Mantan Narapidana 4
***
Sebelumnya aku tidak pernah terlalu memikirkan siapa aku, siapa ayahku, siapa nenekku dan lain sebagainya, karena aku sudah percaya dan menyerahkan kehidupanku pada ibu. Meskipun di sekolah, aku sering berpikir mengapa teman-temanku memiliki keluarga besar, sementara aku tidak? Mengapa aku hidup hanya berdua dengan ibuku saja? Di mana keluarga besar ibu? dan di mana keluarga besar ayah? Wanita itupun tidak pernah memberikan penjelasan apa-apa. Jika aku bertanya, dia akan marah dan tak segan memukuliku tanpa ampun dan belas kasihan.
Hanya saja ...
Kini aku mulai terusik dengan jati diriku. Mengenai siapa aku? Di mana keluarga besarku? Aku ingin mencari bukti kalau memang aku adalah anak dari ibu, meskipun jujur aku meragukan semua itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku sudah memiliki hubungan yang dekat dengan semua penghuni lapas. Bercanda, tertawa dan menangis bersama mewarnai hari-hariku di lapas. Aku yang awalnya ingin menetap di sini, mulai berubah pikiran ingin segera menyelesaikan masa hukuman. Bukan tanpa alasan. Aku ingin memecahkan misteri mengenai kehidupanku yang penuh dengan pertanyaan.
Setiap hari teman-teman silih berganti dijenguk oleh keluarganya, sementara hanya aku yang tidak. Irma sesekali masih dijenguk oleh neneknya yang begitu menyayanginya. Aku hanya bisa mengamati binar bahagia mereka kala ada keluarga yang datang, sementara aku, tak pernah sekalipun ada yang menjenguk meskipun sekadar bertanya mengenai kabar. Aku menyibukkan diri mengejar ketertinggalanku untuk menyelesaikan pendidikan. Apalagi sebentar lagi akan diadakannya ujian untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama. Aku harus mendapatkan ijazahku meskipun hanya paket B, setelahnya aku akan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.
Aku juga sibuk menambah keterampilan supaya nanti memiliki bekal setelah hidup di luar lapas. Belajar salon, belajar membantik, belajar memasak, bahkan aku juga mengikuti pelatihan karate untuk menjaga diri bila nanti sudah keluar dari sini. Sebagai perempuan yang sering tertindas aku merasa perlu memiliki kemampuan bela diri, supaya nanti tidak mudah dilecehkan oleh kaum laki-laki seperti pengalaman yang sudah kulalui. Aku pun memperdalam ilmu agama. Meminta Dini untuk mengajariku mengenakan hijab, juga belajar membaca Al-Quran dan memahami isinya.
Hari itu adalah minggu, kebetulan waktunya kami istirahat dan sedang tidak ada kegiatan. Kami isi dengan belajar mengenakan hijab yang dimentori oleh Dini. Gadis berlesung pipi ini nampak sibuk memakaikan hijab dikepalaku, sementara lima yang lainnya dengan seksama memperhatikan. Setelah selesai memakaikan hijab di kepalaku, ia juga memakaikan hijab di kepala Irma dan juga yang lainnya.
“Selesai! Wah, kalian semua makin anggun setelah mengenakan hijab!” kata Dini penuh semangat.
“Oh ya?” Irma tidak yakin dengan kata-kata gadis itu.
“Wah, kamu cantik banget, Ir. Kamu juga Rin. Apalagi Yuna, makin imut, dan Puput udah kayak ustazah.” Kami semua tertawa.
Hari-hari berikutnya, kami semua mulai belajar mengenakan hijab jika keluar dari lapas. Para petugas di lapas bahkan pangling melihat perubahan ini. Hanya saja Puput tidak mengikuti jejak kami, katanya belum saatnya dan kami tidak memaksa. Tanpa terasa aku sudah khatam membaca Al-Quran sebanyak dua kali selama ada di sini. Jika dulu aku merasa sendirian, merasa hidupku sebatang kara. Semenjak tinggal di sini aku merasa memiliki keluarga. Meskipun tak jarang ada gesekan diantara satu dengan yang lainnya dan membuat hubungan kami merenggang, tapi itu tidak berlangsung lama, karena Irma, aku atau Dini selalu jadi penengah untuk mendamaikan.
**
“Rin.”
“Em?”
Seperti biasa, di suasana yang sepi. Lewat tengah malam setelah semua orang terlelap, aku dan Irma akan ngobrol berdua, membahas mengenai apa saja.
“Pernah kepikiran nggak, setelah keluar dari sini nanti mau ngapain?”
“Dulu, aku ingin selamanya berada di sini, tapi semenjak di sini. Ada hal yang mengusik pikiran, yang membuatku ingin cepat-cepat bebas dan mencari tahu semaunya.”
“Apa?”
“Aku ingin mencaritahu siapa aku? Siapa wanita yang selama ini kupanggil ibu itu?”
Irma mengangguk mengerti. “Kalau aku sedikit takut setelah keluar dari sini.”
Aku menoleh, lalu bertanya. “Kenapa?”
“Bagaimana respon masyarakat setelah tahu bahwa kita adalah Mantan Narapidana. Terlebih kasusnya bukan kasus biasa, tapi pembunuhan. Apa nanti ada lelaki yang mau menerima kita apa adanya? Aku ... ingin menikah, Rin. Ingin punya anak, ingin punya keluarga kecil yang bahagia. Itu satu-satunya impian terbesarku setelah bebas dari sini.”
Nampak mata Irma berkaca-kaca. Ia tertawa kecil, sambil mengusap ujung mata.
“Kamu percaya sama Allah?” Irma mengangguk. “Kalau begitu jangan risau. Bukankah jodoh, rejeki dan maut sudah ditentukan? Tinggal bagaimana cara kita saja menjemputnya. Kita ikhtiar saja, terus berusaha menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, supaya dipertemukan dengan jodoh yang juga baik.”
“Makasih, ya! Aku sedikit merasa lebih tenang setelah mendengar itu.”
“Sama-sama, Ir.”
“Eh, sudah tahu belum kalau sebenarnya ada remisi tahanan untuk narapidana dan anakpidana seperti kita ini.”
“Apa itu remisi tahanan?”
Irma menjelaskan, remisi tahanan adalah pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Aku mendengarkan penjelasannya dengan seksama, dan berharap aku juga bisa mendapatkan remisi tahanan itu. Hidupku kini memiliki tujuan, yang paling utama adalah mencari tahu banyak hal mengenai masa lalu.
***
"Arin!" panggil petugas nyaring.
Kami yang baru saja pulang dari senam pagi dan istirahat sebentar di dalam menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang petugas polisi wanita berdiri di depan pintu. Biasanya jika ia datang, memanggil penghuni lapas karena adanya kunjungan dari pihak keluarga.
"Iya, Bu?"
"Ikut saya, ada yang menjengukmu!"
Aku menoleh ke arah Irma, sepertinya dia juga sama bingungnya denganku. Setelah berbulan-bulan tidak pernah ada yang menjenguk kini tiba-tiba ada yang datang. Apa mungkin itu ibu? Aku mengambil foto lawas di bawah bantal, lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Jika itu memang ibu, aku akan bertanya langsung mengenai foto ini padanya. Tak perduli responnya akan bagaimana. Aku berdiri, lalu mengikuti langkah kaki petugas menuju ke depan, lalu terlihat seorang wanita dengan gamis dan hijab yang panjang menungguku di sana. Aku tersenyum melihatnya, ternyata dia Bude Yanah. Bergegas aku mendekat dan menyapanya.
"Assalamualaikum Bude!"
Wanita itu mendongak seraya membalas salamku. "Wa'alaikumsalam..."
Kemudian keharuan pun tercipta. Bude Yanah langsung berdiri dan memelukku begitu erat dengan deraian air mata. Puas mencurahkan kesedihan dan kerinduan kami kembali duduk berseberangan meja. Bude Yanah mengeluarkan rantang yang berisi makanan.
"Bude bawakan ini untukmu, Nak. MashaAllah Bude pangling sama kamu. Lama tidak bertemu kini kamu makin anggun dengan memakai jilbab itu."
"Seharusnya Bude tidak perlu repot-repot. Bude masih ingat dengan Arin saja, itu sudah lebih dari cukup."
Bude meletakkan rantang ke meja, lalu mengulurkan tangan menggenggam tanganku.
"Bude percaya sama kamu. Pasti ada alasan yang kuat mengapa kamu melakukan itu. Bude mengenal kamu sejak kecil, Rin. Meskipun kamu tidak pernah mengatakan apapun, tapi Bude bisa merasakan penderitaanmu."
Aku tersenyum kecil. Ternyata selama ini Bude Yanah sering mengamati.
"Terimakasih sudah percaya sama Arin, Bude." Bude menarik tangannya, lalu membuka tutup salah satu rantang. "Maaf Bude baru sempat datang karena baru sembuh dari sakit. Coba lihat Bude masakin apa buat kamu?"
Aku melongok menatap isi rantang yang dibuka oleh Bude. Kemudian senyumku merekah.
"Sambal tempe Bude? Wah, pasti enak. Kebetulan Arin kangen banget sama masakan Bude."
Aku mencicipinya sedikit dan rasanya masih sama.
"Enak?"
"Rasanya tidak pernah berubah. Masih enak dan gurih. Makasih ya Bude." Kemudian aku ingat akan foto itu. Bergegas aku merogoh kantung celana untuk menunjukkan nya pada Bude Yanah. "Bude, aku pernah menemukan foto di rumah dan aku tidak mengenali wajahnya. Coba Bude lihat foto ini."
Aku memberikannya pada Bude. Wanita itu menatap foto itu dengan seksama, lalu menatapku.
"Bude mengenal mereka berdua?"
"Bagaimana Bude bisa lupa, anak dalam foto ini adalah kamu, Rin. Bude ingat betul wajahmu saat masih kecil dulu. Kamu dan ibumu pindah ke kota ini saat umurmu satu tahunan, persis seperti ini. Tapi wanita ini Bude tidak tahu, karena wajahnya tidak terlihat."
"Ini ... Aku?" tanyaku tidak percaya sambil menunjuk foto anak kecil itu.
"Iya ini kamu!"
"Bude yakin?"
"Yakin!"
Jadi anak ini adalah aku. Lalu, jika ini aku, lantas siapa perempuan ini?
"Bude, bisa ceritakan awal mula kami pindah ke sini?"
"Bisa, Rin. Jadi dulu itu ... "