Agnes berpakaian dengan stelan kemeja dipadukan dengan celana regular miliknya, kemeja warna biru langit itu sangat cocok dengan gaya rambutnya yang hanya diikat rapi, bak ekor kuda dibiarkan terurai menjuntai kebawah. Pantulan dari cermin memperlihatkan betapa wajahnya terlihat kesal, padahal ini masih pagi hari. Dia memoles wajah cantiknya dengan buru-buru juga asal.
Sebuah pesan dari David benar-benar merusak suasana hatinya di pagi hari, dia tidak memiliki agenda untuk hari ini. namun semuanya berantakan karena suaminya yang selalu memerintah dan seenaknya sendiri.
David Gila : cepatlah Bersiap, Gio sudah dalam perjalanan menjemputmu! Kalau kamu mau mengundurkan diri setidaknya kemasi barangmu di kantor dan berpamitan dengan karyawan yang lain.
Agnes memakai sepatunya dengan cepat, Gio yang masih berdiri di balik pintu apartemen tampak masih sibuk dengan ponselnya dan enggan menekan bel. Mata Gio membulat sempurna begitu pintu terbuka, jantungnya hampir copot karena dia benar-benar terkejut ingin rasanya dia mengumpat namun nyalinya menciut melihat wajah masam Agnes seperti harimau yang siap menerkam.
“Sampai kapan! Sampai kapan David gila itu akan menyuruhku dengan seenaknya!” seloroh Agnes pada Gio yang masih mematung, wanita itu tahu sebenarnya dia tidak patut untuk meluapkan emosinya pada sahabat suaminya, namun emosinya terlanjur menggebu-gebu sampai siapa pun di hadapannya harus menerima amukannya.
“Ayo!” ajak Agnes pada Gio yang hanya tersenyum masam, dalam hatinya ingin mengumpat pada sahabatnya. Ini ulah David namun dia yang harus menjadi pelampiasan amarah wanita di hadapannya itu.
Agnes menarik napas dalam begitu ia akan memasuki kantor, Gio pergi lebih dulu karena dia tidak ingin terlihat bahwa ia datang dengan Agnes. Semua mata kini tertuju pada Agnes yang hanya bisa tersenyum canggung, tak jarang dia mendapati senyuman sinis, meremehkan dan juga dingin kepadanya. Kebanyakan mereka dari para karyawan wanita, siapa lagi jika bukan penggemar suaminya.
“Dia? Istri Pak David!”
“Berita itu benar ya!”
“Setelah bertemu langsung, tidak semenarik ceritanya!”
“Cantik sih!”
Rasanya Agnes ingin melepas kedua telinganya dan meninggalkannya di apartemen saja, telinganya benar-benar panas mendengar bisikan para karyawan yang berpapasan dengannya. Bahkan Agnes merasa pendengarannya berubah sangat sensitive bisa mendengar suara yang pelan dalam radius sepersekian.
“Agnes! Kamu nggak balas pesan satu pun. Sekarang mau beresin meja kerja aja!” Celetuk Eric entah sejak kapan berdiri disamping Agnes yang sibuk mengemasi barang-barang kantornya yang tidak sebanyak yang lainnya, maklum saja Agnes bekerja di Perusahaan David baru beberapa bulan namun sudah dilengserkan karena menjadi istri CEO muda sekarang, harus bersyukur atau menangis Bombay.
“Ceritanya panjang Eric! Sebelumnya terimakasih sudah mengkhawatirkanku.” Ucap Agnes tersenyum hambar, kemudian melanjutkan aktivitasnya. Sesekali melirik ke dalam ruangan presdir, Agnes membeku sejenak karena sejak tadi rupanya David mengawasinya dalam ruangan.
David menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, wajahnya tampak tak suka melihat kedekatan Eric dan Agnes, Gio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang benar-benar seperti lelaki remaja yang masih mengalami masa puber.
“Lo tuh gak berhak bersikap seperti itu, Vid! Lo lupa! Lo cuman manfaatin dia aja! Demi warisan kakek elo!” tegur Gio pada David, lelaki itu langsung menoleh dengan kedua alis yang hampir bertaut, tampak tersinggung dengan sindiran pedas Gio.
“Apa? Gue ngapain? Gue cuman diem aja dari tadi.” Bantah David tidak mau mengakui bahwa ada perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya, terlebih sejak Eric mendekat pada Agnes.
“Tolong panggilkan dia!” suruh David pada Gio yang langsung mendengus, lelaki itu bukan bawahan David jadi wajar jika terkadang enggan menuruti perintah CEO muda itu.
“Gue bukan sekretaris elo!” Hardik Gio tidak peduli pada David yang semakin dibuat kesal.
“Sahila, suruh Agnes datang ke ruangan saya!” ucap David melalui telepon dan meletakkan kembali gagang telepon dengan sedikit kasar sesuai dengan suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Dari kejauhan melihat respon Agnes setelah Sahila menghampirinya membuat David menahan tawa, wanita itu seperti ingin menguburnya hidup-hidup. Namun dia tetap datang ke ruangannya, membuka ruangan seperti ingin menagih hutang seperti rentenir, Gio yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya hanya menunduk menanti apa yang akan terjadi.
“Apa lagi!” Hardik Agnes kesal bukan main, David hanya terkekeh melihat wanita itu menjelma seperti siluman.
“Bukankah seharusnya kamu bertindak sopan! Ini di kantor Agnes dan saya adalah atasanmu.” Ucap David mengingatkan Agnes, alih-alih Agnes tersadar dan akan mengubah sikapnya justru sebaliknya.
“Aku nggak peduli, David! Lagian aku juga bukan karyawanmu sekarang! apa lagi? Kapan kita bercerai? Bukankah warisan sialan itu sudah di tanganmu sekarang?” tanya Agnes tidak peduli masih ada orang lain selain dia dan David.
Gio semakin terperangah mendengar ucapan Agnes yang sudah meminta cerai padahal keduanya baru menikah beberapa minggu yang lalu, hal yang membuatnya semakin menahan napas adalah rupanya Agnes mengetahui perihal warisan Liam sebagai dorongan mengapa David ingin segera menikah dengan Agnes, untuk alasan mengapa harus Agnes hanya David yang mengetahuinya.
“Enak saja! Warisan itu belum di tanganku sepenuhnya, kalau pernikahan kita tidak bertahan dari beberapa bulan, warisan akan hangus!” ucap David membuat Agnes semakin geram, rupanya masalah keluarga kolongmerat semakin memusingkan.
“Kalau sudah selesai, biar Gio mengantarmu!” tambah David melihat Gio yang sejak tadi melihat arloji di tangan kirinya, sepertinya Gio memiliki acara lain selain menjadi sopir sementara untuk istri sahabatnya.
“Ngapain? Gak perlu! Aku tidak lupa jalan pulang! lagian aku bisa naik taksi.” Tolak Agnes mentah-mentah, Gio hanya bisa mengangkat bahunya tidak mau terlibat pertikaian suami dan istri yang seharusnya sedang menikmati masa sebagai pengantin barunya.
“Siapa yang menyuruhmu pulang? biar Gio yang mengantarmu ke rumahku! Aku tidak menyuruhmu kembali ke apartemen.” Bantah David membuat Agnes semakin kesal, lagi dan lagi David memerintahnya dan berbuat semaunya tanpa menanyakan persetujuan darinya.
“Apalagi David? Kenapa harus ke rumahmu? Aku sudah berapa kali mengatakan. Walaupun kita menikah, aku ingin tetap tinggal di apartemenku sendiri.” tolak Agnes, wanita itu kembali mengingat bahwa ini bukan kesepakatan di awal.
“Aku tahu! Tapi kita ada makan malam dengan keluargaku Nes! Aku tidak mau bolak-balik menjemputmu di apartemen yang berlawanan arah dengan rumahku.” Jelas David membuat Agnes menghela napas, menjadi istri David rupanya sangat melelahkan meski tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan melayani suaminya namun harus mengikuti kegiatan David yang rupanya begitu padat itu.
Perjalanan tidak terasa, bahkan Agnes tidak menyadari jika sejak tadi mobil yang dikemudikan Gio sudah berhenti di sebuah rumah megah milik David. Lelaki itu juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun agar Agnes terbangun dari lamunan panjangnya, wanita itu tampak lebih tenang dibandingkan saat di kantor, tepatnya saat berhadapan dengan David.
“Sudah sampai ya!” Ucap Agnes terhenyak dari angan-angan jauhnya, sepersekian detik dia terpaku dengan pemandangan yang ada di depannya. Rumah megah milik David mencuri perhatiannya.
“Kamu tahu kata sandinya kan Nes? Aku harus kembali ke kantor.” Ucap Gio mengantar Agnes sampai pintu depan sambil membantu membawa beberapa barang milik Agnes yang ia bawa dari kantor.
“Terimakasih, Gio!” Ucap Agnes sebelum masuk ke rumah megah itu, Gio mengangguk dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman David.
Agnes seperti manusia yang bangun dari koma, bingung dan terasa asing dengan tempat ia pijak sekarang. dia hanya duduk, di ruang tamu menunggu sang empunya rumah datang padahal mustahil karena David tinggal sendirian di rumah ini tak jarang menyewa jasa untuk melakukan pekerjaan rumah.
David Gila : Naiklah ke lantai 2, kamu bisa istirahat di kamar tamu dekat tangga.
Seakan David bisa melihat dari kejauhan apa yang dilakukan Agnes, pesan itu membuat Agnes merinding. Dia melihat sekitar ruangan dan sudut ruangan barangkali ada CCTV pengawas yang dipasang. Agnes berjalan menuju ruangan yang dimaksud David.
Matanya mengamati setiap design interior yang disajikan, cukup simple namun elegan. Pada dinding tangga, tergantung foto yang cukup besar seorang kakek yang sedang merangkul cucu laki-lakinya, tidak perlu diamati Agnes sudah tahu siapa anak yang berada di foto itu. Selain itu, dinding kosong tidak ada lagi foto tergantung disana, bahkan foto keluarga menandakan David benar-benar ingin lepas dari keluarganya.
Agnes terdiam sejenak, ada dua pintu di dekat tangga dan David tidak menjelaskan lebih spesifik kemana harusnya dia pergi. Wanita itu memilih menghubungi David daripada salah kamar.
“Dia kemana sebenarnya!” decak Agnes kesal pada benda layar pipih itu, David tidak mengangkat teleponnya padahal beberapa menit yang lalu lelaki itu mengirimkannya pesan.
“Terserah, jalan salahkan aku!” ucap Agnes entah pada siapa, dia bergegas masuk salah satu kamar, membuang asa tas selempangnya dan lebih memilih melemparkan tubuhnya ke sofa bukan tempat tidur yang terlihat rapi itu.
Matanya tertuju pada beberapa paper bag yang ada di atas tempat tidur, kakinya tertarik pada benda itu. Sebuah gaun lengkap dengan Sepatu juga tak lupa beberapa aksesoris wanita.
“Apa aku salah kamar? Bukankah ini barang wanita?” tanya Agnes pada dirinya sendiri, setelah mencoba Sepatu higheels yang pas dengan ukuran kakinya, dia meletakkannya kembali. Tidak ingin bertindak jauh, tindakannya sekarang saja bisa dikatakan terlalu lancang untuk seseorang yang baru datang ke sebuah rumah untuk pertama kali.
Agnes kembali ke sofa, matanya melirik sebuah map di atas meja yang baru ia sadari. Sejak tadi, dia sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari ada berkas dokumen di hadapannya. Agnes ragu untuk membukanya namun sebuah tulisan dari spidol di pojok map menarik perhatiannya. Surat kepemilikan rumah bangunan dan yang lebih membuat Agnes tidak bisa berhenti penasaran adalah alamat yang tertera adalah rumah yang ditempati Bibi Hilda sekarang.
Tangan wanita itu sedikit gugup membuka map, dia menarik napas panjang kemudian Matanya membaca dengan seksama dokumen itu, dahinya mengeryit dan tangannya spontan berubah menggenggam kuat map itu. Tertulis sebuah nama kepemilikan baru setelah Agnes meminta David untuk membelinya dari pelelangan.
“Lisa Marcelly.”
To Be Contunue