“Kapten…jangan lakukan ini padaku.” Aku mencoba memelas. Tapi percuma. Daripada memelas aku malah lebih mirip mendikte. Orang-orang masih memperhatikan kami. Aku hanya bisa mengulas senyum kekecewaan saat ia mempermalukan aku seperti ini. Tan pergi dengan tim 1 nya yang tak tahu apapun itu. Bobby ikut frustrasi di sampingku disusul Irene kekasihku yang juga terlihat canggung. “Ka-kau tidak apa-apa?” Pertanyaannya membuatku gila. Bagaimana aku bisa tidak apa-apa saat pekerjaanku diganggu oleh ketua brengseek itu. Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Mengemis padanya pun tidak aka nada gunanya karena dia sekarang tengah berada di atas angin setelah menerima kenaikan jabatan. Sial! Kalau bukan aku yang menangani kasus mayat di jembatan, dia tidak mungkin bisa membeli mobil baru se

