lainnya. Mereka pun gegas memanggul karung beras tersebut dan lainnya untuk dibawa keluar. Kita akan makan besar bos ucap satu anak buahnya tertawa senang. GOBL*K.....pelankan suaramu ucap ketuanya berbisik dan mengangkat jari telunjuknya diatas bibirnya. Si anak buahpun langsung bungkam dan gegas berjalan kearah pintu. Cepat bantu dia, jangn hanya berdiri ucap temannya menyuruh temannya yang tadi bertugas jaga didepan pintu. Saat temannya berhasil membawa sekantong besar belanjaan merekapun beriringan keluar pintu, tapi sebelum itu terjadi Wulan langsung duduk bersedekap d**a dan mengagetkan mereka berlima. Hem,,,,, Hem,,,,,,, mau kalian bawa kemana semua barang milik Bu Siti itu ucapnya menggeram. Semua anak buah Mardi kaget begitu melihat sosok Wulan yang duduk santai ditengah rumah tersebut. Letakkan kembali semua barang itu pada tempatnya cepat ucap Wulan sedikit berteriak. Anak buah Mardi saling pandang. Mereka tersenyum menyeringai. Mereka baru sadar kalau dirumah Siti ada gadis cantiknya. Oh rupanya ada gadis cantik dirumah ini teman -teman. Kita bawa saja untuk kita bersenang -senang. Tangkap gadis itu dan cepat bawa ucap ketuanya memandang remeh kearah Wulan. Segera saja ia berjalan paling depan setelah meyuruh kedua anak buahnya. Ketuanya yakin kalau anak buahnya pasti mampu untuk menangkap Wulan yang hanya seorang wanita lemah baginya. Bruuk..... Gubrak... Kedua orang yang berniat menangkap Wulan itu langsung terpental dengan sekali tendangan saja. Temannya yang sedang memanggul beras pun langsung terpelanting terkena lemparan tubuh temannya. Sang ketua yang baru selesai bicara dan memerintah itu begitu terkejut melihat anak buahnya terpental tepat dihadapannya. Bodoh kalian, menangkap seorang perempuan saja kalian tidak becus ucapnya nyalang. Diapun melirik kearah Wulan yang sedang berkacak pinggang dan menatap remeh padanya. Kurang ajar, beraninya kau membuat anak buahku pingsan, rasakan ini ucapnya melayangkan tinjunya kearah Wulan. Plos.... bug.... Gubrak.... Siketua tersebutpun langsung terpental saat Wulan menendang dadanya. Darah segar keluar dari sudut bibirnya. Tapi ia berusaha bangkit dan mengepung Wulan dengan kedua temannya. HAJAR gadis ini sampai mampus ucapnya berteriak. Hiaat. ketiganya maju bersamaan untuk menangkap Wulan. Tapi Wulan dengan cepat melayangkan tinjunya pada ketiganya. Bug.... Bug.... Bug.... Aaaaaah ketiganya jatuh terpental menabrak dinding rumah Bu Siti. Dinding rumah Bu Sitipun sampai jebol, karena memang sudah lapuk. Bu Siti dan Saripun bangun karena mereka mendengar orang ribut dan berkelahi. Mereka berteriak histeris begitu melihat banyak orang didalam rumahnya. MALING....... MALING.... tolong ada maling teriak Bu Siti. Sari pun tak kalah kencang berteriak seperti apa yang ibunya teriakan. MALING,,,,,,,, MALING. begitu mendengar teriakan dari rumah tersebut, kelima anak buah Mardi langsung bangkit dan membantu temannya yang jatuh pingsan dibangunkan dan dipapah keluar. Mereka segera lari tunggang langgang. Beberapa tetangga mulai berdatangan karena mendengar teriakan dari rumah Bu Siti. Itu malingnya...... tangkap mereka teriak beberapa orang lelaki. Salah satunya berhasil mereka tangkap dan mereka pukuli. Siti apa yang terjadi? apa mereka maling yang masuk kedalam rumahmu? ucap seorang ibu. apa kau tidak apa -apa? apa yang mereka bawa? Begitulah kasak kusuk para ibu -ibu yang bertanya pada Siti. Tidak ada yang berhasil mereka bawa. Beruntung Wulan dapat mengalahkan mereka semua, saat aku melihatnya, aku langsung berteriak karena didlm rumah banyak orang ribut. Ini dia salah satu maling yang dapat kita tangkap, kita apakan sebaiknya orang ini ucap salah satu bapak -bapak. Bunuh saja, pukuli, mereka maling yang sangat meresahkan para warga ucap beberapa orang berteriak. Ampun..... tolong jangan bunuh saya, tolong ampuni ucap si maling yang berhasil ditangkap. Cukup, kalian jangan Main hakim sendiri, lebih baik kita serahkan pada pihak yang berwajib saja ucap salah satu bapak yang umurnya mungkin lebih tua dari yang lain. Betul biar yang berwajib saja yang mengurusnya dan biar teman -temannya yang lain bisa segera ditangkap dan siapa dalang dibalik ini semua. Trus kita apakan maling ini Ki ucap bapa yang lain. Karena waktu masih malam kita ikat saja dia dipohon besar itu tunjuknya pada sebuah pohon disamping rumah Bu Siti. Biar dia digigit nyamuk sama semut rangrang, biar tau rasa dia. Ampun.... tolong jangan ,tolong lepaskan saya, saya janji saya tidak akan maling lagi ucap simaling anak buah Mardi tersebut memohon untuk dilepaskan. Cepat jalan jangan banyak omong ucap dua orang bapak mendorong dan menyeret tubuh si maling tersebut. Akhirnya simalingpun pasrah dengan kesialan nasibnya yang tertangkap oleh warga dan ditinggalkan teman -temannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD