Untuk pertama kalinya dalam hidup Prillia ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Sedari tadi ia selalu saja duduk dengan tak tenang. Apalagi mengingat bagaimana ramainya penonton membuat nyalinya makin kecil. “Santai aja, nikmati,” Prillia merasakan Alfi mengusap pucuk kepalanya menenangkan. “Gak bisa Al, gimana nanti kalau gue lupa lirik? Atau telat masuk, atau..” Alfi menempelkan telunjuknya pada bibir mungil gadis itu. “Musuh terbesar kegugupan itu bukan banyaknya penonton, tapi diri lo sendiri. Anggap nanti cuma ada kita berdua. Kita nyanyi untuk kita berdua,” Alfi menggenggam tangan Prillia yang terasa begitu dingin. Prillia menghela nafas panjang menghalau jauh-jauh rasa kegugupannya. Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal dalam hati Prillia, sampai saat ini ia belum mendapat ka

