Kekeluargaan yang Retak

2282 Words
Bab 18 Kekeluargaan yang Retak Jayden berdiri di depan rumah ayahnya dalam diam. Malam ini ia memutuskan untuk mengunjungi langsung kediaman ayah dan keluarga barunya itu untuk meminta bantuannya agar mau melamarkan Divi pada kedua orang tuanya. Meskipun agak sungkan untuk melakukan ini, tetap saja Jayden merasa perlu. Ia menurunkan egonya dan akhirnya berdiri di depan rumah ayahnya. Rumah yang cukup sederhana dengan pagar berwarna hitam mengingatkan Jayden akan rumah yang ditinggalinya sendiri. Jayden ingat, saat kecil jika ayahnya berada di rumah, ia akan sibuk memberesi perabotan rumah. Ia dulu sering memperhatikan ayahnya, berharap juga bahwa ia bisa seperti sang ayah. Mengingat kembali masa lalunya yang hangat selalu saja membuat Jayden kembali mengingat masa pahit yang sudah pernah dirasakannya. Ia pun segera menggelengkan kepala untuk memudarkan ingatan pahit itu. Setelah menarik napas dalam—dalam dan mengeluarkannya dengan pelan di mulut, Jayden pun melangkah maju. Ia membuka gerbang rumah lalu berjalan masuk ke dalam. Langkah kaki Jayden akhirnya berhenti ketika ia mulai menaiki teras depan rumah. Ia melepaskan sepatu yang dipakainya lalu kembali berjalan dengan hanya memakai kaos kaki. Berjalan lebih ragu, akhirnya Jayden menghampiri pintu depan rumah ganda berbahan kayu di depannya. Tok, tok, tok.... Jayden mengetuk pintu depan rumahnya sejenak kemudian memencet bel yang ada di dekat pintu. Mendadak Jayden merasa bodoh. Apakah ia sudah benar bertamu seperti sekarang? Melihat ke arah gerbang, Jayden seolah ingin memperhatikan lebih baik bahwa di depan gerbang seharusnya terdapat bel rumah. Dan seharusnya juga ia berhenti di depan gerbang hitam itu untuk menunggu seseorang membukakan pintu. Mendadak Jayden merasa menyesal karena bersikap seorang kerabat dekat di rumah yang dikunjunginya. Padahal selama ini, ia tak pernah menganggap keluarga ayahnya sebagai keluarga. Ia lebih suka menganggap mereka sebagai orang asing, terutama pada ayahnya ... ia lebih ingin menganggapnya sebagai orang yang tidak pernah ada. Tak menunggu lama, seseorang tiba—tiba saja membukakan pintu depan rumah. Keduanya saling menatap sejenak kemudian wanita paruh baya itu tersenyum cerah sambil bersalaman dengan Jayden. “Ayden ya? Ya ampun, Mama Nia kaget loh! Perasaan Papa atau Lilina nggak bilang kalau Ayden mau ke sini.” “Maaf, Tante. Saya juga emang ke sini mendadak. Mau ada urusan sama Papa,” kata Jayden memanggil ibu sambungnya itu dengan panggilan Tante seperti biasanya. “Papa ada di rumah nggak, Tante?” Mama Nia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Jayden masih tidak berubah. Masih tidak bisa menganggapnya sebagai ibu sambungnya. Bahkan panggilannya masih sama seperti dulu, Tante. “Oh Papa kamu ya? Papa kamu ada di dalam. Lagi di kamar Lilina, lagi bantuin tugas sekolahnya,” kata Mama Nia dengan senyum di bibirnya. “Ayo silakan masuk!” Jayden pun berjalan masuk ke dalam rumah. “Silakan duduk dulu ya! Anggap saja kayak di rumah sendiri,” kata Mama Nia sambil tersenyum. “Mama panggilin Papa dulu ya sekalian siapin minuman untuk kamu. Ayden mau kopi atau susu.” “Nggak usah repot—repot, Tante,” kata Jayden tak enak hati. Mama Nia kembali terdiam, tapi setelahnya ia menganggukkan kepalanya. Masih dengan senyum indah di wajahnya, Mama Nia pun membalas, “Sebentar ya, Mama panggilkan Papa dulu.” Jayden pun menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia melihat sang ibu sambung berjalan memasuki rumah dan tak terlihat lagi di balik dinding rumah bercat orange. Menunggu dalam diam di ruang tamu, Jayden pun mulai memperhatikan rumah keluarga baru ayahnya. Terakhir kali, Jayden ke rumah ini sudah cukup lama. Saking lamanya, sampai ia melihat banyak perabotan rumah baru yang sudah diganti di sana sini. Dalam diamnya, Jayden mendapat pesan dari Sabrina. Ia pun segera membuka dan membaca pesan dari gadis cantik itu. [ Jay, lagi ngapain? ] –Sabrina. Jayden berdecak sebentar. Ia tak paham dengan pesan Sabrina yang cenderung tidak penting. Hanya menanyakan kabar? Ckckck ... Jayden berdecak tanpa sadar sambil menggelengkan kepalanya. [ Lagi ada urusan penting. Kalau kamu ngechat nggak penting mending tanya—tanya ke orang lain aja! ] –Jayden. Namun bukannya mengabaikan, Jayden membalas pesan Sabrina dengan ketus. Ia beberapa waktu ini bersikap ketus pada Sabrina karena merasa bersalah pada Divi. Tapi Sabrina tetaplah Sabrina, Jayden tidak bisa membencinya karena gadis itu sejujurnya sangat menarik perhatiannya. Jayden rasanya ingin berteriak karena perbedaan pendapat di dirinya sendiri soal Sabrina. “Jayden....” suara Papa Julian terdengar saat berjalan masuk ke ruang tamu. Wajahnya penuh senyum, Papa Julian senang dengan keberadaan anak sulungnya. Menurut tebakannya, pasti Jayden datang karena ada hal yang harus dibahasnya soal pernikahannya nanti. Papa Julian yakin akan hal itu. “Pa—“ Jayden tersenyum tipis. “Kamu kenapa nggak bilang dulu mau ke sini? Kalau kamu bilang, Papa dan Mama Nia akan siapkan makan malam bersama.” “Nggak perlu, Pa. Aku ke sini juga udah selesai makan malam.” Papa Julian menganggukkan kepalanya. Keluarganya juga sudah selesai makan malam. Diam sejenak dan merasakan keheningan, Papa Julian pun akhirnya berdehem. “Ehm ... ada apa ya, Jayden?” Jayden merasakan lidahnya mendadak kelu. Ia merasa menjadi manusia tak tahu diri. Kala tak membutuhkannya, Jayden tak menghubungi bahkan bersilaturahmi pada ayahnya, tapi kini ia justru datang ke rumah sang ayah untuk meminta bantuannya melamar anak gadis orang untuk menjadi istrinya. “Papa, aku udah bilang kan sebelumnya kalau aku mau menikah sebentar lagi.” Papa Julian pun menganggukkan kepalanya. “Keluarga pacarku mau agar aku melamar secara resmi dan membawa serta orang tuaku. Jadi aku ke sini untuk meminta bantuan Papa....” “Tentu saja boleh, Jayden,” kata Papa memotong ucapan Jayden. Dalam hatinya, Papa Julian merasa sangat bahagia karena sang anak akhirnya memiliki waktu untuk membutuhkan bantuannya sebagai seorang ayah. “Jayden mau menikah?” tanya Mama Nia yang tiba—tiba saja masuk ke ruang tamu sambil membawa kue kering dan dua cangkir teh hangat untuk tamu juga suaminya. “Iya, Tante....” Mama Nia dan Papa Julian saling pandang kala mendengar Jayden memanggilnya dengan sebutan Tante. Namun keduanya sungkan untuk meminta pada Jayden untuk mengubah panggilannya dengan sebutan Mama. “Sama orang mana, Jay?” tanya Mama Nia ingin tahu. Ia duduk di single sofa dan bergabung bersama sang suami dan anak sambungnya. “Sama orang Bogor juga kok, Tante.” “Oh sama orang dekat ya,” kata Mama Nia berkomentar. “Tinggal di mana calon istri kamu ini, Jayden?” “Tinggal di Kompleks Permata Raya, Tante.” Mama Nia dan Papa Julian pun menganggukkan kepalanya. Mereka jelas tahu nama kompleks itu karena berada di pusat kota Bogor. “Kamu sama pacar kamu udah lama pacaran sampai akhirnya memutuskan untuk menikah?” tanya Mama Nia lagi. Mama Nia seperti kebanyakan ibu—ibu punya segudang pertanyaan untuk diberikan pada anaknya. “Sekitar 9 bulan, Tante. Tapi aku dan Divi udah kenal cukup lama sejak kami pacaran.” Jayden diam sejenak. Ia sedang memikirkan apakah lebih baik ia menceritakan pada ayah dan ibu sambungnya bahwa ia sudah menghamili kekasihnya itu hingga memutuskan menikahinya sekarang. “Jay?” Jayden menatap ayahnya yang baru saja memanggil. “Iya, Pa?” “Kamu akan kasih mahar apa untuk calon istri kamu nanti?” “Aku belum memikirkannya, Pa. Kata Divi juga masalah mahar mungkin nanti dibahas saat acara pertemuan keluarga nanti.” “Gimana kalau satu set perhiasan saja?” tanya Mama Nia memberi saran. “Biasanya mahar lumrahnya perhiasan. Perempuan juga kan cenderung menyukai perhiasan, Ayden.” Jayden menatap ibu sambungnya sejenak. “Nanti dibahas pas pertemuan keluarga aja, Ma. Soalnya mungkin Mamanya Divi punya pendapat lain.” “Loh kan nanti yang nikah kamu sama pacar kamu, kenapa malah nanyain ke mamanya Divi?” “Ma!” Papa Julian bersuara dengan maksud menegur istrinya. “Pasti Mamanya Divi itu lebih paham. Kan dari mempelai wanita.” Mama Nia diam sejenak. Ia pun mulai mengingat masa pernikahannya dengan sang suami. Ibunya yang paling sibuk mengurus pernikahannya. Meskipun begitu, masalah mahar diputuskan oleh Julian. “Dulu Papa kamu ngasih mahar uang tunia, Ayden. Uang tunai 12 juta rupiah ya, Pa?” Papa Julian pun menganggukkan kepalanya. Ia tentu masih ingat mas kawin uang tunai yang diberikannya pada wanita yang kini masih menjadi istrinya. “Iya, uang tunainya dibelikan tanah untuk rumah ini ya, Ma.” Mama Nia tersenyum tipis. “Iya, dulu bisa ya kita beli tanah 12 juta.” Rasa takjub terasa di hati wanita itu mengingat masa lalunya. Menikah dan mempunyai uang 12 juta pada kala itu cukup besar. Bahkan nyaris semua uang ditambah uang amplop pernikahannya ditotal dan bisa dibelikan tanah yang kini menjadi pondasi untuk keluarga mereka bernaung. “Kita harus bersyukur, karena dulu Paman Mulyawan lagi butuh uang dan mau jual murah ke kita, Ma.” “Iya, Pa.” Jayden hanya mendengarkan cerita ayah dan ibu sambungnya yang tengah saling bercerita soal masa lalu mereka 18 tahun yang lalu. “Jay, Papa ada simpanan tabungan atas nama kamu. Papa udah siapkan kalau kamu merasa butuh dan mau memakainya, kita bisa urus.” “Nggak usah, Pa. Aku punya uang sendiri. Aku ke sini juga bukan mau minta uang ke Papa. Aku ke sini cuma minta tolong ke Papa dan Tante untuk pergi melamar Divi ke rumahnya.” Papa Julian mendadak terdiam. “Papa tahu kalau kamu masih ngerasa kesal ke Papa, Jay. Tapi ini memang hak kamu. Papa selama ini bekerja dan menyiapkan beberapa tabungan untuk kamu. Mama Nia juga tahu. Iya kan, Ma?” Papa menatap ke arah istrinya yang langsung menganggukkan kepala. “Mama ngerti kalau kamu ngerasa nggak butuh dengan bantuan Papa kamu. Apalagi sekarang, kamu udah bisa bekerja dan menghasilkan uang kamu sendiri, Ayden. Tapi seenggaknya, apa bisa kamu membiarkan Papa kamu melakukan tugasnya sedikit sebagai seorang ayah?” Rahang Jayden tiba—tiba mengeras. “Tugas seorang ayah memangnya apa, Tante?” Papa Julian dan istrinya saling pandang. “Maafin Papa, Jay. Maafin Papa yang dulu ninggalin kamu. Papa tahu, nggak semudah itu kamu memaafkan Papa.” “Aku nggak perlu memaafkan Papa,” kata Jayden dengan datar. “Karena bagiku Papa memang nggak ada buatku. Jadi Papa nggak perlu minta maaf apapun ke aku.” “Jay—“ “Kayaknya aku nggak bisa lama—lama di sini, Pa, Tante,” Jayden tiba—tiba bangkit berdiri. Ia tak tahan jika harus mengobrol dengan ayah dan ibu sambungnya untuk membahas masa lalu. “Papa jadi bisa kan untuk datang ke rumah pacarku nanti di Kompeks Permata Raya minggu depan?” Papa Julian ikut berdiri. “Papa akan luangkan waktu untuk itu.” “Mama Nia dan Lilina juga akan ikut, Jay,” kata Mama Nia seolah ingin memberitahu anak sambungnya bahwa ia ingin ikut serta dalam hari bahagia Jayden. Jayden menatap Mama Nia sejenak lalu menganggukkan kepalanya. “Terserah aja.” Saat Jayden hendak pergi, Mama Nia menahannya lagi. “Tunggu sebentar, Jay.” Mama Nia mengeluarkan ponsel miliknya. “Mama minta nomer pacar kamu. Mama mau menghubungi dia secara langsung.” Jayden terdiam. Ia kebingungan. Namun, karena merasa sungkan jika menolak permintaan sederhana Tante Nia, ia pun segera mengambil ponsel di tangan wanita paruh baya itu dan lantas mengetik nomer Diva yang dihapalnya di luar kepala. Setelahnya, Jayden menyerahkan ponselnya kembali pada sang pemilik. Ia pamit pulang dan meninggalkan rumah keluarga yang hangat itu dengan mengendarai mobilnya. *** Gadis muda itu terdiam. Ia duduk di kursi ruang tengah sambil mendengarkan obrolan antara orang tuanya dan sang kakak laki—laki. Ia mendengar perkataan mereka yang membahas soal tanggung jawab sang ayah dan langsung membuatnya sedih. Lilina sudah cukup dewasa untuk paham bahwa kakak dan kedua orang tuanya memiliki hubungan yang canggung. Ah bahkan bukan hanya pada kedua orang tuanya, tapi juga padanya. Kak Ayden selalu menjaga jarak dengannya. Meskipun kala bertemu kakaknya bersikap ramah. “Li,” Mama Nia duduk di sofa di samping putrinya setelah membereskan cemilan dan gelas teh yang sama sekali tak diminum oleh anak sambungnya. “Kamu udah selesai ngerjain tugas?” “Udah, Ma.” Lilina berpura—pura tidak fokus pada sang ibu. Ia memegang ponselnya dan bermain media sosial instageram. “Tadi Kak Ayden ke rumah ada apa, Ma?” tanya Lilina sambil menolehkan kepalanya. Mama Nia yang sedang memegang ponsel pun menoleh. “Kakak kamu mau menikah,” katanya dengan suara yang cukup tenang. “Minggu depan kita ke rumah calon istrinya.” Lilina memaksakan dirinya untuk tersenyum lalu memainkan lagi ponselnya. Keduanya pun memainkan ponsel. Namun berbeda dengan sang anak, Mama Nia sedang memikirkan kata yang tepat untuk menyapa calon istri Jayden untuk kali pertamanya. “Ma,” suara Papa Julian terdengar. Ia membawa 2 buku rekening. Lilina yang ada di samping mamanya pun menoleh. “Apa itu, Pa?” tanya Lilina penasaran. “Buku rekening tabungan anak—anak Papa. Ini punya kakak kamu,” Papa Julian menunjuk salah satu buku rekening dengan nama yang berbeda. “Ini buat kamu. Isinya sama.” “Oh ya? Aku mau lihat, Pa!” kata Lilina penasaran. Papa segera memeluk dua buku rekening yang dipegangnya saat ini. “Nggak boleh. Rahasia! Kamu kalau mau lihat tunggu pas lulus SMA. Ini tabungan buat kamu mulai kuliah.” “Loh kok gitu sih?” “Emang gitu, Lili,” kata Mama Nia menjawab pertanyaan sang anak. “Dari dulu Papa nabung. Emang uangnya dipisah.” “Terus kenapa punyaku dan punya Kak Ayden sama isinya, Pa?” tanya Lilina lagi, penasaran. “Soalnya kakakmu nggak pernah mau menerima uang dari Papa. Sejak dia kuliah sampai sekarang, dia nggak pernah mau terima uang dari Papa kamu.” Lilina mendadak terdiam. Ia merasa aneh dengan sang kakak. “Mungkin emang karena Kak Ayden udah punya banyak uang sendiri, Ma.” Mama Nia tersenyum tipis. Sama sekali juga ia tak mencoba menjelaskan masalah Jayden pada anaknya. Memang masalah yang menyenangkan ini biar tidak diketahui oleh sang bungsu, Lilina.[] *** bersambung >>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD