Mencari Titik Terang

1082 Words
Mantan Narapidana 5 *** “Bisa, Rin. Jadi dulu itu kamu dan ibumu datang ke kota ini saat umurmu satu tahunan. Kamu pake baju warna pink dengan topi yang lucu. Malamnya karena kamu terus menangis jadi Bude datang untuk melihat. Saat itu hujan deras sekali. Bude ketuk pintu rumahmu dan setelah cukup lama menunggu akhirnya ibumu membukakan pintu. Bude ajak kenalan ibumu, lalu menggendongmu yang sedang menangis, tergeletak di lantai. Badanmu sudah dingin, saking lamanya menangis. Bude tanya sama ibumu, kenapa kamu nangis terus. Kemudian ibumu mengatakan kalau kamu terjatuh dari tangga. Bude periksa tubuhmu, ternyata benar di beberapa bagian tubuhmu terdapat luka lebam. Bude ijin kepada ibumu untuk membawamu pulang sebentar untuk menenangkanmu, dan ibumu mengijinkan. Saat Bude beri kamu makan dengan sayur sop, dan membuatkanmu s**u kamu makan dan minum dengan sangat lahap. Bude berpikir, mungkin ibumu belum siap punya anak karena usianya yang masih sangat muda. Sejak saat itu, setiap kali Bude mendengar kamu menangis dengan kencang, Bude pasti membawamu main ke rumah.” Aku terdiam mendengar cerita Bude Yanah. Kasihan pada bayi malang dalam cerita itu yang ternyata bayi itu adalah diriku sendiri. “Kenapa tiba-tiba kamu ingin tahu masa kecilmu, Rin?” “Jujur, aku meragukan identitasku Bude. Apakah benar aku adalah anak ibu? Mengapa ibu terlihat sangat membenciku?” Air mataku menetes sendiri tanpa kuminta. Bude Yanah menghapus air mataku. “Kamu jangan banyak pikiran, ya! Ada Bude yang selalu sayang sama kamu.” Aku mengangguk. “Maaf, jam besuk habis.” Polisi wanita yang sejak tadi mengawasiku mengingatkan. Bergegas kuhapus air mata secara kasar, lalu menunjukkan senyum pada Bude Yanah. “Iya, Bu.” “Arin, kamu sehat-sehat di sini. Inshaallah, nanti Bude akan jenguk kamu lagi. Di makan sambal tempenya. Bude juga masakin kamu pergedel kentang.” “Iya, Bude. Terimakasih banyak ya, Bude.” Polisi wanita itu mendekat, untuk mengajakku kembali masuk ke dalam. Aku berdiri dan menyalami Bude Yanah. Sekali lagi ia memelukku dan berpesan supaya aku menjaga kesehatan. Setelahnya aku di bawa kembali ke lapas. Sampai di ruangan, Irma menatapku dengan tanda tanya. Barangkali ia menyangka bahwa ibu yang datang menjengukku barusan. Kuletakkan rantang di tengah-tengah kami. “Apa itu, Mbak?” tanya Dini. “Ini makanan, kita makan sama-sama yuk!” Puput dan Yuna juga mendekat, hanya Irma yang masih tak bergerak di ujung sana. “Ir! Sini!” panggilku, barulah ia datang. Kami membuka rantang dan makan sama-sama. “Siapa tadi yang datang? Ibu ya?” tanya Irma dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Bukan, dia Bude Yanah.” “Siapa itu?” “Nanti malam akan aku ceritakan.” Irma mengangguk. Setelahnya kami makan dengan lahap bersama-sama. Meskipun aku terlihat baik-baik saja, tetapi sejujurnya aku masih memikirkan cerita dari Bude Yanah. Rasa penasaran akan sebenarnya siapa aku semakin menggunung di benak. Teki teki ini bagaikan misteri yang cukup rumit untuk kupecahkan. ** Malamnya aku menceritakan semuanya pada Irma. Sama sepertiku, dia juga berpendapat, jika aku bukan anak ibu. Kalau memang ibu adalah ibu kandungku, tidak mungkin dia akan setega itu. Irma juga mengatakan, ia mencurigai kalau sejak bayi ibu sering menyiksaku. “Menurutku kamu itu nggak jatuh dari tangga, tapi memang disiksa dan dipukuli sama wanita itu. Dia juga nggak mau kasih kamu makan, Rin. Untung ada Bude Yanah, secara tidak langsung Allah mengirimkan dia untuk menjadi penolongmu.” Aku berbaring di kasur sambil menatap foto di tangan. Fotoku waktu kecil dengan seorang wanita yang entah siapa. Sementara Irma terus bicara, aku terus saja terpaku pada foto ini. Mungkinkah wanita ini ibuku, atau pengasuhku, atau bibiku, atau siapalah itu.Tapi, siapapun wanita ini, hanya dia yang bisa memecahkan misteri dalam hidupku selain ibu, siapa sebenarnya aku? Aku bahkan baru tahu wajahku ketika kecil dulu. Kemudian aku ingat sesuatu, bukankah Bude Yanah bilang, pertama kali aku dibawa ke kota ini, aku mengenakan pakaian berwarna pink dan juga topi. Nanti aku harus menemukan itu, siapa tahu kedepannya aku membutuhkan barang itu. “Nah jadi menurutku seperti itu,” kata Irma menutup ocehannya, sementara aku tidak terlalu mendengarkan. “Rin!” Aku masih diam saja. “Arin!” “Hah, apa?” Aku baru menoleh ke arahnya. “Ya Allah, dari tadi aku ngomong jadi nggak di dengerin?” “Denger kok.” “Apa coba?” “Eh, itu kan, kamu juga berpikir kalau aku bukan anaknya ibu.” “Iya, terus?” “Terus .... “ Aku coba mengingat-ingat, tapi memang aku sama sekali tidak memperhatikan. “Apa,ya? Lupa.” “Arin!!” Irma melompat dari kasurnya dan menerkamku karena kesal. Akhirnya malam itu kami bergelut di atas kasurku sampai membuat seisi ruangan terbangun. ** Sepanjang guru menjelaskan, pikiranku tidak bisa tenang dalam mengikuti pelajaran. Konsentrasiku terbagi menjadi dua. Antara menyimak pelajaran di depan sana, dan memikirkan banyak hal mengenai wanita dalam foto itu. Aku merasa wanita itu memeluk dan menciumku tulus dan penuh kasih sayang. Sialnya aku tidak bisa melihat wajahnya. Pukul 11.00 siang, proses belajar mengajar telah selesai. Aku menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas. Saat bersalaman dengan guru di depan. “Arin, bisa ngobrol sebentar?” “Bisa, Bu.” Ia memintaku duduk berseberangan meja dengannya di saat anak-anak yang lainnya sudah keluar dari kelas. Di depan kelas masih ada yang berjaga seorang petugas polisi wanita. “Ini buat kamu.” Guru yang kuketahui bernama Bu Rahmat ini mengangsurkan bungkusan kepadaku. “Apa ini, Bu?” “Ibu senang melihamu sekarang memakai jilbab, jadi ibu belikan beberapa untukmu. Apalagi jilbabmu sepertinya hanya satu itu, sebab ibu tidak pernah melihatmu menggunakan jilbab yang lainnya.” Aku tersenyum senang. Ya, aku memang hanya memiliki satu jilbab, ini pun diberi oleh Dina, karena aku tak punya uang untuk membelinya. Sementara mereka setiap kali keluarganya datang selalu memberikan apapun yang mereka butuhkan. Jilbab, pakaian, makanan dan lain sebagainya. Hanya saja aku masih bersyukur karena ada Bude Yanah yang masih perhatian membawakanku makanan. “Terimakasih banyak ya, Bu.” “Sama-sama, semoga bermanfaat.” Aku pamit, menyalaminya dan keluar dari sana. Sampai di mushola lapas saat bertemu dengan teman-teman, kuceritakan kalau aku diberi jilbab oleh Bu Rahmat. Mereka ikut senang mengetahui ini. Bersyukur banyak orang-orang baik di sekitarku. Malamnya aku masih melakukan hal yang sama menatap foto wanita itu dengan seksama. Kemudian aku baru sadar kalau wanita ini dan aku sepertinya berfoto disebuah perkebunan. "Ir, lihat deh! Kayaknya ini lokasinya kayak diperkebunan teh, ya!" Irma mendekat, mengambil foto dari tanganku, lalu mengamati foto itu. Setelah cukup lama mengamati matanya sedikit membesar. "Rin, ada nama perkebunan tehnya!" serunya antusias. "Masa'? Mana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD