LIMA

3154 Words
"Oke! Berarti acara kemping nya kita undur sampai satu minggu sebelum wisuda ya." Malvin menyampaikan keputusan final dari rapat mereka. Terhitung ada lebih kurang 20 anggota rapat sekaligus panitia dalam acara graduation camp ini. Mereka mengangguk serempak. "Untuk panitia konsumsi, dan perlengkapan tolong dua hari sebelum keberangkatan di periksa lagi, biar gak ada yang tertinggal." Malvin menatap peserta rapat. "Ok vin." Jawab Dimas, selaku ketua dsri panitia konsumsi melingkup panitia perlengkapan. "Ya udah, rapat kita sampai di sini dulu. Dua hari sebelum keberangkatan, kita briefing lagi." Malvin menyudahi rapat sore itu. Satu persatu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan sekre BEM. Malvin melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kiri nya, sudah satu jam dia meninggalkan Zeta di uks bersama dengan Gevan. Ya, dengan Gevan. Pasal nya, Rendra dan Risky ada pratikum di lab kimia. Sementara Pop Girl, entah kemana sejak kejadian di kantin tadi. Dengan langkah lebar Malvin keluar dari sekre BEM, dia benar-benar tidak tenang selama rapat berlangsung. Jika saja rapat hari ini bisa di gantikan mungkin dia akan memilih untuk menemani kekasihnya di uks. Langkah Malvin terhenti saat seseorang tiba-tiba menghalangi langkah nya. Mata dingin nya menyorot ke mata gadis berpakaian super minim ini. Gadis yang sama, yang telah menyelakai gadisnya. Malvin meneliti wajah gadis itu, kedua wajah gadis itu sedikit terlihat merah seperti habis di tampar bolak balik. Dia menyeringai, saat menyadari siapa yang melakukan itu. Pikiran nya tiba-tiba saja terpusat pada ucapan Sabrina tadi di uks. "Berani banget lo muncul di hadapan gue! Masih punya nyali? Setelah lo nyelakain cewek gue?" Malvin bersuara dingin, namun terdengar tajam sarat dengan emosi yang tertahan. "Gue gak sengaja Vin." Malvin menepis kuat tangan gadis itu saat menyentuh lengan nya. "Gak usah bohong lo! Lo pikir gue gak tau hah?!" Gadis itu menggeram. "Bukan gue yang salah, tapi emang cewek lo aja yang lemah. Di senggol dikit aja, udah kesungkur kayak gitu, gimana---arghh." Suara sinis gadis itu berubah menjadi ringisan, saat merasakan Malvin mencengkram kuat dagu nya. Membuat dagu nta seakan remuk seketika. Malvin menyentak dagu itu agar mendekat ke arah nya, rahang nya mengeras. "Sekali lagi lo macem-macem sama cewek gue! Gue akan bikin tangan dan kaki lo putus! Dan satu lagi, sekali lagi lo ngerendahin cewek gue, gue sendiri yang akan nyobek mulut lo in!" "Arghhh---" Malvin menyentak dagu gadis itu hingga terlepas dari cengkraman nya. "Lo harus nya sadar Vin! Cewek penyakitan kayak gitu gak pantes buat lo! Dia cuman bisa nyusahin lo doang!" Tangan Malvin terangkat ke udara, bersiap melayangkan tamparan nya ke pipi gadis itu, sebelum mata nya menangkap sosok seseorang yang berdiri tepat di belakang gadis itu. "Zeta!" Gumam Malvin pelan. Tanpa buang waktu lagi, Malvin langsung saja memghampiri kekasihnya itu. Mata nya masih menatap sorot mata sendu gadisnya itu. Apa Zeta mendengar ucapan gadis sialan itu? "Hey sayang? Kamu ngapain di sini? Gevan mana?" Malvin mengusap lembut sebelah pipi Zeta, tatapan nya berubah lembut. Bukan nya menjawab, mata Zeta justru melirik ke arah gadis berpakaian minim yang hanya bisa menutupi setengah paha nya itu. Mata sendu Zeta bertemu dengan mata tajam gadis itu. "Sayang!" Malvin menangkup wajah Zeta, saat menyadari kemana arah tatapan gadis itu. "Apa pun yang kamu dengar, jangan di pikirin ok!" Malvin menatap dalam ke mata Zeta. "Zi---" rasa takut mulai menghampiri Malvin saat Zeta tidak merespon. "Zi plisss---kam---" "Aku ngerepotin kamu ya?" Damn it Pertanyaan yang paling Malvin tidak ingin dengar dari Zeta. Mata tajam nya melirik ke arah gadis yang masih saja betah di situ. "Ngapain lo masih di situ!" Mendengar geraman tertahan Malvin, membuat gadis itu membalikkan tubuh dan berlalu pergi dengan tangan terkepal. Kini, mata Malvin terpaku pada Zeta yang menunduk di hadapan nya. Dia meraih dagu Zeta, membuat gadis itu agar menatap ke arah nya. "Sayang! Aku gak suka kamu nanya kyak gitu. Kamu gak pernah ngerepotin aku." "Hey! Kamu gak usah mikirin omongan dia atau omongan siapa pun. Kamu cukup dengerin omongan aku! Aku gak mungkin bohongin kamu sayang. Ok, jadi aku mohon jangan pikirin hal yang gak penting." Tegas Malvin dengan suara nya yang terdengar lembut. Dia mengusap puncak kepala gadisnya itu. Malvin menghela nafas nya saat Zeta masih saja diam. Diam nya Zeta benar-benar membuat Malvin takut. "Zi---" dia mengerutkan dahi nya, saat gadisnya itu malah tertawa pelan. "Kamu ngerjain aku?" Zeta secepat kilat mengecup pipi Malvin. "Muka kamu lucu juga ya kalau lagi tegang kayak gitu." kekeh nya. Malvin menghela nafas nya, lalu menatap lekat ke mata Zeta. "Iya-iya aku minta maaf." Zeta meredakan tawa nya. "Jangan marah dong." "Kamu tu ya! Bikin aku takut tau gak!" Malvin mencubit gemas kedua pipi Zeta, membuat gadis itu tertawa pelan. "Iya maaf. Emang segitu takut nya kamu." "ya iya dong. Aku gak mau kamu salah paham cuman karna omongan cewek sialan kayak gitu." "Hust! Apa sih cewek sialan!" Zeta memukul pelan lengan Malvin. "Oke lupain! Sekarang aku mau nanya sama kamu. Kamu ngapain di sini? Sendirian lagi." Malvin menangkup wajah Zeta, mhlai mengintrogasi gadis itu. "Aku ke toilet Vin." "Kenapa sendiri?" "Ck, emang kamu ngizinin kalau aku di temenin ke toilet sama Gevan!" "Ya enggak lah! Gila aja kali." Pekik Malvin tidak suka. "Nah, mangka nya aku pergi sendiri. Lagian cuman ke toilet aja kok. Aku udah gak pusing lagi, udah baik-baik aja." Zeta tersenyum manis kepada Malvin, seraya meletakkan sebelah tangan nya di pipi Malvin. Malvin balas tersenyum, lalu meraih tangan Zeta yang ada di pipi nya, mengecup telapak tangan itu berulang kali. "Aku sayang kamu." Zeta memutar bola mata nya. "Udah tau." Malvin terkekeh lalu merangkul Zeta dengan erat. "Ya udah sekarang kita ambil tas kamu dulu! Habis itu pulang!" Zeta merapatkan diri nya pada Malvin lalu melingkarkan tangan nya di pinggang cowok itu. Membuat Malvin tersenyum, dan sesekali mengecup puncak kepala gadisnya itu. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Malvin melirik ke arah kekasihnya yang sejak tadi diam dan terus menatap keluar jendela. Tidak biasanya Zeta diam sepanjang perjalanan seperti ini. "Kamu kenapa sayang? Mikirin apa hm?" sebelah tangan Malvin beralih mengusap kepala Zeta. Sesekali dia melirik Zeta. "Ada yang ganggu pikiran kamu? Atau masalah tadi? Kan aku---" "Enggak kok Vin. Aku gak mikirin itu." Zeta bersuara untuk pertama kali nya. "Trus apa?" Tangan Malvin masih setia mengusap kepala Zeta. "Vin!" "Ya sayang?" Zeta merubah posisi nya menjadi miring, menghadap ke arah Malvin yang tengah menyetir. "Perasaan aku pernah ngelihat cewek yang sama kamu tadi deh. Tapi dimana ya?" Zeta kembali berusaha mengingat-ingat wajah gadis yang tadi di lihat nya bersama Malvin di koridor. Malvin menepi kan mobil nya, memfokuskan tatapan nya pada Zeta. "Kamu salah lihat kali. Aku aja baru pertama kalu ngelihat dia." Zeta menggeleng pelan. "Enggak. Muka nya familiar gitu loh Vin. Tapi aku lupa dimana?" gumam nya. Malvin meraih kedua tangan Zeta menggenggam tangan gadis itu dengan erat. "Hey! Udah ya gak usah di pikirin! Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, stress karna mikirin hal gak penting." dia menatap lekat ke mata Zeta. "Tapi aku kayak---" "Udah gak ada kayak-kayakan. Aku gak mau kamu mikir macem-macem! Ya sayang!" Malvin mengusap pipi Zeta dengan lembut. Zeta menatap ke manik mata Malvin, dia lalu tersenyum dan mengangguk. Dia lalu memeluk lengan Malvin, dan menyandarkan kepala nya di lengan kekar cowok itu. Malvin tersenyum geli. "Kenapa? Kok mendadak manja gini?" "Emang gak boleh?" Zeta bersuara dengan nada manja nya, membuat Malvin gemas. Dia mengecup gemas bibir gadis itu. "Gemesin banget sih kamu. Ya boleh dong sayang, aku justru senang kamu kayak gini." dia mengelus lembut kepala Zeta, sesekali mengecup nya. Malvin kembali melajukan mobil nya menembus jalanan yang tidak terlalu ramai itu, senyum nya tak pernah pudar saat Zeta terus menyenderkan kepala nya di lengan nya. "Kita makan dulu ya! Ini udah waktu nya kamu makan sayang." Zeta hanya mengangguk. "Mau makan apa?" tanya Malvin, masih memfokuskan tatapan nya pada jalanan. Zeta seketika menegakkan tubuh nya. "Boleh milih?" tanya nya semangat empat lima. Malvin terkekeh. "Boleh sayang. Asal jangan fast food ya. Jatah makan fast food kamu kan untuk bulan ini udah habis." Zeta mengangguk. "Hmm. Kalau aku mau sate, boleh?" "Boleh dong. Kita makan sate di tempat biasa ya." Tangan nya terulur, mengelus pipi Zeta. "Tapi ini hujan loh Vin." Zeta menatap keluar jendela. Malvin yang pikiran nya sejak tadi terpaku pada Zeta, tidak menyadari bahwa jalanan telah di guyur hujan. "Ya udah nanti di bungkus aja, biar makan di rumah." Zeta mengangguk, seraya tersenyum. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ "Gue gak akan pernah biarin hidup lo tenang!" "Sekali pembunuh akan tetap jadi pembunuh!" "Lo udah ngebunuh Dinda!" "Dan sekarang lo bahagia di atas penderitaan banyak orang!!" "Lo pembunuh Zeta!!! LO PEMBUNUHH!! LO UDAH NGEBUNUH TEMEN LO SENDIRI!! DAN SEKARANG LO NGEHANCURIN HIDUP ORANG LAIN!!" Tubuh Zeta berubah bergetar, dalam kondisi mata yang masih tertutup rapat. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh gadis itu. "PEMBUNUHH!! LO PEMBAWA SIAL!! PARASITTT!!" Zeta semakin bergerak gelisah di dalam tidur nya. Suara itu semakin nyata terdengar dan semakin menguasai pikiran nya. "PEMBAWA SIAL!!! PEMBUNUH!! LO PEMBUNUHHH!! ORANG KAYAK LO JUGA HARUS MATI!!" "ENGGGAAK!!" Zeta berteriak histeris di dalam tidur nya, mata gadis itu masih terpejam. Dia terus berteriak, hingga teriakan itu mengundang perhatian Malvin yang tengah berada di lantai bawah. Langsung saja berlari ke kamar gadis itu. "ENGGAKK!! AMPUN!! ENGGAK!!" Zeta terus berteriak dan mengigau di dalam tidur nya. "Zeta!"  Malvin langsung berlari ke arah ranjang tempat gadis itu yang terus mengigau dan berteriak. "ENGGAK!!" Zeta tersentak dari tidur nya dan langsung bangkit terduduk dengan nafas terengah. "Zeta kamu kenapa sayang?" Malvin bertanya khawatir, dia menangkup wajah gadisnya itu yang di penuhi dengan keringat. "Sayang tenang! Kamu kenapa?" Malvin menatap khawatir ke mata gadis itu yang menatap liar sekitar nya. Persis seperti kejadian tiga tahun lalu, di saat Zeta masih di hantui rasa takut kematian Dinda. "Zi---" Brukk... Zeta tiba-tiba saja menubruk tubuh Malvin, memeluk cowok itu begitu erat. Malvin bisa merasakan tubuh Zeta yang terguncang hebat, dia membalas pelukan gadis itu tak kalah erat, mengusap punggung Zeta memberikan sedikit ketenangan pada gadis itu. Detik berikut nya, Malvin merasakan pundak nya basah dan terdengar isak tangis dari Zeta. "Zi---" Malvin mengurai pelukan nya, tapi Zeta semakin mengeratkan pelukan nya. Bahkan tangis gadis itu semakin keras. "Aku takut Vin! Aku takut!" Gadis itu bersuara di tengah isak tangis nya. "Aku takut." "Hust---tenangin diri kamu dulu. Gak ada yang perlu kamu takutin sayang. Ada aku di sini." Malvin mengurai pelukan nya, lalu menangkup dan menghapus air mata gadis itu yang mengalir begitu deras. Zeta masih sesegukan, dan menatap liar sekitar nya. "Zi---" Malvin memfokuskan mata Zeta hanya pada nya. "Sekarang kamu cerita, kamu kenapa? Mimpi apa?" Zeta masih diam, nafas gadis itu masih terengah. Di wajah gadis itu, masih terlihat raut ketakutan. "Ya udah kamu minum dulu! Biar lebih tenang!" Zeta menerima uluran gelas itu dari Malvin, dan meneguk air tersebut sedikit. Setelah merasa Zeta sedikit tenang. Malvin baru bersuara. "Kamu kenapa?" dia menatap lekat ke mata Zeta. Zeta menarik nafas nya perlahan. "Vin ! Vin aku mimpi!" "Iya aku tau. Tapi apa mimpi kamu? Kamu mimpi apa sayang?" Zeta memejamkan mata nya, bayang-bayang seseorang dalam mimpi nya itu hadir kembali memenuhi pikiran nya. Orang itu tidak terlihat jelas, karna di tutupi oleh cahaya putih. Namun, apa yang di ucapkan orang itu dapat di dengar sangat jelas oleh Zeta. "Zi---" Zeta tersentak saat Malvin menyentuh wajah nya. Sebelah tangan cowok itu menggenggam erat tangan nya. "Aku mimpi. Aku di bilang pembunuh, aku di bilang orang yang ngebunuh Dinda. Trus aku di bilang parasit, pembunuh, pembawa sial, aku---" Malvin menarik Zeta ke dalam pelukannya, saat suara gadis itu berubah cepat dan sarat akan ketakutan dan di iringi air mata yang mengalir deras. Bahkan tubuh Zeta kembali bergetar hebat. "Aku---aku takut Vin." suara Zeta terdengar bergetar. Malvin mengengguk, dan mengecup kepala Zeta berulang kali. Memberikan ketenangan pada gadisnya itu. "Iya! Aku tau, sekarang kamu tenang, gak ada yang perlu kamu takutin! Aku di sini! Itu cuman mimpi sayang." "Ok sayang, itu cuman mimpi,  gak usah di pikiran ya. Sekarang kamu tidur lagi." Malvin membaringkan tubuh Zeta kembali. Gadis itu masih menatap liar sekitar nya, hal itu membuat Malvin semakin di rundung rasa takut, takut jika trauma Zeta kembali kambuh. "Zi! Sayang! Gak usah di pikirin ya." Malvin mengusap puncak kepala Zeta. Sebelah tangan nya di genggam begitu erat oleh Zeta. "Aku temenin kamu sampai tidur ya." Malvin mengecup dahi Zeta, lalu memposisikan diri nya berbaring di samping gadis itu. Zeta langsung saja memeluk Malvin dan menenggelamkan wajah nya di d**a bidang cowok itu. Malvin mengelus punggung Zeat dengan ritme pelan. Tak lama, dia merasakan nafas gadis itu kembali teratur. Sementara pikiran Malvin melayang pada kejadian tadi. Perasaan takut akan penyakit Zeta membuat nya gelisah, tiga tahun yang lalu Zeta memang di nyatakan sembuh dari Post Traumatic Stress Disorder yang di derita nya. Tapi, tidak menutup kemungkinan teraumanya itu kembali, jika peristiwa kematian Dinda kembali mendominasi pikiran gadis itu. Yang menjadi pertanyaan Malvin sekarang. Apa pemicu dari muncul nya kembali mimpi buruk itu? Karna selama tiga tahun ini, gadis itu tidak pernah lagi mengalami mimpi buruk apalagi sampai berteriak hsiteris. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Keempat anggota Pop Girl saling pandang satu sama lain. Lalu menatap ke arah Zeta yang tengah asyik memakan mie rebus yang di pesan nya di kantin kampus tadi. "Zi! Lo kayak gak pernah makan mie instan tau gak?" Vinny bersuara dengan nada heran, membuat Alya dan Lisa terkekeh geli. "ck, ya elah Vin. Emang gak pernah lagi, semenjak jadi permaisuri nya hati Malvin." Timpal Lisa seraya meminum jus mangga milik nya. "Sumpah gue udah lama banget gak makan mie. Setahun cuman sekali tau gak semenjak sama Malvin." Zeta bersuara, dengan mulut yang terus mengunyah mie. "Tapi ni kalau Malvin tau habis lo!" Ucap Alya. Zeta merespon cuek, dia mengangkat kedua bahu nya tidak peduli. "Malvin gak ada di sini. Kalau lo semua gak ngasih tau, dia juga gak bakal tau." Sabrina menghela nafas nya, lalu menaikkan lengan kemeja nya hingga sebatas siku. "Emang Malvin kemana?" Tanya nya. "Kunjungan tempat buat kemping minggu depan." Jawab Zeta tanpa menatap ke arah Sabrina. Sabrina mengangguk. "Jadi Malvin gak ada di sini ya? Mangka nya lo bebas kayak gini. Kalau Malvin tau gimana?" dia menaikkan sebelah alis nya. Zeta menghentikan makan nya. "Ck, gak bakal tau, lagian kenapa sih, sehari doang gue bebas emang gak boleh? Lagian Malvin juga lama, kata nya bakal sampai sore." "Seneng dong lo?" Tanya Vinny kali ini. "Ya seneng lah. Gue bisa bebas ngapain aja, makan apa aja. Gak di larang ini itu." Balas Zeta santai. Sabrina mengangguk. Tanpa Zeta sadar keempat teman nya saling lirik dengan mengulum senyum geli. "Lo semua kenapa?" akhir nya Zeta bertanya heran. Sabrina berdehem pelan. "Vin! Lo denger kan? Dia seneng kalau gak ada elo?" Ucapan Sabrina mengundang kekehan yang lain nya. Sementara Zeta membulatkan mata nya, tangan nya yang tadi memegang sendok mie di letakkan nya perlahan. "O gitu? Bagus ya, belum 24 jam di tinggalin udah ngelanggar banyak peraturan!" Suara dingin itu membuat tubuh Zeta tegang seketika, dengan perlahan dia memutar kepala nya ke belakang. Benar saja, Malvin berdiri bersidekap d**a dengan tatapan yang menusuk ke arah nya. Rendra, Risky, dan Gevan yang ada di samping Malvin hanya terkekeh melihat ekspresi kaget Zeta. "Seneng sagang?" "Aduh mampus gue." Gumam Zeta pelan. Dia lalu menampilkan cengiran nya pada Malvin. "Eh kamu. Cepet banget balik nya." lirih nya. Tanpa buang waktu lagi, Zeta dengan cepat beelari keluar kantin. Sebelum, Malvin mengamuk kepada nya. "ZETAAA!!" Teriakan Malvin menggema di penjuru kantin. Mengundang tatapan penghuni kantin, sementara PopGirl dan Gevan cs tertawa. Terlebih saat Malvin berlari mengejar Zeta. Zeta terus berlari dengan cepat di koridor lantai satu kampus nya itu, di iringi dengan suara teriakan Malvin yang terdengar begitu jelas. Zeta semakin kewalahan saat melihat jarak Malvin dengan nya cukup dekat. "ZETA STOOPP!! AKU BILANG BERHENTI DI SITU!!" Teriak Malvin, tidak memerdulikan tatapan semua pasang mata di koridor itu. "GAK MAU!! NANTI KAMU MARAH!!" Balas Zeta berteriak. "ZETA STOP!! AKU GAK MARAH!! STOP SEKARANG!!" "GAK MAU!!" Zeta semakin mempercepat laju kaki nya, dengan sembarang arah dia menaiki lantai dua kampus, mata nya menyorot semya pintu ruangan yang ada. Hingga sebuah pintu terlihat terbuka, itu adalah pintu perpustakaan. Tanpa buang waktu, Zeta berlari masuk ke dalam sana. Zeta mengatur nafas nya saat berada di dalam perpustakaan itu. Dia menginjit untuk melihat keluar jendela. "Hufftt---untung gue selamat dari amukan Malvin. Duh, bisa-bisa habis gue sama Malvin." gumam Zeta seraya menghela nafas lega nya. Zeta berjalan mundur dan masih memantau kondisi di luar perpustakaan. Sampai akhir nya.... Brukkk... "Awww!!" Zeta menabrak sesuatu yang keras hingga tubuh nya tersungkur ke belakang. Untuk sepersekian detik Zeta tidak merasakan tubuh nya menyentuh lantai keramik yang keras itu. Melainkan, merasakan punggung nya menempel pada sesuatu yang terasa hangat dan tak kalah keras dengan dinding sebenanrnya. Zeta tersentak saat menyadari tangan seseorang melingkari perut nya dari belakang. Dengan gerakan perlahan dia memutar tubuh nya, dia terdiam menatap wajah yang kini begitu dekat dengan nya. Posisi nya sekarang persis berada di atas d**a bidang seseorang, dengan tangan kekar milik cowok itu melingkari pinggang nya. Tatapan Zeta bertemu cukup lama dengan pemilik mata tenang itu. "Lo gak papa?" Hingga akhir nya Zeta tersadar saat cowok itu bersuara. Zeta baru saja akan bangkit saat tiba-tiba tangan nya di tarik begitu kuat oleh seseorang, sampai dia tersentak berdiri. Zeta menoleh ke pemilik tangan itu, dia seketika terkejut melihat siapa yang kini mencengkram kuat tangan nya. Dia menelan saliva nya susah payah, saat melihat rahang Malvin yang mengeras terpampang jelas di hadapan nya. "Mal--vin!" cicit Zeta. "Ini---ini cuman---awww!" Zeta meringis saat merasakan sakit karna tangan yang di cengkram oleh Malvin. Mata Malvin sejak tadi menatap tajam ke arah cowok itu. Zeta dapat melihat pancaran kemarahan di mata kekasih nya itu, dia lalu melirik ke arah cowok yang tadi di tabrak nya, juga sama menatap tajam ke arah Malvin, namun terlihat lebih tenang. "Lo nyakitin dia sob?" Cowok itu bersuara dingin, melirik ke arah Zeta yang meringis dalam cengkraman tangan Malvin. "Gak usah ikut campur lo!" desis Malvin dan menarik Zeta keluar perpustakaan. Zeta tersentak saat merasakan tangan nya yang lain ikut di tahan oleh cowok itu. "Sorry! Gue cuman mastiin dia baik-baik aja." Tangan Malvin terkepal, tanpa sadar cengkraman nya akan pergelengan tangan Zeta juga ikut mengerat. Dia menggeram tertahan, lalu dengan sekali layangan kaki dia menendang perut cowok itu. "MALVIN!!" Zeta seketika terpekik histeris. Untung perpustakaan itu sepi pengunjung, hanya ada mereka bertiga saja. "Itu balasan karna lo berani nyentuh dia!" Geram Malvin dengan gugi bergemelatuk. Zeta hanya pasrah saat dia di tarik keluar oleh Malvin. Menyiapkan mental akan di amuk Malvin kali ini, dia sudah tidak bisa lari lagi. Sementara cowok itu meringis memegangi perut nya. Menatap punggung Malvin dan Zeta yang berlalu dan menghilang di balik pintu. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD