Tujuh

1630 Words
Malu-maluin sumpah. Akhir-akhir ini kalau malam aku selalu memulai obrolan dengan Ardra via chat. Untung anaknya baik, dan membalas chatku dengan kata-kata yang menyenangkan. Dan yang paling penting... dia balesnya cepet hehehe! Gak ngerti lah aku kenapa bisa kesemsem sama orang itu. Dia tuh kaya punya daya tarik sendiri, nada bicaranya itu loh, enak banget didenger, kayanya dia tuh bakal cocok kalo jadi narator sebuah drama, atau iklan demo alat olahraga di salah satu stasiun TV, persuasif banget. Asli. "Kenapa cengar-cengir sendiri boss?" Papa mengganggu khayalan gilaku. "Lagi naksir orang nih Paps!" "Widiwww!! Masa naksir orang? Gak kamu yang ditaksir?" "Taksir menaksir adalah hak segala bangsa Pa!" Seruku. "Ya atuh ihh! Masa anak Papa yang demen duluan? Nanti kalo patah hati kumaha?" Ujar Papa. "Gak tau!" "Tenang! Papa patahin lehernya! Biar berguna Papa ikutan tekondo." Kata Papa. "Jangan atuh ih! Kasian anak orang!" "Anak orang ini sih, bukan anak Papa." "Haha bisa! Bisa!" Seruku. "Mana yang kamu taksir? Mau liat dunds! Keren gak?" "Keren Pa! Bentar aku buka profil wasapnya dulu." Lalu aku membuka kontak Ardra di ponselku, menyentuh gambarnya, kemudian memperlihatkan kepada Papa.          "Ganteng ya Pa!!" Seruku. Papa menerima ponselku, memerhatikan foto Ardra dengan seksama, belum bereaksi apa-apa. "Emmm... gantengan Papa pas muda dulu, dia mirip Edward Cullen banget! Terus, rahangnya gak simetris! Mukanya tampangnya jahat! Jangan ah!!" Komentar Papa. "Gimana cara muka bisa simetris? Emang yang bikin arsitek! Pake penggaris!" Seruku. "Maksudnya liat aja fotonya tuh ih!! Rahangnya beda sebelah Kak!" Seru Papa mengembalikan ponselku. Aku melihat foto Ardra dengan teliti. "Ini mah kesalahan angle foto Paps!" "Bodo! Salah dia pilih foto kaya gitu! Jadikan Papa mikir rahangnya geser!" Seru Papa. "Tapi cakep kan??" "Cakepan Papa!" "Cakepan dia tau Pa, asli! Keren banget!" "Namanya siapa?" "Ardra." Kataku. "Ohhh dia yang kamu tabrak tea waktu itu?? Itu rahang geser gara-gara kamu kali!" Seru Papa. "Sok tau banget sih Pa! Itu kesalahan angle, dia ganteng banget aslinya. Sempurna, kaya lagunya Andra and The Backbone!" Kataku semangat. "Dih baru naksir udah dipuji-puji gitu. Bahaya!" "Bahaya??" "Iya jangan terlalu mendewakan seseorang Kak, biasa aja, sedang-sedang saja kalau kata lagu dangdut mah. Jangan berlebihan, apalagi terlalu meninggikan sesuatu sampai merendahkan diri sendiri, gak baik itu. Dengerin yaa!" Jelas Papa. "Iya Pa, okay!" "Kamu ngechat dia, Kak?" "Iya hehehe." "Dibales?" "Dibales kok. "Biasa aja, jangan nunjukin kalau kamu suka, nanti dia ke-GR-an." Kata Papa. "Iya Papskih!" Seruku. "Mama mana ya? Jam segini belum pulang?" Tanya Papa. Aku langsung melirik jam dinding, sudah pukul 7 malam. "Kena macet kali Pa!" "Eh iya Kak, besok libur kan? Temenin Papa beli kamera yuk??" "Tapi Estu boleh pinjem ya kameranya?" "Ihh ini mah kamera buat Papa nge-vlog, kamu kalo mau nanti Papa beliin pocket camera deh, kaloga polaroid." "Nge-vlog???" Tanyaku heran. "Iya ih! Keren kayanya. Nanti kamu subscribe Papa ya!" Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal ini. Busetdah si Papa nih bener-bener ya! Makin tua, ada-ada aja kelakuannya. Bukannya di rumah, diem, duduk di kursi goyang. "Papa mau nge-vlog apaan?" Tanyaku. "Kalo Papa off road, atau pas Papa diving, atau gak ya pas Papa jalan-jalan sama kamu!" "Dihhhh!!" Kataku, kenapa coba aku harus dibawa-bawa? Bener-bener dah si Papa. "Hallo sayaang!!" Aku dan Papa menoleh, Mama pulang dengan sekotak pizza di tangannya. "Ibu macam apa? Jam segini baru pulang, anak sama suami kelaperan!" Seru Papa. "Ya mangkanya ini bawa makan buat anak sama suami, rewel deh!" Sahut Mama, bergabung dengan kami di sofa lalu membuka box pizza. "Kapan ada fashion show lagi?" Tanya Papa saat aku mengambil potongan pizza. "Kenapa gitu?" Sahut Mama. "Biar bisa cocokin jadwal sama acara touring." Jawab Papa. "Ohh ada sih fashion week di Makassar. Tiga minggu lagi." "Oke tiga minggu lagi Papa touring seminggu ya, ke Jogja." "Lha, terus Kakak di rumah sama siapa?" Tanya Mama. "Emm... kita titipin di pegadaian apa? Aman, dapet duit pula!" Sahut Papa. "Woy! Anaknya denger nih!" Seruku. Mama dan Papa langsung tertawa. Kompak bener emang duo sompret ini. Sayangnya mereka orang tua jadi kudu dimaklumin, etapi orang tua apaan yang titipin anak ke pegadaian demi touring dan fashion show?? "Ikut Papa touring mau gak? Kan kamu udah liburan semester." Ajak Papa. "Masuk angin owe!" Kataku. "Pake jaket sayang! Lagian ih! Tumben Papa samain jadwal main sama jadwal kerja Mama? Kan kita biasanya gantian biar Kakak di rumah ada temen." Ujar Mama. "Kangen abisnya nanti, jadi mending main motor biar gak kangen." Jawab Papa. Pengin nyanyi aku rasanya.... Tuhan kirimkan lah akuuuuu, kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanyaa~~~ Sirik sama orang tua sendiri. Sumpah deh! Kayanya aku kudu punya pacar sebelum umur 19 tahun, biar punya lawan sosweet-sosweetan kaya gini, kan aku juga mau! Walaupun mereka berdua sayang sama aku, tetep aja aku pengen punya yang bisa dipeluk-peluk, dindusel-ndusel. Tiba-tiba ponselku berdering, bikin kaget. Dan lebih kaget lagi pas liat nama yang nelefon. Ardra Pawaka calling... Aku langsung bangkit hendak berjalan ke kamarku, eh baru dua langkah langsung dipanggil. "Kemana Kak?" Tanya Papa. "Angkat telepon Pa." "Di sini aja, angkat telepon doang!" "Udah biarin aja." Ujar Mama. "Nah tuh, dengerin istrinya! Udah ah!" Aku langsung berlari ke kamar dan menjawab panggilan Ardra. "Hallo?" Sapaku. "Hey Nar! Lagi apa lo?" Tanyanya. "Lagi makan malem." "Yaah keduluan gue." "Kenapa?" Tanyaku. "Tadinya mau ajak lo makan malem, hehehe mumpung belom kemaleman." Jawabnya. "Ehh?" "Gue laper abisnya, gak ada temen, sedih." Eh? Dia beneran laki kan ya? Kalo laki mah mau makan ya tinggal cari gitu. Penting emang ditemenin? Kok kaya cewek? "Lo lagi di mana?" Tanyaku. "Di depan rumah lo!" "Demi apaa??!!" Seruku kaget, aku langsung bangkit dari kasur dan membuka gordyn kamar. Dan aku melihatnya. Lagi duduk di atas motor sambil sesekali lirik pagar rumah. Kaya orang mau nyuri gitu. "Kalo demi elo, boleh gak?" Sahutnya, terdengar ia tertawa kecil. Aku langsung mematikan telefon, menyambar jaket lalu keluar kamar. "Pa, Ma! Estu keluar sebentar. Sebentar!" Seruku sambil berlari ke luar rumah. Saat terdengar pertanyaan Papa yang tak sepenuhnya tertangkap oleh telingaku, aku membuka selot pagar dan menutupnya kembali. Dari pagar aku memandang Ardra yang tersenyum. "Makan di mana?" Tanyaku, masih dari tempatku berdiri. "Katanya lagi makan malem?" "Kasian, kamu udah jauh dari ATS." Kataku. "Engga kok, gue dari Cimanggu Permai." Katanya menyebutkan rumah tempat aku menjemputnya kala itu. Aku menghampirinya lalu naik ke boncengannya cepat-cepat ketika mendengar pintu rumah terbuka. "Udah ayok berangkat!" Seruku menepuk punggungnya. Ia tertawa lalu menggas motornya menjauhi rumah. "Kenapa lo?" Tanyanya. "Papa rempong." Jawabku. "Padahal mah gak apa. Biar sekalian bokap lo tau lo keluar malem gini ama siapa." "Hehehe!" "Temenin gue makan ayam penyet di Vihara ya?" Katanya. "Vihara samping Venus?" Tanyaku. "Iya hehe, mendadak ngidam." "Oke boleh. Tapi ini aku gak pake helm." Kataku. "Tenang, kita lewat belakang aja, nanti keluar di Bale Binarum. Eh tapi apa lo mau pake helm gue?" Tanyanya. Ia langsung menepikan motor saat mengucapkan kalimat yang terakhir. "Nih pake!" Katanya sambil melepas helm yang ia kenakan. "Serius?" Tanyaku. "Iyaa udah pake!" Katanya. Aku menerima helm tersebut lalu memakainya. Ardra membantuku mengaitkan tali pengencang helm. Mataku beradu pandang dengannya dan, goshhh! Kenapa matanya bagus banget sih?? Pengin pinjem jadinya! "Dah ya!" Ia berbalik lalu menjalankan kembali motornya. Melewati IPB D3, kami belok ke kiri ke arah Bogor Baru, lalu di perempatan kecil menuju Pandu Raya, Ardra belok ke arah kanan, masuk ke kawasan belakang kampusku. Aku udah hafal banget jalan ini. Melewati BMC (Bogor Medical Center), Ardra belok ke arah kanan untuk keluar ke jalan raya Pajajaran. "Kenapa gak lurus? Keluar kan di Bale Binarum." Tanyaku. "Hehe jalannya sempit kalo lewat Taman Pajajaran, malesin." Katanya. Ya emang sih jalannya gak terlalu besar, cuma kan ini naik motor, jadi itungannya lega dong ya?? Tak berapa lama kemudian, kami sampai di Vihara, aku turun saat Ardra berhenti, ia langsung memarkirkan motornya di samping motor-motor yang sudah lebih dulu berjejer. "Mau ikut makan gak?" Tanyanya. "Boleh deh." Kataku. Aku belum kenyang-kenyang banget lagian, tadi makan pizza cuma satu slice. Dan rasanya gak enak kalau liatin Ardra makan sendiri, mending ikutan. "Mau menu apa? Banyak nih dari ujung sampai ujung." Tawarnya sambil menunjuk kios terdekat hingga kios terjauh. "Samain aja." "Minum?" "Air mineral aja." "Oke! Cari tempat duduk sana." Katanya. Aku mengangguk, sebelumnya aku menggantungkan dulu helm yang kupakai di kaca spion. Setelah itu aku mendekati meja bulat berpayung dengan tiga kursi yang mengelilinginya. Ardra kembali dengan dua botol air mineral, satu dingin, satu tidak. Ia meletakkan keduanya di dekatku. "Lo minum air mineral juga?" Tanyaku menyorongkan satu botol padanya. "Eh? Engga, gue minum es teh manis. Lo kan yang mau air mineral." "Kok dua?" Tanyaku. Udah dua, beda-beda lagi. "Kan kamu gak bilang tadi dingin apa biasa, ya aku bawain dua-duanya." "Kok kamu jadi aku-kamuan?" "Hahaha abisan kamu ngomongnya gitu terus, padahal aku udah santai gue-elo. Tapi lagian, itu kan Bahasa Indonesia yang baik." Jelasnya. Aku mengangguk. Kok makin kesemsem sama dia ya? "Tadi di rumah makan apa?" Tanyanya. "Pizza. Tadi kamu bales chat cepet banget, ngetik sambil bawa motor?" "Mati nanti aku! Aku bawanya pelan. Tiap geter aku berenti dulu." "Emang niat ke rumah?" "Iya. Pengein ditemenin makan. Daripada nemenin lewat chat doang. Mending langsung gondol orangnya dari rumah." Jawabnya. Sumpah ya. Kok aku merasa sudah akrab sekali sama dia?? Kaya udah kenal lama gitu. "Jadi di tato?" Tanyaku. "Belum. Tunggu kulit-kulit arinya ngelupas. Jadi nyisa kulit yang rata, baru dibikin tato." "Mau bikin tato apa?" "Belum tau nih," jawabnya. Aku mengangguk. Tak lama saling diam, makanan pesanan kami datang, beserta es teh manis milik Ardra. "Mas minta sendok sama garpu ya!" Kataku. "Kobokan ada Mas?" Tanya Ardra. "Iya Mbak... itu Mas, ada washtafel di deket galon!" Tunjuk si penjual. "Oh oke!" Seru Ardra. Ia langsung bangkit dari kursi plastik yang diduduki lalu berjalan ke arah yang ditunjuk Mas tadi. Ardra kembali dengan sepasang sendok dan garpu yang ia berikan kepadaku. "Ini nasinya nasi timbel?" Tanyaku. "Engga, nasi bakar." "Enak nasi bakar pakai ayam penyet?" "Cobain aja, aku juga gak tau. Baru lagi ke sini, terakhir pas masih SMA." Jawabnya. Aku mengangguk lalu membuka daun pisang gosong yang menyelimuti nasi. Agak susah, lalu Ardra menukar piring kami. Nasi punya dia sudah terbuka, daun pisang gosongnya entah kemana. "Makasih." Kataku. "Sama-sama." Lalu ia membuka bungkus nasi yang tadinya milikku. Saat ia menyuap, baru lah aku mulai makan. Saat asik makan, ponselku berdering. PapaGans calling... Aku menolak panggilan itu lalu mengirim pesan singkat kepada Papa. Me: Estu lagi makan sama temen Eh sama Ardra deng Suttt jangan berisik! Tak lama balasan langsung masuk, bikin pengen garuk-garuk tembok deh. PapaGans: Ardra rahang bengkok? Mending burung Kak Paruh Bengkok Mahal Bagus Dia mah apa? Me: BURUNG EMANG PARUHNYA  BENGKOK YANG LURUS ITU  MONCONG IKAN PEDANG PapaGans: Tau ah Inget jam malam berlaku sekarang Kalo pulang telat Ardra rahangnya Papa bikin makin gak simetris!! "Makan dulu kali Nar, baru pegang HP!" Perhatianku teralih karena suara Ardra. Kuletakkan ponselku di meja lalu lanjut makan. "Tadi izin ke Papa." Kataku. "Tenang, bilang Papa kamu kalau anaknya aku balikin utuh kok! Dijagain!" ****** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD