Malvin menjatuhkan tubuh lelah nya di atas sofa empuk itu. Dia setengah berbaring di sana, dengan pandangan menatap langit-langit apartemen nya. Rasa nya tubuh nya ingin remuk seharian ini, lusa kemping akan di laksanakan. Itu lah kenapa jadwal rapat dan persiapan nya bersama panitia lain juga semakin padat.
"Den Malvin udah pulang. Minum dulu den."
Malvin menegakkan tubuh nya, lalu menerima uluran gelas dari Bi Ira. "Makasih Bik."
Bi Ira mengangguk.
"Bik! Zeta udah pulang kan?" Tanya Malvin, pasal nya sekarang sudah pukul setengah 9.
"Udah Den, itu lagi tidur." jawab Bi Ira, seraya tersenyum.
Malvin mengangguk, dia baru saja akan mengeluarkan laptop nya saat mendengar bunyi pecahan kaca.
Prang.....
Malvin, bahkan Bi Ira terkejut mendengar hal tersebut. Bunyi pecahan kaca itu berasal dari kamar Zeta. Tanpa buang waktu, Malvim di susul Bi Ira berlari menuju lantai atas dimana kamar Zeta berada.
Dengan kekhawatiran dan kepanikan Malvin membuka pintu kamar tersebut.
"ZETA!!"
Malvin langsung berlari ke arah gadisnya itu yang meringkuk di lantai dengan pecahan beling di dekat nya. Seperti nya gadis itu jatuh dari tempat tidur, melihat posisi nya yang tidak jauh dari ranjang.
"Sayang? Kamu kenapa?" Malvin bersuara khawatir, dan memangku kepala Zeta. Gadis itu terus meringis dan merapatkan diri ke Malvin.
"Zi, sayang kamu kenapa? Apa yang sakit sayang?" Malvin semakin di rundung rasa takut dan khawatir bersamaan. Terlebih gadis itu terus meringkuk dan mulai menangis.
"Zi! Hey kenapa sayang? Kamu jangam bikin aku khawatir."
"Arghh---sakit! Vin sakit!" Zeta berusara di tengah tangis nya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Malvin baru saja akan menggendong Zeta, saat gadis itu bersuara lemah.
"Aku gak mau." isak nya.
"Zi! Patuh sama aku! Kita ke rumah sakit!" Suara Malvin meninggi.
"Malvin! Aku gak mau! Aku gak mau ke rumah sakit." Tangis Zeta semakin menjadi-jadi, gadis itu bahkan menghindari tangan dan paha Malvin yang memangku nya. "Aku gak mau."
Hati Malvin seketika teriris mendengar tangis gadis itu yang bercampur dengan ringidan nya. Malvin tidak tau entah bagian mana yang sakit di tubuh gadis itu, pasalnya Zeta hanya meringis dan bergumam sakit terus menerus.
"Bik! Tolong beresin ya!" Titah Malvin, seraya menggendong Zeta.
Bi Ira mengangguk masih dengan wajah khawatir nya. Lalu mulai membereskan pecahan kaca di lantai. Sementara Malvin membawa Zeta pindah ke kamar nya.
Malvin menjatuhkan tubuh Zeta perlahan di atas ranjang empuk milik nya.
Detik berikutnya, Malvin tertegun saat Zeta tiba-tiba saja memeluk nya begitu erat. "Zi---" Malvin bersuara lembut dan mengusap punggung gadis itu yang terasa bergetar oleh nya.
"Sakit---sakit!!" Gadis itu kembali bergumam kata yang sama.
"Apa nya yang sakit dayang? Ngomong sama aku?! Biar aku juga gak bingung harus kayak gimana?" Ujar Malvin dengan nada super khawatir, dia baru saja akan mengurai pelukan nya saat Zeta semakin mengeratkan pelukan nya.
Malvin lalu membiarkan Zeta memeluk nya dan menangis di sana. Walau dia masih begitu bingung apa yang terjadi dengan kekasih nya ini.
"Sssttt sayang, udah ya jangan nangis lagi! Kita ke rumah sakit ya, atau aku panggilin dokter ke sini. Sayang!"
Tidak ada respon dari Zeta.
"Sayang!" Malvin mengurai pelukan nya, saat merasakan hembusan nafas Zeta mulai teratur menyapu kulit leher nya. Gadis itu tertidur.
Malvin membaringkan tubuh Zeta perlahan lalu menarik selimut hingga menutupi sampai sebatas d**a. Malvin mengusap sisa air mata di wajah Zeta, gadis itu masih sesegukan bahkan dalam tidur nya.
Malvin menatap sendu mata Zeta yang terpejam, dia dapat merasakan sebera sakit yang di rasakan gadis ini. Pasal nya, Zeta hanya akan menangis hebat jika dia merasakan sakit luar biasa di salah satu bagian tubuh nya. Tangan Malvin perlahan terangkat mengusap lembut kepala gadis itu.
"Kamu kenapa sayang?" Malvin bergumam lirih seorang diri. "Jangan buat aku takut." dia lalu mengecup dahi Zeta, dan ikut membaringkan tubuh nya di samping Zeta, di rengkuh nya tubuh Zeta dengan erat.
Gadis itu sedikit bergerak dan membenamkan wajah nya di d**a bidang Malvin. Tangan Malvin terus mengusap keapa Zeta dengan pandangan lurus ke depan, sembari memberikan ketenangan dalam tidur gadisnya. Hingga dia ikut mengantuk dan tertidur dengan posisi masih memeluk Zeta.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Zeta perlahan mengerjapkan mata nya, berusaha menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya ruangan tersebut. Hal pertama yang dia lihat saat mata nya terbuka sempurna adalah langit-langit kamar.
Zeta menatap sekeliling nya, ini bukan kamar nya melainkan kamar Malvin. Dia kembali berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, namun tak lama lamunan nya terhenti saat sebuah suara hadir.
"Sayang! Kamu udah bangun?"
Suara itu terdengar khawatir dan lega secara bersamaan. Mata sayu Zeta menyorot ke arah Malvin yang tampak berjalan mendekat ke arah nya dengan langkah lebar.
Zeta perlahan merubah posisi nya menjadi duduk, dengan sigap Malvin membantu kekasih nya itu untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Malvin menatap lekat ke arah Zeta, wajah gadis itu terlihat lebih pucat dari biasa nya.
"Kamu sakit ssyang? Muka kamu pucet, kita ke rumah sakit ya." Malvin mengelus lembut pipi Zeta, menatap lekat ke mata sayu gadis itu.
"Aku gak papa Vin. Aku udah bsik-baik aja." Zeta menyentuh tangan Malvin yang bertengger di pipi nya.
Malvin mendesah pelan. "Zi aku khawatir sama kamu. Aku mohon kali ini aja kamu nurutin ucapan aku sayang."
"Tapi aku baik-baik aja. Kenapa harus ke rumah sakit. Semalem aku cuman sakit perut biasa Vin." Zeta berusaha kembali meyakinkan Malvin.
Malvin terus menatap lekat dan dalam ke mata Zeta. Dia dapat merasakan tangan gadis itu mengenggsm erat tangan nya yang lain. "Kamu gak usah khawatir." Zeta tersenyum menenangkan.
Malvin tersenyum tipis, dia lalu mengecup kening Zeta. Walaupun perassan nya kini tidak karuan.
"Kamu hari ini ada persiapan kemping kan di kampus. Ya udah kamu berangkat aja! Aku gak papa kok." Zeta berucap lembut.
Malvin hari ini memang ada persiapan terakhir di kampus, sebelum besok berangkat untuk acara kemping perpisahan dengan senior mereka. Tapi, rasa nya berat untuk meninggalkan gadisnya di apartemen sendirian dengan kondisi Zeta yang terlihat kurang sehat. Walaupun ada Bi Ira di sini, tetap saja hati Malvin tidak akan tenang kalau bukan dia yang menjaga Zeta langsung.
"aku gak akan tenang ninggalin kamu." Malvin bersuara lembut, mata nya sama sekali tidak beralih dari Zeta. "Aku gak mungkin ninggalin kamu dalam kondisi kayak gini."
"Vin! Emang aku kenapa? Aku baik---"
"Kamu selalu ngomong baik-baik aja. Kamu selalu berusaha nenangin aku, tapi aku tau kamu gak sebaik yang keluar dsri mulut kamu."
Ucapan Malvin membuat Zeta tertegun, pikiran nya melayang pada kejadian semalam. Entah kenapa Zeta merasakan sakit yang luar biasa di bagian d**a nya seperti beberapa hari yang lalu. Zeta yang berusaha bangkit dari tidur nya malam itu nenyenggol gelas yang berada di atas meja, alhasil dia terjatuh ke lantai.
Malvin mengangkat dagu Zeta dengan lembut. "Ada yang kamu sembunyiin dari aku?"tanya nya.
Zeta masih diam, tidak merespon Malvin sama sekali.
"Zi! Aku gak suka kamu gak terbuka kayak gini. Kamu kemarin chek up kan? Apa hasil nya?"
Zeta perlahan membalas tatapan Malvin. "Vin sebenarnya kemarin aku gak chek up."
Malvin mengerutkan dahi nya.
"Dokter Azka lagi gak di Jakarta. Jadi kemarin aku gak jadi chek up." Lanjut Zeta sebelum Malvin salah paham.
Malvin menghela nafas nya perlahan. "Ya udah nanti sore kita chek up, aku yang akan nemenin kamu langsung." putus nya.
Zeta mengangguk, tidak membantah lagi.
"Vin!" Zeta menbaringkan tubuh nya dengan paha Malvin yang menjadi bantalan.
Malvin tersenyum tipis seraya mengusap puncak kepala Zeta dengan ritme pelan. Dia menunduk menatap wajah kekasih nya itu.
"Aku nanti ada tugas kelompok sama Gevan dsn Sabrina. Boleh kan? Cuman sebentar."
"Gak usah ya. Nanti aku bilang ke Gevan, kamu gak usah ikut." Balas Malvin lembut.
"Tapi Vin. Itu tugas kuliah, ntar kalau nilai aku kosong gimana? Boleh ya, cuman sebentar kok." Zeta mulai merajuk.
"Zi, tapi kamu lagi kurang sehat sayang. Kamu harus istirahat, tugas kampus gak usah di pikirim. Gevan sama Sabrina pasti ngerti kok."
Jawaban Malvin membuat Zeta kesal, dia langsung bangkit dari posisi tiduran nya dan membuang wajah dari Malvin.
Malvin yang melihat wajah kesal Zeta menghela nafas nya. "Ok!" Dia menangkup wajah gadisnya itu. "Boleh, asal kamu janji akan baik-baik aja, dan jangan jauh-hauh dari Gevan sama Sabrina."
Zeta seketika tersenyum, dan memeluk Malvin yang di balas tak kalah erat oleh cowok itu. "Makasih. Aku sayang kamu."
Malvin tersenyum di balik pelukan nya, lalu mengecup pundak Zeta." Aku lebih sayang kamu." balas nya berbisik.
Dua kali Zeta memeluk nya, dua kali juga dis merasakan ada yang berbeda dari pelukan gadis itu. Perbedaan yang tidak dapat di jelaskan oleh Malvin. Tapi apa pun itu, Malvin berharap Zeta selalu baik-baik saja.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Malvin hanya duduk diam, dan sesekali mengangguk jika seseorang berbicara dengan nya. Rasa nya memang berada di aula ini, tapi pikiran nya terus melayang kepada Zeta yang kini tengah belajar kelompok dengan Gevan dan Sabrina.
Sejak tadi, sudah terhitung 15 kali Malvin menelpon Zeta hanya sekedar mengetahui bagsimana kondisi gadis itu. Entah lah, Malvin benar-benar merasa gelisah. Dia tidak pernah segelisah sekarang, jika membiarkan Zeta pergi dengan orang-orang yang dia kenal apalagi dengan Gevan, Sabrina atau yang lain nya. Tapi, entah ada apa dengan diri nya siang ini, dia begitu mengkhawatirkan Zeta. Wajah gadis itu tidak bisa enyah dari pikiran nya.
"Vin!"
Malvin sedikit tersentak saat Rendra menepuk pundak nya.
"Kenapa sih lo? Daritadi kayak nya gak fokus, sama hp di pegang terus." Rendra bertanya, karna sejak tadi dia memperhatikan Malvin yang tampak gelisah.
Malvin menghela nafas nya perlahan. "Gue khawatir sama Zeta." jawab nya pelan.
Rendra terkekeh. "Ya elah Vin, lagian Zeta juga pergi nya sama Gevan dan Sabrina. Gak usah khawatir lah, Gevan gak akan nikung lo." Balas nya.
Malvin melirik Rendra tajam, membuat cowok itu seketika bungkam. "Maksud gue tu Zeta pasti aman sama mereka." Ralat Rendra.
Malvin mendesah pelan, dan kembali menatap lurus ke depan.
"Oya Vin! Nih list nama yang ikut kemping besok. Lumayan banyak lah dari mahasiswa mahasiswi yang berminat." Rendra memberikan daftar list nama yang mengikuti acara kemping.
Malvin menatap kertas tersebut, di sana ada 200 orang lebih yang ikut. Mata nya seketika membulat saat melihat salah satu nama yang tertera di sana.
"Zeta ikut?!" Tanya nya dengan suara tinggi, membuat Rendra yang tengah minum tersedak.
"Ck, Vin ngagetin aja sih lo?!!" Geram Rendra.
"Zeta Ikut?!" Malvin kembali bertanya kali ini dengan intonasi yang lebih tajam.
"Ya iya lah, itu ada nama dia di sana. Pop Girl yang lain juga ikut kali, lo kenapa kaget gitu?" Rendra bertanya heran dengan mengerutkan dshi nya.
"Siapa yang ngizinin Zeta ikut?! Lo asal nyatet nama aja sih?!" Semprot Malvin pada Rendra.
"Ya mana gue tau, dia daftar ya gue tulis lah." Jawab Rendra terbata-bata, ngeri sendiri melihat sorot mata Malvin yang berkilat marah ke arah nya.
"Emnag dia gak ngomong sama lo?!" Tanya Rendra hati-hati.
Malvin mendesah. "Kalau dia ngomong gue gak mungkin izinin dia ikut!" Geram nya tertahan. "Pokok nya gue gak mau tau, lo coret nama Zeta dia gak boleh ikut!" Titah Malvin dan melempar kertas itu ke arah Rendra.
Rendra dengan gesit menangkap kertas tersebut. "Ya gak papa lah dia ikut Vin kan ada lo juga."
"Gue gak ngizinin Zeta ikut!" Tekan Malvin, dengan suara tajam nya setajam tatapan nya pada Rendra. "Sekalian lo coret nama keempat temen nya! Biar mereka yang nemenin Zeta di Jakarta selama gue kemping!" Putus Malvin final, lalu beranjak keluar aula.
Rendra menatap cengo ke arah punggung Malvin yang menjauh, lalu dia mendesah pelan. "Huftt---ribet banget deh ah kalau udah berurusan sama permaisuri dia."
Malvin mengotak atik ponsel nya mencari nomor Zeta. "Awas kamu Zi! Berani-berani nya kamu daftar tanpa ngomong ke aku!" Gumam Malvin dengan suara geram.
Malvin baru saja akan menekan tombol panggil saat, tubuh nya tiba-tiba saja menabrak tubuh seseorang. Membuat ponsel di tangan nya terjatuh ke lantai. Dia seketika menggeram, dan siap menyumpah serapahi orang itu.
"Sorry gue gak sengaja!"
Suara orang itu membuat Malvin termangu di tempat nya, perlahan tapi pasti dia mengangkat kepala nya. Pandangan nya seketika bertemu dengan orang tersebut. Seorang cowok yang mempunyai tinggi yang sama dengan nya. Cowok yang juga memiliki sorot tenang seperti Malvin.
Untuk sesaat suasana koridor itu hening, hanya ada dua insan yang saling menatap satu sama lain. Sorot mata Malvin berubah datar dan dingin, dia menunduk meraih ponsel nya di lantai, lalu berlalu pergi.
"Cewek lo cantik! Ternyata lo udah bisa ngelupain Arinda. Cih, cuman segitu cinta lo ke Arinda hah?!"
Suara sinis itu menghentikan langkah Malvin, dia berbalik bertepatan saat cowok itu juga berbalik menatap nya dengan seringaian yang beguti Malvin benci.
Abbyoga Permana. Orang itu lah yang kini beradu pandangan dengan Malvin.
"bukan urusan lo!" Balas Malvin dingin.
Yoga terkekeh sinis. "Emang bukan urusan gue! Tapi mungkin akan jadi urussn gue, kalau gue tertarik sama cewek lo."
Tangan Malvin terkepal seketika di dalam saku celana nya. Namun, ekspresi wajah nya berkata sebalik nya, dia berusaha menormalkan rahang nya agar tidak terlihat emosi. Detik berikut nya dia menyeringai. "Gak usah kepedean lo akan bisa nyaingin gue. Sekali loser akan tetap jadi loser. Jangan pernah bermimpi, menjadi hero, sampai kapan pun lo akan tetap jadi Zero." ucap nya merendahkan.
Keadaan berbanding terbalik, ekspresi wajah Yoga berubah dingin, tak ada lagi seringaian di sana. Sorot mata nya menatap kepergian punggung Malvin.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
"Eh dimana-mana tu lo cari dulu modal, baru bisa bikin usaha." Sabrina bersuara lantang, dan mengambil alih kertas folio yang ada di tangan Gevan.
"Eh b**o! Percuma ada modal tapi lo gak tau mau bikin usaha apa? Jadi lo pikirin dulu ussha nya apa, baru cari modal." Gevan tak kalah ngotot, dia merampas kertas di tangan Sabrina dengan kasar.
"Apa?! Lo ngatain gue b**o?! Eh ngaca lo! Nilai gue selalu lebih tinggi dari lo! b**o teriak b**o!" Balas Sabrina kesal, dia menatap tajam ke arah Gevan.
"Itu dosen nya aja yang ketiduran pas ngisi nilai lo!" Sindir Gevan tak kalah tajam.
Sabrina menggeram dan menjitak kepala cowok itu, membuat Gevan meringis. "Sok pinter lo!"
"Sakit b**o!" Gevan membalas jitakan kepala Sabrina.
Sementara itu, Zeta yang berada di tengah-tengah kedua nya menghela nafas berat, melihat bagaimana Sabrina dan Gevan sejak tadi tidak berhenti berdebat, dan bertengkar. Alhasil tugas yang mereka kerjakan juga tak kunjung siap.
Zeta yang merasa pusing berada di situasi seperti itu memilih bangkit dari duduk nya dan berjalan keluar rumah setelah meraih tas nya.
"Duh! Biarin deh mereka mau apa juga di dalam gue gak peduli. Berantem mulu!" Gumam Zeta saat telah di luar rumah Sabrina, dia lalu berjalan di komplek elit yang terlihat sepi itu.
Langkah Zeta tertuju pada salah satu taman yang ada di dekat komplek Sabrina yang cukup ramai dengan pengunjung itu. Dia mengeluarkan ponsel nya, untuk menelfon Malvin agar bisa menjemput nya di taman itu.
Zeta mengerutkan dahi nya saat nomor Malvin tidak bisa di hubungi. "Loh kok gak aktif. Perasan tadi ampe 15 kali nelfonin, sekarang malah gak aktif." Ujar Zeta seorang diri, dan kembali mencoba menghubungi Malvin. Namun, tetap saja sama tidak aktif.
Zeta menghela nafas nya, dia baru saja akan berjalan mencari taksi saat tubuh nya tiba-tiba saja menabrak seseorang, hingga membuat nya terjerambab jatuh.
"Awww---sttt." Zeta meringis saat b****g nya mendarat dengan sempurna di rerumputan taman.
Rasa nya badan Zeta sudah sakit-sakit semua, karna keseringan jatuh. Entah lah, belakangan ini Zeta merasa keseimbangsn tubuh nya gampang sekali hilang. Bukan hanya itu, dia juga merasa sering cepat lelah.
"Maaf-maaf saya gak sengaja. Kamu gak papa?"
Zeta mendongak saat mendengar suara orang yang di tabrak nya tadi.
"Zeta!"
"Dokter Azka!"
Mereka berucap bersamaan. Azka langsung saja meraih tangan Zeta dan membantu gadis itu berdiri.
"Kamu gak papa?" Tanya nya dengan nada khawatir, meneliti tubuh Zeta.
Zeta terkekeh. "Gak papa kok dok. Aku juga yang tadi gak lihat-lihat."
Azka menatap lekat ke arah Zeta yang tengah merapikan baju nya. Sebuah senyuman terukir di wajah nya, sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan gadis ini. "Apa kabar Zi?"
Zeta mengangkat kepala nya, tatapan mereka bertemu. "Baik."
Azka mengerutkan dahi nya saat menatap wajah Zeta. "Kamu pucet. Kamu sakit?" Tanya nya khawatir, seraya menuntun Zeta duduk di salah satu bangku taman. Tangan nya terangkat menyentuh dahi gadis itu. "Kamu sakit ya? Muka kamu pucet Zi."
Zeta terkekeh mendengar suara Azka yang begitu khawatir. "Apaan sih dok. Kayak Malvin aja, muka aku pucet di bilang sakit."
"Zi! Tapi serius, kamu gak papa kan?" Azka menangkup wajag gadis itu, menatap nya lekat. Azka seketika tertegun melihat jarak wajah nya dengan Zeta yang begitu dekat.
Deg
Jantung nya kembali berdetak cepat. Tiga tahun, dia berusaha mengusir perasaan nya untuk Zeta, namun semakin dia berusaha semakin perasaan itu tumbuh semakin pesat.
Untuk beberapa detik mata Azka terkunci dengan mata sayu milik Zeta. Hingga gadis itu bersuara. "Dok!"
Azka tersentak dan menarik kedua tangan nya. Lalu menormalkan ekspresi wajah nya. "Kamu yakin gak papa?" tanya nya dengan suara rendah.
Zeta tersenyum. "Iya gak papa."
Azka mengangguk, dan mengalihkan pandangan nya ke depan. Berulang kali dia menghembuskan nafas, guna menormalkan kembali detak jantung nya.
Zeta juga ikut diam dan menatap ke depan.
"Kamu sendiri? Malvin mana?"
Azka memulai pembicaraan.
"Malvin lagi di kampus, nyiapin acara kemping buat besok." jawab Zeta.
Azka mengangguk. "Tumben dia ngizinin kamu snedirian kayak gini."
"Tadi nya sih sama Gevan dan Sabrina. Cuman mereka berantem terus, ya udah aku jalan sendiri ke taman. Niat nya mau minta Malvin jemput, tapi hp Malvin gak aktif."
Azka memgerutkan dahi nya, tumben-tumbenan Malvin mematikan ponsel nya.
"Ya udah kalau gitu sama saya pulang nya gimana?" Azka melirik Zeta.
"Boleh?"
Azka terkekeh dan memgelus puncak kepala Zeta. "Ya boleh lah Zi. Yuk! Saya anter aja!"
Zets tersenyum dan mengangguk. Dia langsung saja bangkit dari posisi duduk nya, baru saja dia akan melangkah dia merasakan sakit luar biasa di sekitaran d**a nya. Lama kelamaan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan membuat tubuh Zeta lemah, terutama di bagiam kedua kaki nya.
Pandangan Zeta perlahan mulai berkunang-kunang, dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depan nya. Hal ini persis seperti malam tsdi.
Detik berikut nya Zeta tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuh nya karna merasakan kaki nya begitu berat untuk digerakan serta rasa nyeri yang mendomanisi d**a nya.
Zeta terhuyung ke samping, Azka yang melihat itu langsung menahan bobot tubuh gadis itu.
"Zi! Kamu kenapa?" Suara Azka berubah panik saat Zeta tak sadarkan diri lagi di dekapan nya. Azka tertegun saat mendengar detak jantung gadis itu yang tidak beraturan.
Tanpa buang waktu, dia menggendong tubuh Zeta ke mobil nya. Dan melarikan ke rumah sakit.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️