"Kamu tunggu sini ya, biar aku bayar dulu!"
Zeta mengangguk, lalu menatap punggung Malvin yang berlalu menuju penjual nasi goreng di pinggiran taman kota itu.
Setelah berkeliling di taman kota itu, pilihan mereka akhir nya jatuh pada nasi goreng langganan mereka jika ke taman. Zeta melirik jam tangan nya, sudah pukul 8 malam. Karena merasa bosan duduk di dalam mobil, dia akhir nya turun dan menikmati semilir angin malam yang cukup kencang itu.
Zeta menyandarkan tubuh nya di bemper mobil, menatap ke taman yang hanya di terangi oleh lampu-lampu jalan tersebut.
Zeta menatap Malvin yang tampak di kejahuan tengah mengangkat telfon. Dia mendesah pelan, Lalu menghampiri kekasih nya itu.
"Vin aku ke toilet bentar ya." Izin nya.
Malvin menjauhkan ponsel nya dari telinga. "aku temenin?"
"Gak usah aku sendiri aja"
Malvin mengangguk, dan mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
Setelah mendapatkan izin dari Malvin, Zeta bernajak masuk ke dalam salah satu cafe yang ada di sana. Baru satu langkah kaki nya memasuki pintu cafe itu, dia merasakan tubuh nya menabrak seseorang.
"Duh, doyan banget sih gue nabrak orang sekarang." Gumam Zeta seorang diri, seraya mengangkat kepala nya. "Sorry! Gue gak sengaja."
"Ya gak pa---"
"Elo!"
Ucapan Zeta membuat cowok yang barusan di tabrak nya itu mengangkat kepala. Cowok itu seketika terkekeh. "Udah dua kali ya kita tabrakan kayak gini."
Zeta tidak merespon, mata nya terus saja menyorot pada cowok itu.
"Oya, kita satu kampus tapi gak saling kenal. Kenalin gue Abbyoga Permana. Lo bisa panggil gue Yoga." Cowok itu memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan nya pada Zeta.
Zeta masih diam dengan pandangan kali ini menatap ke arah tangan cowok itu. Dia mendesah pelan. "Gue Zeta." balas nya tanpa menjabat tangan cowok itu.
Yoga menaikkan sebelah alis nya, lalu tersenyum tipis dan menarik kembali tangan nya. "Oh anak bisnis?"
"Kok lo tau?" Suara Zeta masih sedingin tadi. Gadis itu akan menjelma menjadi gadis super dingin jika berhadapan dengan orang asing.
"Siapa sih yang gak tau elo. Pacar ketua bem." kekeh Yoga.
Zeta tidak merespon lagi, dia memutar tubuh nya bersiap akan pergi jika saja tubuh nya tidak kembali menabrak orang. Dia meringis saat jidat nya membentur tubuh kekar seseorang.
Zeta tersentak saat wangi parfum itu begitu di kenali nya. Dia mendongak, dan mendapati wajah Malvin tepat di depan nya.
"Malvin!" Gumam Zeta pelan, nyaris tidak terdengar.
Malvin mengusap puncak kepala Zeta, namun mata nya menyorot ke arah Yoga. Sorotan mata yang begitu dingin dan penuh intimidasi.
Dua kali, Malvin bertemu dengan cowok bernama Yoga itu. Dua kali juga Zeta melihat tatapan Malvin yang tidak biasa.
"Vin---"
Tanpa berkata apa-apa, Malvin menarik tangan Zeta menjauh dari Yoga.
"Kamu tadi ngomong ke toilet, mau ketemu dia?"
Malvin melepaskan tarikan nya di tangan Zeta, saat berada di tengah-tengah taman. Suara dan wajah nya sama dingin nya.
Zeta mendesah pelan, melirik ke arah Malvin. "Ya kali aku janji sama dia di toilet Vin. Aku aja ketemu di depan pintu sama dia."
"Trus kenapa bisa kebetulan kayak gitu?"
Zeta mengerutkan dahi nya menatap tunangan nya itu. "Apa sih Vin? Ya mana aku tau aku bakal ketemu sa---"
"Aku udah bilang kan sama kamu, buat jangan deket sama dia? Kenapa---"
"Vin! Kan aku udah bilang aku gak sengaja ketemu dia. Kenal aja baru tadi sama dia! Kamu kenapa sih?! Marah-marah mulu dari tadi siang!" Suara Zeta meninggi, dia sudah super kesal dengan tingkah Malvin yang aneh seharian ini.
Malvin masih menatap Zeta datar. Gadis itu menghentakkan kaki nya dengan kesal. "Tauk deh suka-suka kamu! Males ngomong sama kamu lama-lama!" ketus nya, lalu berjalan mendahului Malvin.
Malvin mendesah panjang dan mengusap gusar wajah nya. Mata nya lalu melirik tajam ke arah orang yang masih saja berdiri memperhatikan nya dan Zeta sejak saat tadi.
Brukk...
"Awww!!"
Tatapan Malvin dan cowok itu terputsus saat mendengar pekikan dan bunyi dentuman yang cukup keras itu. Malvin tanpa buang waktu langsung berlari ke arah Zeta yang tersungkur di pinggir jalan dengan beberapa orang yang mengerumuni gadisnya itu.
"Zi! Sayang!" Malvin menghampiri Zeta yang meringis dan mengibaskan telapak tangan nya yang lecet.
"Mas pacar nya ya? Tadi di serempet mobil mas." ucap salah satu orang yang ada di sana.
Malvin tertegun sejenak, sebelum akhir nya tersadar. Dia menatap khawatir ke arah Zeta. "Kamu gak papa? Kita ke rumah sakit ya?" Dia menangkup wajah Zeta.
"sstt---sakit Vin." Zeta meringis.
Malvin menatap luka lecet di lutut dan telapak tangan Zeta. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Enggak mau! Aku baik-baik aja, cuman lecet Vin." Tolak Zeta seraya menahan perih di tangan dan kaki nya.
Malvin menggendong Zeta menuju mobil, setelah mengucapkan terimaksih kepada beberapa orang yang tadi menolong Zeta.
"Kamu yakin? Kita ke rumah sakit ya sayang?" wajah Malvin masih begitu sarat dengan kekhawatiran, dia berjongkok di depan pintu penumpang dengan tangan menggenggam tangan Zeta.
Jawaban Zeta masih saja sama, gadis itu menggeleng. Buat Malvin mendesah kasar.
"Kamu kenapa bisa di serempet gitu sih tadi? Lihat BA mobil nya? Biar aku---"
Zeta menggenggam erat tangan Malvin. Membuat ucapan cowok itu terhenti. "Aku gak papa kok, cuman lecet sedikit aja. Aku juga gak tau, tadi tiba-tiba mobil nya kenceng banget. Trus aku nyebrang, gak lihat-lihat."
"Mangka nya kamu tu jangan bandel! Jadi kualat kan!"
"Ih kamu mah! Pacar nya habis kecelakan, bukan nya kasihan. Malah marah-marah!" Balas Zeta kesal dan menyentak tangan Malvin.
Malvin menghela nafas nya, dia menangkup wajah Zeta. "Maaf sayang. Aku khawatir sama kamu, mangka nya aku ngomel. Ngomel kan tanda sayang." Dia mengelus pipi kekasih nya itu. "Ya udah kalau kamu gak mau ke rumah sakit, aku obatin di rumah ya?"
Zeta mengangguk pelan. Malvin meninggalkan kecupan singkat di dahi kekasih nya itu.
Malvin baru saja memutari mobil, bersiap duduk di bangku kemudi saat seseorang menghampiri nya.
"Maaf mas! Ini punya pacar mas, tadi jatuh pas keserempet."
Malvin menatap kotak kecil berwarna pink itu. Dia mengerutkan dahi nya, setahu nya tadi Zeta tidak membawa apa-apa.
"Makasih mas." Malvin menerima kotak itu dengan kebingungan. Tidak mau mati penasaran, dia membuka kotak kecil itu. Tangan nya meraih sebuah kertas di dalam sana.
Deg
Jantung Malvin berdetak cepat saat membaca satu kata yang tertera di dalam kertas itu.
"Malvin! Buruan!"
"Iya sayang."
Suara Zeta menyadarkan Malvin. Dengan cepat dia memasukkan kembali kertas itu dalam kotak dan memasukkan ke dalam saku celana nya.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Malvin termenung di bawah pohon rindang yang ada di taman kampus. Mata nya menyorot jauh ke depan sana, pikiran nya terus tetuju pada kejadian semalam. Saat Zeta terserempet mobil.
Tangan Malvin perlahan merogoh sesuatu yang ada di dalam saku celana nya. Kertas itu kembali di buka nya, dan di tatap nya satu kata yang ada di kertas itu. Tulisan yang di tulis dengan tinta merah.
Pembunuh
Hanya satu kata, tapi akan berefek besar nanti nya untuk Zeta jika gadis itu melihat nya semalam. Untung orang yang menemukan kertas ini memberikan nya kepada nya. Malvin tidak bisa bayangkan jika semalam Zeta yang membaca ini, dia hanya takut jika trauma gadis itu kembali. Malvin tidak ingin melihat wajah ketakutan dan teriakan histeris Zeta setiap malam lagi, dia tidak ingin Zeta kembali menderita hanya karna mengingat kematian Dinda.
Malvin mengusap gusar wajah nya, bertepatan dengan seseorang yang menepuk pundak nya.
"Ck, ngagetin aja sih lo." desah Malvin, seraya melirik Gevan yang duduk di samping nya.
"Perasaan tadi gue nepuk nya biasa aja. Lo aja yang lagi ngelamun. Kenapa emang?" Gevan menatap Malvin.
Sementara orang yang di tatap justru menatap lurus ke depan.
"Zeta mana?"
"Lagi sama temen nya tadi." Jawab Malvin.
Gevan mencibir, "giliran gue tanya Zeta di jawab."
Malvin mendesah, dia lalu mengulurkan kertas ysng ada di tangan nya kepada Gevan.
Gevan mengerutkan dahi nya, dia lalu menerima uluran kertas tersrbut. "Apaan nih?"
"Lo lihat aja sendiri!"
Gevan tertegun saat melihat tulisan di dalam sana. Mata nya menatap ke arah Malvin. "Semalem Zeta di serempet mobil, trus saksi yang ngelihat ngasihin kotak ke gue, di pikir itu punya Zeta. Pas gue bukak, isi nya kertas itu." jelas Malvin.
"Trus Zeta tau?" Tanya Gevan serius.
"Untung nya enggak." Malvin melirik ke arah Gevan. "Gue takut kalau dia tau."
Gevan terdiam sejenak, pikiran nya ikut terpusat akan satu kata yang ada di kertas itu. "Apa kertas ini punya yang nyerempet Zeta?"
Malvin menghela nafas nya. "Itu dia yang gak gue tau, kemungkinan besar iya."
"Lo tau Plat mobil nya?"
Malvin melitik malas ke arah Gevan. "Kalau gue tau, udah dari semalem gue cari tu orang." balas nya tajam.
Suasana hening sesaat sebelum akhir nya Malvin merasakan sepasang tangan melingkari leher nya. Dsri wangi parfum nya Malvin sudah dapat menebak siapa pemilik tangan tersebut. Dia seketika tersenyum, melihat wajah Zeta yang tepat di depan nya. Lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir gadis itu.
Gevan menghela nafas jengah. "Mulai deh gue jadi nyamuk." Sindir nya.
Zeta terkekeh pelan. "Kalian lagi ngapain? Muka nya pada tegang gitu." Dia melirik Malvin dan Gevan bergantian, setelah Malvin menuntun nya untuk duduk di samping cowok itu. Jadi lah posisi Mslvin di tengah.
Malvin melirik Gevan, dari sorot mata Malvin Gevan sudah mengerti.
"Gak papa Zi, masalah kemping graduation aja kok." Jawab Gevan, yang di sambut senyuman dari Malvin.
Zeta tidak ambil pusing, dia hanys mengangguk. "Vin nanti sore kan aku jadwal check up---"
Malvin mengangguk dan membelai rambut Zeta. "Iya nanti aku temenin."
"Gak bukan itu. Aku mau pergi sama Pop Girl aja."
Zeta menatap ke manik mata Malvin. "Boleh ya?" dia tersenyum penuh harap.
"Sama aku aja deh ya." Malvin masih setia membelai rambut Zeta, mengabaikan keberadaan Gevan di sana.
"Vin---kan sama mereka gak sama yang lain juga. Sabrina juga ikut." Ujar Zeta, namun mata nya menyorot menggoda ke arah Gevan.
Gevan yang di tatap seperti itu mendesah pelan. "Kenapa lihat nya kayak gitu ke gue?"
Zeta terkekeh pelan. "Ya kali aja lo mau ikut juga. Kan ada Sabrina."
Gevan mendengus. "Malas banget Zi. Udah lah Vin izinin aja, lagian ini briefing terakhir buat kemping. Ya kali lo gak ada."
Sore ini memang briefing terakhir sebelum kemping akan di laksanakan lusa, tidak mungkin juga Malvin tidak hadir apalagi dia adalah ketua BEM melingkup ketua umum panitia.
"Ya udah boleh. Tapi pulang nya jangan lama ya, trus jangan biarin si dokter itu megang-megang kamu."
Zeta terkekeh melihat wajah tidak suka Malvin. Dia lalu mengecup pipi cowok itu sekilas. "Makasih ya."
Malvin tersenyum, dan mengelus puncak kepala Zeta dengan sayang. Namun, tidak lama senyum Malvin hilang saat teringat dengan kertas tersebut. Malvin tidak siap, jika harus kehilangan senyum Zeta lagi.
"Van besok jangan lupa kerja kelompok. Di rumah Sabrina." ucap Zeta seraya menggoda Gevan dengan menekankan nama Sabrina.
Gevan hanya mendengus kasar, sementara Malvin ikut-ikutan menggoda sahabat nya itu. "Iya Zi."
"Ya udah aku ke rooftop dulu ya. Yang lain udah nunggu di situ." Pamit Zeta, seraya bangkit dari duduk nya.
Namun Malvin menahan pergelangan tangan gadis itu. Membuat Zeta seketika membalikkan tubuh nya. "Kenapa?" Tanya Zeta seraya menaikkan kedua alis nya.
Malvin mengisyaratkan Zeta agar menunduk. Zeta yang tidak tau apa-apa mengikuti instruksi Malvin, dia menundukkan tubuh nya, membuat wajah nya berjarak begitu dekat dengan kekasih nya itu.
Cup
Zeta seketika terdiam, saat Malvin mengecup bibir nya untuk kedua kali nya di depan Gevan. Membuat dia malu tak kepalang. Dia mencubit lengan kekar Malvin.
Malvin justru terkekeh dan mencubit pipi Zeta. "Udah sana!"
Zeta mengulum senyum nya lalu berlalu pergi, setelah melirik ke arah Gevan sesaat yang ikut menggoda ke arah nya. Membuat pipi nya semakin memerah.
Setelah punggung Zeta menghilang, senyum Malvin juga ikut hilang. Gevan dapat melihat perubahan raut wajah cowok itu.
"Lo gak usah khawatir Vin. Zeta pasti baik-baik aja dia kan sama temen-temen nya. Ada Vinny sama Sabrina, mereka berdua itu punya tingkat kecurigaan yang tinggi ke orang lain. Jadi, bakalan aman." Gevan berusaha menenangkan hati Malvin yang gelisah.
Malvin melirik Gevan, dia menaikkan sebelah alis nya. "Ada something apa lo sama Sabrina?"
Gevan mendesah kasar. "Udah deh gak usah mulai lo Vin."
Malvin tersenyum tipis dia lalu menepuk pundak Gevsn. "Thank you ya."
"Buat apa?" Kali ini Gevan yang menaikkan sebelah alis nya.
"Lo udah mau kubur perasaan lo buat Zeta."
Gevan termenung sejenak, sebelum akhir nya tersenyum tipis. "Emang itu yang harus gue lakuin."
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
"Udah lama ya, kita gak ke sini?" Alya bersuara, seraya tersenyum menatap cafe yang ada di depan nya.
Lisa yang baru saja keluar dari mobil, mengangguk menyetujui ucapan Alya. "Terakhir kapan ya? Udah lama banget sih. Jadi kangen gue makan di sini, apalagi sama--"
Ucapan Lisa terhenti saat tiba-tiba Sabrina berdehem, dan melirik tajam ke arah nya. Seakan baru menyadari kesalahan nya, dia membungkam mulut nya tidak bersuara lagi. Lalu melirik ke arah Zeta yang baru saja keluar bersama Vinny.
Suasana berubah hening.
Zeta termenung menatap bangunan di depan nya. Cafe bergaya minimalis dari luar itu tidak pernah berubah sejak terakhir kali dia menginjakkan kaki di sini. d**a nya seketika sesak saat mengingat apa yang dulu pernah terjadi di cafe ini.
Tubuh Zeta tersandar ke mobil, saat bayangan itu semakin jelas memasuki benak nya. Bayangan yang tadi nya hanya bertengger di benak nya kini mulai berkeliaran di mata nya. Cafe ini, tempat yang mengingatkan nya akan sosok Dinda. Ya, Dinda, gadis itu lah yang sangat menyukai menu yang ada di cafe ini. Terutama es krim vanilla strowberry.
Zeta ingat, dulu Dinda memaksa nya datang ke cafe ini hanya untuk menikmati satu mangkok es krim vanilla strowberry.
"Cobain Zi! Enak tauk! Gue pernah nambah sampe tiga kali!" Dinda berucap antusias.
"wih! Enak apa rakus!"
Celetukan Zeta membuat Dinda tertawa.
Mata Zeta berkaca-kaca. Sekuat apa pun dia berusaha melupakan, nyata nya dia tidak bisa. Dia tidak bisa melupakan sosok Dinda. Dia tidak bisa.
"Zi---" Vinny memegang pundak Zeta, saat di lihat nya sahabat nya itu mulai gelisah. "Zi kita mohon! Kalau lo gak bisa, mending kita---" Vinny berucap cepat. Namun terhenti oleh suara Zeta.
"Gue gak papa. Gue---ck, gue cuman kangen sama Dinda."
Suara parau Zeta membuat keempat teman nya tertegun. Mereka saling lirik satu sama lain, sebelum akhir nya menatap Zeta yang mulai meneteskan air mata.
Zeta tampak tersenyum, dengan pandangan menerawang jauh ke depan. "Gue gak bisa nutup kemungkinan, kalau Dinda masih begitu menghantui hidup gue hingga sekarang. Bagaimana mungkin gue bisa ngelupain sosok dia yang begitu seperti malaikat kehidupan buat banyak orang. Gue---"
"Zi---kita gak minta lo untuk ngelupain Dinda." Sabrina memotong. "Kita cuman minta lo untuk ngelupain kejadian apa yang ngerenggut nyawa Dinda. Kita mau lo hdiup dalam bayangan kenangan Dinda, bukan dalam bayangan kematian Dinda." Lanjut nya.
"Siapa sih yang bisa ngelupain Dinda?" Lisa ikut bersuara, dan menyandarkan tubuh nya ke mobil ikut menerawang jauh ke depan. "Gak akan pernah bisa, sosok Dinda itu terlalu sempurna untuk di lupain tau gak. Dia orang baik. Kita sayang dia, tapi Tuhan lebih menyayangi dia." air mata ikut mengalir di pipi Lisa, Alya yang berada di samping gadis itu mengusap lengan Lisa.
Vinny menghela nafas nya. "Udah lah, cukup kenang Dinda aja, dia udah tenang. Kalau kita gak ikhlas, jalan dia di sana juga akan sulit."
Sabrina melirik geli ke arah Vinny, membuat gadis itu menaikkan sebelah alis nya. "Kayak orang bener aja kata-kata lo." goda nya.
"Sialan!" Balas Vinny datar, dan berjalan masuk ke cafe tersebut.
Membuat Zeta, Lisa, Alya bahkan Sabrina terkekeh pelan. Lalu menyusul Vinny, masuk ke dalam cafe itu.
Vinny benar, yang di butuhkan Dinda hanya lah do'a dan keikhlasan orang-orang terdekat nya.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️