Tragedi
Suara dentingan pedang berpadu memecah keheningan malam. Suara geraman terdengar bersahutan dari balik kerongkongan para makhluk yang bersembunyi dalam kepekatan malam. Sinar bulan yang biasanya menghiasi langit malam seakan menyembunyikan diri, seolah mengetahui situasi mencekam yang terjadi saat ini. Aroma anyir darah tercium, tanah yang seharusnya mengering kini tergenang oleh air berwarna hitam pekat.
Alvindhar menebas pedang biru pada pria dihadapannya, seketika kepala itu terpisah dari anggota tubuhnya, menggelinding ke arah tumpukan mayat yang tubuhnya sudah tercerai berai. Pedang di tangannya mengalirkan darah hitam pekat milik pria yang baru saja dimusnahkannya. Sepertinya pedang naga biru sedang haus akan darah para makhluk-makhluk immortal. Pedang itu mempunyai ukiran dua naga yang saling melilit hingga kedua kepalanya mencapai simbol bulan sabit dipuncak pedang. Dari punggungnya terbentang sayap berwarna perak yang tampak kokoh layaknya tameng hidup. Sayapnya terlihat selembut sutra saat belaian angin menerpa sepasang sayap miliknya.
Ia masih terpaku melihat sekelilingnya, hingga seorang pria muncul dari kegelapan lalu berjalan menghampiri Alvindhar. Ia berhenti di belakang Alvindhar kemudian berlutut hormat. Kepalanya menunduk menatap tanah basah di bawahnya.
"Panglima, kami menangkap beberapa kaum elf. Apa yang harus kami lakukan?".
Alvindhar membalikkan tubuhnya, menghadap pria bersayap hitam itu. Iris matanya berwarna merah darah, pupilnya melebar, menyorot tajam pria dihadapannya, seolah mampu menguliti siapapun. Kini wajah tampan sang panglima perang berubah layaknya iblis yang tengah haus akan darah. "Bawa dia ke hadapanku!!!", jawabnya mutlak hingga membuat pria dihadapannya menelan air liur.
"Baik, Panglima". kata pria itu. Sayap hitamnya terbentang kemudian perlahan melengkung menutupi tubuhnya hingga ke bagian depan. Tak lama kemudian, kepulan asap hitam muncul dari bawah kakinya, berputar-putar hingga mencapai kepala. Dan detik berikutnya pria tersebut menghilang menyisakan kepulan asap yang menguar ke udara.
Alvindhar menyapukan pandangannya ke sekeliling, ratusan makhluk immortal tergeletak bersimbah darah diatas tanah dan bebatuan. Bangunan-bangunan yang tadinya berdiri kokoh kini telah porak poranda. Ia bisa merasakan bunyi kecipak darah saat ia melangkahkan kaki serta bau anyir darah yang menusuk-nusuk indera penciuman. Semua hal dihadapannya tidak membuatnya puas melainkan marah dengan semua ini. Rahangnya gemeletuk, tangannya menggenggam kuat pedang naga biru. Perlahan pedang naga biru berubah menjadi serbuk berwarna biru yang kemudian menghilang ke dalam urat-urat nadi di pergelangan tangannya. Sayap perak di punggungnya perlahan-lahan menghilang menjadi buliran-buliran serbuk emas yang menari-nari di udara. Lalu menampilkan punggung berotot yang berbalut pakaian kerajaan.
Tiba-tiba dua pria bersayap hitam dan seorang wanita muncul di hadapannya. Kedua pria menyeret wanita itu hingga tubuhnya pontang panting. Wanita itu mengenakan gaun merah dilapisi jubah hitam yang sudah koyak karena sayatan pedang. Rambut panjang indahnya sudah tidak berbentuk lagi. Wajah cantiknya dipenuhi luka dan memar.
"Panglima, dia Ainera Siofra, putri dari Raja Marion sang elf kegelapan. Dia salah satu Moriquendi yang berhasil melarikan diri dari p*********n", ucap salah satu pria bersayap hitam. Kemudian melemparkan wanita itu ke hadapan Alvindhar hingga wanita itu tersungkur tepat di bawah kakinya. Lengannya yang besar dan berotot mencengkram lengan Ainera dengan erat. Serasa ingin meremukkan lengan ringkih itu dengan sekali sentuh. Alvindhar mengamati tubuh Ainera dari atas hingga bawah. Sorot matanya sedingin es dengan tatapan membunuh, membuat siapapun gentar untuk melihatnya.
"Lepaskan aku...!!!" teriak wanita itu. "Mengapa kau membantai klanku ?" teriaknya begitu pongah dan angkuh. Kepalanya terangkat dengan tatapan seolah menantang sang panglima perang. Hanya ini yang bisa ia lakukan, walaupun sebenarnya ia sungguh sangat ketakutan berhadapan dengan panglima tertinggi.
Alvindhar menatap Ainera dengan tatapan membunuh. Auranya yang sedingin gunung es membuat udara di sekitarnya membeku, angin pun terasa dingin dan menusuk. Auranya begitu kuat ketika sang panglima es marah.
"Karena klanmu telah membunuh Ratu kami". Alvindhar mencekik leher sang putri elf kegelapan. Giginya gemeletuk menahan amarah yang semakin ingin meledak.
"Seharusnya kau bersyukur karena Arcadia mengampunimu, setelah apa yang telah leluhurmu lakukan pada Ratu kami." teriak Alvindhar sambil melepaskan cengkramannya hingga gadis itu tersungkur. Alvindhar membalikkan punggungnya memunggungi gadis itu. Tatapannya kosong, pikirannya kembali teringat tentang menghilangnya sang Ratu. Sang Ratu menghilang secara misterius. Tidak ada yang mengetahui dimana Ratu berada saat ini. Dihari penobatan sang Ratu terjadi p*********n yang diduga telah membuat sang Ratu tiada. Tapi sampai saat ini tidak ada yang menemukan tubuh sang Ratu, sehingga keberadaan sang Ratu masih misteri. Seluruh penghuni Arcadia telah menganggap sang Ratu tiada, tapi tidak dengan Alvindhar. Ia tidak akan mempercayainya sebelum ia menemukan tubuh sang Ratu. Baginya sang Ratu tetaplah abadi. Ia akan terus mencari meskipun hingga beratus-ratus tahun lamanya. Hilangnya sang Ratu saat ini menyebabkan kekacauan antar klan dan tidak keseimbangan dunia Arcadia.
Tiba-tiba Ainera tertawa keras hingga suaranya menggema ditengah keheningan malam. "Ah, Putri Cynzia. Wanita yang menolak kakakku mentah-mentah karena kami kaum elf kegelapan!.Dia menganggap kami tidak layak, hanya karena kami bukan bangsa elf murni. Dia pantas mendapatkannya." teriaknya dengan senyum sinis mengejek. Menatap Alvindhar tanpa takut.
"Beraninya kau... wanita iblis!!!"
"Aku akan terus mengatakan, w***********g itu tidak pantas menjadi Ratu. Dengan tidak hormat dia sudah merendahkan klan Moriquendi. Wanita itu pantas mati...!!!"
"KAU...!!!!"
Alvindhar secara tiba-tiba mengeluarkan pedang naga biru dari pergelangan tangannya, serbuk biru mengelilingi pedangnya yang secara perlahan menghilang di udara. Kini, iris matanya berwarna hitam keseluruhan, menunjukkan kemurkaan yang berada di puncak.
Pedang terayun ke leher sang putri elf kegelapan. mata Ainera terbelalak, tubuhnya terhuyung beberapa langkah ke belakang. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Siapapun tahu bagaimana kekuatan pedang naga biru, jangankan elf kecil seperti dirinya bahkan bangsa Titan pun akan hancur lebur jika di tebas dengan pedang itu. Alvindhar tersenyum licik, pupil matanya yang sebelumnya menggelap kembali berubah menjadi merah. "Aragon, Philipus...!!!"
Panggil Alvindhar pada pria bersayap hitam yang berdiri di belakang Ainera. Alvindhar menatap Ainera dengan wajah penuh kepuasan. Sebelah sudut bibirnya terangkat sinis.
"Bawa dia ke Nareus. Aku yakin Arcadia ingin melihat siapa penghianat klan Amarious yang sesungguhnya. Kurung dia di Laestrigon terlebih dahulu. Sepertinya suku kanibal akan menyukai wanita cantik. Kau pasti akan menikmatinya dibandingkan dengan pedang naga biru milikku. Bukan begitu, Putri Ainera Siofra?" Alvindhar tersenyum miring meremehkan. Mata Ainera membola.
"Kau tidak akan berani..."
"Ah... benarkah???" Alvindhar tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu, bagaimana jika Lorien yang merasakan pedang naga biru milikku. Tapi mungkin lebih baik aku menggunakan untuk menyayat Legolas, adik idiotmu yang bersembunyi diruang bawah tanah milikmu." Ainera tercengang, tubuhnya membatu. Tubuhnya semakin gemetar. Bagaimana mungkin Alvindhar bisa mengetahui dimana kakak dan adiknya bersembunyi. Dia masih terpaku.
"Jadi, harus ku mulai dari mana? Haruskah aku memotong tangan kakakmu yang sudah lancang pada Ratu kami ataukah aku sayat kulit adik idiotmu yang selalu kurang ajar itu?"
Mata Ainera terbelalak. Mulutnya terkatup. Bagaimana mungkin pria dihadapannya ini tahu. Padahal dia sudah memantrainya dengan sihir terkuat. Tidak mungkin... batinnya. Menyadari kebingungan Ainera, ia tersenyum sinis.
"Seharusnya kau tau, aku memiliki kelebihan membaca pikiranmu Putri, dan mantra sihirmu bukanlah pengecualian". desisnya meremehkan.
Ainera meronta dari cengkraman Aragon dan Philipus.
"b*****h kau....Darrellyn!!! Jangan coba-coba menyakitinya. Aku bersumpah atas darah klanku, aku membunuh semua orang terdekatmu hingga kau bersimpuh dibawah kaki kami."
Gadis ini meronta-ronta hingga hilang kendali. Alvindhar hanya mendengus menatap datar pria bersayap hitam itu.
"Bawa dia pergi...!!!"
Kedua pengawal membawa Ainera pergi. Tapi tidak dengan Alvindhar, dia masih terpaku menatap satu per satu bangkai makhluk-makhluk immortal dihadapannya ini. Ingatannya terpampang jauh.
"Yang Mulia, dimanakah Anda? Dunia Arcadia membutuhkan Anda. Entah sampai kapan hamba bisa bertahan menghadapi kekacauan ini. Para klan sudah mulai menunjukkan keserakahannya. Sudah tiga ratus tujuh puluh empat tahun Anda pergi."
Alvindhar teringat kembali saat terakhir kali ia bertemu sang Ratu. Saat p*********n, sang Ratu yang belum dinobatkan menyerahkan tanggung jawabnya pada sang panglima.
"Indhar, hanya kau satu-satunya orang yang ku percayai saat ini. Dengar... apapun yang kulakukan saat ini, percayalah... aku melakukannya untuk melindungi Arcadia."
Sang putri mencabut pedang kehidupan miliknya. Ia berlari ke medan perang dan membabat habis para makhluk immortal diluar sana. Sang putri menghalau semua serangan para makhluk. Tak sedikit luka sayatan di tubuh sang putri.
"Yang Mulia...." teriak Alvindhar dengan air mata yang bercucuran melihat sang Putri bersimbah darah demi melindungi klannya. Alvindhar berlari ke arah sang Putri.
"PERGIIII....!!!!!" teriak sang Putri yang merupakan perintah mutlak. Alvindhar terhenti seketika, air mata semakin membanjiri wajahnya. Dengan berat hati ia pun pergi meninggalkan medan perang.