Wanita Agresif

2702 Words
Happy Reading :) Sudah tiga hari ini, keadaan Revano  membaik luka-lukanya masih dan mulai mengering, jalanya sekarang sudah seperti biasa. Ia menatap laptop berlogo Apple itu. Revano mengingat Melanie, sudah lama ia tak mengabari pemilik laptop ini. Ia membuka pintu kamarnya dan terkejut dengan wanita di depanya. "Astagaa...Bella sedang apa kamu disini?" Tanya Revano. Wanita bernama Bella yang tak lain adalah adiknya Rico. Ia berdiri di depan pintu kamarnya dengan mengenakan tang top dan hot pants. Revano menelan salivanya saat melihat bagian yang menjadi favorite para laki-laki normal pada umumnya. Bella tersenyum manis dan mengalungkan tanganya ke leher milik Revano. Ia kaget karena belum pernah seumur hidupnya ada wanita yang se agresif ini memeluknya dengan sangat erat dan mengalungkan tanganya di lehernya. "Ka Revan aku kangen deh sama ka Revan, sudah lama gak ketemu, ka Revan makin Tampan saja," ucap Bella menggoda Revano. Ia mencoba melepaskan tangan Bella namun wanita ini malah mempererat pelukanya dan sesekali Bella menggesekan gunung kembarnya ke d**a bidang Revano. "Lepasin yah Bell, ga enak dilihat sama ka Rico,” minta Revano. Namun Bella tak mendengarnya dan enggan melepaskanya. "Ka Rico gak ada ka sudah pergi, cuman ada kaka Sama aku," Bella tersenyum memandangi wajah tampan Revano. "Tapi Bell..." Bella menyentuh bibir Revano dengan telunjuknya. "Ka Revano William... aku masih kangen tau sama kaka. Bentar lagi yah," minta Bella manja dan masih enggan melepaskan rangkulanya. "Kaka mau ke air Bel udah gak tahan ini."  Bela pun tersenyum geli mendengarnya, ia pun melepaskan pelukanya. "Ka mau aku bantu gak?" Goda Bela.  Revano menggeleng-geleng kepala melihat tingkah laku adik sahabatnya itu, yang seperti wanita jalang. Dengan susah payahnya Revano di dalam sana menidurkan sesuatu yang sejak tadi memberontak. "Ka Revan kok lama sih di air nya. Bella juga sudah gak tahan ka." teriak Bella di dekat toilet. Revano yang di dalam sana berpikir tentang Bella, dulu ia gadis baik, sopan dan alim, umuranya pun diatas adiknya satu tahun. Tetapi kenapa saat ini Bella berubah menjadi wanita agresif, apa ia salah pergaulan disana. Ia  mengacak-ngacak rambutnya. Ia geli sendiri dengan tingkah laku Bella. Ia segera keluar dari toilet, namun ia terkaget saat Bella sudah berada di depan pintu toilet dengan tingkahnya yang membuatnya jijik. "Astagaa bell kenapa didepan pintu sih, ngagetin saja." "Kaka ngelamunin Bella yah?" goda Bella kembali.  Revano yang hendak akan ke kamarnya pun terhalang Bella yang tak mau Revano pergi dari hadapanya. "Ka udah keluar belum?, gak ngajaka-ngajak ngeluarinya?" Revano melohok dengan perkataan barusan bella. "Apaan sih bel. Orang kaka kencing, dah deh bell jangan berpikir negatif." Revano  langsung pergi ke kamarnya dan menguncinya.  Ia menarik napas dalam, hampir saja kehilangan akal sehatnya melihat pemandangan tadi dan godaan Bella. Revano melirik ponselnya yang bergetar satu  pesan dari Rico yang memberitahukan jika malam ini Rico tidak akan  pulang, ia akan nginep di rumah pacarnya, dan ia menitipkan adiknya Bella ke padanya. Revano terburu-buru membalas pesan dari Rico dan langsung mengirimnya, ia pun lekas membawa barang-barangnya dan beberapa baju ganti untuk besok dirinya pergi kuliah. Ia takut sendirian di rumah dengan adiknya yang sangat agresif itu. Ia takut tak bisa mengontrol dirinya sendiri.  Tak ada tujuan ia akan kemana dan tidur dimana, yang penting ia  bisa keluar dari rumahnya Rico. "Loh ka Revan mau kemana?" tanya Bella. "Kaka ada janji sama temen bell, duluan yah," ucap Revan yang bergegas keluar. "Tapi ka….?" Teriak Bella, sambil ia mengerucutkan bibirnya saat melihat punggung Revano yang sudah jauh. *** Revano duduk di meja luar Cafe tempat ia bekerja, dengan membuka laptopnya. Romi menghampir temannya itu dan membawakan secangkir kopi, dan mengobrolnya sejenak. "Ehh Rom, gue kan gak pesan. Cuman duduk doang." "Gue yang traktir. Loe tumben malem-malem kemari, jemput si Meymey?" tanya Romi yang duduk di depanya. "Enggak, gue kesini cuman numpang duduk doang, Itu anak lagi ngejauhin gue kayanya. Gue salah apa yah?" ucap Revano berpikir sejenak. "Lah loe kenapa tanya ke gue?, mana gue tau loe salah apa sama si Meymey, ngomong saja gih ada orangnya tuh di dalem," saran Romi. "Gak enak sama bos jam kerja Rom." "Lah Tumben loh nongkrong dimari, biasanya juga loe dah pulang kerja Langsung molor?" "Gue lagi gak enak dirumah Rom, ada adiknya Rico datang dari Jakarta. Lah si Rico nginep dirumah pacarnya." Ia menutupkan laptopnya. "Lah pake gak enak segala. kan cuman adiknya doang."   "Yah memang cuman adiknya doank. Adiknya itu Agresif banget, gue takut Rom." "Takut kenapa? loe takut di perkosa sama adiknya?" Romi ketawa. Ia mengenal Revano dengan baik, pasalnya pria ini memang tak pernah pacaran. "Gue takut sama diri gue sendiri. Jujur gue pria berengsek, gue juga bukan pria alim, gue juga sama Rom ingin merasakan sesuatu yang belum pernah gue rasain, tetapi gue masih menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seperti itu tanpa adanya status pasti. Gue masih ingat punya adik perempuan yang masih membutuhkan gue Rom. Jika gue kaya gitu gimana sama adik gue kalo nanti ada apa-apa?”  curhat Revano.  Romi paham maksud semua pembicaran Revano, temanya itu memang berbeda denganya, ia tak pernah mikir panjang saat berbuat, sedangkan Revano banyak perhitungan dalam menjalani suatu hubungan dengan seorang wanita. "Kali doang Rev icip-icip gitu, gak akan buat bunting anak orang,  gue punya obatnya. Percaya deh loe pasti ketagihan," Romi cengengsan ngerjain Revano, dasar rayuan temenya setan. "Berengsek!!!, Ngajarin gue kagak bener," ucap Revano kesal. "Loe kenapa sih kagak mau, gue penasaran?" tanyanya. "Intinya gue takut ngehamilin anak orang, apa lagi loe tau sendiri gue pria miskin, gimana nanti gue tanggung jawab pada orang tuanya, anaknya sudah di tidurin bertahun-tahun terus gak di kawin karena masih kuliah, pekerjaan cuman pelayan Cafe, buat sendiri juga masih repot dan keteteran, apa lagi nanti sudah berkeluarga." “Loe nyindir gue dengan cara halus nih  Rev?” tanya Romi menatap wajah temanya yang cengengesan. "Terus loe mau kemana? Malam-malam begini?" tanya Romi kembali. "Entaahlahh gue nunggu disini saja sampe Cafe tutup, mungkin gue cari tempat nanti, " ucap Revano menyesap Kopinya. "Ya udah loe ke Kostan gue aja. Nginep sana aja. Gue takut loe di perkosa nanti kalo tidur diluaran,” ledek Romi. "Aaah berengsek loe Rom!!!:” Romi ketawa terbahak-bahak. "Seriuse nih Rom?" Romi  mengangguk. "Iyah, ya udah gue balik kerja dulu yah?" "Iyah, thanks Rom Kopinya." "Iya baweell," Teriaknya.  *** Melanie  duduk manis di club bersama Debora. Sudah seminggu lebih ia tak bercinta. Entah kenapa Melanie mulai malas, untuk melakukanya. Apa  karena tak ada pria yang membuatnya b*******h?. Entahlah kenapa dirinya saat ini, terlintas dalam pikiranya, ia mengingat Revano pria yang ia tabrak tempo itu. Sebuah notifikasi berbunyi nada pesan. Melanie membaca pesan dari Chang suaminya. Kalo besok suaminya ada kerjaan ke Jepang dan China, ia membalas dengan singkat, lalu kembali merenung dalam keramaian music Dj. "Mel, loe ko aneh sih biasanya juga dah dapet mangsa baru," tanya Debora. "Gue lagi males Deb,"  ucap Melanie meneguk minumnya.  "Tumben, tenang aja gue udah suruh asisten gue buat cari papa muda untukmu," ucap Debora penuh keyakinan. "Iyah, deb makasih, kabarin saja yah kalo sudah ada. Gue balik yah jenuh nih.”  Ia meninggalkan Debora bersama pria malamnya. Ia berjalan sendiri di tengah malam dengan keadaan ia sudah mabuk. Entah apa yang di pikirkan Melanie saat ini. Hatinya kosong, ia tak mempunyai orang yang bisa membuat ia semangat. Melanie  benar-benar ingin mendapatkan suami yang bisa bahagian dia. Ia berjalan sempoyongan membuat ia duduk ditepi jalan.   Diseberang sana Revan dan Romi jalan menuju kost-kostanya yang terletak di belakang gedung tinggi pusat perbelanjaan. Ia menyelusuri sepanjang jalan yang kosong. Jika di siang hari jalan ini dipadati para wisatawan yang beberlanja. "Cewek loe kok sampe jam dua belas ginih baliknya Rom?" tanya Revano, memasukan kedua tanganya kedalam saku celananya. "Iya ada Tamu Vvip katanya yang belum selesai belanja." Romi melihat wanita yang tengah duduk di tepi jalan. "Ehh itu cewek mau bunuh diri gitu duduk disitu?" tanya Romi. Revano pun melihatnya, keduanya menghampiri wanita itu. "Nona-nona…" tanya  Romi, dan ia langsung menutup hidungnya. "Kenapa Rom?" tanya Revano, melihat ekpresi wajah temanya. "Bau Naga Rev," Romie mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Revano ketawa terbahak-bahak di depanya itu melihat ekspresinya. "Mang loe pernah ngerasain Bau Naga kaya gimana?" "Kampret loe Rev!!!, Ketawa lagi. Cewek ini mabuk bau alkohol, Begooo. Gimana nih Rev mana ini udah Teler ginih, apa kita tinggalin aja gituh yah? tapi kasian kalo ini cewek ini ditinggal. Takutnya di perkosa sama orang." ucap Romi dengan kebiasanya. "Loe kebiasan dari dulu Rom, nanya tapi dijawab sendiri." Romie terseyum menunjukan  gigi putihnya yang rapih pada temanya itu.  Revano pun berjongkok melihat cewek mabuk itu. "Nona, rumahnya dimana, kita anter pulang yah?" tanya Revano menepuk bahu wanita itu. "Dia gak akan jawab begooo, orang udah teler ginih," maki Romi yang menunjuk cewek didepanya. Revan menyelipkan rambut cewek itu yang menutupi wajahnya di telinga. "Melanie??" Teriaknya. "Loe kenal sama cewek ini?" Tanya Romi. "Kenal, ini cewek yang nabrak gue tempo itu." "Ya udah loe anter dia balik kerumahnya gih." "Gue gak tau rumahnya dimana?" ucap Revano. Romi menepok jidadnya. "Ya sudahlah bawa ke kosat gue, loe duluan ke kostan, gendong tuh cewek, gue jemput dulu cewek gue dah telat nih tar dia ngomel  lagi,” ucap Romi memberikan kunci kostanya. Revano menggendong Melanie sampe ke kostanya Romi, ia menggendong Melanie dangan nafas yang tersenggal-senggal karena jalan menuju kosatan Romi seperti gunung. Revano akhirnya berpapasan dengan Romi di gerbang kostanya. "Baru nyampe loe dari tadi?" tanya Romi ketawa. Pacarnya pun ketawa. "Iyahh, iyah lah jalan ke kostan loe itu udah kaya mendaki gunung himalaya, sudah cepat buka nih kuncinya." "Tau gituh gue gak akan kasih kuncinya sama loe, kalo gue-gue juga yang nyampe duluan," gerutu Romi. "Jangan banyak bacot deh loe Rom, gue dah gak kuat berat nih," ucap Revano yang terlihat kelelahan. Dea pacarnya Romi  hanya mempertawakan tingkah pacarnya dan temenya yang lucu. Romi membuka pintu kostanya, Revano  meletakan Melanie di ranjangnya  Romi. "Gue tidur dikamar atas dikamar cewek gue, loe disini saja sama cewek ini. Revano mengangguk karena lelah. Melanie tak lama bangun dan muntah di lantai kamar Romi. Ia pun membersihkanya dan meminta Dea ceweknya Romi menggantikan pakain Melanie dengan pakeanya yang ia bawa dari rumah. "Bener-bener loe mau minggatnya sudah siap pakean ganti," ujar Romi. "Brisik Loe…gue gak kuat cape, lemes ginih ini kaki?" ucap Revano  mengatur nafasnya. "Rev nih minum dulu," Dea memberikan bottol air mineral. "Thanks yah De." "Loe beresin besok tuh bekas muntahan temen loe, gue gak mau Kostan gue bau comberan kaya ginih," ucap Romi. "Ayang...sudah lah kalian dari tadi di dengerin tuh berantem terus. Sebaiknya kau mandi sanah kau juga sama bau comberan." Revano  mempertawakan temenya itu. "Dan kamu Rev keluar juga, aku mau gantiin pakaian cewek ini." Mereka pun keluar dari kamarnya Romi, dan menunggunya di depan kamarnya sambil mereka berdua masih mengobrol di depan sana. Dea mendengar semua pembicaraan kedua pria itu pun memarahinya. Romi pun diam dan lekas naik keatas karena pacarnya sejak tadi sudah berkoar-koar di belakang pintu, ia malu membangunkan teman-temannya yang ngekost disitu dengan ulahnya. Dea keluar kamar Romi, dan menemui Revano. Dea memberi tahu jika wanita mabuk itu sudah ia gantikan pakainya. Revano merasa tak enak kepada Romi sebenarnya, ia sudah menyusahkan temanya itu. ia masuk ke dalam dan membereskan kamar revano yang bau muntahan Melanie. Tubuh cape pun ia tak dirasa, karena mencium ruangan temanya yang menjadi bau, ia pun langsung mengepelnya. Dea mengetuk pintu kamar, ia meminta revano untuk bergabung makan malam. Ia pun berjalan menghampiri mereka yang sudah menyantap makanan duluan. Dea mengambilkan nasi dan lauknya untuk Revano, karena pria satu itu terlalu malu-malu jadi ia paksa mengambilnya.  "Makasih yah De?" "Sama-sama. Jika kurang ambil lagi yah," ucap Dea yang mengambilkan lauk untuk pacarnya. "Oh iya, ngomong-ngomong disini ada yang kosong gak?" "Penuh, Disini buat siapa?" tanya Romi "Buat gue!."  "Bukanya loe tinggal sama Rico?" Tanya Romi. "Iyah namun gue gak enak tinggal disana, loe tau sendiri gimana Rico ke gue. Mana lagi sekarang ada adiknya," ucap Revano menyantap makanan yang Dea masak.  "Emang adiknya kenapa gituh Rev?" Tanya Dea.  "Adiknya si Rico itu agresif ayang. Dia udah di bikin tegang sama adiknya sejak tadi pagi?" Romi ketawa.  "Ahh Sial loh!!." "Dia kan masih perjaka ayang, jadi dia takut di bobol sama adiknya si Rico," kekehnya. "Ahh Berengsek loh Rom, buka kartu gue di depan cewek loe, gue malu bangke."  Dea dan Romi ketawa terbahak-bahak."Sudahlah ayang, kalian dari tadi aku denger-denger berantem terus. Nanti kau jatuh cinta lagi sama Revano. Mana dia tampan lagi yank?" Ledek Dea. "NAJIS" ucap mereka kompak. Dan saling menatap satu sama lain. Dea ketawa melihat kedua pria itu yang kini saling nyindir menyindir, sudah seperti tikus dan kuncing. *** Revano sejak pagi tadi ia sudah pergi ke kampus. Ia sudah membelikan sarapan yang di simpan diatas nakasnya. Romi yang sedang mandi menunggu Dea untuk mengambilkan pakainya untuk romi yang hedak akan pergi kuliah.Melanie membuka matanya perlahan-lahan dengan kepala yang pusing, ia melihat ke atas langit-langit, sepertinya ini bukan kamarnya. "Gue dimana nih...kok kaya kamar cowok?" ucap Melanie yang mengucek matanya. Dea yang di sampingnya pun mendengar dan menghampirinya. "Haii..kau sudah bangun." Dea duduk ditepi bednya. "Iyah..aku dimana yah nona?" Tanya Melanie. "Minumlah obat ini biar Tak pusing." Melanie pun meminumnya. "Nona ada dikamar pacar saya, semalam nona mabuk, teman pacar saya yang kebetulan menginap disini membawa nona kemari," ucap Dea menjelaskan kepada wanita itu.  Melanie pun membulatkan bibirnya. Dea pun mengulurkan tanganya untuk berkenalan. Melanie yang cerewet pun bertanya sejak tadi. Dengan lembutnya Dea menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang Melanie tanyakan. Dea pun memandang Melanie, Ia menebak jika Melanie ini orang berada. "Kalo boleh tau, siapa nama pria yang sudah menolongku?" "Revano namanya, Mel." Melanie yang masih duduk di ranjangnya Romi pun kaget saat mendengar kata Revano, Apa Revano orang yang Ia tabrak yah?. Dalam hatinya.  "Ini switer dan training siapa yah?"  "Ini punya Revano, saya yang menggantikan pakaian nona yang terkena muntahan. Baju nona belom kering, revano cuci." ucap Dea yang menilepkan selimutnya.  "Aduhh maaf yah nona saya jadi merepotkan nih?" Melani menggaruk-garuk rambutnya. "Gak apah nona. Melanie menjadi penasaran sama pria yang bernama Revano, yang di jawab Bella. ia melirik jam dinding di depanya. "Jam sembilan lewaattt gawaaaattt.." Ia masuk ke kamar mandi dan membasuh mukanya. "Nona maaf bangett saya sudah merepotkan saya permisi yah saya kesiangan berangkat kerja.."  Ia langsung pergi membawa tasnya dan memesan taxi untuk segera pergi ke kantornya. Sepertinya mobilnya masih di parkiran.   *** Semua staf karyawan melihat penampilan atasanya yang tak seperti biasanya.Melanie selalu stylish  mengenakan pakai kerjanya dengan brand ternama dunia. Namun saat ini Ia berangkat ke kantor megunakan hoddy belel berlogo Adidas dan Trening yang senada dengan hoddynya. Ia tampil cuek dengan pakeanya itu, tetap ia cantik dengan riasan make up seadanya yang terdapat di  dalam tasnya.  "Mel kenapa dengan pakean loe?, Loe mau kerja atau mau jogging?" Riana tampak heran melihat penampilan atasanya. Melanie  tak mendengarkan pertanyaan Riana.  Ia hanya berjalan menuju ruanganya dan duduk dikursinya. ia mengganti hills nya dengan sepatu kats yang sama dengan hoddy yang ia kenakan. Riana membawakan Teh herbal untuk atasanya. Ia sudah tak mau menanyakannya apa-apa karena saat ini wajahnya telihat ingin memangsa tawananya.  "Jadwal gue Ri," ucap Melanie singkat. Riana membacakan jadwal Melanie hari ini. "Gue ada Meeting sama Marsha doang, ya sudah kalo gituh. Tolong bawain mobil gue Ri, ada diparkiran club biasa." Melanie memberikan kunci mobilnya. "Kamu mau sekalian aku bawain pakean ganti?" tanya Riana. "Ga usah Ri, gue pake kaya gini aja. Tanggung cuman Meeting sama Marsha doang kan di restoran." Riana langsung pergi mengambil mobilnya Melanie.   Riana tau kalo saat ini Melani sedang tak mau diganggu. Wajahnya yang seperti itu pasti dia ada sesuatu. Melanie seperti itu kesal karena ia mendapatkan telephone dari ibu mertuanya yang menanyakan prihal ia tak pulang kerumah dan tak menyiapkan keberangkatan suaminya ke Jepang. Melanie benci Chang karena suaminya itu tak mengabari kalo ibunya datang. Melanie melemparkan ponselnya kesembarang tempat. Ia mengacak-acak rambutnya. Setelah ia menerima telphone dari suaminya yang membuat dia sangat marah. Riana melihat Melani melemparkan ponselnya kesembarang tempat. Riana lalu memungutnya dan meletakan ponsel dan kunci mobilnya di atas mejanya.  *** Revano mampir sebentar ke kostan Romi, ia sudah tau kalo Melanie sudah pulang sejak tadi. Karena Romi mengabarinya lewat pesan singkat. Ia hanya mengambil pakaian Melanie yang ia cuci bekas muntahaan. Dan ia pun berangkat kerja bareng Romi. Bella disana kesal karena siang ini Revano tidak pulang ke rumahnya.  Revano berjalan tampak lelah, cukup lelah hari ini karena Cafe rame jadi ia pulang larut malam. Ia membuka pintu rumah Rico, dan mendapati Rico sedang bercinta diruang tamu dengan kekasihnya. Rico pun segera memakai celana pendeknya dan kekasihnya menutupi tubuhnya dengan bantal. Bagi Revano hal itu sudah biasa, ia sering memergokinya aksi temanya itu.  "Ehh loe Rev, baru balik?" tanya Rico.  "Iyah."  Sudahlah ia menghiraukan mereka, ia sudah tak sabar ingin merebahkan tubuhnya yang lelah ini karena letih. Revano membuka kamarnya dan Ia menyalakan lampu kamarnya. Sontak Revano kaget saat ia melihat ada seseorang yang tidur di ranjangnya.   "Kampreeettttt...." maki Revano. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD