ENAM

2064 Words
"Zeta sama Malvin mana sih? Kok gak balik-balik daritadi?" Rendra bersuara, saat orang yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi tak kunjung datang. "Jangan-jangan Malvin ngamuk beneran lagi." Lisa bersuara khawatir. "Ck, tenang aja, semarah-marah nya Malvin dia gak bakal bisa marah beneran ke Zeta." Gevan bersuara dsn di anggukan oleh Risky. "Sotoy banget lo jadi orang! Kayak yang paling tau banget." Suara Sabrina itu membuat semua penghuni meja menatap ke arah gadis yang tengah sibuk mengotak atik ponsel nya itu. Gevan mendesah. "Kenapa sih lo? Nyamber aja kayak petasan." ujar nya tak suka. "Lagian salah lo juga, ngapain biarin Zeta makan mie? Lo kan tau dia gak dibolehin makan mie, sama gak bisa makan mie." Sabrina mematikan ponsel nya, lalu menatap dingin penuh intimidasi pada Gevan. "Enak banget kayak nya mulut lo ngomong! Lo nyalahin gue?! Di saat semua orang banyak di sini?! Ngapain lo cuman nyalahin gue?!" "Ya udah sih biasa aja! Kenapa lo jadi ngegas!" balas Gevan tak kalah sewot. "lo---" "udah elah! Apaan sih kok jadi kalian yang berantem!" Alya bersuara menghentikan suara Sabrina yang tadi siap membalas Gevan. "Tauk! Hobi banget lo berdua berantem. Gak dimana-mana berantem mulu!" tambah Risky. "Gaya pedekate." Vinny bersuara dingin, dengan pandangan yang di arahkan ke arah lain. "Gak usah bacot Vin." Desis Sabrina datar. Membuat Vinny menghela nafas nya, tanpa bersuara lagi. Lisa terkekeh pelan, mata nya tanpa sadar melirik ke arah pintu kantin. Dia seketika menajamkan penglihatan nya, saat mata nya menangkap seseorang yang tengah berdiri di sana dengan pandangan yang tampak celingak celinguk mencari seseorang. "Kenapa lo Lis?" Alya menyenggol Lisa dan mengikuti arah pandang teman nya itu. "itu! Mahasiswi baru?" Lisa bertanya dengan telunjuk nya yang terarah pada cewek berpakaian ketat yang berdiri di ambang pintu kantin itu. Semua mata mengarah ke arah telunjuk Lisa. "Kabar nya sih iya. Anak kedokteran." Rendra menjawab. Dia menatap Lisa. "Kenapa emang?" Lisa tampak berpikir sejenak, dia seakan familiar dengan wajah cewek itu. Seperti pernah melihat di suatu tempat. Tapi dia tidak ingat dimana dan kapan tepat nya. "Gue! Gue rasa nya pernah lihat tu cewek deh." Gumam nya, melirik semua penghuni meja dengan wajah bingung nya. "Dimana?" Vinny menyahut. Lisa menggeleng pelan. "Gak tau, tapi muka tu cewek familiar sih buat gue. Cuman gue gak inget ketemu dimana dan kapan nya." Jawab Lisa, masih berudaha mengingat wajah cewek tersebut. Sabrina melirik ke arah pintu kantin itu. Dia mengangkat sebelah alisnya. Cewek yang dimaksud Lisa itu adalah cewek yang sama yang kemarin menyelakai Zeta. Dan cewek yang juga mendapatkan tamparan maut dua kali lipat dari nya. "Salah lihat kali!" Respon Gevan. "Gue aja pertama kali ngelihat tu cewek di sini." "Iya. Gue aja yang jurusan kedokteran baru kemarin ngelihat dia." Tambah Alya. "Nama nya siapa?" tanya Risky. "Dia orang yang sama yang nyelakain Zeta kemarin kan?" "O jadi dia yang nyelakain Zeta?" Lisa bertanya tidak percaya. "Kemungkinan Lis." Jawab Alya. "Nama nya kalau gak salah. Valencia, apa gitu nama nya. Gue juga lupa. Yang jelas panggilan dia Valen." Lisa mendesah pelan, lalu mengangguk samar. Tapi, pikiran nya masih terpusat kepada cewek tersebut, mata nya melirik kembali ke ambang pintu tersebut. Dia tersentak saat mata nya bertemu pandang dengan cewek itu. Tatapan cewek itu terlihat dingin, yang terkesan misterius untuk Lisa. Lisa tidak salah, dia pernah melihat mata itu. Tapi dimana? Tapi yang jelas, perasaan Lisa tidak karuan saat bersitatap dengan mata gadis iru. Seperti ada sesautu yang mengganjal di sana. Sesuatu yang tidak bisa Lisa jelaskan. Sementara itu... ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Zeta tersentak saat tiba-tiba Malvin melepaskan cengkraman nya di tangan nya. Dia meringis saat merasakan perih di sekitar pergelangan tangan nya yang baru saja menjadi korban tangan kekar milik Malvin. Rasa sakit di tangan nya seketika lenyap, saat melihat ke arah Malvin. Cowok itu masih di selubungi emosi yang memuncak, terlihat jelas dari rahang nya yang mengeras dan tangan nya yang terkepal. Malvin marah? Pasti jawaban nya. Zeta baru saja akan meraih tangan Malvin saat cowok itu tiba-tiba saja memukul dinding rooftop, membuat nya tersentak dan melangkah mundur. "Vin---" Zeta bergumam lirih, mata nya mulai memanas menatap ke arah Malvin yang tampak mengatur nafas nya yang terengah. Mata tajam dan berkilat marah milik Malvin menyorot ke arah Zeta. Membuat tubuh gadis itu bergetar seketika. "Malvin!" Pekik Zeta saat tiba-tiba Malvin mendorong nya hingga membentur dinding rooftop. Zeta memejamkan mata nya saat merasakan cengkraman begitu kuat di pundak nya. "Kenapa kamu bisa ketemu sama dia?" Malvin bersuara tajam, setejam tatapan cowok itu. "JAWAB!!" Zeta tersentak. "A--aku, aku---aku gak sengaja ketemu dia Vin. Tadi aku---aku ngumpet dari kamu, trus nabrak dia, trus---" nafas Zeta tersendat, suara nya terdengar bergetar. Bughh... Zeta terperanjat, saat Malvin memukul dinding di samping nya. Dia menatap punggung cowok itu yang naik turun. Sebelum akhir nya dia merapatkan diri ke dinding, saat Malvin berbalik dan menatap tajam ke arah nya. "Sekali lagi aku lihat kamu sama dia! Apalagi sampai bersentuhan, aku gak akan segan-segan untuk----" Suara Malvin seketika terhenti, tangan nya yang tadi menunjuk ke arah wajah Zeta perlahan mulai turun. Saat dia melihat tubuh gadisnya bergetar ketakutan dan wajah yang di tundukkan dan tubuh yang di rapatkan ke dinding. Belum lagi, dia mendengar isakan dari gadis itu. Malvin lepas kontrol. Dia mengusap gusar wajah nya, dan menghela nafas nya kasar. Lalu merengkuh tubuh bergetar Zeta ke dalam pelukan nya. Tangis gadis itu seketika pecah, Malvin memejamkan mata nya dan mengeratkan pelukan nya pada tubuh mungil gadis tersebut. "Maaf---maafin aku sayang. Maafin aku yang udah bikin kamu takut. Aku---aku cuman emosi." Bisik Malvin, dan mengecup puncak kepala Zeta. Malvin tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja emosi nya tidak terkontrol saat melihat Zeta bersama dengan cowok itu. Cowok yang entah sejak kapan satu kampus dengan nya. Darah Malvin tiba-tiba saja mendidih saat melihat adegan yang terpampang jelas di mata nya tadi. Dimana Zeta berada dalam pelukan cowok itu, jika saja orang nya bukan cowok itu, mungkin Malvin tidak akan semarah sekarang. Malvin mengurai pelukan nya pada Zeta. Lalu menangkup wajah gadis itu yang dipenuhi dengan air mata. "Maafin aku ya! Aku gak bermaksud marah-marah sama kamu." Zeta mengangguk samar, lalu merasakan kecupan singkat Malvin di dahi nya. Malvin menggiring Zeta untuk duduk di lantai rooftop itu, dengan kaki yang terjuntai ke bawah. Dia membelai rambut Zeta dan menyampirkan nya ke belakang telinga. Zeta melirik Malvin yang tidak berbicara apa-apa. "Kamu---kamu masih marah?" Tanya nya pelan. Malvin menghela nafas nya. "Masih. Kamu gak niat jelasin ke aku?" Zeta menoleh kepada Malvin, dengan masih membiarkan cowok itu membelai rambut nya. "Vin---" "hmmm." "Aku minta maaf. Aku gak kenal sama cowok yang tadi. Itu cuman kecelakaan, tadi aku mau ngumpet dari kamu. Trus gak sengaja nabrak dia, ya udah jadi nya kayak gitu." Zeta mulai menjelaskan dengan suara pelan nya. Malvin masih diam, menunggu gadisnya itu kembali bersuara. "Trus! Trus masalah mie---hmm." Zeta melirik takut-takut ke arah Malvin. "Aku---aku minta maaf. Habis nya, aku pengen banget makan mie tadi, ya udah---" "Kebetulan aku gak ada, jadi makan aja. Gitu? Kan bebas, iya kan?" Zeta semakin memasang wajah penuh penyesslan nya. Dia menunduk dalam diam. "Kamu kan emang susah di atur. Motto kamu kan peraturan itu untuk di langgar,bukan untuk di patuhi." Malvin bersuara dingin. "Vin---" "Tapi ntar kalau udah sakit, baru sadar. Habis itu di ulangin lagi." Zeta menekuk wajah nya. Tidak bersuara lagi. "Aku harus ngomong kayak gimana lagi sama kamu? Pake cara apa lagi gitu? Kayak nya susah banget buat kamu patuh gitu. Gak tau lagi aku harus kayak gimana sama kamu." Malvin menghela nafas beratnya. "Vin---" Zeta meraih lengan Malvin. "Aku minta maaf. Aku janji gak akan ngelanggar lagi." Zeta bersuara mata nya menatap Malvin yang mengalihkan tatapan dari nya. "Vin---" Suara Zeta terdengar serak, saat Malvin tidak merespon nya, bahkan tidak menatap ke arah nya. "Malvin! Jangan diemin aku dong." Tangis gadis itu kembali pecah. "Vin aku minta maaf." Zeta memeluk Malvin, mengenggelamkan wajah nya di dalam d**a bidang kekasih nya itu. Malvin memejamkan mata nya. Lagi-lagi tangis Zeta menjadi kelemahan nya. Mau semarah apa pun dia, nyata nya dia sendiri lah yang tidak bisa mendiamkan Zeta dalam waktu yang lama. "Sayang! Hey! Iya aku maafin. Jangan nangis lagi dong, aku gak marah kok." Malvin menghapus air mata Zeta. Lalu menatap hangat ke mata gadis itu. "Maafin aku." "Iya aku maafin. Udah ya, jangan nangis lagi. Tapi kamu mau janji satu hal gak sama aku?" Zeta menghapus air mata nya. "Apa?" Malvin mengusap rambut Zeta. "Jangan pernah dekat dengan cowok yang kamu temui di perpustakaan tadi!" Zeta terdiam sesaat. Mata Malvin terlihat menyorot seirus ke arah nya. Dan nada suara Malvin terdengar begitu tak terbantahkan. Dia hanya mengangguk tanpa banyak tanya. "Good girl." Malvin mengecup dahi Zeta cukup lama, sementara Zeta sibuk dengan pikiran nya sendiri. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Zeta baru saja membersihkan tubuh nya, dia lalu menyampirkan handuk pengering rambut nya ke sandaran kursi. Lalu mematut diri di cermin. Dia melirik jam dinding, sudah pukul 7 malam, tapi Malvin belum juga pulang. Ya, Malvin tadi ada rapat dadakan di sekre BEM, dan seperti nya rapat itu belum selesai. Pasal nya, sampai jam sekarang Malvin belum pulang. "Malvin mana sih kok belum pulang juga." Zeta bergumam seorang diri, lalu melangkah kan kaki nya menuju pintu kamar berniat untuk keluar. Namun, langakah Zeta tiba-tiba saja terhenti saat merasakan sakit yang luar biasa di d**a kiri nya. Tangan nya terangkat dan menyentuh d**a kiri nya, semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi-jadi membuat keseimbangan tubuh Zeta hilang. Gadis itu, menahan tubuh nya di tembok kamar. Semakin lama, pandangan Zeta semakin mengabur dan berkunang-kunang. Dia tidak bisa melihat benda di sekitar nya dengan jelas. Brukk... Zeta seketika ambruk di lantai, setelah tangan nya menyenggol beberapa barang di atas meja. Gadis itu meringkuk di lantai, guna mengurangi rasa sakit di d**a nya. Zeta menggigit bibir bawah nya, rasa sakit itu semkain menjadi-jadi. Samar-samar dia mendengar ketukan pintu dan panggilan nama nya. "Zi! Zeta ssyang, kamu di dalam kan? Keluar yuk! Makan dulu." Itu suara Malvin. Suara Zeta tersendat di tenggorokan rasa sakit yang begitu luar biasa di rasakan nya. Nafas Zeta terengah dan memaksa agar mata nya tidak tertutup. "Ya tuhan! Sakit!!" Zeta meringis hebat dan memukul lantai berulang kali, saat sakit itu tidak tertahan. "Zeta! Kamu di dalam kan? Lagi ngapain sih?" Ketokan dan panggilan itu terus terdengar. Sementara itu, Zeta dengan susah payah dan menahan sakit nya menjawab. "I---iya Vin. Aku---aku nanti keluar." Ujar nya terputus-putu. "Kamu baik-baik aja kan?" Suara Malvin mulai terdengar khawatir, sejak tadi Zeta tak kunjung juga keluar. "Bi!" "Iya den." Bia Ira yang tengah menyiapkan makanan menyahut. "Daritadi Zeta gak keluar?" Tanya nya. "Tadi kata non Zeta mau mandi trus gak keluar lagi." Jawab Bi Ira. "Bibi juga gak tau non Zeta ngapain di kamar." Rasa khawatir mulai melingkupi Malvin. Tidak biasa nya Zeta seperti ini, biasa nya dia hanya sekali panggil dan Zeta akan langsung turun ke bawah. Malvin baru saja akn kembali menaiki tangga dan memanggil Zeta. Namun, langkah nya terhenti saat melihat gadisnya itu berjalan menuruni tangga. "Kamu ngapain sih di dalam? Aku panggilin dari tadi." Malvin langsung saja bertanya, menatap lekat ke arah Zeta. Zeta tersenyum tipis. "Maaf Vin, tadi aku di kamar mandi." Jawab nya menyembunyikan kegugupan, dan sisa rasa sakit di d**a nya. Malvin menatap Zeta dengan lekat memperhatikan wajah kekasih nya itu. "Kamu baik-baik aja kan?" Tanya nya pelan. Zeta melirik Malvin, lalu terkekeh pelan dan berjalan ke meja makan. "Emang aku kenapa? Aku kan di apartemen dari tadi. Pertanyaan kamu ada-ada aja." Malvin tersenyum. "Kan aku khawatir sama kamu." Dia lalu mengelus puncak kepala gadis itu. Zeta balas tersenyum hangat ke arah Malvin. "Vin, kita makan di luar yuk! Aku bosen makan di rumah terus." "Kamu mau makan apa?" Malvin membai rambut Zeta dengan sesekali mengecup nya. "Apa aja deh yang boleh sama kamu." Malvin terkekeh, lalu melepaskan jaket nya dan memakaikan nya pada Zeta. "Ya udah, kita makan di luar." Zeta memekik girang, dan mengecup lembut pipi Malvin. Membuat kekasih nya itu terkekeh pelan. Sementara Bi Ira yang melihat itu ikut tersenyum. Ya, Bi Ira memang sengaja di bawa Malvin ke Jakarta untuk menemani Zeta di apartemen jika dia ada rapat di kampus dan Pop Girl juga tidak bisa menemani. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD