Part 3

1153 Words
Seperti yang sudah Angelica janjikan pada Ben, kalau dia akan membeli kemeja yang baru untuk pria itu. Saat ini Angelica sedang berada di butik milik Stevany. Kualitas pakaian di butik milik kakak iparnya tidak kalah dengan mereka terkenal . Angelica berjalam menyusuri rak kemeja pria. Dia bingung memilihkan kemeja yang cocok untuk Ben. Setelah berkeliling cukup lama, Angelica menjatuhkan pilihannya pada kemeja berwarna biru muda. Dia juga mengambilkan satu dasi berwarna abu-abu dengan motif garis-garis.  "Oh, apa ini hadiah untuk pacar kamu?" tanya Stevany yang kebetulan berada di balik kasir. Stevany tidak segan untuk membantu karyawannya. Wajah Angelica memerah malu.  "Belum jadi pacar, Kak," kata gadis muda itu menutupi rona merah di pipinya.  "Mau sekalian kakak bordirkan namanya di sini?" tanya Stevany menawarkan, sekalian dia ingin tahu siapa nama pria beruntung yang mendapatkan cinta adik iparnya itu.  "Boleh?"  "Tentu. Ayo ikut ke ruang kerja kakak." Angelica sudah sering datang ke butik ini, tapi dia belum pernah masuk ke dalam ruang kerja kakak iparnya. Angelica sontak membuka mulutnya menyerukan kata 'wow' saat dia memasuki ruang kerja Stevany. Ada tiga manekin yang tengah memakai gaun yang belum jadi, namun bentuk dan modelnya sudah terlihat memukau. Bahan kain tersusun rapi sesuai dengan warna dan jenisnya, di sebuah rak yang tingginya mencapai tiga meter.  "Siapa nama laki-laki beruntung itu, Ca?" tanya Stevany yang sudah siap dengan mesin jahitnya. Angelica menggaruk kepalanya salah tingkah lalu dengan malu-malu dia menyebut nama lelaki penghuni hatinya itu. "Namanya Ben Sadewa." Angelica menyebut nama Ben dengan hati bergetar. Stevany yang sudah bersiap langsung mengehentikan gerakan tangannya.  "Kamu bilang siapa?" tanya Stevany untuk memastikan pendengarannya tidak salah.  "Ben Sadewa," kata Angelica mengulangi. Sontak saja Stevany tertawa mendengar perkataan Angelica.  "Kamu nggak sedang halu, kan, Ca?" tanya Stevany mengurai tawanya. Angelica memajukan bibirnya lalu menggembungkan pipinya melihat reaksi kakak iparnya itu.  "Aku serius, Kak," kata Angelica.  "Kamu tahu dia dari mana, sih?" Stevany kenal dengan Ben, pria yang pernah hampir di jodohkan dengannya dulu.  Wajah Angelica memerah mengingat pertemuan pertamanya dengan Ben.  "Kami bertemu beberapa kali," jawab Angelica.  "Sebaiknya kamu lupakan dia, Ca." Stevany tidak menginginkan Angelica terluka, gadis itu sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.  "Aku tidak akan melakukannya, Kak. Sebaliknya, aku akan mengejar dia sampai aku medapatkannya." Angelica begitu percaya diri kalau Ben bisa dia dapatkan. Stevany melihat Angelica takjub, gadis begitu percaya diri dan pantang menyerah.  "Kalau begitu semoga berhasil. Saranku, kamu harus menyiapkan hatimu dari kemungkinan terburuk." Angelica mengangguk. Stevany kemudian mulai membuatkan nama pada kemeja pikihan Angelica itu.   "Nah, sudah jadi," kata Stevany sembari memberikan kemeja itu ke tangan adik iparnya.  "Terima kasih, Kak," ucap Angelica. Dia melihat bordiran nama Ben di kemeja itu, benang yang di gunakan Stevany berwarna biru muda, satu tingkat lebih cerah dari warna kemeja itu di campur dengan benang berwarna keemasan yang menunjukkan kesan elegan.  "Sama-sama, Ca. Semoga berhasil, iya." *** Semangat Angelica yang menggebu-gebu untuk bertemu dengan Ben, kini langsung padam. Tadinya Angelica ingin memberikan kemeja yang dia beli untuk Ben. Dia menunggu pria itu di depan rumahnya, namun semua itu langsung sirna kala dia melihat Ben bersama seorang wanita baru keluar dari rumah milik Ben. Mereka pergi menggunakan motor besar.  Angelica mengikuti motor yang Ben kendarai, dia semakin kesal ketika wanita itu memeluk pinggang Ben. Mobil Angelica harus berhenti di lampu merah, sementara kedua orang yang di ikutinya itu sudah melaju jauh meninggalkannya. Angelica berdecak kesal, siapa perempuan itu? Apa hubungannya dengan calon suami masa depannya itu? Menilik informasi yang dia ketahui dari Lea, Ben sedang tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun. Lalu kenapa dia mesra dengan wanita itu? Apa mungkin Lea membohonginya? Angelica harus memastikannya.  Gadis muda itu mengambil ponselnya lalu menelepon ke nomor ponsel Lea. Satu kali, tidak di jawab, hingga telepon yang ketiga tetap tidak mendapat jawaban. Angelica misuh-misuh di dalam mobilnya. Tidak ada yang bisa Angelica lakukan lagi sehingga dia memilih pulang ke rumahnya.  Hari berganti, Angelica bangun lebih cepat dari biasanya. Dia ingin bertemu  dengan Lea hari ini untuk memastikan kembali tentang status Ben. Angelica tidak akan berjuang kalau Ben sudah memiliki tambatan hati. Karena hal itu hanya akan sia-sia.  "Sarapan dulu, Ca," kata Cordelia, mamanya saat Angelica ingin pamit ke sekolah.  "Nggak keburu, Ma. Caca akan terlambat." Angelica berbohong, saat ini masih jamm enam pagi. Biasanya dia akan berangkat jam tujuh atau setengah jam lebih cepat.  "Tapi ini masih jam enam, Ca." Cordelia melihat putrinya dengan curiga.  "Caca, ada janji dengan teman, Ma."  "Iya sudah, hati-hati di jalan."  Angelica menaiki mobilnya lalu langsung melajukannya keluar dari garasi. Setengah jam kemudian, Angelica tiba di sekolahnya. Angelica kebetulan bertemu dengan Lea di parkiran. Adik kelasnya itu keluar dari dalam mobil dengan seorang  pria yang memakai seragam sekolah yang berbeda dengan mereka. Sejenak Angelica terpaku melihat laki-laki itu.  "Kak Angel, Hai!" seru Lea lebih dahulu.  "Hai," balas Angelica kelagapan.  "Dia siapa?" tanya laki-laki yang berdiri di sebelah Lea.  "Dia, kakak kelas aku."  "Kak Angel, kenalkan ini Leo, dia kembaran aku." Angelica mengulurkan tangannya mengajak Leo berjabat tangan. "Angelica." "Leo." Leo memandangi Angelica dengan tatapan mengintimidasi. Angelica menarik tanngannya lebih dulu.  "Uhm, Lea. Apa kita bisa bicara sebentar?" Lea mengangguk, dia kemudiak melambaikan tangannya pada Leo.  Kantin sekolah masih sepi, hanya ada mereka dan juga beberapa penjaga kantin yang mempersiapkan jualan mereka.  "Apa yang ingin Kakak tanyakan?" tanya Lea.  "Om Ben, benar masih single?"  "Iya, Uncle Ben masih single," jawab Lea yakin.  "Aku lihat Om Ben naik motor berdua dengan perempuan kemarin. Kamu nggak sedang berbohong, kan?" Lea mengerutkan keningnya, kemudian dia mengeluarkan ponselnya.  "Aku akan memastikannya." Lea menghubungi nomor ponsel Ben.  "Halo."  "Uncle punya pacar?" Tembak Lea langsung tanpa basa-basi. "Enggak, emang kenapa?"  "Lea lihat Uncle naik motor boncengan dengan perempuan kemarin."  "Yang kamu lihat itu Aunty Cintya." Lea mendengus, Uncle nya itu ternyata masih mau di manfaatkan oleh wanita munafik seperti Cintya.  "Lea pikir Uncle sudah punya pacar. Soalnya Uncle udah tua, kasihan nggak ada yang urus."  Ben terdengar berdecak lalu mematikan sambungan telepon lebih dahulu.  "Kakak sudah dengar, kan?" Angelica mengangguk namun, dia penasaran dengan wanita bernama Cintya itu. Apa hubungannya dengan Ben, kalau bukan sepasang kekasih? "Cintya adalah wanita yang bekerja sebagai sekretaris Uncle Ben." Lea menjelaskan meski Angelica tidak bertanya. Gadis itu seoolah mengerti apa yang ada di benak Angelica.  "Aku tidak yakin kalau hubungan mereka hanya dalam pekerjaan," kata Angelica ragu.  "Memang." Lea membenarkan hal itu. Angelica langsung menoleh denga tatapan kecewa. "Uncle Ben mencintai sekretarisnya, hanya saja sekretarisnya itu sudah punya tunangan. Dan dia sering banget melibatkan Uncle Ben dalam permasalahannya.  Jadi kalau Kakak cinta sama Uncle Ben, Kakak harus berjuang, lepaskan dia dari wanita ular seperti Cintya itu," kata Lea menggebu-gebu.  Dia sudah terlalu muak melihat wajah Cintya yang sok polos.  "Jangan ragu, Kak. Aku bisa bantu kakak untuk dengan uncle Ben," kata Lea lagi saat dia melihat keraguan di mata Angelica.  "Baiklah, aku tidak akan berhenti mengejar cinta Om Ben. Aku akan membuat cintanya berpaling padaku." Kepercayaan diri angelica kembali. Dia mendapatkan Lea sebagai pendukungnya dan itu sudah cukup.  Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD