Enam

1859 Words
Siang ini, aku bingung mau pake baju apa. Sumpah! Aku galau banget. Hari ini tuh aku mau temenin Ardra terapi, semalem dia text aku, ngajakin. Katanya dia sudah terapi dua kali dan sudah lancar, nah ini yang ketiga buat dicek dokter sekali lagi kalau dia memang sudah sembuh. Bagus lah, aku gak bikin orang pincang permanen. Aku memutuskan mengenakan celana jeans dan kaus putih polos, lalu mengambil cardigan takut kalo kausnya tiba-tiba jadi transparan. "Mau kemana?? Hari minggu biasa belom mandi ini udah cantik!" Seru Papa ketika aku keluar kamar. "Mau temenin Ardra terapi jalan Pa! Ini terakhir." "Oh kamu temenin dia pas terakhir doang?" Tanya Papa. "Iya, anaknya baru kabarin Estu semalem." "Yaudah seenggaknya udah sembuh yaa Kak!" Ujar Papa. "Minta duit dong!!" "Duit wae!" (terus) "Ayok ihh!" Pintaku. Papa nyengir lalu menuju kamar, tak lama Papa kembali dengan dompetnya. "Sama dompet-dompetnya nih?" Tanyaku. "Gue gibeng lo!" Seru Papa membuatku tertawa. "Mana atuh Papskihh uwitt!!" Papa membuka dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu. Kartu ATM Papa. "Nih! Ambil secukupnya, kalo bayar-bayar didebet aja, pin-nya tanggal lahir Mama." "Ganteng banget sihhh Saudara Antoni Wicaksana Yang Terhormat!" Seruku. "Dari lahir kali boss! Situ pikir situ cantik dari gen Sonia doang? Gen gue kelez!" Sahut Papa bikin aku ngakak. "Udah ahh Estu berangkat ya Pa! Makasih!" Ujarku sambil mencium tangan Papa, lanjut mencium pipinya, lalu berjalan cepat ke garasi. "Giliran dikasih ATM aja lo cium-cium!" Terdengar nyinyiran Papa saat aku di garasi. Aku hanya tersenyum sambil mengeluarkan mobilku, setelah itu aku langsung mengarahkannya ke alamat yang semalam diberikan oleh Ardra, bukan alamat yang di Atang Sanjaya minggu lalu. Hampir setengah jam menyetir, aku sampai di sebuah rumah dengan pagar tanaman setinggi pinggang, bisa kulihat Ardra duduk manis di kursi kayu teras. Aku langsung menepikan mobilku lalu keluar dan menghampiri Ardra. "Hey!" Sapaku. "Mobil lo beda lagi?" Tanyanya. "Hehehe ini beneran mobil aku, yang kemaren mobil Bapake!" "Pantesan kemaren lo gak bisa bawanya." Aku nyengir. "Mau berangkat kapan?" Tanyaku. "Sekarang boleh, bentar tapi gue tutup pintu dulu." Lalu Ardra berdiri, ia masih agak pincang saat berjalan menutup pintu rumah. Aku menunggunya, pengin bantuin jalan cuma gak enak kalo tiba-tiba nyosor dia buat mapah dia. Abis anaknya badannya bagus banget, walaupun pincang kaya berwibawa tegap gitu, ganteng lagi. "Ini terapinya di mana?" Tanyaku saat menyalakan mesin mobil. "Di BMC! Sorry yaa minta anter, kakak gue yang biasa anter lagi sibuk." Katanya. "Gak apa, kan emang aku yang bikin kamu kaya gitu." "Sip, makasih!" Katanya. Aku mengangguk. "Sebenernya gue udah bisa sih ini nyetir mobil, cuma kakinya masih agak gimana gitu!" Ujarnya "Jangan, udah dianter aja." Kataku, kali ini giliran Ardra yang mengangguk. "Lo umur berapa dah??" Tanyanya tiba-tiba, aku melirik ke arahnya dan agak sedikit malu saat mendapatkannya sedang memperhatikanku. "18 lebih dikit." Jawabku. "Kuliah?" "Iya, kamu?" Tanyaku. "Kerja." Aku mengangguk, masih fokus menyetir walaupun kentara dia lagi perhatiin aku. Bikin salah tingkah deh, sumpah. "Jurusan apa?" Tanyanya. "Teknik Lingkungan, kamu kerja apa?" "Usaha sablon sama temen, terus buka studio musik." "Studio musik? Masih ada jaman sekarang?" Tanyaku, yaa, setahuku band-band indie udah jarang yang latihan di studio, biasanya latihan di garasi pake peralatan sendiri, atau yaa banting setir ke EDM. "Masih dong!" Aku mengangguk. Kami sampai di parkiran luar BMC, lalu kali ini, aku membantu Ardra berjalan, ia sedikit memegang tanganku untuk jadi tumpuan. "Di mana?" Tanyaku. "Sini! Gue udah bikin janji kok!" Katanya sambil menunjukan jalan. Lalu aku membuka pintu ruangan yang ditunjuk Ardra, menahan pintu untuk membiarkannya masuk, baru aku menyusulnya yang sudah menyapa seorang perawat. "Udah lancar lah yaaa??" Kata si perawat. "Iya sih Mbak, cuma agak gimana gitu. Sakit sih engga, belum terbiasa kali ya gara-gara gak gerak 2 hari??" "Tenang, gak bakal gini terus kok. Dipaksa jalan juga nanti biasa lagi." Ujar perawat tersebut sambil membantu Ardra berjalan ke jalur latihan jalan. "Dipinjem bentar ya Mbak pacarnya!" Ujar si perawat itu padaku. "Ehh??!" Hanya itu responku. Pacar? Busetdah! Pecah telor deh kalo Ardra pacarku. Masih jomblo aku tuh. Lagi nyari yang kaya Antoni Wicaksana. "Kita gak pacaran Mbak." Ujar Ardra. "Saya yang nabrak Ardra." Tambahku, tapi si perawat hanya senyum, tak menyahuti. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Ardra berjalan mondar-mandir, sesekali ia berpegangan pada besi penyangga, mungkin karena kakinya masih sakit atau apa, aku kurang paham. Sekian menit, Ardra duduk di kursi tunggu yang disediakan, ia menatapku lalu mengisyaratkan agar aku mendekat. Aku mengangguk lalu menghampirinya, duduk di sampingnya. "Udah baik apa masih perlu latihan lagi?" Tanyaku. "Mendingan kok, abis ini lo mau anter gue ke gym? Gue biasanya abis latihan gini ke gym, bukan buat nge-gym, tapi buat bikin kaki gue kuat lagi sama instruktur gue." Jelasnya. "Iyaa boleh." Kataku. "Makasih yaa!" "Sipp!" Lalu Ardra mengajakku berdiri, aku membantunya lagi dan kami menghampiri perawat tadi. "Mbak pas pertama kesini kan saya minta obat buat ilangin bekas luka, eh tapi gak ilang-ilang loh ini luka baretnya." Katanya sambil menunjuk lengan dan kakinya. "Ehh bener Mas? Itu udah yang paling bagus loh salepnya." Ujar si perawat. "Kamu mau ilangin bekas luka? Ikut aku aja, aku bisa." Kataku. "Bener?" Tanya Ardra dengan nada heran. "Iyaa." Kataku. Setelah selesai mengurus pembayaran, Ardra gak mau dibayarin, fyi, gengsi banget dia tuh. Padahal kan harusnya aku yang bayarin, kan dia celaka gara-gara aku. Jadi harusnya tanggung jawabku. Eh tapi anaknya gak mau-an. "Gimana bisa ilangin bekas luka?" Tanyanya saat kami sampai di mobilku, "Salon kecantikan, pake laser, Mamaku pernah ilangin bekas luka kebakar." Jawabku. "What?? Gak, gak usah, gue gak mau ke tempat kaya gituan." "Eh?? Gak apa-apa, sama dokter kok, profesional." "Gak, gak usah. Mending ini bekas luka gue tutupin." Katanya. Aku mengangguk. "Terus ini kemana?" Tanyaku. "Keluar parkiran dulu aja, nanti gue tunjukin jalannya." ** Matahari sudah terbenam ketika aku dan Ardra keluar dari tempat gym. Tadi Ardra belajar berdiri pakai satu kaki ganti-gantian, untuk mengetes kekuatan kakinya. Kata instrukturnya sih Ardra udah sehat, tadi dia bahkan sempat diurut sampai meringis-meringis, dan sekarang Ardra sudah gak pincang lagi. "Lo ada batas jam malem?" Tanyanya. "Engga kok, makan dulu yaa? Laper." Kataku. "Sorry yaa bikin lo kelaperan." "Santai." Ardra mengangguk, kali ini dia menawarkan diri untuk menyetir. Karena aku lumayan capek nyetir hampir seharian, jadi ku-iya-kan. "Mau makan di mana nih?" Tanyanya. "Pengin sate padang deh!" "Eh??" "Gak suka?" Tanyaku. "Kalo lo mau yaudah ayok!" "Gausah yang lain aja, apa ya? Mie ayam mau??" "Boleh deh, yang di samping Boper ya?? Enak tuh." Usulnya. "Sip!" Lalu Ardra mengarahkan mobil ke daerah jalan Sudirman lalu berbelok kanan menuju tempat bakmi yang dituju. Mie-nya emang terkenal enak sih ini. "Yuk!" Ajaknya. Aku mengangguk. Begitu turun, Ardra langsung memberikan kunci mobil kepadaku dan kami masuk ke tempat makan ini. "Asin, manis?" Tanyaku. "Asin aja Nar!" Serunya. Aku mengangguk lalu memesan dua bakmi asin dan dua es teh manis. Setelah memesan, aku menghampiri Ardra dan duduk di seberangnya. Terlihat ia sedang asik membaca menu. "Kamu umur berapa?" Tanyaku. "Dua puluh satu." "Gak kuliah?" "Tadinya kuliah seni rupa, cuma males lanjut, jadi buka usaha deh." Jawabnya santai. "Kok gak lanjut?" Tanyaku. "Gue udah tau apa yang mau gue lakuin. Daripada gue nunggu lulus kuliah, mending gue lakuin dari sekarang." Aku mengangguk. Agak kagum juga dengan pemikirannya. Dia kayak Papa, kan Papa juga gak kuliah, langsung mau urus resto Kakek dan Nenek. Dan yaa, lancar aja sampai sekarang dan sukses meskipun Papa gak mengenyam bangku kuliahan. "Keren!" Kataku. "Lo cita-citanya apa?" Tanyanya. "Gak tau hehehe!" "Lha?? Terus itu Teknik Lingkungan?" "Itu karena Papa pengin aku kuliah aja sihhh, sebenernya aku mah seneng coba-cobain baju rancangan Mama. Pengin ikut salah satu fashion show-nya, tapi gak berani bilang." Jelasku. "Nyokap lo desainer?" "Yaps!" "Dan lo pengin jadi model?" "Iyak!!" "Kenapa takut bilang? Gak ada salahnya kali nyoba, berjuang demi keinginan kita tuh setimpal kok sama hasil yang kita dapetin. Gue dulu, dua tahun lalu, pas jujur ke bokap kalau gue berhenti kuliah, gue digebukin sampai organ dalem gue geser semua, bahkan tulang rusuk gue pernah ada yang pakai pen karena sedikit retak. Tapi sekarang, usaha gue emang sih gak sukses-sukses banget, cuma yaa gue udah punya pelanggan tetap dan gue seneng jalaninnya. Digebugin bokap sebanding sama kebebasan gue dalam memilih jalan hidup." Jelasnya panjang. Wow, ternyata dia tipe orang yang suka bercerita yaa. Asik dengerin cerita dia. "Sablon kamu itu, bisa buat clothing line gitu?" Tanyaku. "Emang ada sekitar tiga brand yang langganan di tempat gue." "Apa aja?" Lalu dia menyebutkan tiga brand baju lokal, tapi gak ada ada brand Papa. "Kenapa emang nanya gitu?" "Gak apa, ada kartu nama?" "Ada tapi gak bawa, di rumah." Jawabnya. Pesanan makanan kami datang, obrolan soal kerjaan dia tertunda dulu sebentar dan kami makan menikmati bakmi asin sebagai menu makan malem. Serius ini porsinya banyak banget dan kayanya bakalan bisa aku abisin deh, aku laper banget soalnya. "Lo udah ada pengalaman jadi model?" Tanya Ardra, dia sudah selesai duluan. "Hahaha! Cuma di walk-in-closet punya Mama." Kataku. "Gak mau nyoba beneran?" Tanyanya. "Gimana cara?? Malu bilangnya, takut juga." "Orang yang bikin baju di gue suka nyari model buat jajal bajunya, kan dijual via online juga, kalo lo mau gue bisa kenalin ke mereka." Katanya. "Ehh?" "Mau nyoba gak?" "Gimana ya??" "Mau gak???" "Emm boleh deh!" "Oke gitu dong!" "Eh iya, itu bekas luka lo gimana?" Tanyaku menunjuk lengannya dan aku tahu ada bekas luka juga di kakinya. "Mau gue tutup." "Tutup?" "Pake tato." "Eh??" "Lo tau tato pertama gue?" Ujarnya. Aku menggeleng. "Di pinggang, gambar Poseidon, hasil digebukin bokap sampai tulang remuk. Ada bekas operasi dan gue tutup pakai tato. Pas bokap tau gue ditato, tangan gue diplintir sampai, mungkin nyaris patah. Tangan gue nih, harus di-gips sebulan, terus gue juga digebugin, mungkin nyaris mati pas gue bikin tato di tangan, terus pas sembuh gue tambah tato lagi 'I was not afraid to die' karena gue udah gak takut mati, udah pernah mau mati juga, jadi ya gitu, tiap bikin tato, digebugin mulu, sampe bokap gue bosen deh karena tato gue udah bertebaran di sekujur badan." Serius! Aku suka caranya ngomong, caranya menjelaskan, aku seperti tersihir oleh kata-katanya. Pembawaan dia tuh santai, asik banget dilihat dan didengernya. "Serem yaa!" Komentarku. "Haha gue tebak, lo pasti tipikal anak nurut yang selalu nyari aman. Ya kan?" Aku mengangguk. "Sekali pun lo benar, apa lo bakal tetep cari aman?" Tanyanya. "Kayanya." "Harusnya lo berjuang untuk kebenaran diri lo. Jangan cuma cari aman." "Nanti deh diusahain." Kataku. "Yukk? Udah makannya?" Tanyanya. Aku mengangguk. Lalu, Ardra bangkit berdiri, balik kanan meninggalkanku, ia berjalan ke meja kasir. Aku dari belakang memperhatikannya, langkahnya sudah bagus. Mungkin karena diurut tadi langsung bener. Hebat emang pijet tradisional gitu. Aku langsung berjalan ke luar, menunggu Ardra di samping mobil. Tak lama dia menghampiri. "Ini dianter ke yang tadi apa ke rumah yang di ATS?" Tanyaku saat Ardra datang. "Ke rumah lo aja, gue temenin, nanti dari rumah lo gue naik gojek aja." "Eh??" "Udah yukk, mau gue setirin?" Tanyanya. "Eh??" "Eh eh mulu! Lama-lama gue nyanyi lagunya Indra Bekti nih! Yuk deh sini, gue setirin lagi, sekalian biasain kaki." Katanya. Seolah kata-katanya adalah mantra, aku memberikan kunci mobilku, lalu ia membukakan pintu penumpang, sedikit mendorongku masuk, kemudian ia sendiri pun masuk ke jok kemudi. Kami diam sepanjang jalan, Ardra sepertinya sudah tahu rumahku. Entah tahu dari mana karena dia gak nanya apapun dan tiba-tiba saja kami sudah sampai di depan rumah. "Kamu, tau rumahku dari mana?" Tanyaku. Dan Ardra pun tersenyum. Senyum yang sangat manis. Lalu ia mengeluarkan dompet dari saku belakang celana, dan memberikanku KTP. "KTP lo masih di gue. Ini gue balikin, dan makasih sudah bertanggung jawab." Katanya sambil menepukkan KTP di telapak tanganku. "Eh iya, Dra." "Thank you loh! Nareswari!" Aku mengangguk. "Lo mau masukin mobil sendiri apa kudu gue masukin?" Tanyanya. "Eh?? Sendiri aja." "Yaudah, gak gue matiin ya mesinnya." Katanya sambil membuka seatbelt, lalu ia keluar dari mobil. Aku ikut keluar dari mobil, melihat Ardra sedang sibuk dengan ponselnya. "Beneran pesen gojek?" Tanyaku. "Iya! Makasih loh ya! Gue sembuh nih gara-gara lo!" Katanya membuatku heran. Tak lama, sebuah motor menghampiri kami, lalu Ardra pamit kepadaku. Ia tersenyum sambil memakai helm. "Bye! Nanti gue kabarin kalau ada brand baju mau cari model yaa!" Serunya ketika ojek online itu berjalan menjauh. Aku gak ngerti kenapa. Kayanya jatuh cinta itu memang mudah. Kayanya jatuh cinta itu emang bikin d***o. Dan sekarang, aku sedang mengalaminya. Kepada makhluk tadi... Ardra Pawaka. Gosh! ***** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD