9.Pangeran Negeri Dongeng

1579 Words
Secangkir kopi panas dan sepotong sandwich menemani gadis yang sejak tadi hanya duduk di balkon apartemennya, beberapa hari dia sudah tidak bekerja lagi. Setiap hari dia menerima pesan dari rekan kerjanya, menanyakan kemana dia pergi! Mengapa lagi-lagi absen ke kantor, belum lagi pertanyaan dari para sahabatnya yang terus mendesaknya soal pernikahannya yang mendadak itu. Eric : Kau kemana Agnes! Sudah beberapa hari kamu tidak berangkat kerja! Sebuah pesan kembali membuat ponselnya bergetar, Agnes hanya meliriknya sekilas tidak ada niatan untuk membalas apalagi sekadar membuka. Dia berharap dia bisa tenang setelah melewati berbagai persoalan rumit yang sebenarnya bukan dia yang mencarinya. Ddrttt.. drrrtt.. Laura is calling… Ponsel Agnes kembali menyala, menampilkan sebuah nama. Gadis itu meraih ponselnya dengan malas, ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh sahabatnya itu tanpa perlu bertemu. Mereka bukan dua orang yang saling mengenal satu atau dua bulan, mereka sudah lama bersahabat sejak di bangku kuliah. “Halo!” suara Agnes terdengar tidak bertenaga. Lo dimana? Aku tahu kamu tidak di kantor, buruan buka pintu! Pegel tangan gue! Suara cempreng itu terdengar begitu lantang dari ponsel Agnes membuat gadis itu reflek menjauhkannya dari daun telinga. Tidak ada jawaban, gadis itu memilih mematikan sambungan telepon dan membukakan pintu apartemen. Laura dengan wajah masam, salah satu tangannya menenteng sebuah paper bag yang pasti berisi nutrisi perut, gadis yang sangat hobi makan namun tubuh hanya sebesar sapu lidi itu tidak pernah melupakan kebutuhan perutnya Dimana pun berada. “Lo gila ya, Nes! Lo nikah, tapi gak ada yang tahu kecuali keluarga Bibi Hilda! Sahabat elo ini loh gimana? Kayak orang terbuang.” Deretan kata langsung menyerang Agnes, gadis itu menutup kedua telinganya. Laura meluapkan kemarahannya pada sahabatnya itu, Agnes memijat pelan keningnya. “Gue tidak merayakan apapun, Laura! Jangan berlebihan.” Ucap Agnes begitu Laura mengeluarkan makanan yang ia bawa, benar-benar empat sehat lima sempurna akan terpenuhi bagi siapa pun yang hidup dengan gadis itu. “Nggak! Kok bisa lo tiba-tiba nikah sama presdir di kantor elo sendiri! kemana?” tanya Laura terdengar heboh, beberapa minggu memang dia tidak komunikasi dengan Agnes karena kerjaan yang dikejar deadline, dan boom! Tiba-tiba sahabatnya menikah dengan seorang kaya raya, pewaris Tunggal namanya dikenal di seluruh pelosok negeri. “Kemana apanya?” tanya Agnes sedikit tidak mengerti dengan pertanyaan Laura di akhir. “Kemana cinta buta elo sama si Kevin itu?” tanya Laura tanpa segan menyebut masa lalu Agnes, Agnes bahkan sudah lama tidak mengingatnya karena lelaki yang tiba-tiba masuk ke hidupnya dan mengacaukan segalanya, membuat Agnes lupa tentang kisah masa lalunya yang menyakitkan itu. “Jadi bagaimana bisa elo nikah sama si CEO itu? Siapa namanya?” tanya Laura mendesak Agnes yang masih bungkam untuk memberitahunya dari awal. “David!” jawabb Agnes singkat. “Gila! dari namanya aja gue udah duga kalau dia pasti ganteng, mapan, duh!” ucap Laura yang tak sabar, Agnes hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Laura yang selalu antusias jika membicarakan lelaki kaya raya, mapan, sosok yang ia impikan suatu hari datang kepadanya, padahal gadis itu sendiri bukan berasal dari keluarga kaleng-kaleng. Laura menyodorkan dessert pada Agnes untuk mendukung obrolan mereka, Agnes mulai menceritakan dari awal bagaimana David menemuinya dan terus mendesaknya untuk bersedia menikah dengannya. Laura menyimak dengan baik, tentunya dihiasi dengan berbagai mimik wajah, alisnya beberapa kali berubah bentuk, mulutnya komat-kamit sangat ekspresif sekali. “Gila ya, kapan gitu ada cowok kaya raya datang ke gue ngajakin nikah dibayar kayak elo!” ucap Laura mulai berkhayal mendengar cerita sahabatnya, Agnes hanya bisa menepuk pelan mendengar ocehan Laura yang tiada habisnya. “Tapi lo keliatan sedih gitu Nes! Lo harusnya lebih bahagia kapan lagi dapat duit banyak, udah gitu suami tampan, mapan, kaya raya!” tambah Laura menepuk lengan Agnes membuatnya mengaduh pelan, tangan yang kecil dengan sedikit daging itu cukup sakit meski pukulannya terasa pelan. “Lo belum ketemu dia, Ra! Tapi dari tadi gue udah denger elo ngomong dia ganteng berulang kali!” keluh Agnes, itu hanya ucapan di bibir saja. Nyatanya, Laura selalu membuatnya tertawa dengan sikap konyol dan juga celotehnya, meski begitu Laura adalah garda terdepan yang berani mengumpat dan memaki kasar ketika Kevin menyakitinya. “Gue lihat foto nikah elo! Di foto aja ganteng apalagi aslinya!” seru Laura menunjuk sebuah bingkai kecil di nakas samping sofa. Agnes menoleh, matanya membulat sempurna karena tidak menyadari ada benda persegi itu disana. Siapa yang meletakkannya dan kapan? Agnes terlalu pusing dengan hal lain sampai tidak menyadari ada perubahan baru di apartemennya sendiri. Agnes menghabiskan dessert sedangkan Laura sudah mengupas jeruk di tangannya, dia sangat lahap sekali meski masih pagi. Agnes melihat dessert itu, pandangannya seperti menemukan sebuah ketenangan begitu beberapa potong masuk ke dalam mulutnya, membuat suasana hatinya kian membaik, begitu juga pikirannya. Laura selalu tahu apa yang membuat Agnes senang. Suara seseorang menekan tombol smartkey pintu apartemennya terdengar, Agnes tidak terkejut justru gadis itu menghela napas. Berbeda dengan pemilik apartemen, Laura tampak terkejut mengetahui seseorang datang. Setelah menikah, David bahkan meminta kata sandi apartemennya, seolah-olah mereka memang memiliki hubungan dekat, layaknya sepasang kekasih. “Laki lo?” tanya Laura panik buru-buru membereskan semua barang miliknya yang tadi ia susun rapi di meja Agnes. “Santai aja lagi, Ra! Lo mau kemana?” tanya Agnes melihat Laura yang bersikap pergi. “Gue pergi ya! gak enak banget gue jadi obat pengantin baru. Nanti deh gue mampir atau kapan-kapan kalau lo lagi sendiri di apartemen.” Ucap Laura dengan nada bicara yang begitu cepat seperti radio yang kecepatannya dinaikkan. David sedikit terkejut dengan keberadaan Laura, namun dia berusaha tampak biasa saja. Laura hanya tersenyum canggung, David membalasnya. David menatap Laura yang sudah menghilang dibalik pintu yang kembali terkunci. “Kamu masih enggan bekerja?” tanya David yang berdiri di belakangnya, lelaki itu berjalan ke sofa meletakkan beberapa makanan yang ia pesan sebelum ia berangkat ke apartemen Agnes. Dia sempat menghentikan tangannya melihat banyaknya makanan yang ada, namun dia tetap melanjutkan aktivitasnya. Gadis itu tidak bergeming, kakinya perlahan menghampiri David duduk dengan tenang disamping lelaki yang seharusnya kini menjadi salah satu orang yang mengambil alih dalam hidupnya. “Dia temanmu?” tanya David menanyakan Laura, Agnes hanya mengangguk. “Sampai kapan Pak David akan kemari? Aku juga tidak akan bekerja disana lagi! Jadi segera setujui permintaanku untuk pindah departemen saja.” Terang Agnes memilih menyeruput kopi buatannya daripada Hot Americano yang dibelikan David. “Apa kau sedang menggunakan hakmu sebagai istri dari presdir Perusahaan?” tanya David menggoda, tidak ada maksud lain lelaki itu hanya berniat mencairkan suasana. Agnes menghentikan tangannya yang baru saja akan meletakkan kembali cangkir kopinya, dia tidak mengeluarkan sepatah kata hanya lirikan tajam penuh amarah kepada David. “Istri? Istri kontrak? Istri sementara? Istri dengan fungsi?” tanya Agnes dengan tawa hambar di akhir ucapannya. “Rupanya kamu masih marah sama aku Agnes! Setelah pesta pernikahan kita kamu bersikap dingin sampai sekarang.” terang David begitu peka akan perubahan sikap Agnes kepadanya, sikapnya memang hanya sedikit berbeda, lebih dingin dan tak tersentuh sama sekali. Tidak ada kalimat amarah yang meledak-ledak seperti dulu pertama kali David memintanya untuk bersedia menikah dengannya. Hanya sikap dingin yang membuat David merasakan bahwa Agnes Tengah memendam amarah. “Saya tidak marah, Pak David! Kalau tidak ada yang ingin Pak David bicarakan, sebaiknya Pak David kembali ke kantor!” seru Agnes memecah keheningan, dia tidak ingin berlama-lama dengan David. “Nes! Bukankah seharusnya kamu tidak marah? Jika kamu bersikap seperti ini membuatku berpikir kalau kamu memang sudah jatuh hati kepadaku.” Ledek David masih berusaha kutub es yang menghalangi di antara mereka. “Apa kamu sakit?” tanya Agnes menyentuh kening David, gadis itu tidak bisa melupakan jika suaminya bukan manusia yang memiliki akal sehat sepenuhnya. “Disini yang sakit!” jawab David menarik tangan Agnes untuk menyentuh d**a kirinya, detak jantung lelaki itu terasa di tangan mungil Agnes membuatnya segera menarik cepat tangannya, detak jantung itu mampu membuat detak jantungnya kian cepat tidak normal. “Jujur saja saya sedikit tersinggung, kita sudah menikah tapi cara bicaramu seperti berhadapan dengan klienmu.” Terang David membuat Agnes menoleh, raut wajahnya tampak mengejek kalimat yang keluar dari suaminya terdengar manja dibuat-buat. “Saya memang tidak marah pak David! Untuk apa saya marah! Saya juga tidak terkejut sebenarnya mengapa Pak David terus memaksa saya untuk menikah.” jelas Agnes tidak ingin David salah paham dengan sikapnya, dia tidak marah mengetahui fakta bahwa David menikah dengannya hanya agar kekayaan yang diwariskan kepadanya tidak jatuh kepada orang lain. David hanya mengangguk pelan memilih memakan sepotong sandwich milik Agnes bukannya makanan yang ia bawa, Agnes meliriknya sekilas entah mengapa hidupnya dipenuhi dengan manusia-manusia dengan keunikannya masing-masing. “Benar! Kamu realistis!” jawab David seadanya. “Makanya saya meminta anda membeli rumah itu sebagai syarat pernikahan kita. Bukankah kita impas?” tanya Agnes yang hanya anggukan saja, raut wajahnya terlihat serius membuat Agnes mengerutkan keningnya. “Benar! Rasanya aneh kalau kamu justru bersedia menikah dengan saya tanpa sebuah syarat. Bukankah semua wanita akan tergiur dengan cinta yang menguntungkan?” tanya David sinis, Agnes tercengang mendengar ucapan David yang menurutnya tidak nyambung dengan kalimatnya sebelumnya. “Benar bukan! Wanita akan memilih apa yang menguntungkan baginya.” Tambah David mencoba memberikan kalimat yang mudah dimengerti. “Kamu sedang membicarakanku? Atau membicarakan mantan kekasihmu itu?” Tanya Agnes membuat David diam, rahangnya terlihat mengeras, matanya memilih menatap sudut ruangan lain daripada harus kontak mata dengan Agnes. Sepertinya ucapan Agnes tepat sasaran, nyatanya David langsung bungkam mendengar pertanyaan Agnes. Hening, keduanya larut dalam kecanggungan dan pikiran masing-masing. Agnes sedikit merutuki mulutnya yang berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD