bc

ROMY

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
sweet
like
intro-logo
Blurb

"Gue benci sama lo, gue benci sama anak ini Aaaaarrrggghhh GUE BENCII, GUE MAU DIA MATI" pernyataan yang dilontarkan oleh perempuan tersebut membuat sang lelaki tersentak, "Lo boleh benci gue tapi jangan sama anak ini"

Bagaimana jadinya jika pernikahan tanpa didasari dengan Cinta? Keterpaksaan? Kesalahan? Benci?

chap-preview
Free preview
Romy | 1
“Ingat, orang bisa berubah ketika bertemu dengan orang baru” . . . . Romy? "GAUSAH SOK PEDULI SAMA GUE, LO UDAH NGEREBUT SEMUANYA DARI GUE, MASA DEPAN GUE HANCUR GARA-GARA LO, BRENGSEK" teriak seorang perempuan, didepan seorang lelaki yang tengah memandangnya "Maaf" dan hanya itu yang dikeluarkan dari mulut manis lelaki itu, menerima semua apapun perbuatan yang dilakukan perempuan itu, mulai cakaran diwajah, lengan, rambut yang sudah tak tertata rapi ya walaupun setiap harinya selalu berantakan tapi kini terlihat lebih berantakan dan juga T-shirt putih polos yang ia kenakan telah sobek dibagian kerahnya "Gue benci sama lo, gue benci sama anak ini Aaaaarrrggghhh GUE BENCII, GUE MAU DIA MATI" pernyataan yang dilontarkan oleh perempuan tersebut membuat sang lelaki tersentak, "Benci gue jangan anak ini !" Lelaki itu mencekal lembut tangan perempuan mungil didepannya ini, yang ingin melayangkan pukulan-pukulan keras kearah perutnya, kearah dimana buah hatinya tengah bersemayam didalam rahimnya, dan menariknya dalam rengkuhan hangatnya"Moran stop please" pinta lelaki tersebut pada perempuan yang kini tengah berada didalam dekapannya itu, Perempuan itu bernama Moran, lebih lengkapnya lagi yaitu Morana Olivia Valerie, berumur 17 tahun kelas XII semester 2 dan si lelaki bernama Romy Ragenta Bagaskara berumur 18 tahun kelas XII semester 2, mereka satu sekolah yang sama "Gue mau dia mati, GUE MAU DIA MATI" berontakan tak terelakan kala Romy mendekap tubuh mungil yang sekarang berstatus sebagai istrinya beberapa jam yang lalu dan juga beserta calon anaknya, tangan Moran ditahan dengan cara mendekapnya erat, "Please don't hurt him" pinta Romy, walau bagaimana pun didalam sana terdapat kehidupan yang sangat ia sayangi, ia tidak ingin calon anaknya dan istrinya ini terluka Jujur setiap melihat Moran yang selalu menyakiti dirinya sendiri, memaki-maki calon anaknya membuat hati seorang Romy seakan tergores, lelaki dengan wajah datar dan sifat dinginya itu tidak bisa jika melihat kedua orang itu harus terluka, Moran boleh membenci dirinya tapi jangan dengan anaknya "Gue harus apa?" tanya Romy masih dengan mendekap tubuh mungil istrinya, terdengar suara tarikan ingus dari siempu "Pergi dari sini, gue gamau ngeliat muka lo" Romy menghela nafas, baru saja mereka resmi menjadi pasangan suami istri mengapa harus seperti ini, ia butuh istirahat, tubuhnya terasa lelah untuk hari ini, "Oke gue pergi, jaga diri baik-baik, juga jaga dia" pamit Romy, Romy pikir istrinya itu butuh waktu sendiri untuk menerima kenyataan ini, kenyataan yang mengubah peran hidupnya, peran yang memiliki tanggung jawab yang besar Romy melepaskan dekapannya, berjalan menuju kamar, mengambil kunci motor, dompet, ponsel dan jaket. Diruang tengah yang menjadi saksi pertengkaran antara dirinya dan juga istrinya itu, ia melihat Moran berdiri membelakanginya, Romy berjalan kearah Moran, sebelum pergi ia ingin menghirup aroma tubuh istrinya terlebih dahulu, semakin dekat, dan ia mencium puncak kepala Moran dengan sayang hingga beberapa menit, baru ia melepaskannya "Gue pergi dulu, jangan bertindak konyol." peringat Romy seraya mengusap lembut perut rata Moran, dari balik tubuh Moran, Romy tersenyum lembut betapa senangnya jika ia bisa menjaga buah hatinya ini dengan leluasa. Setelah kepergian Romy dari hadapannya, Moran merasakan ada yang kurang dirumah ini, dan ada sedikit emmm rindu? Dihatinya? Ah mana mungkin Moran merindukan Romy sibrengsek itu?? Moran memilih berjalan menuju kekamarnya, dirinya menginginkan rebahan sekarang ini, Entah bawaan dari hormon ibu hamil atau memang dirinya yang hanya ingin bersantai, sekarang pukul 22:33, sudah malam tapi kenapa belum ada tanda-tanda jika Romy akan pulang?? Moran melirik kearah perutnya yang masih rata dan mengusapnya, ada sedikit rasa bersalah dijiwanya ketika mengingat kata-katanya bahwa ia ingin anak yang berada didalam rahimnya ini mati. Tiba-tiba ia merasa menginginkan sesuatu tapi harus meminta tolong siapa? Dengan kondisi sudah malam pula. Ia berinisiatif meminta bantuan dengan seseorang, 'Hallo?!' 'Emm kenapa malem-malem gini nelpon?!' 'Lo udah tidur?!' 'Lo pikir?!' 'Udah' 'Udah tau masih mau nanya?!' 'Ish jangan ngeselin dulu bisa ga sih?!' 'Hehehe yaudah-yaudah apa bumil, hem mau apa?!' 'Nah gitu kek dari tadi, emm gue pengen martabak nih boleh ga beliinn ntar uangnya gue ganti plliiiiisss yaaa gue lagi pengen banget nih ama martabak' 'Ngidam?!' 'Bisa dibilang gitu' 'Hem kenapa ga minta Romy aja buat beliin?!' 'Ga ah gue aja abis berantem ama doi, lagian juga dia ga ada dirumah udah gue usir' 'Berantem mulu, baik-baik Oliv sama suami sendiri, jan kek gitu meskipun lo benci sebenci bencinya ama dia tapi inget dia itu suami lo, bapak dari anak yang lo kandung' 'Hemm yayaya udah beliin kenapa malah ceramah?!' 'Hem gue ngantuk sumpah, besok aja ngapa?!' 'Ga mau hwaaa gue ga mau besok pengennya sekarang hwaaa' 'Dih apa banget' 'Alaaaaan gue pengen masa sih lo jahat sama gue' 'Yaudah-yaudah iyeee ini gue beli, bangke amat bumil satu' 'Nah gitu kek, kalo gitu kan gue seneng' 'Iyeeeee-iyeeeee bumil mah pengen menang sendiri' 'Udah gausah kebanyakan bacot, mending langsung beliin' 'Iy---' Tut! Panggilan terputus secara sepihak dengan Moran yang memutuskan, ia tersenyum bahagia karna keinginannya untuk memakan martabak akan terpenuhi, menunggu sekitar 40 menit lamanya hingga ketukan pada pintu utama terdengar, dengan semangat ia segera berjalan menuju pintu utama Ceklek (Anggep aja itu suara pintu kebuka okay?!) Senyum yang tadinya merekah seolah hilang tertelan bumi, yang ia harapkan adalah sebungkus martabak telor yang spesial dengan lelaki yang bernama Alan, tapi mengapa disini adanya lelaki bernama Romy tengah terdiam berdiri dihadapannya dengan wajah datar namun mata yang menyiratkan kelembutan Moran tidak mengucapkan sepatah kata pun, dirinya hanya berjalan memasuki rumah dan membiarkan pintu terbuka dengan lelaki yang masih setia berdiri didepanya

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
612.9K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
35.7K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
819.4K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.5K
bc

The Lone Alpha

read
125.5K
bc

Bad Boy Biker

read
8.7K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook