Suara dering ponsel membuat tidur Alfi terusik. Awalnya Alfi ingin mengabaikan, namun suaranya sama sekali tak berhenti. Dengan terpaksa Alfi membuka matanya mencari ponsel yang berbunyi karna itu bukanlah bunyi ponselnya. Setelah dicari, ternyata ponsel milik Prillia yang berada di atas meja itulah yang berbunyi. Alfi menautkan alisnya membaca nama yang sedang menelefonnya. Setelah menimbang-nimbang haruskah ia angkat, akhirnya Alfi memutuskan untuk mengangkatnya. “Eh Prill, lama banget sih lo ngangkatnya. Gak sekolah apa lo? Kemarin lo ke mana? Kok gak jengukin nyokap lo? wah parah lo, masa cuma gara-gara ketemu gue kemarin lo langsung trauma ke sana.” Alfi mengerutkan dahinya mendengar seseorang di seberang telefon berbicara tak ada henti-hentinya. Ternyata lelaki itu lebih menyebalka

